
Malam ini adalah malam peringatan ke 100 hari mendiang pendiri Antami itu. Bukan karena tradisi atau semacamnya, hanya saja mereka memilih hari ini untuk kembali mengenang kepergian sang nenek. Para cucunya sepakat berkumpul di kediaman nenek semasa hidupnya, yang kini ditempati oleh keluarga Minda sesuai amanat sang nenek.
[Bunda, ayahnya Robian selalu menatap bunda dengan mata aneh. Hati-hati saat berpapasan dengannya.] dari jauh sana Erick memberi saran agar bundanya berhati-hati pada seorang lelaki. Tumben-tumbennya seperti ini. Walau dari jauh, tetap ekstra memastikan agar ibunya menjaga hati.
Megan mengeryit dahi. Sejak kapan si Tino begitu? Ada-ada saja anak ini.
[Sayang, kau tenanglah, ada ayahmu yang keren selalu bersama bunda. Dia akan mencongkel mata siapa pun yang berani melirik ibumu ini. Apa lagi dengan tatapan aneh] Megan tertawa sendiri membaca pesan yang ia kirimkan pada Erick.
Memikirkan tentang Morgan, tidak mungkin manusia itu akan peka dengan tatapan orang lain. Dia hanya akan berpura-pura tidak melihat.
Malam ini suasana kediaman nenek diramaikan oleh cucu cicitnya. Robian mendatangi David yang sedang duduk memangku Mervi.
"Boleh aku pinjam baby M?" David mengabulkan basa-basi Robian dan ia serahkan adiknya itu untuk dipinjam. Tak ada kata yang keluar dari bibir David seperti biasa.
Robian menggendong baby M untuk jalan - jalan. David mengikuti dari belakang.
"David, si Keisya tidak ke sini?" Bian menanyakan tentang gadis yabg selalu bersama David, melengket seperti permen karet.
"Dia bukan cucu si buyut. Jelas tidak ikut." datar saja jawaban David.
"Oia, aku minta maaf atas sikapku selama ini. Jujur, selama ini aku agak menyimpan rasa iri terhadapmu."Robian menjelaskan tentang semua yang ia rasakan sejak kemunculan David di keluarganya.
"Kenapa minta maaf? Apa kau akan mati?"
Meski terdengar bercanda, tapi terasa menyebalkan.
"Baby M, kalau besar kau jangan mirip dengan abangmu, ya. Ada bagusnya kau kalem seperti bang Bian ini." Robian beralih bicara dengan baby M yang tak tahu apa-apa.
"Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan? Jangan banyak basa-basi. Kita ini bukan teman akrab." David duduk di sebelah Bian yang kini memilih duduk di kursi taman. Bian tersenyum simpul.
"Kau tahu aku sangat suka si Keisya. Tapi ... Kau tenang saja, aku akan membuang perasaan itu. Aku sudah sadar kalau dia hanya menyukaimu."
Pantas saja Bian selalu mencari masalah dengan David selama ini. Ternyata dia serius menyukai Keisya yang selalu berada di sekitar David.
"Aku dengan Keisya hanya berteman." jawab David, seperlunya. Tapi Bian, ia tidak mengatakan apapun lagi. Remaja itu sudah mantap untuk melupakan cinta pertamanya itu.
.
Rermasuk Rana juga ada. Pancaran wajah Rana tampak berbeda sekali dengan yang dulu terlihat. Ia kini tampil semakin mempesona. Namun sayangnya, Erick tak terlihat lagi.
Rana ingin bertanya tentang Erick, namun ia sungkan dan tidak berani. Bukankah Megan sudah jelas melarangnya untuk saling terhubung dengan Erick?
Tidak ada tawa atau obrolan seru. Yang ada hanya suasana tenang meski keluarga ini sedang berkumpul.
Tegur sapa pasti ada, tapi jika hanya diperlukan dan tidak begitu terlihat.
Itulah keadaannya, hanya ada kecanggungan. Mereka akan terlihat akrab dan saling bersahutan melempar kata dengan lancar hanya jika sedang bertengkar. Namun demikian, sepertinya tiap dari mereka sudah mengintropeksi diri masing-masing. Hingga sepanjang pembacaan wasiat sang nenek berlangsung beberapa bulan lalu, sama sekali tidak ada bantahan yang memicu pertengkaran.
.
Delapan tahun kemudian.
Usia Morgan telah memasuki angka ke 50. Setengah abad hidupnya ia bersyukur untuk banyak hal.
Memiliki pernikahan yang sempurna dengan Megan Berlian, tidak membuat pria itu melupakan siapa dirinya, ia tetaplah seorang dokter yang selalu rendah hati dibalik sikap introvertnya.
