
Malam di rumah Kevin,ia sengaja tak mengaktifkan handphone-nya ia ingin tenang,ia tak mau dulu di ganggu oleh orang bahkan Zahrana sekalipun,ia ingin menyendiri dengan rasa sakit yg menusuk dadanya.Bagaimana mungkin ia bisa sesakitu itu padahal Zahrana hanya sahabatnya.Kevin yang keluar dari kamarnya dan menuju balkon rumahnya ia duduk di kursi yang tersedia,ia menatap ke langit ingin rasanya melihat sang rembulan dan bintang yang bersinar namun sayang malam ini semua itu terlihat samar karena adanya awan hitam yang menghalangi.
Kevin merasa semua intrik yang terjadi hari ini sampai malam ini merasa sangat sedih,harinya tiba-tiba di ikuti alunan nada sendu yang entah bagaimana cara ia keluar dari zona tersebut,siang tadi ketika ia merasa lelah dan berharap Zahrana bisa menemaninya jalan-jalan ternyata malah jalan dengan temannya yang dari London,dan kenapa Zahrana tidak membawa handphone-nya padahal Kevin ingin sedikit saja mendengar suara Zahrana.
Malam semakin larut Kevin masih berada di luar ia membiarkan dirinya di selimuti rasa sunyi dan dingin yang mengahmpiri.Mata coklatnya terlihat lebih bening karena ada air mata yang ia tahan agar tak menetes,namun sayang air mata itu terjatuh ia tak bisa menahannya.
Apakah selemah itu hatinya bila di sakiti seorang wanita ? Tidak.Kevin orang yang sangat kuat ia tak pernah menangisi hanya karena masalah sepele,tapi kenapa sekarang ia bisa menangisi wanita yang jelas-jelas bukan kekasihnya ? entahlah.
Pukul sebelas malam Kevin merasakan dingin yang hebat ia merasa tak enak badan,lalu segera ia pergi ke kamarnya dan menutup jendelanya dan segera ia beranjak ke tempat tidur untuk istirahat.
Keesokan paginya Kevin demam tinggi,pembantunya segera memberi obat untuk majikannya itu berharap agar Kevin bisa pulih kembali.
"Bi... sa..ya mau Zah..ra..na" ucap Kevin terbata-bata karena menggigil.
Kevin menyuruh menelpon Zahrana dari handphone-nya tanpa berkata-kata lagi segera pembantunya menelpon Zahrana.
***
Zahrana sedang duduk di sofa yang ada di kamarnya ia sedang meminum segelas teh hangat,lalu ia di kagetkan olah bunyi handpohe-nya segera ia melihat siapa yang menelponnya sekarang,seketika ia merasa bahagia karena telpon itu dari Kevin lalu segera ia mengangkatnya.
"Halo Nona Zahrana,ini saya pembantunya Tuan Kevin,saya mau minta tolong agar Nona kesini,dari tadi Tuan Kevin memanggil terus nama Nona sekarang ia sedang demam"
"Apa Bi ? baik-baik nanti segera saya pergi kesana,tolong ya Bibi tuliskan alamatnya"
Segera Zahrana mematikan telponnya dan cepat-cepat berganti pakaian dengan gamis dan kerudungnya,ia membawa tas cangklong yang biasa dibawanya.
Zahrana meminta izin dulu pada Ayahnya,beruntung Tuan Leon mengizinkannya dan mau mengantarnya karena khawatir juga dengan kondisi Zahrana yang mungkin masih merasakan rasa sedih akibat perlakuan Raditya kemarin.
__ADS_1
Segera Tuan Leon dan Zahrana berangkat ke rumah Kevin dan menggunakan mobil sedan mewahnya.
Setengah jam kemudian mereka sampai di rumah Kevin yang sangat mewah dan besar.Segera pembantunya Kevin membukakan pintu untuk Tuan Leon dan Zahrana dan langsung mengantarkan mereka berdua ke kamar Kevin.
