Hot Duda Dan Perawan Tua

Hot Duda Dan Perawan Tua
Setelah Tiga Hari Pernikahan


__ADS_3

Baru Publish



Sinopsis.


Cerita ini memuat kisah para cicit Antami Grup yang kini telah dewasa.


.....................


Hanya kedapatan melakukan hot kissing, mereka dinikahkan secara darurat oleh keluarga. Siapa sangka ini adalah permainan seorang wanita serakah?


"Selamat sayang, kau berhasil menjadi istrinya. Cepatlah hamil agar disayang oleh ibu mertuamu dan kita bisa bergerak semakin bebas. Mama mengandalkanmu."


Erick Erlangga dibuat murka setelah mengetahui kelicikan ibu mertuanya.


"### Kurang aj*r! Kukira dia memang jodohku."


Sekuat apapun Rana merengek untuk tetap bersama, Erick tak mudah mempercayainya lagi.


Kebersamaan pengantin baru itu berakhir hanya dalam hitungan hari.


Kembali ke Jerman, Erick memberi istrinya tiket kembali ke Panama. Keduanya berpisah di Bandara.


Erick pergi untuk memeriksa hatinya sendiri, apakah perasaannya perlu dilanjutkan atau tidak.


Bab 1


“Ma, Ma...! tunggu dulu, Ma, aku harus tarik napas.” Seorang gadis cantik berambut panjang lurus berkilau diseret setengah paksa oleh wanita setengah baya yang adalah ibunya sendiri. Gugup, itulah yang ia rasakan di menit-menit terakhir akan masuk kedalam perangkap yang seharusnya sudah diatur dengan rapi oleh sang mama.


“Rana, sayang, kau akan menjumpai pujaan hatimu tapi kenapa Kau masih ragu?”


Terana Marlon, seorang gadis berusia 27 tahun. Ia baru saja turun dari pesawat dua jam lalu setelah menempuh perjalanan dari kota Panama selama beberapa jam.


Terana, yang biasa dipanggil dengan nama Rana itu, selama ini hidup dengan limpahan kasih sayang dari sang ibu, sejak ia mengenal dunia hingga hari ini dimana ia telah menjadi wanita dewasa. Ia bahkan tidak perlu melakukan apapun selain makan, tidur, olahraga dan belanja.


Meninggalkan Indonesia sejak 11 tahun lalu membuatnya kini merasa seperti orang baru di negara ini, tepatnya gedung Antami Grup yang pada hari ini akan merayakan pesta ulang tahun yang ke 70 tahun. Sebagai salah satu pemilik sebagian kecil saham perusahaan ini, tentu Rana tidak akan ketinggalan untuk merayakannya.


Banyak hal yang telah berubah selama lebih dari 10 tahun, tapi satu yang pasti masih sama, yaitu perasaan Rana terhadap sepupu tirinya, Erick Erlangga. Tak peduli bagaimana tante Megan menentangnya, tapi Rana tidak pernah membuang Erick dari ingatan.Ini adalah perasaanku, tante Megan tidak berhak ikut campur dengan apa atau siapa yang aku sukai. Begitulah isi hati Rana yang ingin ia ungkapkan lewat kalimat lantang untuk melawan Megan Berlian, sepupu mamanya itu yang tak lain adalah ibu tiri dari Erick Erlangga. Namun, ia hanya mampu memendamnya sejak dulu kala.


Pintu terbuka lebar. Telah begitu banyak orang yang hadir membawa wajah bahagia mereka. Setidaknya ini sedikit mengatasi kegugupan yang melanda perasaan Rana.


Di ulang tahun Antami kali ini, perusahaan ini telah berada dibawah kepemimpinan Robian, yang juga sepupu Rana. Sungguh perjuangan yang gigih, tante Lisa berhasil merebut kedudukan pemimpin Antami untuk putranya.


Robian telah dewasa dan tampan pula.

__ADS_1


Penampilan Rana yang sungguh menyilaukan mata membuat Bian langsung menangkap kedatangannya. Ia pun menghampiri dan menyambut sepupunya itu dengan sebuah pelukan hangat.


“Apa Kau melihatnya?” bisik Rana.


Bian tidak perlu bertanya siapa yang dimaksud oleh Rana, ia sadar betul jika sepupunya ini menanyakan tentang Erick, sepupu tiri mereka.


“Dia belum tiba di ruangan ini. Kabarnya dia baru mendarat satu jam lalu. Jika Kau menoleh ke sebelah selatan ada tante Megan. Kau harus tahu, dia pasti memantau pergerakanmu.” Pelukan berakhir.


Suasana ramai dengan semakin banyaknya tamu yang hadir. Tapi ... ya ... Erick Erlangga tidak kunjung muncul. Mama Gea, kemana dia? Rana sudah tidak melihat lagi dimana ibunya berada.


“Terana? Kau juga pulang rupanya, sayang?”


Sumpah demi apapun, Tante Megan datang menyapa Rana yang sedang menyibukkan diri dengan hanya mengusap handphone ditengah keramaian. Ini menegangkan bagi Rana.


“oh, tante Megan, Hai ...!” Sebenarya Rana sangat gugup. Ia telah berusaha tidak pergi menyapa orang-orang agar terhindar dari tante Megan. Tapi siapa sangka jika Megan sendirilah yang datang menyapanya. Terpaksa Rana


harus sedemikian rupa membalas sapaan dengan senyuman manisnya.


