
Dasar ABG jaman sekarang, saat orang tua sedang asik dan sibuk, malah asik juga belajar meniru gaya orang dewasa.
Melihat kelakuan ini membuat Megan emosi seketika. Berapa kali ia telah mengingatkan putranya untuk jangan tertarik pada Terana.
Tidak hanya merasa terkejut,dipergoki oleh bunda Megan dalam situasi seperti ini memuat Erick terserang salah tingkah karena rasa malu dan takut bersamaan.
"Rick, kenapa kau lakukan ini? ditengah kebahagiaan keluarga kau malah menyingkir ke tempat sepi dan gelap untuk melakukan hal memalukan! Tega Kau Rick," Megan berkata dengan tegas menyudutkan Erick yang kini tidak berani menatap kedua matanya.
"Maaf, Tante, a...ku yang memulainya. Jangan salahkan Kak Erick." Rana memjelaskan keadaan yang sebenarnya dengan mengorbankan rasa malu. Lagi pula, disini hanya ada Megan sebagai saksinya, bukan orang lain melainkan saudari ibunya sendiri.
"Kau yang mulai Rana? Hah, berani sekali Kau pada laki-laki? Erick, kembali ke dalam!" Megan sengaja mengusir putranya agar bisa bicara empat mata dengan Rana.
Mau tak mau, Erick pergi setelah memberi tatapan singkat kepada Rana yang berdiri di sebelahnya.
"Bunda, ini kesalahan kami berdua. Tolong jangan menyalahkan Rana." Erick kembali melangkah pergi.
Tinggallah Megan dan keponakannya itu.
"Maafkan Rana, Tante..."
Permintaan Maaf yang terdengar sungguh-sungguh itu sedikit menyentuh hati Megan. Tapi saat ini, bukan waktunya untuk bersimpati.
"Kau tahu betul bahwa kalian berdua adalah sepupu. Rana, bagaimana pun perasaanmu terhadap Erick, lupakan segera. Apa Kau paham?"
__ADS_1
"Tapi Rana suka Kak Erick, Tante ..."
"Aku tidak menerima alasan apapun, Rana. Jauhi Erick sejauh mungkin kalau tidak Kau dan mama kesayanganmu itu akan jatuh miskin malam ini juga!"
"Ampun, Tante ... jangan lakukan." Mendengar ibunya ikut terseret membuat Rana ketakutan. Rana pun sadar betul bahwa Gea tidak ada apa-apanya dibanding Megan. "Oke, Rana akan jauhi dan lupakan kak Erick."
Karena Rana telah berjanji, Megan merasa sedikit tenang. Tapi ia tetap harus bicara dengan Gea dengan serius.
[Kak Gea, ketemu di ruang kerjaku, sekarang juga.] pesan itu ia kirimkan pada kakak sepupunya itu.
"Kembalilah ke dalam, anggap saja tidak ada yang terjadi diantara kita." suruhnya pada Rana.
Sebelum menuju ruang kerjanya, Megan terlebih dahulu memastikan keadaan Baby M. Rupanya bayinya itu tengah berada dalam gendongan mama Monic, terlihat kedua abangnya juga berada disekitar baby M. Sedang Morgan, ia menyapa kiri kanan para tamu yang ada.
"Sorry membuatmu menungguku, Kak Gea,"
Megan mengambil sebuah tab lalu menunjukkan video rekaman CCTV yang merekam kelakuan kedua anak mereka barusan. Gea tercengang dan spontan menutup mulut dengan tangan.
Sementara Video itu berputar, Megan melangkah ke arah sebuah loker dan mengambil sesuatu dari sana.
"Apa - apaan ini, Megan?" Gea kembali dikejutkan dengan amplop coklat yang ditaruh di depan mukanya.
Gea mengintip isinya dan yang terlihat adalah susunan uang dollar Amerika yang sangat rapi dan tebal.
__ADS_1
"Bawa Rana minggat ke Panama, tinggallah disana selama dia menempuh pendidikan. Tapi kalau perlu tinggallah selamanya disana."
"Megan, Kau tidak perlu sampai seperti ini. Anak-anak berhak memilih apa yang mereka inginkan dan kita tidak boleh terlalu ikut campur bahkan memindahkan aku dan Rana sampai ke luar negeri hanya karena sebuah ciuman singkat."
Megan dengan tegas dan lugas mengutarakan maksudnya bahwa Gea harus lebih tegas lagi menasihati putrinya, Rana.
"Justru karena mereka masih anak-anak dibawah umur, kita harus lebih protektif dengan apa yang mereka lakukan. Kak Gea, kuharap Kau tidak mengabaikan bahwa mereka adalah saudara sepupu. Jangan bilang Kau ingin membuat putra aku bertanggung jawab atas kejadian ini. Kau tahu srndiri, Rana-mu itulah yang memulainya."
"Jangan hanya salahkan Rana! Kulihat Erick juga menikmatinya." tak terima putrinya disalahkan, padahal jelas Erick juga terlihat menyukai Rana.
"Tidak ada kucing yang menolak ikan. Terlihat jelas Rana memberinya umpan! Aku tidak peduli, mereka berdua tidak boleh terlibat hubungan perasaan sampai kapanpun."
Dari nada tegas Megan, Gea cukup percaya bahwa adiknya ini sedang bersungguh-sungguh akan kata-kata yang diucapkannya.
"Aku ada banyak pekerjaan di Antami. Untuk apa aku juga pindah dan tinggal disana? Mau makan apa anakku nanti?"
"Aku akan siapkan posisi terbaik untukmu di perusahaan papa-ku disana. Selain itu, ada gaji dan tunjangan yang lebih menjanjikan untukmu, Kak Gea, bagaimana?" Megan paling tahu kalau kak Gea adalah orang yang serakah akan uang.
"Baiklah, aku dan putriku akan pergi besok." lihatlah, tidak butuh waktu lama untuknya berpikir. Gea pun beranjak membawa amplop coklat ditangannya.
"Bila perlu, lakukan operasi plastik untuk mengubah wajah Rana. Jangan kembali ke negara ini dengan wajah yang masih sama."
Gea pergi dengan segudang kekesalan di dadanya. Megan selalu berhasil membuatnya terlihat tak berdaya. Dan Megan melihat jelas kekesalan kakak sepupunya itu dari remasan tangannya yang bisa saja mengoyak amplop uang dollar yang ia bawa.
__ADS_1