
Pakistan...
Tuan Leon dan Nyonya Sari sengaja menginap di apartemen karena Perusahaannya lumayan dekat dan itu cukup ditempuh dengan waktu setengah jam saja.Sedangkan jika mereka tinggal dirumah Tuan Leon membutuhkan waktu dua jam untuk sampai di Perusahaannya karena lumayan jauh.
Pagi ini mereka sudah siap untuk berangkat ke Perusahaan untuk menandatangani surat pemindahan Perusahaan pusat agar berpindah ke Kota Bandung,bukan karena apa agar suatu saat jika mereka sudah tiada semua aset Perusahaan akan di berikan pada Zahrana.
***
Di ruangan tempat mereka mengadakan meeting Tuan Leon berargumen pada setiap bawahannya agar Perusahaan ini menjadi cabangnya saja,setiap orang yang ada disana menyetujui apa yang di katakan Tuan Leon,bukan karena apa jika Perusahaan di Bandung menjadi pusat itu akan lebih memudahkan Tuan Leon untuk pergi bekerja karena lumayan dekat dengan rumahnya.
Setelah selesai meeting kemudian Tuan Leon segera menandatangani semua dokumen penting yang akan ia bawa pulang ke Bandung.
Pukul empat sore Tuan Leon dan Nyonya Sari baru bisa pulang setelah semua pekerjaan beres.
Kebetulan hari ini Tuan Leon tidak menyuruh supir pribadinya jadi ia sendiri yang mengemudi.Kejadian tak di duga pun datang ketika Tuan Leon sedang fokus mengemudi tiba-tiba truk besar menabrak mobil Tuan Leon dari belakang dan di depan sudah lampu merah sedangkan truk itu terus mendorong mobil yang dikemudikan Tuan Leon kejadian tak di duga pun menimpa ketika mobil Tuan Leon juga di tabrak oleh mobil lainnya.
Suasana di jalan cukup membuat macet beberapa jam,namun setelah Tuan Leon dan Nyonya Sari berhasil di selamatkan dan langsung dibawa ke rumah sakit terdekat lalu mobil Tuan Leon berhasil di evakuasi dan membuat jalanan kembali normal.
Dirumah sakit Tuan Leon dan Nyonya Sari langsung mendapatkan penanganan khusus dan langsung di bawa ke ruang ICU beruntungnya nyawa Tuan Leon berhasil di selamatkan namun sayang untuk tragedi kecelakaan yang mereka alami nyawa Nyonya Sari tak dapat di selamatkan padahal sudah berbagai cara agar Nyonya Sari bisa selamat namun takdir berkata lain.
Tuan Leon yang terbaring lemah dan belum mengetahui keadaan istrinya ia menyangka istrinya itu baik-baik saja.
Namun tak lama kemudian Sang Dokter menghampirinya dan berkata bahwa nyawa istrinya tak bisa di selamatkan sungguh terkejut Tuan Leon mendengar apa yang di katakan Dokter,pertama kali nya Tuan Leon menangis hingga tersedu-sedu mendengar istrinya sudah pergi untuk selama-lamanya.
Beruntung dalam keadaan lemah Tuan Leon bisa berjalan walaupun tertatih-tatih ia menghampiri istrinya yang sudah tiada.Ia menangis.
Segera Tuan Leon menyuruh suster disana untuk menghubungi anaknya dan segera memberikan nomor telpon Zahrana.
***
Dalam lamunannya Zahrana terkejut karena ada yang menelponnya dan nomor itu tak ia kenali,namun ia mengangkatnya.
Setelah banyak berbicara dengan suster dan kemudian berbicara pada Ayahnya Zahrana yang tak menyangka Ibundanya meninggal langsung menangis dan memutuskan segera terbang ke Pakistan sana.
Lalu telpon pun di matikan Zahrana karena ia tak kuat menahan tangis yang sudah ia tahan beberapa detik lalu.Ia menangis sejadi-jadinya dan itu membuat Bi Vina dan Bi Lyna langsung menghampiri ke kamar Zahrana dan segera bertanya apa yang terjadi,Zahrana menangis dalam pangkuan Bi Vina agak lama ia menangis setelah agak reda lalu ia menceritakan apa yang terjadi pada Ibundanya di Pakistan sana Bi Vina dan Bi Lyna pun terkejut mendengar nyawa majikannya tak bisa di selamatkan karena kecelakaan.
