
David memasuki restoran lalu dituntun ke sebuah ruangan khusus restoran itu dan benarlah Yana telah menunggunya disana.
Bertemu untuk kedua kalinya dengan wanita ini, David tidak merasakan getaran apapun. Dalam benaknya, ia hanya sedang kebetulan bertemu dengan orang asing.
"Bundaku minta aku bertemu denganmu."
"Iya, Nak. Duduklah sayang."
Yana sigap melayani David dengan makanan yang telah tersedia. Tidak hanya itu, Yana bahkan menyuapi David langsung dengan tangannya. Wanita itu terlihat sangat bahagia.
"Maaf, aku ... tidak perlu disuap."
"Sayang, beginilah dulu bunda menyuapimu." mata Yana mulai berkaca-kaca memgenang masa lalu yang sedang ingin dia ulang.
"Tapi sekarang aku sudah besar. Aku bisa makan sendiri."
"Oh, maaf sayang, bunda lupa. Bunda selalu membayangkan bahwa kau masih kecil." Yana menghentikan aksinya.
"Nak, apa bundamu orang baik? Apa kalian bahagia dengannya? Apa dia ... peduli terhadap kalian?"
Seperti pesan bunda Megan, David makan dengan lahap dan kini ia merasa kenyang.
"Bunda menyayangi kami dengan tulus. Oia, sepertinya aku harus segera pergi... bundaku sedang menungguku di mobil."
"Nak, ayo tinggal dengan bunda. Bunda sangat merindukanmu, sayang ..."
"Aku tidak mau."
Menolak bukan karena tidak menyukai ibu yang telah meninggalkannya ini, David sama sekali tidak membenci Yana, karena baginya wanita ini hanyalah orang asing dan David tidak mengenalnya. Hanya sebatas itu.
Wanita mana yang tidak bersedih jika putranya sendiri bersikap dingin dan lebih memilih wanita lain sebagai ibunya? Yana menangis sendirian setelah kepergian David.
Tiba di rumah, pemandangan yang lagi-lagi terlihat adalah Erick yang sedang mengunyah makanan ringan yang ia dapatkan dari lemari pendingin.
__ADS_1
David terus ke kamarnya sedangkam Megan memghampiri Erick. Belum berhasil membuat Erick mau bertemu Yana terasa bagai memikul beban bagi Megan.
"Rick, bunda Yana masih menunggumu. Ayolah bekerja sama dengan baik, temui dia sekali."
"Jadi kakak sudah pertemukan David dengannya? Apa kakak merasa bangga lakukan itu? Atau benar yang kupikurkan ini, mentang-mentang kakak sebebtar lagi akan punya anak dengan ayah jadi kakak pelan - pelan mengatur supaya kami tersingkirkan dari ayah,"
Megan terpaku. Hening.
Bahkan perkataan Erick lebih membunuh dari pada adiknya.
"Kenapa kau berpikiran bodoh seperti itu? Bunda berniat baik agar kau bisa bertemu ibu kandung yang dulu kau rindukan. Ya sudah! Bunda tidak akan peduli lagi denganmu. Kau mau bertemu Yana atau tidak, bukan lagi urusanku." Megan pergi tinggalkan Erick membawa perasaan kesalnya.
.
"Megan berlian, jadi kau yang memberi ruang untuk Yana bertemu anak-anak? Ibu macam apa kau ini?" Morgan tak terima saat mengetahui istrinya diam-diam mempertemukan David dengan ibu kandungnya.
Megan masih kesal dengan kata - kata Erick yang masih terngiang-ngiang di telinganya malah disambar lagi oleh perkataan Morgan yang tak kalah mengiris. Morgan bahkan lupa untuk menyimpan tas kerjanya.
"Pulang-pulang kau langsung memarahiku? Memangnya apa salahnya bertemu anak sendiri? Dia wanita yang sudah mengandung mereka. Jadi orang jangan terlalu egois." bela Megan.
David lalu bicara dan menjelaskan semuanya. Bibir kakunya mengeluarkan kata demi kata dengan lancar.
"Bunda Yana memang meminta aku untuk tinggal dengannya tapi aku menolak ayah, bagiku wanita itu hanya orang asing. Jelas aku akan memilih tinggal dengan Ayah dan Bunda Megan jika harus memilih."
"Ayah hanya tidak mau jika mentalmu terganggu karena ini, boy.."
"Aku baik-baik saja, Ayah. Tidak perlu khawatir."
David pergi setelah udara di kamar ayahnya sudah membaik.
Morgan lalu merentang tangan ke arah istrinya, meminta wanita itu masuk kedalam pelukan tentunya.
Megan memberi diri dengan senang hati. Ini tandanya sudah tidak ada masalah antara mereka berdua.
__ADS_1
"Maaf sayang, aku sudah memarahimu. Kau pasti sedih."
"Tak apa. Pelukan ini membuatku baik-baik saja."
"Bagaimana kabarmu dan baby M kita?" Baby M adalah nama sementara untuk si calon bayi.
"Aku baik-baik saja. Sayang, Baby M sepertinya juga baik-baik saja. Dia membuatku sangat merindukanmu sepanjang hari."
"Aku juga merindukan kalian berdua. Kau tahu, isi kepalaku hari ini hanya dirimu dirimu dan dirimu. Nona Megan, sepertinya aku tidak akan melapasmu untuk selamanya. Apa kau siap hidup denganku sampai tua?"
"Bukankah kita sudah berjanji hidup bersama sampai mati? Kau benar, jangan pernah lepaskan aku. Mau terserang puber keberapapun jangan pernah jadikan itu alasan untuk bermain gila dengan wanita lain."
"Kenapa kau tiba-tiba membahas puber?"
"Hari ini salah satu staf di perusahaan papa bercerai. Katanya suami dia sedang mengalami puber dan berselingkuh dengan wanita lain. Aku ngeri mendengarnya."
"Megan berlian, semua laki-laki tidak sama. Puber juga tidak hanya terjadi pada laki-laki. Wanita juga cukup berbahaya."
Megan menggeleng. "Sepertinya kita berdua perlu menempel setiap hari. Bagaimana kalau kau mengundurkan diri saja dari rumah sakit? Kau bisa bekerja bersamaku. Setuju?"
"Kau yakin meminta aku mundur dari profesiku?"
"Tidak. Jangan. Aku sudah sangat bangga menjadi istri seorang dokter tampan sepertimu."
Pelukan menjadi semakin erat. Sangat erat.
"Sayang, apa kau inginkan aku malam ini?" Megan mulai menggoda.
"Sekarangpun aku sudah sangat menginginkanmu." tidak pernah gagal, Megan selalu berhasil menggoda suaminya.
Pelukan itu berakhir dengan kemesraan berujung adegan panas pasutri itu.
.
__ADS_1
.
Thanks bestie...🥰