
"Aku sebagai ayahnya, memohon maaf atas perbuatan putraku." dengan suara rendahnya, Morgan meminta maaf dengan tulus kepada Lisa dan Tino, kedua orang tua Robian yang bukanlah orang lain, melainkan sepupu Megan, istrinya.
Tino menanggapi itu dengan mengangguk, sementara Lisa tak bergeming, masih memasang wajah judesnya.
"Kak Lisa, ini adalah masalah anak-anak. Sebaiknya kita sebagai orang tua tidak perlu ikut terlibat. Mari nasihati anak kita masing-masing." mengingat sudah banyak hal yang membuat mereka tidak pernah akur layaknya keluarga, Megan berpikir untuk tidak perlu menambah benteng pemisah antara mereka.
"Menasihati anakku? Kau pikir aku tidak pernah menasihati anakku? Disini Robian sebagai korban dan anak kebanggaanmu itulah pelakunya. Dia yang perlu dinasihati." Lisa tetap dalam mode marahnya, tak peduli saran bijak dari Megan.
Megan kemudian pasrah. yang penting sudah datang dan meminta maaf, terserah kalau Lisa tidak ingin berdamai.
.
.
Drrrt drrrt drrrt.
Erick terbangun di pagi weekend-nya. Ia membuka layar ponselnya yang berdering.
Panggilan dari nomor tak di kenal. Meski begitu, ia tetap menjawab.
[Halo...]
Hening dalam beberapa detik.
[Halo...]
[Kak, ini Terana.] suara Terana di seberang sana berhasil melenyapkan rasa kantuk yang masih tersisa.
[Rana, kau ...]
[Maaf mengganggu pagimu, Kak. Aku ... hanya mau menyapa dan minta maaf atas kejadian malam itu.]
Erick kembali mengingat moment first kissnya yang direnggut oleh sepupu tirinya sendiri.
[Tidak perlu minta maaf. Itu hal biasa.] sumpah, Erick hampir saja menggampar mulutnya sendiri yang bicara tak karuan.
Rana tak bersuara. Entah apa yang dia pikirkan setelah Erick mengatakan sudah biasa dengan kissing.
[Kau masih disana, Rana?]
[Oh, kak Erick, trima kasih kalau tidak marah padaku. Akhirnya aku legah.]
[Ya ... Oia, Rana, tolong maafkan kalau ada perkataan bunda Megan yang menyinggungmu.]
[Tentu, kak. Aku ... tidak apa. Tante meminta aku jangan macam-macam terhadapmu. Dan aku, berjanji tidak akan mengulanginya.]
Hening...
Hening ...
Sampai akhirnya telpon terputus hingga membuat Erick mengkas mengkis menelusuri story panggilannya bolak balik sambil memanggil nama gadis itu dalam hati, namun tidak menemukan apa-apa.
__ADS_1
.
.
Satu bulan Kemudian.
Hari ini Megan, David dan baby M akan mengantarkan Erick sampai di Jerman, sekalian berlibur tipis-tipis.
Baby M yang kini sudah genap lima bulan, sudah tenang dibawa kemana-mana. Sayangnya Morgan tidak bisa ikut serta karena sudah terlanjur menghabiskan masa cuti tahunannya pasca kelahiran baby M. Tidak hanya itu, ia bahkan hampir mencoreng nama baik rumah sakit saat mundur dari tanggung jawabnya secara sepihak karena lebih mengutamakan isterinya waktu akan lajirkan anak bungsu mereka itu. Jadi, untuk kembali meminta izin berlibur ke Jerman bukanlah hal yang musah untuk ia lakukan.
"Sayang, ini kemeja kerjamu untuk setiap hari sudah aku siapkan." Megan mengurut rapi beberapa kemeja di dalam lemari.
"Aku sudah bilang kau jangan terlalu repot mengurus pakaianku. Aku bisa lakukan itu sendiri."
"Satu lagi, sayang, jangan melupakan tumbler teh hangat-mu." Megan kembali mengingatkan suaminya agar jangan sampai mendapatkan teh manis dari bu dokter yang katanya teman kuliah suaminya sekaligus wanita yang pernah terlibat perasaan suka pada Morgan namun tidak dianggap oleh pria itu.
"Jangan cemburu buta. Temanku itu sekarang sudah memiliki kekasih." legah mendengarnya, Megan mengelus dada. Akhirnya wanita meresahkan itu sudah menyerah pada suaminya.
"ya... memaag harus begitu. Dia tidak akan sanggup menunggu kau menduda lagi, karena aku akan berumur panjang."
Hanya mampu menggeleng dengan bibir tersenyum tipis, Morgan memberi istrinya itu pelukan. "Ya ... kau memang harus berumur panjang sayangku ... aku pegang janjimu." Pelukan lama pun dinikmati sebelum benar - benar terpisah oleh jarak antara Jerman dan Indonesia.
...****************...
.
Morgan mengantar kepergian istri dan anak-anaknya sampai pesawat yang mereka tumpangi lepas landas.
"Nenek buyut memaksa kami berbaikan. Ya jadi ... kami bahkan sudah bersalaman di hadapan nenek." jawab David, sambil serius menatap majalah yang ia pegang.
Megan menganggap masalah selesai jika terdengar seperti ini.
"Lalu apa ada yang nenek katakan lagi?"
