Hujan Ditengah Kegersangan

Hujan Ditengah Kegersangan
Bersama Ayah Part 2


__ADS_3

"Oh iya kamu suka banget yang namanya ke Taman kan ? Boleh lah Ayahmu ini ajak kesana !" ujar Tuan Leon dengan tersenyum.


"Boleh banget, nanti Zahrana ajak Ayah kesana."


"Tapi Zahrana yang bawa mobilnya ya ?" pinta Zahrana dengan wajah yang sangat berharap.


"Iya boleh."


"Terima kasih Ayah." ujar Zahrana lalu memeluk Ayahnya sebentar lalu segera melepaskannya kembali.


"Sekarang Zahrana mau ganti pakaian dulu dan siap-siap. Ayah juga siap-siap dulu ya !!"


***


Tuan Leon sengaja mengajak Zahrana bermain ke Taman karena sepertinya Tuan Leon sangat memahami keadaan Zahrana yang tidak baik-baik saja setelah kepulangan mereka dari London. Entah mengapa pikiran Tuan Leon seakan menginginkan Zahrana segera menikah dengan Kevin agar ada yang selalu menjaga putri semata wayangnya itu. Tapi mau bagaimana pun semua keputusan ada di Kevin dan Zahrana sendiri jika harus menjalin hubungan ke jenjang yang lebih serius.


Beberapa menit kemudian Tuan Leon dan Zahrana sudah siap, Tuan Leon hanya memakai celana bahan selutut berwarna coklat dan baju kaos saja. Zahrana yang melihatnya terdiam di tempat ia tak menyangka penampilan Ayahnya seperti anak muda yang mau main ke pantai saja, padahal mereka kan mau ke Taman.


Melihat ekspresi Zahrana yang terlihat kaget dan terdiam di tempat Tuan Leon segera menegurnya.


"Sayang !!!" ucap Tuan Leon dari bawah tangga.


Zahrana langsung tersadar, segera ia menuruni anak tangga dengan anggunnya. Karena ia memakai gamis elegan warna coklatnya.


"Ayah kita mau pergi ke Taman, bukan ke pantai." ucap Zahrana setelah berhadapan dengan Ayahnya itu.


"Lah emang iya kita mau ke Taman, memangnya ada yang salah ?" tanya Tuan Leon dengan santainya.


Zahrana menepuk jidatnya, lalu sedikit terkekeh. " Lah ini pakaian Ayah kenapa ? Seperti mau ke pantai saja."

__ADS_1


"Gak papa, Ayah kan masih termasuk usia muda. Mau pakaian bagaimanapun pasti pantas di pakai oleh Ayah." ucapnya dengan penuh percaya diri.


"Ya ampun, ya sudah itu terserah Ayah. Karena mau bagaimana pun Zahrana akan tetap menemani Ayah pergi ke Taman." ucapnya sambil tersenyum manis pada sang Ayah.


"Ya sudah sekarang sudah jam 9, ayo kita berangkat sekarang saja." ajak Tuan Leon.


"Siap Ayah ku tercinta." ujar Zahrana yang langsung mengikuti Ayahnya menuju gerasi.


"Pakai mobil Zahrana saja Ayah, jangan bawa mobil Ferrari agar identitas Ayah juga tidak terlalu terlihat sebagai Pengusaha terkenal disini kebetulan pakaian Ayah juga biasa saja." ujar Zahrana yang langsung memasuki mobilnya lalu di susul oleh Tuan Leon.


"Baiklah." ujar Tuan Leon menuruti apa perkataan Zahrana.


***


Diperjalanan menuju Taman yang mereka tuju...


Tuan Leon dan Zahrana banyak berbincang tentang bisnis masing-masing. Di mulai dari Zahrana yang sekarang sudah banyak memahami tentang Perusahaan yang ia pegang dan bagaimana cara agar semua bawahannya bisa terus berprilaku jujur. Karena bagi Zahrana kejujuran itu sangat penting sekali. Namun Zahrana belum sadar bahwa di Perusahaannya itu ada seorang wanita yang terus mengganggunya yaitu Rantika mantan kekasihnya Kevin. Entah kapan Zahrana akan sadar akan kehadiran eanita yang selalu menerornya itu.


"Sekarang Ayah juga sering meluangkan waktu untukku." ujar Zahrana dengan tersenyum manis melirik Tuan Leon yang berada di sampingnya itu.


Tuan Leon hanya bisa tersenyum getir melihat Zahrana yang berbicara seperti itu. Ia paham akan hal yang di inginkan Zahrana yang dimana ketika Zahrana sedang bersedih ia selalu mengadu dan bercerita pada sang Bunda. Namun apalah daya sekarang orang yang Tuan Leon sayangi itu sudah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Sekarang ia tersadar, ia harus meluangkan banyak waktu untuk menemani Zahrana.


