
"Kenapa Kau begini? Bukankah sedang kesal dengan bunda?"
Megan mengelus punggung belakang si sulung yang masih memberinya pelukan.
Sekali lagi Erick meminta maaf untuk membuktikan bahwa ia sungguh - sungguh.
"Ya sayang, bunda juga bersalah. Bunda telah salah dalam mengambil keputusan sepihak. Kau tidak harus setuju sayang,"
Erick menggeleng lalu melepas pelukan. Tidak lupa ia menghapus habis air matanya sembari berkata, "Aku sudah memikirkannya. Aku setuju untuk belajar di Jerman. Asalkan bunda berjanji satu hal, keluarga kita harus tetap seperti ini, jangan sampai terjadi perpisahan antara bunda dengan ayah." si sulung ini sangat berterus terang.
"Tidak, Nak. Pikirkan lagi matang-matang. Bunda juga tidak mau kau menyesal. Erick, sebagai anak sulung untuk kedua adikmu, bunda dan ayah akan menaruh banyak harapan dan tanggungjawab di pundakmu." Megan meraih jemari anaknya itu, diusapnya pelan dengan satu tangan.
"Kau harus sehat, ... kuat .. dan tahan banting. Kau tidak boleh stress. Jadi, bunda, tidak akan memaksamu selagi kau belum dewasa." lagi-lagi air mata Megan kembali turun seenaknya, terharu dengan perkataannya sendiri.
"Tanganmu ini, kelak ... akan meraih banyak hal." sambungnya, dengan nada kian bergetar.
Melihat air mata ibunya yang kembali lagi mengalir, dengan tangan satunya Erick mengusap itu dengan lembut. Ia tidak ingin wanita ini meneteskan air mata karena dirinya lagi.
"Kalau mungkin bunda dan ayahmu tidak berumur panjang, kau ... kau harus -"
"Bunda, oke, semuanya oke sekarang, aku mengerti." Erick tidak ingin mendengarkan soal umur dan kematian. Karena sesungguhnya itu adalah rahasia Sang Pencipta yang tidak dapat kita lampaui sebagai manusia. Ia kembali memeluk ibunya dengan sebelah tangan, sementara sebelahnya lagi masih salam genggaman ibunya.
"Meskipun aku tidak terlahir dari bunda, tapi bunda tetap ibuku yang berharga. Bunda memberiku segalanya tanpa aku minta. Bunda, aku bersyukur memilikimu sebagai ibuku. Dan aku ingin tetap seperti itu."
Morgan yang menyaksikan keharuan ini hanya mampu pura-pura tidak melihat. Hubungan istri dan dua anak bawaannya semakin terlihat harmonis bahkan keduanya lebih jago dalam hal memberi perhatian pada Megan, berusaha agar ibunya merasa nyaman.
Fokus bermain dengan baby M yang biasanya selalu lebih banyak waktu bersama kedua abangnya ketimbang dirinya sebagai ayah. Tapi ngomong-ngomong, dimana abang nomor dua itu? Sejak tadi si muka kaku itu tidak terlihat. Morgan membatin.
.
__ADS_1
David yang terkurung di kamarnya, oh bukan, yang sedang mengurung diri di kamar ber jam-jam, mulai merasa lapar. Tapi karena bagian lengannya yang terasa sakit dan sedikit bengkak membuatnya malas bergerak.
Ssssh. Gara-gara si Robian penjahat itu, aku jadi kehilangan banyak energi. Semoga saja tangannya yang patah segera di amputasi.
"Sayang... sayang ..."
Dumel David terhenti kala mendengar panggilan sayang dari luar. Tentu saja itu suara ibunya yang kembali terdengar. Ia meraih remote control untuk membuka pintu.
Nit nit...
Tepat setelah menekan tombol buka kunci, terdegar bunyi pintu terbuka.
"Bunda ..."
Megan menghampirinya dengan sepiring buah. Meski tahu banyak apa yang sudah dialami putranya, Megan tidak buru-buru bertanya.
"Aku sedang sakit, Bunda." David menyibak sedikit selimut yang menutipi lengannya.
"Ya ampun! David, kenapa lenganmu?"
"Jangan pura-pura. Bunda pasti sudah tahu tadi aku berkelahi dengan keponakan Bunda."
"Oh, si Robian? Jadi benar kau yang mematahkan tangannya?" David mengangguk sambil mengunyah buah apel yabg baru saja Megan suapkan ke mulutnya.
"Wah, kau cukup berani, David, dari mana kau belajar berani?" Megan sedikit takjub akan keberanian David.
"Aku menirumu, Bunda. Orang yang mengganggu harus diberi pelajaran, kan?" David dengan santai tak berdosa mengakuinya.
"Bukankah aku semakin mirip dengan Bunda? Anak bunda yang paling berani adalah aku. Kak Erick tidak ada apa-apanya sekarang." Megan membeku, bahkan belum banyak berkata.
__ADS_1
Apa yang telah terjadi dengan otaknya? Kenapa dia terdengar sedikit sadis?
Dengan nada tenang, Megan kembali bertanya. "Sayang, memangnya ada masalah apa antara kalian berdua?"
"Dia membayar seseorang dikelasku untuk menukar lembar jawaban soal ulanganku. Aku sangat murka saat tahu itu. Bukannya minta maaf tapi dia malah menyerangku. Ya sudah,"
"Ow.. Waw... Kau ... sangat keren, anakku." bukannya menasihati, David malah diberi pujian oleh ibunya, dan ini menyenangkan.
"Jadi Kau yang mematahkan tangan Robian?" Morgan muncul dengan mengejutkan. Erick mengekorinya dari belakang bersama Baby Mervi digendongannya.
"Ayah, ehmmm. Iya Ayah..." David mengakui dengan nada bangga sekali lagi.
"Kau terdengar sangat bangga berhasil melukai orang lain. Kau tahu, gara-gara kau ayah pulang terlambat karena harus mendampingi operasi darurat Robian.
"Jadi begitu kah? Hah, ayah pasti berhasil, kan? Aku berharap tadi tangan patahnya diamputasi."
Wajah David terlihat kesal.
Megan mencegah saat suaminya hendak kembali memuntahkan banyak kata untuk menasihati putranya. Sebab Megan sudah tahu inti permasalahannya. Memang David bersalah tapi itu semua karena menyelamatkan harga dirinya sendiri.
"Sayang, aku percaya, anak-anak kita tidak akan melukai orang lain tanpa sebab. Kau lihat, tangannya bengkak dan kita perlu menindaknya sebelum membusuk."
"Bunda benar ayah, ayo ke rumah sakit, biar sekalian bunda dan ayah menjenguk si Robian. Karena kalian berdua perlu untuk basa basi meminta maaf."
.
.
Abis yaaaa
__ADS_1