Hot Duda Dan Perawan Tua

Hot Duda Dan Perawan Tua
Perdebatan


__ADS_3

"Siaaaal!" Lisa membanting tas mahalnya saat tiba di ruang kerja miliknya yang tentu saja di perusahaan Antami sendiri.


"Sabar, Mama, sabar ..." Robian yang sabgat menyayangi kedua orangtuanya itu memeluk erat ibunya, karena jika tidak maka bisa saja seluruh ruangan ini habis berantakan tak tersisa.


"Biaaan, mama malu. Mama dipermalukan di depan kamu, mama sangat sakit hati..." tangis Lisa dalam dekapan sang anak.


Mendengar pengakuan istrinya, Tino cukup merasa terharu dan ia pun mendekat serta memeluk keduanya.


"Sabar, sayang... akan datang waktu lain untukmu. Tunggu saja dengan sabar."


Beruntungnya, Lisa memiliki dua lelaki ini disampingnya, yang selalu menunjukkan rasa peduli dengan tulus bahkan saat dia berubah jadi seperti iblis jahat sekalipun.


.


.


Kembali ke ruang rapat. Suasana masih terasa tegang. Pemilihan kembali akan dilakukan.


"Mohon ijin," salah satu pemegang saham mengangkat tangan ingin mengemukakan pendapat. "Bagaimana jika Ibu Megan menjadi salah satu kandidat?" dan hampir semua mengangguk setuju.


Morgan menoleh kearah istrinya yang kini berada di tempat duduk yang sudah ditinggalkan Lisa tadi.


Tidak hanya Morgan, kedua outranya pun menatap lurus sang ibu sambung yang berada di samping mereka.


"Maaf, saya menolak. Saya hanya akan menjadi pendukung." tolak Megan. Dan mendengar ini tentu saja Gea merasa senang. Saingan beratnya tidak jadi ikut bersaing. Sudah pasti dirinyalah yang akan menjadi pemenangnya.


Pemililihan kembali berlangsung.


Hanya Megan yang tertinggal, belum memutuskan siapa yang akan dia pilih. Sementara, antara Gea dan Minda, Gea menduduki kursi dengan dukungan sedikit lebih banyak dari pada Minda.


"Silakan, Bu Megan, Anda akan mendukung siapa?"


Gea yang sudah diposisi aman cukup merasa tegang ketika Megan dengan sengaja menatap dirinya dan Minda secara bergantian.


"Kak Minda, aku mendukungmu." orang yang dari tadi banyak diam, tentu terkejut atas ini. Minda tidak menyangka jika Megan akan memilih untuk mendukungnya.


Tidak salah lagi, Gea yakin jika Megan memang sengaja membuatnya panas. Gea mengeraskan rahang ingin protes, tapi sekali lagi, dia masih punya sedikit rasa malu. Dan semestinya dalam hal ini tidak ada lagi yang bisa protes jika realita sudah bicara.


Akhirnya rapat selesai dengan keputusan bahwa Minda adalah pemimpin Antami yang baru. Semua orang pergi, kecuali si buyut beserta cucu cicitnya, kecuali keluarga kecil Lisa.


"Kenapa anak - anakku nenek ikutsertakan ke tempat ini?" Megan akhirnya mengutarakan hal yang ingin dia ketahui sejak tadi.

__ADS_1


Nenek sudah tau, Megan pasti akan mempersoal akan hal ini. "Bukan kah bagus? Itu karena aku menganggap merrka sebagai cicitku sendiri. Bukan begitu anak - anak?" David dan Erick tidak bergeming.


"Bisa - bisanya nenek tidak meminta izinku lebih dulu? Aku sudah pernah bilang mereka milikku dan biarlah aku yang mengurus masa depan mereka. Nenek tidak perlu ikut campur!


"Tolong tarik kembali saham itu dari mereka berdua. Anak - anakku tidak butuh saham Antami, ataupun menjadi bagian dari Antami."


"Megan! Hentikan pikiran burukmu itu. Mereka juga berhak atas Antami."


"Tidak bisa!" Megan berdiri dari duduknya. "Aku adalah pemilik Megan Jewerly dan perusahaan peninggalan ayah. Mereka hanya akan mewarisi itu dan tidak membutuhkan Antami yang hanya akan membuat mereka berperang dengan saudaranya sendiri.


"Apa - apaan kau ini? Wanita sombong! Apa kau salah makan di penjara selama tiga hari?"


"Tidur dilantai dingin selama berhari-hari membuat aku belajar banyak hal. Termasuk, hal semacam ini."


