
Bahagia luar biasa tengah dirasakan Megan. Akhirnya, ia dan keluarga kecilnya bisa pindah ke rumah ini. Rumah peninggalan kedua orang tuanya yang sudah ia tinggal lama. Kamar yang ia tempati bersama suaminya ini adalah kamar yang sama milik kedua orang tuanya saat masih ada.
Morgan sudah terlelap seperti biasa, pria itu pasti tumbang setelah lelah bermain dengan Megan. Megan sudah tidak heran lagi. Suaminya akan selalu seperti itu
Megan keluar dari kamar untuk memastikan kedua putranya sudah tidur.
Benarlah, keduanya telah terlelap di kamar masing-masing.
"Tidurlah anakku, mimpi yang indah." ia benarkan letak selimut yang menyelimuti tubuh si sulung tertampan itu.
Terima kasih sayang. Kau sangat mengangumkan hari ini. Bunda bahagia.
.
Malam bahagia telah berlalu, disambut dengan pagi weekend.
Erick sudah bersiap untuk hari pertama latihan menyetirnya. Remaja itu tampak bersemangat.
Sebenarnya Morgan yang akan langsung terjun mengajari putranya itu, tapi lagi-lagi ia terkendala oleh sebuah alasan, Baby M sedang tidak ingin ayahnya jauh.
Supir datang menjemput Erick. Keduanya kemudian pergi.
Butuh satu pekan penuh untuk Erick belajar menyetir. Hari ini adalah hari ke tujuh dan wajahnya terlihat jelas sangat gembira karena akhirnya hari ini dia telah memegang kemudi mobil pribadinya. Mohon maaf, selama 6 hari belajar menyetir, remaja itu sama sekali tidak berani menyentuh mobil barunya. Bukannya apa, sayang kalau lecet saat tidak sengaja tersenggol saat masih berlatih. Seperti kata David, jangan membuat mobil baru seharga 3 milyar itu berubah mubazir karena kecerobohan.
"Bundaaa!"
Langkah besarnya memasuki kediaman yang sudah ia tinggali dalam tujuh hari terakhir ini.
Wanita yang tadi ia panggil sedang sibuk dengan aktifitas barunya, yaitu belajar memasak. Melihat kepulangan anaknya, Megan hampiri si sulung tampannya itu dengan semangkuk spageti hasil olahannya.
__ADS_1
Aaaaaa.
Meminta Erick membuka mulut, namun anak itu terlihat ragu.
"Apa ini makanan?"
"Yaaa... masakan bunda. Yakin, pasti lezat kali ini."
Erick membuka mulutnya dengan hati-hati.
"Bunda, ini enak. Apa boleh aku habiskan?"
Megan merasa legah. Dia berhasil dengan percobaan pertamanya.
"Tentu, habiskanlah." baru juga dua suapan, Megan kembali merampas mangkuk spagetinya dia tangan Erick.
"Bunda berubah pikiran. Biar David yang habiskan."
"Cukup, kata baby M, ini jatah abangnya yang paling rajin belajar." Megan menghilang dari pandangan Erick
Baby M, Baby M, Baby M! Selalu saja setiap hari nama itu disebut! Belum lahir saja dia terus mengganggu kesenanganku! Erick menggerutu kesal.
.
Satu bulan berlalu.
Megan baru saja bangun pagi dan merasa mual berat, padahal selama dua bulan terakhir biasa-biasa saja.
Lain halnya dengan Morgan, suaminya itu tiba-tiba sangat suka habiskan waktu senggangnya untuk pergi memancing. Yang dikata orang bahwa memancing adalah kegiatan yang membosankan, justru menjadi seperti candu untuknya, hobi baru yang menyenangkan.
__ADS_1
[Ayah, apa kau sengaja menghindari isterimu? Baby M itu terus minta macam-macam sampai bunda tidak sempat lagi perhatian padaku!] kesal David melalui pesan teks kepada ayahnya. Jelas remaja itu sedang sangat tidak terima bundanya direnggut oleh keadaan, akan tetapi Morgan hanya menanggapinya dengan senyum tipis. Anehnya, walaupun Megan selalu menempel saat mereka berdekatan, tapi satu kalipun dia tidak pernah protes akan hobi baru suaminya. Baby M memang mendukung hobi baru Morgan.
.
"Bunda, apa harus aku? Ada banyak supir yang bisa bunda perintah seperti biasa." Erick mengeluh pagi indahnya lagi-lagi terganggu.
"Baby M maunya kamu, sayang... ayolah, belikan buah Manggis."
Megan sedang ingin makan buah Manggis yang harus dibeli oleh Erick, bukan orang lain. Dan tentu saja ini keinginan baby M.
Erick terpaksa berangkat dari pembaringannya. Tanpa cuci muka apa lagi mandi namun tetap saja tampan, ia raih kunci mobil barunya, berjalan keluar dengan berat hati.
Megan mengikuti langkah lebar anak sulungnya itu.
"Kemarin buah Kedondong, kurma, duku. Hari ini Manggis. Besok buah apa lagi yang diinginkannya?" gerutu Erick yang terdengar jelas di telinga ibunya.
"Rick, jangan terus mengomel. Baby M tidak akan tinggal di dalam perut bunda selamanya. Kalau dia sudah keluar, tidak akan lagi minta ini dan itu."
Erick melirik sekilas. "Aku curiga dia memiliki dendam pribadi padaku Bunda. Tunggu saja, kalau sudah lahir maka perang saudara akan dimulai." Erick memasuki mobilnya.
"Hati-hati di jalan sayang..." Megan mengacak rambut Erick seperti yang suka ia lakukan.
Sekesal apapun Erick pada baby M, ia tetap menanggapi bunda Megan dengan baik. Ya ... bundanya dan Baby M adalah orang yang berbeda. Tidak dapat disamakan. "Oke, aku jalan... Love you Bunda."
.
.
Bersambung....
__ADS_1
yuk bisa yuk semangat...