Hot Duda Dan Perawan Tua

Hot Duda Dan Perawan Tua
Banyak Cinta Katanya


__ADS_3

Erick bersama David tiba di rumah sakit. Masih mengenakan seragam sekolah, keduanya hendak mengunjungi bunda Megan yang sudah dua hari pasca operasi, namun belum juga terbangun.


Sang ayah beri tempat bagi keduanya untuk menyapa Megan, dirinya sendiri melangkah keluar. Dua hari sudah adik mereka lahir, tapi keduanya tidak satu kalipun bertanya tentang bayi itu. Fokus kakak beradik itu hanya kepada ibu yang mereka sayangi. Bahkan sekedar bertanya bayi itu berjenis kelamin apa, apa dia sehat? Sepertinya sama sekali tidak memiliki rasa penasaran terhadap baby M yang masih dirawat di ruang terpisah dari ibunya.


"Bagaimana kabar bunda hari ini? Apa rasanya masih sangat sakit?"


Kedua remaja itu berada di masing-masing sisi kanan dan kiri Megan. Memegang tangan halus yang selalu mereka salami setiap berangkat maupun pulang sekolah.


Tangan itu kini lemah tak bertenaga. Kondisi ini benar-benar menguras perasaan keduanya. Sedih tak tertahankan ketika mengingat masa-masa bunda masih sehat, tidak pernah absen memberi perhatian dengan bermacam cara. Kasih sayang yang melimpah layaknya ibu kandung yang sangat - sangat menyayangi buah hatinya.


Namun, dalam dua hari terakhir ini, tidak ada lagi senyum cerah yang selalu setia melepas dan menyambut keduanya pulang dari sekolah.


Megan yang banyak menikmati waktu di rumah saja selama kehamilan, telah membawa hubungan keluarga kecilnya semakin akrab dan saling terbiasa satu sama lain.


Cinta yang ia taburkan setiap hari membuat kedua remaja yang sempat menolak kehadirannya itu, kini sangat menyayangi dirinya lebih dari apapun.


Megan telah membuktikan semua yang pernah ia tegaskan dalam perkataannya bahwa dia ahli mengubah hati seseorang, ia pandai menyenangkan hati orang, dia mahir membuat orang nyaman, dan satu lagi, Morgan dan kedua putranya tidak akan dia lepaskan dengan alasan apapun.


Tapi apa yang terjadi kini? Megan Berlian membuat tiga lelaki kesayangannya ketakutan luar biasa, takut akan kehilangan dirinya.


Bisa dibilang, tidak pernah mereka membayangkan kondisi menyedihkan ini akan datang bahkan rupanya terlalu dekat dengan kehidupan bahagia yang sedang mereka nikmati akhir-akhir ini.


"Sudahlah, jangan terus menangisi bunda" suara Morgan mengalihkan sedikit isak tangis kedua putranya. Meski tidak terdengar, kakak beradik itu terisak sambil duduk dan membaringkan kepala di sisi pembaringan ibunya dan tidak sekalipun melepas tangan wanita itu.


"Ayah, apa yang dokter katakan? Apa bunda baik-baik saja?"


"Banyak banyak berdoa saja David, dokter sudah lakukan yang terbaik untuk bunda"


Jawaban yang tidak memuaskan, Erick menghela napas, demikian dengan David.


"Sudah waktunya pulang. Kalian harus beristirahat." Morgan mengambil alih posisi Erick yang sudah berdiri dari duduknya.


"Bunda, cepat bangun bunda, aku rindu masakan bunda... love you bunda..." Erick tidak lupa memberi kiss singkat di kening ibunya karena sudah saatnya pergi.


Berbeda dengan David yang sulit untuk bertindak manis, dia hanya membawa tangan ibunya untuk membelai kepalanya, seperti yang selalu dilakukan bunda selama ini padanya.


"Baby M ada di ruangan sebelah. Jenguklah dia."


"Dia menyebabkan bunda berada dalam kondisi ini. Kalau bunda belum bangun, aku tidak akan memaafkannya." tolak David.


"David benar, Ayah. Aku juga tidak tertarik pada bayi itu." Erick menimpali dengan nada dingin.


Morgan tidak menanggapi, hanya mampu mengusap wajah memandang perginya dua putranya itu.


.


"Apa kau tadi bertemu Rana di sekolah?" Erick memecah keheningan di perjalanan.

__ADS_1


"Ya ada lah,"


"Waktu itu aku melihat Rana bersama teman laki-laki. Apa mere-"


"Si Terajana itu tidak ada urusannya denganku. Jangan tanyakan apapun tentangnya padaku." David memenggal pembicaraan kakaknya dengan sadis.


Perjalanan keduanya kembali hening.


