Hujan Ditengah Kegersangan

Hujan Ditengah Kegersangan
Rasa Benci


__ADS_3

"Maaf Mas ini Ayah saya, bukan pacar saya." ucap Zahrana masih terkekeh.


Fotografer itu terlihat lebih kebingungan karena tidak percaya. Memang wajah Tuan Leon masih terlihat muda untuk usianya yang sekarang mau menginjak 43 tahun.


"Oh gitu, saya kira pacarnya Nona. Maaf Nona, Tuan." ucap Fotografer itu masih tidak percaya. Mungkin karena melihat Tuan Leon seperti umuran 30 tahun dan Zahrana yang juga terlihat dewasa di usianya yang mau menginjak 23 tahun.


"Iya tidak apa-apa."


"Ya sudah fose nya terserah kita ya Mas." ucap Zahrana karena ia ingin bergaya sesuai keinginannya.


"Siap Nona."


Zahrana dan Tuan Leon berfose layaknya model, mereka sangat pandai dalam bergaya.


"Sudah ada banyak foto yang saya ambil Nona, mau di tambah lagi ?" tanya Fotografer tersebut sambil memperlihatkan hasil foto-fotonya.


"Rasanya sudah cukup Mas, iya kan Ayah ?"


"Iya sudah cukup. Itu juga sudah banyak."


"Fotonya mau sekalian di ambil sekarang atau besok ? Soalnya saya juga bekerja di Taman ini."


"Hari Ini saja Mas." ujar Tuan Leon menjawab.


"Ehh besok saja Mas, hasilnya harus bagus ya." ujar Zahrana juga menjawab.


"Jadi yang benarnya yang mana ? Sekarang atau besok ?"


"Besok saja Mas." ucap Zahrana menegaskan. Tuan Leon hanya menuruti ucapan Zahrana.


Zahrana melirik pada Ayahnya, " Boleh ya Ayah, besok saja kita ambil lagi kesini."


Tuan Leon membalas ucapan Zahrana dengan mengangguk dan tersenyum. Zahrana mengerti, Ayahnya pasti menuruti keinginannya itu.


"Ya sudah saya tinggal ya Tuan, Nona. Besok bisa di ambil hasilnya." ucap Fotografer tersebut lalu meninggalkan tempat yang Tuan Leon dan Zahrana tempati.


***


Di sisi lain Kevin masih menunggu kedatangan mantan kekasihnya itu, sudah hampir setengah jam Kevin duduk sendirian dan menikmati kopi yang ia pesan.

__ADS_1


"Dimana wanita itu ? Kebiasaan dia selalu lama." gumam batin Kevin agak kesal.


Tiba-tiba dari belakang ada tangan yang langsung memeluk dirinya, seketika Kevin kaget akan tangan yang telah memeluknya itu. Ia langsung berbalik dan melihat siapa yang telah sembarangan memeluknya itu. Rara, ya wanita itu adalah Rara mantan kekasihnya yang tampil sangat seksi dan memakai dress pendek selutut dengan rambut yang tergerai.


"Ishh, lepaskan !!!" ujar Kevin tegas.


"Kamu ini kenapa sih ?" tanya Rara ketus, lalu melepaskan pelukannya itu.


"Duduk !!!" ujar Kevin yang malah menyuruh Rara untuk duduk di kursi yang berhadapan dengannya.


Rara melihat Kevin kesal, lalu segera ia duduk atas permintaan mantannya itu.


"Ada apa sayang ? Kenapa kamu mengajakku bertemu." ucap Rara dengan santai dan matanya sedikit menggoda Kevin.


Kevin langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, ia merasa kesal jika sudah melihat Rara bertingkah seperti itu. Tingkah Rara masih sama seperti dulu, saat mereka masih mempunyai sebuah hubungan.


"Tutup wajahmu itu Ra, aku merasa muak dengan godaan yang selalu kau berikan itu." kata Kevin dengan nada yang sedikit menekan.


Rara merasa kesal dengan ucapan Kevin, namun rasa kesal itu malah membuat dirinya semakin jatuh cinta lagi pada sosok tampan di hadapannya itu.


"Baiklah, aku tidak akan menggodamu lagi." ucapnya.


"Ra urusan kita sudah selesai bukan, di saat kau selingkuh dulu dan aku langsung memutuskanmu. Lalu, kenapa sekarang kau kembali menggangguku dan kekasihku ?" tanya Kevin tanpa basa basi.