__ADS_1
Hari itu Zahrana langsung memesan tiket untuk segera berangkat ke Pakistan sana tadinya ia akan memesan dua tiket untuk Bi Vina juga namun sayang tiketnya sudah habis dan terpaksa ia harus terbang kesana sendirian.
Kedua pembantunya langsung menyiapkan barang-barang yang akan Zahrana bawa,ketika membereskan barang-barangnya Zahrana masih tetap menangis tak menyangka jika Ibundanya itu telah meninggalkan ia untuk selama-lamanya.
***
Malam itu adalah malam dimana ia akan terbang ke Pakistan sana ia tak banyak membawa barang-barang ia hanya membawa satu koper kecil dan tas cangklong kesukaannya.
Di dalam pesawat ia melihat keluar jendela awan yang menurutnya sangat indah namun sekarang setelah ada kabar buruk menimpanya semua awan itu terlihat kelabu tatapannya kosong,matanya sembab dan hidung mancungnya pun agak merah.
Seorang wanita yang sepertinya sudah berumur lima puluh tahun yang ada di sampingnya bertanya kenapa Zahrana.
"Kenapa Nona dari awal anda masuk pesawat sepertinya anda banyak melamun ?" tanya wanita itu.
"Saya tidak apa-apa Bu,saya hanya sedang bersedih saja" ucapnya dengan suara lirih dan meneteskan air mata di pipi mulusnya dan sebentar melirik wanita yang ada di sampingnya.
"Jika boleh saya tahu sepertinya anda kehilangan sesuatu yang amat berharga ya ?" tanya wanita itu lagi.
Dalam benaknya Zahrana membenarkan kenapa wanita tua itu bertanya seperti itu seakan-akan tahu tentang dirinya.
Lalu Zahrana menceritakan apa yang terjadi pada dirinya,wanita tua itu memeluk Zahrana dalam dekapannya,Zahrana menangis ia tak sanggup kehilangan orang yang sangat ia sayangi.
***
Pukul delapan malam ia baru sampai di Bandara Internasional Pakistan sudah ada sopir pribadi Ayahnya yang sedang menunggunya.
Segera sopir itu mengantarkan Zahrana ke rumah sakit,di dalam mobil Zahrana menghubungi nomor Ayahnya dan berkata sebentar lagi akan sampai.
Sesampainya di rumah sakit Zahrana langsung masuk ke kamar mayat yang Ayahnya beritahu ketika di telpon.
Saat sampai Zahrana langsung memeluk Ayahnya yang sedang duduk disamping Ibundanya ia menangis tersedu-sedu melihat sosok Ibundanya yang cantik jelita namun sekarang sangat pucat dan ada beberapa luka di kepalanya akibat terbentur pada kecelakaan waktu itu,beruntung kondisi Ayahnya sudah agak membaik.
Keesokan paginya jasad Nyonya Sari segera di kebumikan sebenarnya di waktu Nyonya Sari meninggal akan langsung di kebumikan namun Ayah Zahrana meminta untuk menunggu dulu putrinya datang,di pemakaman Zahrana menangis dalam dekapan Ayahnya.
***
__ADS_1
Setelah pulang dari pemakaman Ibundanya,Tuan Leon berbicara pada Zahrana agar tak langsung pulang lagi ke Bandung,Tuan Leon meminta Zahrana untuk menemani Ayahnya dulu selama seminggu di Pakistan ini agar kondisi Tuan Leon benar-benar sudah fit.
Dirumah mewah milik almarhum Kakek Zahrana mereka tinggal,rumah mewah itu sudah sebulan ini kosong karena kebetulan pamannya Zahrana yang tinggal disana sedang bekerja ke negara lain untuk urusan bisnis,dan sekarang untuk seminggu kedepan mereka berdua yang akan mengisi rumah tersebut.
Di kamar mewah yang dulu Tuan Leon dan Nyonya Sari tempati sebelum pindah ke Inggris Zahrana sedang duduk di ujung pembaringannya.Tak bisa di bohongi air mata terus membanjiri pipi mulusnya sampai sekarang Zahrana hanya banyak diam dan tak banyak bicara ia masih sangat sedih karena kehilangan Ibundanya tercinta.