"Bunda, nenek bilang, aku harus terus akur dengan Robian sampai selamanya. Aku merasa keberatan, tapi aku sudah terlanjur mengiyakannya."
"David, karena kebetulan kau memiliki saham Antami Grup, kau memang harus akur dengan Robian. Kelak saat besar nanti, jangan sampai hubungan kalian seperti yang bunda alami dengan tante Lisa." Perlu diketahui bahwa, saham Antami milik Morgan dan Erick kini sudah dialihkan menjadi milik David, sesuai ketetapan sang buyut.
"Kata siapa aku mau berurusan dengan Antami? Bunda, aku tidak menyukai Antami. Lima menit lalu aku baru memutuskan tentang rencanaku. Aku ingin jadi pilot, Bunda."
"Ap-apa? Pi-pilot?" Ini tidak lucu. Untuk apa memilih cita-cita beresiko tinggi? Megan ingin segera menggeleng tapi kepalanya malah mengangguk pelan dengan wajah ragu.
"Bunda, sepertinya pendidikan pilot membutuhkan biaya yang tinggi. Apa kira-kira ayah mampu membiayaiku nanti?"
"Ayah masih sehat. Tentu saja dia akan berusaha semampu dia. Lagi pula kau punya bunda yang memiliki uang tak terbatas. Tenang saja, sayang."
David mengangkat tangan, tanda bahwa ibunya tidak perlu ambil pusing. "Berhenti terbebani, Bunda. Dalam hal ini, aku akan mengandalkan ayah."
"Terserah kau saja."
.
__ADS_1
.
Tiba di negara Jerman. Masing-masing orang mengenakan mantel untuk melindungi diri dari dinginnya suhu saat ini. Baby Mervi tampak sangat lucu mengenakan mantelnya yang berwarna pink, dilengkapi dengan topi rajut yang menutupi hampir seluruh kepalanya.
"Bunda ... disini sangat dingin. Waktu di Miami panasnya bukan main." Erick merasa sangat menyukai musim ini. Sepertinya semua warga menutup rumah mereka rapat-rapat agar salju tidak menembus ke dalam.
Tiba di area parkir sebuah gedung tinggi yang sedikit mirip seperti hotel.
Supir mempersilakan mereka untuk turun.
"Disinilah kau akan tinggal, Nak." Sambil berjalan menuju pintu lift, Megan menjelaskan bahwa Erick akan tinggal di apartemen ini. Gedung ini adalah tempat berkumpulnya para pegawai hebat milik perusahaan Anta Techno yang bergerak dalam bidang pembuatan ponsel, sebagai alat komunikasi tercanggih masa kini, dan tentu saja Megan Berlian sebagai pemiliknya sekarang.
Malam harinya, Megan memperkenalkan seorang pria kepada Erick Erlangga.
" Panggil saja dia Pak Leo, dia salah seorang sekertaris handal di Anta Techno. Dia akan mengurusmu selama disini." pria berhidung mancung itu mengangguk seolah mengerti yang dikatakan oleh Megan.
Setelah menjelaskan tugas-tugas pak Leo untuk diketahui oleh Erick, Pak Leo pamit pergi.
"Bunda, kenapa temanku harus pria itu? Apa tidak ada yang sebaya denganku?" Erick mulai membayangkan betapa membosankan tinggal di negara ini dan hanya didampingi oleh Pak Leo.
"Tenang sayang, dengan sendirinya kau akan memiliki banyak teman."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sudah puas berlibur selama dua pekan di negara Asing ini dan telah mencoba berbagai jenis rekreasi, Megan memutuskan untuk membawa pulang David dan si bungsu besok hari.
Belum lagi ada Morgan yang menanti dengan tidak sabar kepulangan baby M, terutama ibu dari bayi itu.
Malam ini adalah malam terakhir di negara ini. Erick memgajak David untuk berbincang di kamarnya karena setelah ini mereka akan terpisah dalam waktu yang sangat lama.
Banyak hal yang diperbincangkan keduanya. Tentang cita - cita, masa depan dan berbagai hal lainnya.
"Kak, katamu kau akan menjadi dokter seperti ayah. Tapi kenapa malah mengambil jurusan lain? "David membawa kakaknya flashback ke masa lampau, tentang khayalan masa kecil mereka dulu.
"Tidak perlu mengingat itu lagi. Selagi aku bisa, aku akan mengikuti keinginan bunda. Kau harus tahu, karena kita memiliki adik kecil yang dilahirkan bunda, maka ... kita harus menjaga dia, serta menjaga seluruh warisan baby M. Semua harta dan tahta bunda, seluruhnya akan turun menjadi milik baby M. Itu kenapa bunda menempatkan aku disini."
"Kak, apa kau menyalahkan bunda atas ini? Terdengar seperti ... bunda sedang memperalatmu."
"Tidak, aku hanya berpikir realistis saja. Kenyataannya memang seperti itu, kan? Tapi apapun itu, aku akan menjadi kebanggaan ayah, bunda dan baby M." David terdiam, mencerna perkataan abangnya.
"Lagi pula, aku sudah melupakan cita-cita dokter. Aku tidak percaya diri lagi soal itu."
Megan yang kebetulan mendengarkan obrolan kakak beradik itu, menahan langkah berdiri di depan pintu saja sampai tidak lagi bersuara. Ia masuk untuk mematikan lampu dan memasang selimut untuk keduanya.
.
.
Dah abissss
Esok lagiiiii😉
__ADS_1