Hot Duda Dan Perawan Tua

Hot Duda Dan Perawan Tua
Kejutan


__ADS_3

Malam datang...


Erick menunggu kepulangan adik dan ibunya yang pergi sejak tadi sore namun hingga malam tiba mereka tidak juga pulang. beberapa kali ia menoleh kr arah pintu.


Ia menghubungi keduanya bergantian tapi sepertinya mereka berada di luar jangkauan. Erick kebingungan.


"Ayah, kemana mereka berdua?" Sudah tidak sabar ingin memberitahukan tentang kakinya yang sudah membaik.


Morgan datang dengan dua gelas susu coklat manis.


"Oh, mereka tidak memberitahumu? Bunda ada pekerjaan di luar kota. Adikmu menemaninya. Mereka akan pulang besok."


Sikap cuek ayahnya ketika bunda sedang jauh terasa begitu mengganggu. "Kenapa bukan Ayah yang temani? Apa ayah tidak khawatir?"


"Kau mulai mengkhawatirkan bunda sekarang?"


"Tidak, kenapa aku harus khawatir," Erick mengalihkan perhatiannya dengan menyerup susu coklat manis.


"Atau ... kau mungkin menghawatirkan baby M kita?"


"Kenapa aku mengkhawatirkan dia, aku hanya ingin beritahukan keadaan kakiku."


"Ya sudah. Tunggulah sampai besok. Beri mereka kejutan."


Erick mengangguk. "Ayah, apa Ayah bisa belikan motor?"


"Kau ingin motor lagi? Apa kau tidak trauma dengan apa yang sudah terjadi?"


"Aku tidak trauma. Tapi aku ingin motor yang seperti punya anak juragan di sekolahku."


Morgan tersenyum mengejek. "Jadi Kau mau bersaing dengan anak juragan yang ambil pacarmu?"


"Tidak juga," jawab Erick.


"Dari pada naik motor lagi, lebih baik kau belajar menyetir saja. Kau bisa pakai mobil ayah."


Wajah Erick berubah sumringah. "Benarkah Ayah? Itu ide yang bagus!" seru Erick.


Morgan mengangguk. Memang sedikit lebih aman jika putranya mengendarai mobil saja. Morgan masih trauma akan kejadian yang sudah menimpa putranya itu.


"Tapi ayah, jika mobil ayah aku bawa, lalu ayah bagaimana?"


"Ayah bisa semobil dengan bunda. Lagi pula setelah ini ayah yang akan mengantar bundamu ke tempat kerjanya. Kasihan jika bunda menyetir sendiri dalam keadaan hamil."


Erick merasa bersemangat. Ia bahkan tidak pernah berandai-andai saat sudah sembuh dari kelumpuhan ini akan diperbolehkan mulai menyetir oleh ayahnya.


.


Bukan di luar kota, tapi Megan sedang berada di rumah masa kecilnya bersama David.


"Kau sudah mengantuk, tidurlah. Bunda keluar ya," Megan pergi dari kamar David membiarkan remaja itu beristirahat dengan nyaman.


Di kasur ini memang sangat nyaman. Seandainya bisa tinggal di rumah ini lebih lama.


Kembali ke kasur empuk ini lagi benar-benar memberinya kenyamanan. David jadi teringat saat - saat masih tinggal di kediaman si buyut.

__ADS_1


Aku benar-benar  beruntung memiliki bunda Megan yang penyayang. Tapi sangat disayangkan karena aku gagal jadi anak bungsu kesayangannya. Semua ini karena kecerobohan ayah. Hmmm... Nikmati kasih sayang bunda sepuasnya sebelum baby M lahir dan menggeser posisiku.


Meskipun David sangat mengerti bahwa baby M tidak di sambut dengan baik oleh seluruh anggota keluarganya, tapi otak cerdasnya bisa memprediksikan bahwa tidak akan ada yang tega menyingkirkan  baby M setelah ia lahir. David bahkan kini merasa bersalah setelah sempat mengusulkan akan menyerahkan adiknya itu ke dinas sosial setelah lahir, kelak.


.


Di ruang tengah, Megan sedang memainkan ponselnya. Ia lalu mengetik pesan disana.


[Pak Dokter... Aku merindukanmu ...]


[Katamu akan menahan rindu sampai besok?] Balas Morgan.


[Aku bisa tahan. Tapi baby M terus memprovokasi aku.]


[Kau selalu menuduh dia. Baik, tunggulah. Bilang padanya kalau ayah akan tiba dalam dua puluh menit.]


Jantung Megan lagi-lagi berdegup kencang. Menggebu-gebu rasanya menunggu kedatangan Morgan.


Pak dokter benar-benar sudah meracuni pikiran dan perasaanku. Aku segila ini pada pria itu, ya ampun... Kami adalah suami istri tapi kenapa aku masih terus berdebar seenaknya?


Dua puluh menit menunggu, Megan mendekati pintu utama rumah itu dengan perasaan tidak sabar.


"Sayang ... akhirnya kau tiba."


Menyambut Morgan dengan pelukan hangat.


Morgan membalas pelukan itu dengan satu kecupan di kening istrinya.


