Hujan Ditengah Kegersangan

Hujan Ditengah Kegersangan
Temani Ayah Menonton Film Horror !


__ADS_3

Hari ini Raditya benar-benar merasa pikirannya sangat kacau. Entah mengapa pikiran indah bersama Zahrana seakan datang menghantui pikiran dan hatinya. Walau Raditya tahu sekarang Zahrana sudah tidak mau berteman dengannya karena masalah sepele waktu di mobil itu.


Raditya benar-benar tergoda dengan kecantikan Zahrana sehingga dirinya di kelilingi nafsu ingin merasakan manisnya bibir Zahrana yang ranum.


"Argghhh !!! Bisa-bisanya dulu aku bertingkah secoroboh itu dan sekarang lihat hasilnya ? Aku malah jauh dengan wanita itu dan Orang Tua ku pasti tetap tidak membolehkan aku untuk dekat dengannya." teriak Kevin di kamarnya dan mengepalkan tangannya yang terluka dan mengeluarkan sedikit darah di perbannya.


Luka itu seakan tidak terasa sama sekali karena yang ia pikirkan adalah Zahrana, itulah alasan mengapa ia menyuruh Rara agar membantunya karena Rara juga sama tidak mau kehilangan Kevin.


***


Malam nya Zahrana sedang makan malam bersama Ayah dan Bi Vina, mau bagaimanapun Bi Vina sudah di anggap sebagai keluarga Tuan Leon. Dari dulu Bi Vina selalu menolak ajakan makan malam bersama padahal waktu itu Nyonya Sari juga sering mengajaknya, alasannya karena Bi Vina hanya pembantu jadi merasa tidak enak hati jika ikut makan bersama majikannya yang baik hati itu. Tapi sekarang karena Zahrana terus memaksa alhasil Bi Vina tidak bisa menolak dengan berbagai alasan karena Zahrana memaksanya agar bisa mengenang kenangan bersama sang Bunda tercinta.


Zahrana selalu ingat jika makan malam Ibundanya selalu membantu menyiapkan makanan di atas meja bersama Bi Vina.


"Alhamdulillah Zahrana sudah kenyang Ayah." ujar Zahrana setelah mengahabiskan makan malamnya.


"Syukurlah, ya sudah malam ini kamu temani Ayah untuk begadang ya !" ujar Tuan Leon setelah meminum segelas air putih dan menghabiskannya.


"Tumben Ayah ngajak Zahrana begadang ?!" ucapnya heran.


"Ya sudah kalau nggak mau, Ayah juga gak maksa kamu." ujar Tuan Leon dengan tingkah seolah marah pada Zahrana.


"Ehh nggak gitu Ayah, ya sudah sekarang Zahrana mau ganti pakaian tidur dulu." ucapnya sambil beranjak ke arah tangga menuju kamarnya.


"Oh iya Bi, nanti tolong buatkan susu hangat untuk saya dan Zahrana ya !"


"Baik Tuan."


Setelah itu Ayah Zahrana segera beranjak dari tempat duduknya.


Bi Vina langsung membereskan sisa makanan yang ada, Bi Vina merasa heran kenapa tiba-tiba Tuan Leon mengajak Zahrana begadang padahal Tuan Leon selalu menyuruh Zahrana untuk tidur lebih awal. Ahh entahlah.


***

__ADS_1


Tok...tok...tok...


"Tunggu sebentar Ayah." seru Zahrana dari dalam kamarnya, lalu segera ia membukakan pintu kamarnya.


Zahrana sangat cantik mengenakan baju tidur panjang dan kerudung blus nya.


"Sekarang Zahrana harus apa Ayah ?"


"Kamu temani Ayah, kan tadi sudah bilang."


"Maksudnya ada pekerjaan Ayah yang perlu Zahrana bantu atau bagaimana ?"


"Ayah ingin menonton film horror, tapi Ayah suka takut kalau sendirian jadi kamu harus temenin Ayah." ujar Tuan Leon dengan menatap mata Zahrana dan terkekeh melihat raut wajah Zahrana yang tiba-tiba terlihat gemas sekali.


"Ya ampun !! Zahrana kira Ayah ada pekerjaan ternyata hanya ingin di temani menonton film horror. Hahahah" ujar Zahrana dan menepuk jidatnya lalu tertawa.


"Hahahaha... sesekali kita nonton bareng lagi sayang, sudah lama Ayah tak menonton film bersamamu."


