
Kamar mewah yang sekarang agak berbeda karena ada tambahan dekorasi kamar dengan dinding corak permata di setiap dinding Zahrana menempatkan beberapa bingkai foto seperti disebelah kanan dinding ia menempatkan fotonya yang sedang sendiri dengan pigura ukuran besar dan terdapat sebuah puisi disamping fotonya.
Sedangkan di sebelah kirinya ia menempatkan foto bersama teman-temannya di London sana.
Lampu yang ada dikamarnya ia matikan 4 dan tersisa 2 lampu yang menyala sehingga suasana kamar itu temaram indah.
Ia merasa lelah karena tadi sibuk mengobrol dengan sang Ayah dan Bunda dan lupa juga bahwa ada tugas kampus yang harus ia kerjakan.Dan alhasil ia baru selesai sekarang.
Waktu sudah pukul 22:30 ia beranjak dari meja belajarnya dan menuju tempat pembaringan empuknya.Tubuh indahnya ia jatuhkan pada kasur dan segera menyelimuti dirinya karena memang suasana Bandung pada saat itu sungguh dingin karena sedang musim hujan.Ia tidur sangat nyenyak mungkin karena cape.
***
"Ayah,Bunda kasihan pada Zahrana masa iya kita tinggalin lagi dia ke Pakistan dan itu untuk waktu yang lama lagi" ucap Ibunya Zahrana pada sang suami di tempat TV yang megah.
"Mau bagaimana lagi Bun,jika kita tidak terbang kesana nanti perusahaan kita siapa yang ngurusin hanya satu bulan saja kita disana setelah itu kita kembali lagi kesini.Kan kamu juga ngerti jika Perusahaan di Pakistan kan pusatnya, di Bandung ini hanya cabang jadi tetap setiap satu bulan sekali kita harus pantau disana"
"Kalau Bunda ajak Zahrana gimana yah ?"
"Boleh.Emang Zahrana yakin bakalan mau ?. Dia kan baru saja bersekolah disini mana mungkin dia mau apalagi dia anaknya rajin"
Ketika orang tuanya larut dalam obrolan Zahrana sedang menuruni anak tangga untuk menghampiri mereka.Ia duduk di sebelah sang Ayah.
"Ayah sama Bunda lagi ngomongin apa sih ? Kayaknya penting banget".
"Gini sayang Ayah sama Bunda harus pergi ke Pakistan kan setiap bulan Ayah kamu harus mantau Perusahaan itu,karena itu kan merupakan Pusat Perusahaan kita" ucap sang Bunda
Zahrana melirik pada kedua orang tuanya tatapannya kuyu seakan enggan di tinggal sendiri dirumah walaupun ada Bi Vina dan Bi Lyna ia merasa kesepian tanpa adanya sang Orang Tua yang harus jauh darinya karena masalah Bisnis.Namun ia harus paham itu juga demi kebaikan keluarga.
"Ya sudah Zahrana gak papa kok biar disini saja sama Bi Vina dan Bi Lyna"
__ADS_1
"Kalau kamu mau kamu boleh ikut kok sayang"
"Zahrana gak bisa Bunda,walaupun ingin tapi Zahrana gak bisa tinggalin kuliah apalagi Zahrana anak baru disana.Dan sekarang kan Zahrana sudah semester 5 sebentar lagi Zahrana akan menghadapi skripsi"
"Ya sudah jika mau mu seperti itu Bunda dengan Ayah hanya menuruti keinginanmu.Nanti uang bulanan sama uang saku kamu Bunda transferin ya"
"Iya Bunda"
Sang ayah mengusap ubun-ubun Zahrana.Ia sangat bangga memiliki putri yang sangat paham akan keadaan keluarganya.Dan Zahrana belum pernah melunjak walaupun dimanja dengan harta yang berlimpah ia lebih memilih tampil sederhana namun elegan.
Dari kecil Zahrana sudah menjadi anak yang penurut pada orang tua,ia sangat pintar dan bijak jika memilih pergaulan dan pada akhirnya ia memilih untuk menjadi muslimah dengan gamisnya yang selalu elegan dan kerudung pashmina yang selalu menutupi kepalanya.Padahal waktu ia di London teman-temannya banyak yang memakai pakaian minim.Sebelum ia berhijab ia juga pernah memakai pakaian seperti itu dengan rambut indahnya yang berwarna hitam dan sedikit pirang.Namun setelah ia mengenal agama ia lebih memilih menjadi muslimah yang kemana saja ia pergi tak lepas dari gamis indah yang menutupi auratnya beserta kerudungnya.
***
Pagi itu sungguh terasa menyayat hati Zahrana yang akan di tinggalkan jauh oleh kedua orang tuanya.Ia mengantarkan mereka ke Bandara ditemani dengan Bi Vina.Bi Lyna sengaja tak ikut karena harus menjaga rumah.
