
Thor! Dua jam-mu sungguh lama!
🤐🤐🤐🤐🤐🤐🤐🤐🤐🤐🤐🤐🤐
...----------------...
Tiba di parkir area gedung perusahaan, Megan menarik dan menghembus napas panjang untuk menetralkan jantungnya yang masih terasa sisa-sisa kegugupan disana.
"Ayo masuk dan lupakan kejadian tadi."
"Tenang saja, aku tak masalah."
Berjalan berdampingan, Megan menggandeng lengan David. Anak itu melirik sekilas tapi tidak juga tega menolaknya.
"Bunda pinjam lenganmu sebelum ayah tiba." ujar Megan tanpa ditanya.
"Terserah." jawab David.
Minda adalah pemilik wajah terbahagia malam ini. Bisa Megan tebak bahwa Gea dan Lisa pasti akan sengaja datang terlambat, atau bahkan tidak akan hadir sama sekali.
Megan tidak lupa membawa putranya untuk menyapa sang nenek dan menjelaskan tentang Morgan yang akan menyusul, sebelum wanita tua itu bertanya dengan omelan.
"Selamat kak Minda, aku sangat berharap Antami kita semakin sukses dalam genggamanmu." ucapan yang terdengar tulus dari hati, hanya bersambut gerakan bahu terangkat, menggambarkan kesombongan jiwa seorang Minda. Minda tersenyum penuh makna. Megan hanya mengabaikan saja sikap ini, asalkan Minda tidak mencari gara-gara terhadap dirinya, maka tak apa.
Megan adalah orang yang sangat diwaspadai oleh Minda untuk saat ini. Megan yang memang nyata mendukungnya secara terang-terangan, tapi siapa yang tahu jika itu hanya sebuah jebakan.
Sebagai cucu pemilik Antami, Megan menyapa semua kolega yang hadir. Setiap orang menilai bahwa wanita dengan tempramen buruk satu ini terlihat semakin ramah dan membaur.
__ADS_1
Semua orang saling menyapa walau hanya sekedar basa - basi belaka.
"Hai David," sesosok gadis remaja cantik menyapa dengan begitu ramah. Suara merdunya benar-benar masuk dengan lembut melewati gendang telinga.
Megan menoleh ke samping memastikan ekspresi sang pemilik nama yang baru di sapa, tak disangka hanya wajah datar itu yang terlihat.
"Sayang, ini temanmu?" perlahan Megan melepas diri dari lengan David. Putranya itu mengangguk tanpa ekspresi.
"Hai tante, saya Keisya, teman sekelas David." cukup sopan cara gadis bernama Keisya ini memperkenalkan diri. Megan memjawab dengan memperkenalkan dirinya pula.
"Hai Tante Megan, hai David," Rana datang membawa sikap manjanya berdiri diantara kedua ibu dan anak itu. Megan hanya melirik kearah lengannya yang di peluk oleh Rana.
"Tante, dimana kakak yang tampan itu?"
"Siapa maksudmu?"
Morgan terlihat bersama Erick. Sepertinya dua orang yang sangat ditunggu oleh Megan ini baru saja tiba.
Pencahayaan yang memadai memudahkan Morgan untuk menemukan keberadaan istrinya diantara banyaknya wanita dengan penampilan yang terlihat hampir sama, bikin sakit mata, sangat terbuka. Namun sesuai permintaan Morgan, kali ini sang istri tidak lagi mengenakan pakaian haramnya itu, tapi tetap tampil elegan dengan sejuta pesona di mata Morgan.
Dihampirinya istrinya itu. Seperti sudah tidak bertemu puluhan tahun, Megan dengan riang memberi suaminya itu pelukan. Muka gembiranya bahkan membuat orang lain yang kebetulan menyaksikannya ikut tersenyum bahagia.
Erick yang berdiri tidak jauh dari keduanya pun merasa ikut terseret jadi pusat perhatian.
"Hai, Kak," beruntung seseorang datang menyapanya. Dia, Terana. "Kak, ayo ikut denganku. Senyum Rana yang manis membuat Erick tertegun sejenak. Baiklah, sepertinya berbincang dengan Rana tidaklah buruk dari pada menjadi obat nyamuk disekitar ayahnya.
"Antar aku bertemu nenek. Aku belum menyapanya."
__ADS_1
"Dengan senang hati," Rana menuntun Erick berjalan disebelahnya.
Ya Tuhan! Aku berada di sebelah makhluk asing ini. Dia benar-benar tampan dilihat dari sisi manapun. Lupakan kaki cideranya, itu tidak penting.
"Rana, terima kasih kau begitu perhatian pada kakak sepupumu. Temani dia berjalan perlahan."
Megan pun menemani suaminya untuk menyapa sang nenek. Karena satu - satunya alasan kenapa suaminya hadir di acara ini hanyalah wanita tua itu.
Lagi, Megan harus merasakan hal yang sama. Di antara tamu yang hadir, ada seseorang yang sedang menatapnya dengan intens.
"Pak Dokter, pergilah bertemu Nenek. Aku akan ke kamar kecil sebentar." Megan lepaskan lengan sang suami lalu menyingkir ke tempat sepi.
Ini pasti bukan sekedar feeling burukku.
Ia raih ponselnya lalu menghubungi Riko.
[Ya Megan,]
[Riko, aku ada tugas baru untukmu.]
[Siap boss, tapi bisakah bayar dimuka? Ibuku butuh biaya.]
.
.
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1