"Iya juga sih, ya sudah sekalian ajak Bi Vina untuk menonton."


"Ya sudah sekarang kan baru jam delapan malam, kita pergi ke supermarket terdekat aja."


"Ya sudah ayo Ayah antar kamu."


"Tidak perlu Yah, biar Zahrana sendiri lagian ini belum larut malam." ucap Zahrana lalu bergegas mengambil kunci mobil sedan miliknya.


"Ya sudah, hati-hati di jalannya !" seru Tuan Leon pada Zahrana yang sudah berjalan menuju ke gerasi.


"Baik Ayah !!" seru Zahrana.


***


Perjalanan menuju supermarket hanya di tempuh waktu dua puluh menit, segera Zahrana masuk kedalam untuk membeli makanan ringan yang akan mereka makan.

__ADS_1


Setelah selesai segera Zahrana pulang, tapi ketika diperjalanan tiba-tiba Handphone-nya berbunyi. Itu adalah telpon dari nomor yang tadi siang mengirimkan SMS padanya. Awalnya Zahrana hanya mendiamkan saja telponnya itu tapi untuk yang kedua kalinya Zahrana merasa penasaran jadi ia mengangkatnya.


"Halo ini dengan siapa ?" tanya Zahrana.


"Hahahahahaha... Kau ini hanya sebatas sampah Nona, bagaimana mungkin kau bisa mengambil hati Kevin dengan mudahnya. Oh iya, kau tidak tahu masa lalu Kevin bukan ? Jika kau tahu aku tak yakin kau masih bisa mencintainya. Maaf mengganggu pikiranmu tapi kau harus ingat semua ini karena kesalahanmu !!!" seru suara wanita yang ada di ujung telpon sana, lalu tanpa berkata lagi langsung di akhiri sepihak.


"Kau ini siapa,_" ucap Zahrana namun sayang panggilannya sudah terputus.


"Arrghhh... siapa dia ? Kenapa beraninya dia berbicara seperti itu. Memangnya ada apa dengan masa lalu Kevin ?. Lalu apa maksud dia menyalahkan aku ?" gumam Zahrana dengan kesal.


Sama sekali Zahrana belum menyadari kesalahan di masa lalu nya dulu. Sekarang Zahrana hanya di hantui rasa penasaran, bagaimanapun ia harus tahu awal masalah ini seperti apa sehingga dirinya ikut tersalahkan dan ada sangkut pautnya dengan Kevin juga.


Untuk sekarang ini Zahrana hanya akan diam saja, tapi ketika ia mendapat lagi teror seperti tadi baru ia akan berkutik. Sekarang yang ada di pikiran Zahrana yaitu mengingat masa lalu nya dulu, Zahrana juga merasa ada sangkut pautnya dengan masa lalu dia semasa di London.


Sesampainya Zahrana di rumahnya segera ia memasukkan mobilnya ke gerasi lalu segera masuk kedalam rumahnya dan menemui Ayahnya yang sudah stand by menunggunya.


"Ayah ini makanannya." ujar Zahrana sembari berjalan menuju tempat duduk Ayahnya.


"Ya sudah ayo kamu duduk dekat Ayah. Sini !!"


Tanpa berkata lagi Zahrana langsung duduk dekat Ayahnya.


"Oh iya Bi Vina mana ?"


"Bi Vina nggak mau katanya, ia takut." ujar Tuan Leon.


"Nih susu hangat kamu nanti harus habis."


"Biasanya juga habis Ayah, kan ini susu kesukaan Zahrana."


Lalu mereka segera menonton film horror yang mereka sukai sambil memakan cemilan yang tadi Zahrana beli. Mereka duduk di soffa yang besar dan panjang alhasil Zahrana selalu bersandar pada bahu Ayahnya.


Padahal ketika menonton mata Zahrana tidak terlalu fokus melihat filmnya. Ia hanya terus teringat ucapan wanita tadi yang menerornya. Karena mau bagaimana pun itu akan menjadi hal yang sangat Zahrana pikirkan.

__ADS_1


Sebenarnya apa kesalahanku ? Kenapa wanita itu menggangguku ? Lalu ada apa dengan masa lalu Kak Kevin yang sebenarnya ?


Pertanyaan itu kian muncul di pikiran Zahrana dan ia tak bisa mengelak dari pikiran itu.


__ADS_2