Di perjalanan Zahrana menatap keluar jendela yang dimana banyak gedung dan orang berlalu lalang.
"Sayang maafkan Bunda sama Ayah ya,kamu harus ditinggal jauh hanya karena masalah bisnis" ucap ibunya sembari mengusap pundak Zahrana.
Zahrana hanya diam.Ia tak mau berbicara apa-apa yang ada dipikirannya hanyalah "mengapa aku tak seperti gadis lain yang banyak ditemani sang orang tua bagaimanapun keadaannya."
"Sayang kamu jangan gini,nanti Bunda sama Ayah kepikiran kamu loh dan gak fokus kerja"
"Iya Bunda Zahrana gak papa kok" Zahrana melirik sang Bunda dan memberi senyuman manisnya.
"Oh iya Bunda lupa nanti kamu pegang dulu Perusahaan sorum mobil Bunda ya"
"Apa ? aku yang pegang Bun ?" tanya Zahrana kaget
__ADS_1
"Iya Bunda yakin kok kamu bisa dan satu lagi jika kamu berhasil memajukan Perusahaan sorum mobil bunda untuk yang di Bandung sini boleh atas nama kamu" ucap ibunya tersenyum penuh arti pada si mata kelabu itu.
"Baiklah jika itu mau Bunda,Zahrana akan berusaha" ucapnya santai."
Setelah sampai di Bandara,Zahrana menemani dulu orang tuanya dan sampai pada akhirnya nama Tuan Leon dan Nyonya Sari di panggil untuk menaiki pesawat yang akan mengantar mereka ke Pakistan.
"Sampai jumpa sayang Bunda usahakan mengabari kamu ,namun jika tidak kamu harus paham ya " ucap Ibunya sambil memeluk Zahrana
" Ayah titip sama kamu jaga kesehatan kamu jangan lupa makan,do'akan kerjaan Ayah sukses agar Perusahaan Pusat bisa bercabang lagi pada beberapa negara." ucap sang Ayah dan memeluk Zahrana penuh sayang dan mencium ubun-ubunnya.
***
Rumah Kevin...
Rumah yang berarsitektur modern warna putih dua lantai hanya di tempati Kevin seorang diri. Orang Tuanya sudah meninggal sejak ia masih kecil dan sekarang ia hanya tinggal dengan pembantunya yang sejak kecil mengasuh dirinya sampai sebesar ini.
Kamarnya yang megah dengan ranjang yang di selimuti kasur empuk dan sprei hitam kotak-kotak putih serta barang-barang lainnya.
Tubuhnya masih terbalut selimut tebal karena diluar sedang hujan.Ia tidak tidur melainkan sedang memikirkan sosok indah cantik jelita yang kehadirannya selalu menebar wangi mawar dan gamis muslimah.
"Zahrana bagaimana mungkin aku jatuh hati padamu.Padahal pertemuan itu hanya sekejap mata walaupun kita pernah mengobrol bersama sungguh itu terlalu singkat bila di ingat" batinnya berkata dan mata coklat nya menatap ke langit-langit kamarnya yang berhiaskan dua lampu yang menyala 6 lampu lainnya sengaja ia padamkan.Sehingga kamarnya temaram indah.
Kevin beranjak dari tempat tidurnya ia iseng membuka halaman website tentang Zahrana. Ia terkejut bahwa Zahrana merupakan putri dari Tuan Leon Pengusaha Pertambangan Terbesar di Pakistan dan anak dari Nyonya Sari Pengusaha Sorum Mobil terkenal.Kemudian ia scroll ke bawah bahwa ada foto Zahrana dengan orang tuanya.Dan ketika melihat pendidikan Zahrana ia merasa kagum bahwa sejak ia bersekolah di Universitas London ia sudah membawa nama baik sekolah itu dengan berbagai bakat yang ia punya dan salah satunya ia menjadi penulis buku yang bertajuk " Senyuman di Tengah Duka Lara" yang telah menggemparkan pasaran buku dibelahan dunia.Sekarang Zahrana sudah memasuki semester lima berarti beda tiga tahun dengannya.
Rasa cinta yang mulai muncul menggelegak dalam hatinya ingin ia mendapatkan sosok itu,namun apakah bisa dengan pertemuan sekejap mata yang hanya ia lalui dengan sekedar canda tawa biasa.
Kevin benar-benar sangat kagum pada sosok Zahrana. Hatinya seakan ingin memiliki sosok indah itu,namun akankah cintanya terbalas ? Entahlah.
Kevin juga merupakan sosok lelaki tampan yang berwawasan sangat luas ia sudah berwibawa dan bertanggung jawab atas segala hal yang menghampirinya.Ia sudah membawa nama baik sekolahnya dengan peringkat terbaik disetiap mata kuliah yang ada.
__ADS_1
Kevin dan Zahrana sangat pantas jika bersama,namun apakah semua khayalan mereka dapat terwujud dengan indah ? Entahlah.