Sebenarnya Tuan Leon sangat sibuk tapi sekarang ia sangat ingin menemani putrinya itu walau dengan alasan ia ingin sengaja bermain dengan putrinya tapi itu sudah membuat Zahrana terlihat ceria dan bahagia.


Sekarang yang ada di pikiran Tuan Leon hanya ingin membahagiakan Zahrana dengan cara dirinya selalu siap siaga untuk menemani Zahrana.


"Sayang maafkan Ayah ya !!" ujar Tuan Leon dengan pandangan matanya yang lurus kedepan.


Zahrana yang berada di sampingnya sedikit mengerutkan dahi. Kenapa juga Tuan Leon bertanya seperti itu.

__ADS_1


"Maaf untuk apa Ayah ? Kenapa Ayah tiba-tiba bertanya seperti itu ?"


"Baru sekarang Ayah bisa memahami dirimu, ternyata kebahagiaanmu terletak ketika kasih sayang seorang Ayah yang selalu hadir di sampingnya dan selalu ada untuk tempat bercerita ketika kamu sedang sedih seperti sekarang ini."


"Ayah jangan bicara seperti itu, Aku bangga sekali punya Ayah yang sangat baik. Walau dulu mungkin Ayah selalu sibuk tapi sekarang buktinya Ayah selalu meluangkan waktu padaku. Bahkan Ayah sengaja bukan tidak pergi ke Perusahaan dengan alasan agar aku menemani Ayah ?" ujar Zahrana tapi matanya fokus melihat jalan.


"Namun karena sekarang Ayah paham jika Zahrana putri kesayangan Ayah ini sedang bersedih ? Lalu Ayah mencari cara agar kesedihan Zahrana sedikit terobati. Benar begitu bukan ?" sambung Zahrana dan sekarang matanya menatap Tuan Leon dengan meneteskan air mata. Namun segera ia mengusapnya dan kembali fokus menyetir.


"Ayah bangga sekali mempunyai putri seperti mu sayang, kau sangat paham dan mengerti akan hal seperti ini. Ayah janji mulai sekarang akan banyak meluangkan waktu untukmu." ujar Tuan Leon.


"Terima kasih banyak Ayah." ucap Zahrana dengan tersenyum manis pada Ayahnya itu.


Sesampainya mereka di Taman segera Zahrana memarkirkan mobilnya di tempat biasa, bahkam penjaga parkir yang ada di sana juga sudah mengenal dekat Zahrana. Mungkin karena Zahrana sering pergi ke Taman itu.


"Pak tolong jaga mobil saya ya." ujar Zahrana dengan tersenyum manis pada penjaga parkir yang umurnya terlihat sudah 45 tahun lebih.


"Siap Nona Zahrana." ucap tukang parkir itu dengan di akhiri sebuah tawa, karena Zahrana selalu bercanda dengan menyuruh tukang parkir tersebut agar menjaga mobilnya. Padahal memang biasanya tukang parkir tersebut menjaga mobil Zahrana.


Zahrana pun ikut tertawa karena sudah biasa Zahrana selalu bercanda dengan tukang perkir tersebut. Tuan Leon yang berada di samping Zahrana hanya bisa memerhatikan putrinya itu yang tertawa dengan lepas. Hal sederhana saja bisa membuat Zahrana tertawa, Tuan Leon sendiri merasa belum pernah melihat Zahrana tertawa lepas seperti itu.


"Nona kalau boleh saya bertanya ini siapa ya ?" tanya tukang parkir tersebut karena penasaran


"Oh ini Ayah saya Pak."


"Kenalkan saya Leon Ayah Zahrana." ucap Tuan Leon sambil mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan tukang parkir itu. Tuan Leon sangat humble pada siapa saja ia tak pernah memandang orang dari pekerjaannya apalagi pengahasilannya.


"Oh saya nama saya Ujang Tuan, senang bisa berkenalan dengan Pengusaha ramah seperti Tuan." ucap tukang parkir itu.


"Loh kok anda bisa tahu bahwa saya seorang Pengusaha ?" tanya Tuan Leon heran.

__ADS_1


"Saya tahu dari Nona Zahrana. Dulu ...,_" ucap tukang parkir itu namun langsung di potong oleh Zahrana.


"Suutt Ahhh Pak Ujang jangan cerita nanti gak beres-beres. Biar aku yang ceritain aja nanti sama Ayah. Sekarang kita mau masuk dulu ke Taman." ucap Zahrana dengan di akhiri sebuah maaf karena telah memotong perkataan tukang parkir tersebut.


__ADS_2