Dikaruniai tiga orang anak, menambah kesempurnaan dalam rumah tangga yang ia jalani dengan Megan.
__ADS_1
Istri cantik dengan limpahan perhatian membuat rumah tangga mereka selalu asik dan adem. Meski ada saja perdebatan kecil, tapi itu hanyalah tentang pekerjaan.
Morgan bukan lagi hot duda bagi Megan Berlian. Wanita itu bahkan memiliki panggilan sayang untuk suaminya kala mereka hanya berdua. Seperti suami kerenku, Hot daddyku dan Pak dokter kesayangan. Pannggilan itu akan keluar dengan manja saat Megan sedang dalam mood tertentu.
Megan Berlian, semakin bertambahnya usia yang saat ini sudah berada di angka 42 tahun, Megan menjadi makin bijak pula dalam berbagai hal. Meski demikian, ia tetap menjadi sosok wanita yang disegani oleh siapa saja, seperti biasanya.
Tidak hanya itu, sosoknya yang mencintai keluarga membuat dia masih menjadi wanita kesayangan bagi kedua putranya, mengingat sampai saat ini kedua anak yang kini telah dewasa itu sama sekali belum membawa wanita pulang kerumah untuk dikenalkan sebagai pacar atau sekedar teman dekat.
Erick Erlangga, seperti keinginan ibunya, pria itu kini menetap di Jerman, meski sekali - sekali ia tidak lupa pulang. Erick telah memulai karirnya dari bawah menjadi karyawan biasa, hingga saat ini ia berhasil menjabat sebagai manager bagian pemasaran. Ia benar-benar menitik keringatnya belajar dari nol, seperti keinginan bunda Megan.
Erick dibimbing dengan sangat ketat. Tidak hanya pak Leo, petinggi lain pun ikut andil. Tidak ada yang tega mengabaikan pria itu, apa lagi ketika melihat senyum dan keramahannya. Terlebih, ia adalah putra sulung pemilik tempat mereka bekerja.
Bagaimana dengan David Erlangga? Delapan tahun berlalu tentu saja membawa banyak perubahan bagi anak itu. Kini ia telah cukup dewasa di usia 23-nya. Sesuai dengan cita-cita dadakannya, David kini sudah berada di tahun pertamanya sebagai seorang pilot muda. Sungguh membanggakan, Megan dan Morgan tidak pernah mengira akan memiliki anak yang akan menjadi seorang pilot.
"Mervi... Merviiiiii! Bang E pulang!" Seperti biasa, Erick selalu pulang tiba-tiba tanpa pemberitahuan lebih dulu.
"Astaga! Anakku! Sayang, anak kita pulang...!" Megan berlari kecil meninggalkan adonan kue yang sedang ia aduk dengan mixer.
Betapa bahagianya Megan melihat kepulangan si sulung setelah 6 bulan.
"Bunda, aku tahu Bunda yang paling merindukanku." Erick segera membalas pelukan ibunya.
"Anakku ini tumbuh dengan baik. Erick, Kau semakin tampan. Ngomong-ngomong, mana calon menantu bunda? Kau masih jomblo?" Erick sungguh tak tertarik menjawab pertanyaan ini.
"Mana gadis kecil pengganggu itu?" kenang Erick akan adik Mervi yang biasa menelponnya tak kenal waktu. "Aku ingin menjewer kupingnya."
"Jangan tanya adikmu. Kau tahu, dia sedang ikut lomba tujuh belasan."
"Apa?" Erick mencoba meyakinkan pendengarannya.
"Bunda, bagaimana bunda bisa tega melepas adikku bermain di luar lingkungan rumah? Bagaimana kalau ada orang jahat?"
"Tenang saja, ada bibi Fei yang memantaunya."
Baru saja Erik menaruh bokongnya, terdengar suara teriakan menggelegar. "Bang E!"
Erick sontak menoleh. "Bukan main! Anak siapa ini?" sengaja menggoda adiknya yang pulang dalam keadaan keringatan, kotor dan bau matahari. Erick menutup hidungnya.
Tak peduli dengan sikap kakaknya, Mervi melompat memberi pelukan. "Bang E! I miss you!"
"Aaaaaaaa! Bunda! Tolong... Jauhkan anak ini dariku. Dia sangat kotor!" Erick berusaha kabur dari Mervi yang dengan gemes tidak ingin pergi dari abangnya itu.
Megan hanya menyaksikan dengan senyum manis. Pemandangan dan suasana inilah yang ia rindukan.