"Stop, Megan! Bukannya berterima kasih karena aku menunjukkan rasa peduli pada mereka, tapi kau-"


"Nenek punya tiga cicit lain. Wariskan apapun kepunyaan nenek kepada mereka saja. Jangan libatkan anakku dalam persaingan tidak sehat Antami ini. Lihat kak Lisa, dia dengan liciknya mengubahku menjadi sorang tersangka. Dan nenek tahu kenapa? Alasannya hanya Antami. Rasa inginnya yang besar untuk menjadi pemimimpin Antami dia sanggup lakukan itu padaku. Bisa saja sifat itu turun ke Robian dan menyakiti anak - anakku suatu saat nanti."


"Megan, tidak perlu berpikir jauh kesana, -"


"Itu tidak jauh. Anak - anak sudah besar dan artinya mereka sebentar lagi akan bekerja di perusahaan. Maaf Nek, bukannya aku menolak apa yang nenek berikan pada anak - anakku, tapi aku hanya mencegah hal buruk menimpa mereka."


Baik Gea maupun Minda, tidak ada yang berani ikut menyela perdebatan antara nenek dan Megan. Cukup menjadi penikmat saja. Bahkan tidak tertarik menjadi penengah.


Nenek akhirnya mengangguk pasrah.


Gea sudah pergi, Minda pun baru saja meninggalkan ruangan..


"Nek, maafkan aku." Megan menghampiri sang Nenek dan memeluk wanita tua itu.


"Minta maaf atas kesalahan yang mana? Kau punya banyak kesalahan padaku."


"Semuanya, Nek. Semuanya."


"Aku memaafkanmu jika kalian kembali tinggal bersamaku."


"Nek, jangan begitu. Anak - anak lebih nyaman tinggal dirumah mereka."


"Ya sudah, kalau begitu saham Antami tidak akan ditarik kembali. Hanya itu caraku mengikat kalian agar tetap berada disisiku." Nenek pergi. Intinya, yang nenek inginkan hanya keberadaan keluarga kecil Megan berada di sekelilingnya.


"Sayang, apa kau tidak lelah? Kau terlalu banyak mengomel." Morgan mendekati istrinya dengan gaya cool, kedua tangan berada dalam saku celana.

__ADS_1


Merasa bahwa Morgan sedang menunjukkan rasa peduli, Megan memeluk suaminya itu. "Ayo peluk aku. Aku sangat lelah." berpelukan tanpa menyadari dua remaja masih berada disekitar mereka.


Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku mendorong kakak keluar? David melirik kakaknya yang terlihat menggaruk kepala seraya menelan kasar, salah tingkah melihat kemesraan didepannya.


"Ka-kalian berdua masih disini?" Megan melepas pelukan saat menyadari dua anak itu ada di depan mata.


"Apa kami tidak terlihat?" sindir Erick dengan mukanya yang meskipun dimanyunkan tapi tetap terlihat tampan. Megan tertawa renyah dibuatnya.


"Kalau begitu ayo keluar dari sini, mari rayakan kepulangan bunda. Lupakan semua kekacauan yang terjadi barusan. Satu lagi, kalian juga pasti merindukan bunda Megan, kan?" dengan wajah bersahabat, Megan kembali mencipatakan suasana hangat.


"Aku tidak, memangnya aku anak ayam yang selalu ingin ikut kemana ibunya pergi?" elak David.


"Aku lapar." hanya itu tanggapan dari Erick. Morgan hanya memggelang lihat tingkah dua anaknya itu.


Megan dan Morgan keluar bersamaan, tidak lupa saling menautkan jemari. Sedangkan David menuntun kursi roda kakaknya, mengikuti ayah dan ibu mereka dari belakang.


"David, bagaimana tanggapanmu tentang istri ayah?"


"Ya? Dia cukup keren hari ini. Tapi apa tadi? Dia baru pulang dari penjara? Yang benar saja."


"Cari tahu apa kasusnya kenapa sampai dipenjara. Jangan remehkan hal ini. Cepat sadarkan ayah sebelum terlambat."


"Tapi ... bukankah dia bilang Tante Lisa adalah dalangnya? Mungkin dia memang bukan penjahat, kak."


"Tapi ... apa kau mengerti apa yang tadi wanita itu perdebatkan tentang kita?" Erick mengungkit soal ketegangan di ruang rapat yang sudah berlalu tadi.


"Hal sekecil itu pun kau tidak mengerti, kak? Tidak heran nilaimu terjun bebas. Ternyata otakmu sedikit bermasalah." bukannya menjawab, David malah meledek.


"Jawab saja apa yang kau tahu. Jangan mengambil kesempatan untuk menghinaku."


"Yang dia maksud adalah nasib dan masa deoan kau dan aku ada ditangannya mulai hari ini." singkat David.


"Itu hanya berlaku untukmu. Aku hanya akan mengikuti apa kata ayah." balas Erick.


Dia yakin bahwa ayahnya dan wanita itu pasti punya prinsip yang saling bertentangan menyangkut dirinya dan David.


.


.


Yuk guys, semangat.

__ADS_1


.


.


__ADS_2