“kau pulang tidak bawa pasangan? Kenapa tidak ajak pacarmu?” apa-apaan ini? Rana tidak ingat dirinya memiliki pacar. Oke, teman pria memang banyak tapi mereka tidak punya tempat spesial dihati Rana.


“datang dengan mama, Tante.”


“Sayang sekali kalau begitu. Oia, masih ingat Erick kan?


Tante minta dia mengajak teman wanitanya malam ini. Putraku ini sama sepertimu,


“Owh, panjang umur ... itu mereka datang.” Pintu masuk baru saja terbuka. Rana mengikuti arah pandang tante Megan. Tidak salah lagi, dia adalah pria itu. Pria paling tampan yang pernah ada. Namun sayangnya ... Rana sudah terlambat. Menggodanya? Orang seperti Erick Erlangga tidak akan tergoda oleh pesona wanita lain. Bagi Rana, Erick adalah orang yang baik.


“kau lihat Rana, sepertinya gadis ini calon menantu yangtepat. Dia sangat serasi dengan putraku.” Tak ada respon dari Rana, sepertinya Megan puas telah mematahkan hati keponakannya ini.


Setelah 11 tahun lamanya, Erick Erlangga muncul di depan Rana sebagai pria dewasa dengan pesona wajah yang meningkat tajam. Sikap  yang begitu ramah, baru saja hadir tapi berhasil mengalihkan perhatian semua orang.


Haruskah aku pergi dengan alasan kebelet? Sepertinya aku harus mencari kamar kecil dan menangis gila disana. Belum apa-apa aku sudah patah hati.


Sudah terlamabat untuk kabur, Rana membeku ditempatnya.


“Hai, Bunda ...” Erick menyapa ibunya. Tak lupa juga matanya bertemu dengan wajah Rana. Bukannya memanfaatkan moment tatap-tatapan dengan Erick, Rana malah kepergok sedang memandang gadis yang berada di sebelah Erick dari ujung kaki hingga kepala.


“Rana, bagaimana kabarmu?”


Telinganya tidak lagi peka, padahal Erick barus saja menanyakan kabarnya. Rana sibuk memberi penilaian terhadap gadis yang baru ia lihat ini. Seorang gadis dengan penampilan rapi dan sopan, terlihat sangat anggun. Rana terus menciut jika membandingkan penampilannya dengan gadis ini.


“Rana sayang, kenalkan, dia ini Rere, sekertaris kakak sepupumu.” Rana terkesiap.


Tunggu! Dia sekertaris kak Erick? aku merasa ditarik ulur oleh tante Megan.

__ADS_1


 “Rick, bunda minta kamu bawa teman kencan tapi malah datang dengan sekertaris. Apa mungkin hubungan kalian lebih dari itu?” Megan menggoda putranya.


“Hai, Rere, aku ... Rana.” Wajah Rana sedikit tersipu merasa sedikit lega.


Ya Tuhan, apa alasanku merasa sesenang ini? Mereka hanya bos dan sekertaris. Kebaikan mememang selalu memihakku.


 “Bunda tahu, kalian berdua akan semakin dekat karena hampir setiap saat bersama. Bunda senang, Re, kamu selalu berada disisi Erick.”


Apa  lagi ini? Baru saja Rana merasa senang bukan main. Akhirnya Rana memberanikan diri menatap wajah Erick Erlangga yang hanya berjarak setengah meter darinya. Sangat kebetulan, pria idamannya ini pun tengah menatap dirinya.


“Seperti yang bunda inginkan, aku harus datang bersama teman wanitaku.” Erick menanggapi ibunya dengan santai.


Sangat kejam, Rana harus mendengar ini langsung dari bibir Erick. Kata ‘teman wanita’ yang disematkan untuk Rere kembali mematahkan perasaan Rana untuk kesekian kalinya.


Sadarlah Rana, berkacalah, segila apapun kau menyukai Erick, jangan ikuti keinginan mama.


Tidak baik merebut milik orang lain.


Tak ada lagi harapan, Rana mantap untuk menyingkir tanpa banyak kata. Tapi apa boleh buat ia terpaksa berpamitan pada tante Megan. Namun, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan, seolah pikirannya sedang kosong.


Bruk!


Seorang pelayan yang membawa nampan berisi beberapa gelas anggur menubruk Rana tidak sengaja. Seolah pelayan ini dikirim untuk menolong Rana yang sedang terjebak dalam situasi tak pasti.


“Maaf, Nona,” sang pelayan merasa bersalah telah menodai pakaian yang dikenakan Rana dengan air anggur.


“Oh, tidak apa-apa. Jangan risau.” Dengan sikap rendah hati yang tak dibuat-buat Rana memaafkan sang pelayan dengan mudah. Megan sedikit terkesima.


Andai saja ini Gea, pelayan akan habis dibentak. Rupanya Rana tidaklah terlalu bar-bar seperti ibunya.


Tanpa aba-aba, Erick dengan sigap melepas blazer yang ia kenakan. “Rana, pakai ini biar tidak masuk angin.” Megan berhasil melotot  menyaksikan ini. Untuk apa putranya bersikap manis pada Rana?


Mengerti maksud baik Erick, Rana mengangkat satu tangan menolak. Tersenyum palsu, lalu menjauh.


Rana pergi tanpa menyadari mamanya sedang mengepal tangan tak terima.


.


.


Bersambung...


SILAKAN KUNJUNGI CERITA MEREKA YA BESTIE..


Jangan lupa komen, like dan tap love ya bestie. biarkan aku semangat. hehe.

__ADS_1


terima kasih atas kunjungan kalian...


__ADS_2