"Hmm, pertanyaan yang sangat mudah untuk di jawab." ucap Rara sambil tersenyum sinis.


"Karena aku masih mencintaimu Kevin, setelah kau pergi meninggalkanku dulu aku juga di putuskan oleh dia."


"Hmm baguslah itu balasan yang setimpal untukmu." ucap Kevin dengan ketus.


"Kevin maafkan aku, aku ingin kita seperti dulu lagi." ucapnya tanpa malu.


"Maaf Ra aku gak bisa. Yang aku pertanyakan tadi jawabanmu sungguh tidak memuaskan."


"Sebenarnya apa yang terjadi ? Apakah ada orang yang menyuruhmu bahkan mungkin membantumu ?"


Degg... Seketika jantung Rara merasa kaget sendiri atas pertanyaan baru yang Kevin lontarkan. Bagaimana ia menjawabnya. Kevin melihat raut wajah Rara yang seketika berubah.


"Kenapa Ra ? Benarkah ada orang yang menyuruhmu bahkan mungkin membantumu." tanya Kevin sekali lagi.

__ADS_1


"Ti-dak, tidak ada." ucapnya agak gugup.


"Jika tidak ada, kenapa kau terlihat gugup seperti itu ?" sengaja Kevin memancing agar Rara bisa jujur.


"Gugup bagaimana ? Aku biasa saja." ucap Rara dengan bersikap layaknya biasa saja tapi tetap ia tak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang terlihat masih kaget atas pertanyaan Kevin tadi.


"Baiklah jika kau tak mau menjawabnya dengan jujur, tapi suatu saat kau pasti yang akan memberitahukannya padaku." ucap Kevin dengan tatapan mata sinis.


"Kamu ini kenapa sih Vin ? Kok bisa kamu jatuh cinta pada sosok wanita murahan itu ?!!" ucap Rara dengan kesal, namun ucapan itu telah membuat Kevin marah besar.


"Tarik kembali ucapanmu itu. Aku tak suka mendengar ucapan itu dari mulutmu !!"


"Zahrana bukan wanita murahan, ia wanita yang sangat baik dan berkelas." ucap Kevin membela nama kekasihnya itu.


"Hhhh, kau tidak tahu dengan masa lalunya semasa di London bukan ?" tanya Rara agar bisa membuat Kevin penasaran.


"Memangnya kenapa dengan masa lalu Zahrana ?" tanya Kevin dengan wajah yang sedikit penasaran, padahal dirinya sudah mengetahui masa lalu Zahrana.


Rara yang melihatnya merasa berhasil memancing rasa penasaran Kevin.


"Ahh maaf, sepertinya kau harus menanyakan itu pada kekasihmu sendiri." ucap Rara mengelak.


"Wanita sepertimu memang pantas di tinggalkan oleh lelaki manapun, kau sebagai wanita saja tak bisa menghargai sesama wanita. Rendah sekali harga dirimu Ra." ucap Kevin muak.


"Apa kamu bilang ?" tanya Rara dengan wajah yang terlihat marah.


"Ahh maaf sepertinya aku harus pulang, tak ada gunanya juga aku harus banyak bicara denganmu."


"Tapi suatu saat aku yakin akan mengetahui kebenaran ini semua." ucap Kevin langsung berdiri dan hendak meninggalkan Rara sendiri.


Tapi ketika hendak berjalan, tangan Kevin tiba-tiba di pegang oleh Rara. Rara yang sejatinya dari dulu sangat mencintai Kevin ia tak mampu juga jika harus melihat Kevin marah-marah seperti tadi. Hatinya juga merasa tersakiti.


"Lepaskan tanganku !!" ucap Kevin menarik tangannya.


"Apa yang kau mau ? Aku muak denganmu Ra. Ku kira kau hanya berselingkuh untuk menyakitiku tetapi sekarang kau malah menyakitiku kembali dengan cara meneror kekasihku."


Kevin langsung mengibaskan tangan Rara dengan kasar, ia sangat benci jika harus berdebat kembali dengan Rara. Segera ia pergi dari caffe itu.


Yang ada di pikiran Kevin sekarang hanyalah Zahrana, bagaimana ia menjaga kekasihnya itu agar tak ada lagi yang mengganggu.

__ADS_1


__ADS_2