"Mervi, kau habis main apa? Ayo ceritakan, ayah ingin dengar" Morgan tiba di ruang tengah dengan setelan rumah dan tidak melupakan kaca mata bening yang belakangan ini setia membantu penglihatannya.
"Tadi Mervi juara lomba Ayah, lomba lari karung mengenakan helm, lomba mancing botol dan makan kerupuk. Tapi hadiahnya Mervi bagikan ke teman-teman. Ya kan, bi Fei?." Mervi dengan bersemangat menceritakan berbagai jenis lomba yang tadi ia ikuti di lingkungan RT bersama warga.
Itulah Mervi, kebiasaan - kebiasaan masa kecilnya sangat jauh berbeda dengan ibunya yang malah tidak memiliki teman. Sedangkan Mervi, jangankan teman sepermainan, Ketua RT setempat pun dikenal dengan baik oleh anak itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Australia...
Morgan, Megan, Erick dan satu lagi, si tuan puteri, Mervi.
Saat ini keluarga bahagia ini berada di Australia, tepatnya di ibu kota negara itu.
__ADS_1
Bukan tanpa tujuan khusus datang ke negara ini, keempatnya memiliki alasan yang pasti, tak lain dari mendatangi David Erlangga yang katanya sedang off beberapa hari dari jadwal penerbangan.
"Bang D.....!" Mervi melambai saat melihat abang ke dua-nya melewati puntu masuk restoran tempat mereka menunggu kedatangan David dan sekalian makan siang bersama.
Tidak bertemu selama tiga bulan membuat Mervi begitu semangat ketika bertemu lagi.
Makan siang berlangsung seru diwarnai obrolan.
Keluar dari restoran, keluarga itu bergerak lanjut menuju tempat refreshing.
Tiba di area sebuah taman kota, Megan mengelar tikar untuk menjadi alas duduk dibawah pohon. Semua persediaan cemilan ia kekuarkan untuk keluarganya nikmati.
Kebersamaan sederhana ini cukup membuat mereka merasa bahagia.
Mereka pun tidak lupa mengabadikan momen dengan kamera ponsel.
"Sayang, lihatlah mereka berdua, sudah bukan anak-anak lagi." dari jarak yang cukup jauh, David Erick sedang duduk di sebuah kursi yang tersedia. Tak lupa ada Mervi kesayangan duduk manis di tengah keduanya. Entah apa yang sedang mereka bertiga perbincangkan. Megan dan Morgan baru sadar ternyata kedua jagoannya telah tumbuh dewasa.
Kakak beradik yang dulu masih remaja dan sempat dengan keras tidak menerima Megan, kini telah menjadi pria bertubuh tegap berisi, dan sangat-sangat perhatian pada bunda sambungnya, melebihi ayah mereka. Hanya Megan yang mengerti betapa bahagianya jadi dirinya.
"Mereka memang sudah besar. Tapi ... Apa mereka tidak memyukai wanita? Kenapa masih jomblo sampai detik ini? Aku khawatir. Jangan sampai mereka ikut jejakku dan betah sendirian sampai menyandang status bujang tua." Megan terlihat sedikit cemas.
"Kekhawatiranmu sangat konyol sayang. Sabarlah. Biarkan dulu mereka puas bermain dan bekerja."
Memang yang dikatakan Morgan ada benarnya.
"Tapi setidaknya mereka harus tahu rasanya pacaran dan saling mengenal degan wanita, agar kelak tidak salah pilih."
Begitulah orang tua, terutama seorang ibu. Ketika anak mereka telah dewasa, sukses dalam pendidikan dan pekerjaan, bukannya merasa legah, tapi malah terus kepikiran akan masa depan anak seterusnya. Tentang pacar, kapan nikah, punya anak, dan akan seperti apa jodoh anaknya kelak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...TAMAT...
Okey Bestie, HOT DUDA DAN PERAWAN TUA cukup sampai di sini.
Tungguin ya...🤭
...****************...
Terima kasih kalian telah setia membaca hingga episode akhir ini.
Mungkin banyak kata yang keliru, author mohon maap.
Oia, ada yg baru netas ni,
Judulnya : DADDY! IBUKU BUKAN PILIHANMU?
Emang susah pindah ke lain hati sih. Noveltoon selalu di hati🥰
Pengumuman untuk kalian, Kisah para cicit mendiang pendiri Antami itu akan di mulai dalam waktu dekat, dengan judul SETELAH 3 HARI PERNIKAHAN. Pemeran utamanya tak lain ialah Erick Erlangga. Silakan ditunggu ya...
Yuk komen.. Aku menunggu apa kata kalian😁😁
__ADS_1