"Ayo ke kamar, sayang. Takut anak itu terkejut jika tiba-tiba bangun dan melihatku disini." Mendengar ajakan suaminya untuk masuk ke kamar,  Megan tersenyum nakal, salah tingkah


"Aku datang untuk baby M." Senyum nakal istrinya membuat Morgan merasa ngeri.


"Baby M tidak membutuhkanmu, sayang... tapi itu aku."


Dahlah, Morgan tidak punya cela untuk menolak kehebatan istrinya dalam hal menggoda dirinya. "Baiklah kalau itu yang kau inginkan."


.


Paginya Erick kali ini terasa begitu hambar, tidak berwarna lagi. Ia merasa benar-benar kehilangan kali ini. Ayah pun sudah menghilang entah kemana sepagi ini. Erick menikmati sarapan pagi seorang diri.


Suara klakson membuatnya berdiri dengan semangat. Tapi lagi - lagi kenyataan tak sesuai harapan saat membuka pintu, lagi-lagi sang supir berambut uban itu yang menjemputnya.


"Jangan beritahu bunda kalau kakiku sudah membaik."


Sang supir mengangguk pasti. Ia pun merasa legah karena majikan mudanya ini sudah bebas dari tongkat penyanggah maupun kursi roda.


.


Di sekolah pun tak kalah menyebalkan. Seharusnya mendapatkan ucapan selamat dan ikut senang atas kondisi kakinya yang sudah membaik, tapi semua orang terlihat biasa - biasa saja. Bahkan teman-teman baiknya sekalipun, mengabaikannya.


Sepanjang kegiatan belajar mengajar berlangsung, Erick dihantui dengan berbagai pertanyaan yang berkrliaran mengitari kepalanya.


Apa aku ini tidak terlihat? Kenapa sepertinya tidak seorangpun menganggapku ada?


Sepulang dari sekolah, lagi- lagi Erick harus menahan perasaan kesalnya. Semua teman setingkatnya beramai - ramai dijemput dengan beberapa bis kota. Bukan main serunya terlihat.

__ADS_1


Ada kegiatan apa hari ini? Aku juga kelas dua belas. Kenapa aku tidak diajak? batinnya.


Dan seperti biasa Erick dijemput oleh supir yang sama.


Wajah majikan mudanya ini terlihat murung. Sang supir hanya diam-diam tersenyum penuh arti. "Apa hari ini sangat melelahkan?"


"Benar, aku sangat lelah dengan semua orang. Aku masih hidup tapi sepertinya dianggap sudah tidak ada." jawab Erick kesal.


"Tidak mungkin. Itu hanya perasaan Nak Erick saja." hibur sang supir, masih dengan senyum yang sama.


Sehabis memutar-mutar arah tanpa alasan, sang supir akhirnya membelok ke rumah masa kecil Megan.


"Kenapa kita ke rumah ini? Apa bunda di dalam?" yang terlintas pertama kali di ingatannya hanyalah wanita itu, ibunya.


"Silakan turun. Sedang ada acara di dalam sana."


Atas perintah supirnya, Erick turun dari mobil. Dari luar saja sudah samar terdengar suara banyak orang. Erick berlari masuk.


Di halaman luas tepatnya di area kolam renang, Erick dibuat terperanga oleh orang-orang berseragam sekolah yang sama dengannya.


Kenapa semua temanku ada disini?


Ia dekati gerombolan mereka dengan hati-hati.


Apa aku sedang bermimpi?


"Kakak!" seseorang berseru memanggil, sudah pasti itu David, ia terkejut melihat sosok kakaknya keluar tiba-tiba tdari kerumunan tanpa mengenakan alat bantu apapun untuk berjalan.


David berlari menghampiri. "Kak...!" dari atas sampai ke bawah ia tatap sosok abangnya itu untuk meyakinkan apa yang sedang dilihat matanya.


"Kak, kau sembuh!" di dekapnya Erick begitu ia yakin dengan penglihatannya.


Morgan adalah orang yang hanya tersenyum puas, sedangkan istrinya masih berdiri shock ditempat.


Nenek dan seluruh cucu cicitnya yabg lain tidak kalah terkejut. Yang mereka pikirkan bahwa Erick akan cacat seumut hidupnya sungguh tidak terjadi. Mujizat masih ada.


Rencana membuat kejutan untuk Erick, malah mereka yang dikejutkan lebih dulu saat melihat kondisi remaja itu yang sudah membaik.


Megan hampiri anak sulunya itu dengan langkah besar, namun tetap terlihat anggun. Tidak peduli jika anak ini akan memarahinya, Megan merampas tubuh Erick dari pelukan David untuk bergantian memberi remaja itu pelukan.


"Terima kasih anakku, kau akhirnya ... sembuh!"


Pelukan ibunya berakhir setelah terdengar suara nyanyian selamat ulang tahun dinyanyikan beramai-ramai oleh semua orang yang berada disana.


Erick masih kebingungan.


Di depan sana sebuah tirai polos lebar membentang. Perlahan kain itu terbuka.


Kebingungan Erick berubah menjadi keterkejutan. Sebuah ucapan selamat ulang tahun untuknya terpampang nyata disana.


"Happy birthday Eriick!" ucap semua orang bersamaan.


Erick tersenyum lebar. Terjawab sudah alasan mengapa semua orang mengabaikannya.


.

__ADS_1


.


Bersambung... yuk yg semangat.😁


__ADS_2