Dalam lamunannya Tuan Leon menghampiri si mata kelabu yang sedang menangis itu.Tuan Leon duduk di samping Zahrana.
"Sayang kamu yang sabar ya,kamu jangan larut terus dalam kesedihan Ayah juga paham bagaimana perasaanmu karena sekarang Ayah lebih sedih daripada kamu,kamu tahu kan kemana-mana Ayah selalu bersama Ibunda mu lalu sekarang dan untuk selamanya Ayah akan bekerja sendiri tanpa ada sosok istri yang menemani Ayah" ucap Tuan Leon dan memeluk Zahrana dengan penuh rasa sayang dan seketika cairan bening terjatuh dari mata Tuan Leon.
Zahrana semakin tersedu-sedu karena mendengar ucapan Ayahnya.
"Iya Ayah Zahrana harus kuat Zahrana gak boleh cengeng kan ? Ayah juga jangan sedih nanti Zahrana lebih sedih jika terus melihat Ayah menangis" ucap Zahrana dalam dekapan sayang Ayahnya.
"Iya anak Ayah gak boleh nangis kamu anak yang kuat,Ayah janji akan selalu ada untukmu" ucap Ayahnya lirih.
Seketika Zahrana merasa nyaman dalam dekapan sang Ayah sudah lama ia tak merasakan lagi pelukan kasih sayang,Ayahnya memeluk erat tubuh Zahrana seakan mereka berdua saling mengutarakan kesedihan masing-masing.
Tiba-tiba pikiran aneh muncul dalam benak Zahrana bagaimana jika nanti Ayahnya akan menikah lagi ? Zahrana tak ingin mempunyai Ibu tiri.Lalu Zahrana melepaskan pelukan Ayahnya karena ia takut Ayahnya menikah lagi segera ia berbicara.Sebentar Tuan Leon melihat wajah Zahrana yang sangat pucat dengan matanya yang sembab.
"Ayah maaf jika Zahrana berbicara lancang pada Ayah untuk sekarang ini,sebelumnya Zahrana minta maaf ya,Ayah jangan menikah lagi Zahrana tidak mau punya ibu tiri" ucapnya lirih dan isakan masih terdengar jelas.
Seketika Tuan Leon menatap wajah Zahrana dan berbicara.
"Ayah tidak akan menikah lagi,Ayah akan turuti keinginan kamu Ayah paham sekali perasaanmu sayang" ucap Tuan Leon dan berusaha memberi senyuman semangat pada putrinya itu.
Zahrana merasa lega dengan apa yang di ucapkan Tuan Leon.
***
Malam hari di Pakistan Zahrana seperti biasa tengah duduk di sofa yang ada dekat jendela besar ia menatap ke langit yang indah dan banyak dipenuhi bintang yang bersinar di tambah dengan cahaya rembulan yang seakan memberi keindahan pada malam hari itu.
Tiba-tiba ia teringat Kevin,ia tidak memberitahu bahwa dirinya sedang di Pakistan.Lalu segera ia mengambil Handphone-nya ternyata sudah ada lima e-mail yang dikirim Kevin,salah satunya berisi tentang kecemasan dirinya pada si mata kelabu itu.
"Maaf Nona bagaimana kabar Anda,sudah beberapa kali saya menghubungi Nona tapi nomor Nona tetap tidak bisa dihubungi saya kirim beberapa e-mail namun anda tak kunjung membalasnya.Kakak tahu kamu sedang di Pakistan karena tadi pagi Kakak kerumah kamu Nona dan di beritahu oleh pembantumu jika anda sedang berada di Pakistan.Kakak turut berduka cita atas meninggalnya Ibumu ya,maaf Kakak tidak bisa kesana karena Kakak juga sedang sibuk untuk seminggu kedepan.Salam untuk Ayahmu ya.
__ADS_1
Nona jangan bersedih ada saya untuk Nona dan untuk selamanya saya merindui Nona,semoga Nona cepat pulang ya."
Tanpa di sadari cairan bening terjatuh dari matanya,dalam keheningan malam yang menurut Zahrana hanya dipenuhi kesedihan tiba-tiba tebersit dalam benaknya pasti setelah kesedihan ada kebahagiaan.Dan sekarang ia merasa agak lega karena Kevin sudah mengabarinya.