Aku bingung, kenapa pikiranku terus tertuju pada si Rana itu? Aaah! Sudahlah! Ini mengganggu fokusku pada bunda.


Malam harinya.


David merasa gelisah, sulit rasanya untuk tidur. Turun dari pembaringan empuknya, ia berpindah ke kamar lain, yaitu kamar ayah bunda.


"Kakak? Kenapa Kau di sini?"


"Kau sendiri kenapa kesini?"


Perdebatan terjadi untuk memperebutkan posisi rebahan yang diinginkan. Keduanya persis seperti anak kecil yang sedang memperebutkan tempat bermain.


Posisi nyaman di sisi kiri ranjang itu adalah tempat pilihan sehari-harinya bunda Megan selama ini. Dan kedua pangeran yang bukan lagi anak-anak itu bahkan sampai saling gelut untuk memperebutkannya.


"Aku sudah di sini sejak kemarin." Erick sudah terlanjur datang lebih dulu merasa paling berhak.


"Pindah kak, atau akan kuadukan ke bunda kalau Kau menyukai si Terajana si cerewet itu!"


Menyukai Rana? Apa iya? Tidak mungkin. Bunda tidak setuju dengan itu jadi aku tidak mungkin suka dia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam semakin larut, bintang-bintang bertabur cerah. Morgan berdiri menatap dari ketinggian lantai 6 ruang rawat istrinya, berdiri dengan menyilang kedua tangan diatas dada.


Meski sudah sangat larut, pemandangan jalan tetaplah ramai seperti biasa.


"Baby ... M .... baby... M ...."


"Sayang,"


meski telah larut dalam lamunan, Morgan rupanya stay on, masih tetap terjaga. Tentu saja saat ini ia sudah berada di samping isterinya.


Megan tersenyum dimata.


Hampir rasanya Morgan tidak bisa berkata apa-apa.


Segera Morgan panggilkan dokter. Perasaannya sungguh bahagia. Megan membuka matanya lagi dan ini benar-benar kabar baik.


Dokter yang menangani Megan menerangkan bahwa Megan memang telah sadar tapi untuk saat ini masih harus menunggu sampai keadaannya benar-benar pulih.

__ADS_1


Menggenggam tangan Megan untuk kesekian kalinya, Morgan terus mengucapkan terima kasih karena istrinya kembali.


Megan tersenyum manja. Melihat air mata dari suami untuknya ini, memberi kebahagiaan tersendiri di hatinya.


Megan menepuk pelan sisi pembaringannya minta Morgan turut serta berbaring di sebelahnya.


Megan sudah paham apa yang telah ia alami. Baby M juga sudah lepas dari kandungannya. Meskipun kondisi baby M dibilang sehat dan baik-baik saja, tetap ada rasa khawatir terhadap bayi itu. Ingatan terakhir Megan tentangnya adalah sore itu. Saat dirinya sedang merenung sendirian di balkon kemudian menghadapi maut yang seketika terlihat dekat di depan mata.


Megan tidak menyangka dirinya bisa bertemu lagi dengan Morgan di alam yang sama. Bersebelahan seperti ini lagi, terasa masih sama menyenangkan dan sangat nyaman.


"Berapa hari aku tidur?"


"Sudah tiga hari. Tolong jangan banyak bicara dulu, kau masih lemah dan belum benar-benar pulih." Morgan menyapu anak rambut di wajah istrinya yang sebenarnya tidak begitu mengganggu.


Morgan berbaring menghadap istrinya yang hanya mampu terlentang.


"Apa anak-anak sehat?"


"Mereka sehat dan sangat mengkhawatirkanmu. Kau tahu, mereka berdua berubah sangat cengeng beberapa hari ini."


"Apa mereka turun sekolah setiap hari?"


"Tentu saja sayang,"


"Pak Dokter, apa yang kau rasakan saat aku belum sadar?"


"Apa lagi, tentu saja aku adalah orang yang paling khawatir dan tidak pernah pergi dari sisimu."


"Benarkah kau khawatirkan aku?"


"Istri yang aku cintai sedang sekarat, kau pikir aku akan biasa-biasa saja?"


"Cinta? Pak Dokter ... kau mencintai aku?" Meski rasanya sulit untuk bergerak, Megan berusaha menoleh, ingin menatap kedua mata suaminya, jangan sampai hanya gombalan dan ada banyak dusta disana.


"Itulah kenyataannya.. aku tidak bisa mengendalikan perasaanku terhadapmu dan aku menganggap itu adalah cinta. Cinta yang sangat besar untukmu."


"Awhh, sakit!"


"Aku sudah bilang jangan banyak bicara dulu. Dengar kata cinta kenapa malah meringis?"


.


.


...****************...


...****************...

__ADS_1


Semangat Beb...


__ADS_2