Setelah melihat kondisi Kevin,Zahrana langsung menghampirinya dan duduk di samping Kevin ia menangis melihat kondisi Kevin yang sedang sakit.
"Kak kenapa Kakak bisa begini ? Zahrana sangat cemas " ucap Zahrana dalam tangisnya.
Kevin yang membuka matanya sedikit dan melihat ada Zahrana beserta Tuan Leon hanya tersenyum di paksa dan berkata tidak apa-apa.Tuan Leon yang melihatnya merasa ikut sedih.
"Kamu kompresi dia sayang agar demamnya juga cepat turun" suruh Tuan Leon pada Zahrana.
"Sebentar Nona saya ambilkan dulu airnya" ucap pembantu Kevin.
Segera Zahrana mengompresi Kevin,Zahrana berharap agar Kevin cepat turun demamnya.
"Saya kurang tau Nona,tapi pas malam saya mau mengunci gerbang rumah Tuan Kevin tak sengaja saya melihatnya sedang duduk di balkon kamarnya padahal itu sudah jam sebelas malam"
"Apa !! jam sebelas malam ?"
"Iya Nona,tapi kelihatannya Tuan seperti sedang memikirkan sesuatu"
Zahrana hanya bisa meneteskan air matanya,ia berfikir mungkin Kevin sedang memikirkan hal yang kemarin karena dirinya jalan-jalan dengan Raditya.Zahrana merasa bersalah sendiri.
"Sayang Ayah pulang lebih dulu boleh ini tiba-tiba ada e-mail masuk dari Perusahaan katanya ada meeting" ucap Tuan Leon.
"Iya boleh,nanti Zahrana pulang naik taksi saja"
__ADS_1
Segera Tuan Leon pergi dari rumah Kevin menuju Perusahaannya.
Setelah di kompresi oleh Zahrana demam Kevin agak menurun dan Kevin bisa melihat sosok Zahrana yang ada di dekatnya dengan jelas,Kevin melihat raut wajah Zahrana yang cemas.Dalam hatinya Kevin sangat bahagia atas perbuatan yang sekarang Zahrana lakukan padanya,Zahrana juga perhatian.Walaupun kemarin sosok jelita itu sempat membuatnya cemburu dan kesal tapi Kevin juga harus memahami Zahrana ia tidak boleh egois hanya karena Zahrana jalan bersama dengan teman dari Londonnya itu.
"Terima kasih Nona sudah kesini,maaf mengganggu waktu Nona" ucap Kevin dengan suara yang parau.
"Iya sama-sama,sudah jangan berbicara seperti itu aku sungguh cemas Kak" ucap Zahrana lalu menunduk dan meneteskan air matanya.
"Loh kok kamu nangis ? Kenapa ?" tanya Kevin heran.
"Aku merasa bersalah karena kemarin pergi bersama Raditya dan membuat Kakak cemburu dan kesal" ucap Zahrana dengan air mata mengalir di pipinya.
"Sudah jangan dulu di bahas ya" ucap Kevin lalu ia memalingkan wajahnya ke samping dan dadanya merasa sesak karena tetap saja rasa cemburu itu masih ada.
Tak terasa sudah seharian Zahrana berada di rumah Kevin da sekarang sudah pukul empat sore,lalu segera Zahrana pamit untuk pulang pada Kevin.Kevin yang sebenarnya ingin tetap di temani Zahrana namun bagaimanapun Zahrana hanya sahabatnya dan Zahrana adalah gadis jadi tidak baik jika harus menginap di rumahnya.
"Ya sudah aku pulang ya,besok aku ke sini lagi kalau tidak sibuk"
"Oh iya Bi,tolong nanti beri lagi obat untuk Kak Kevin ya" sambung Zahrana pada pembantu Kevin.
"Baik Nona"
***
Di perjalanan Zahrana masih tak enak hati,ia tahu Kevin masih memendam rasa cemburu dan kesal tapi apa boleh buat itu juga karena salahnya karena tak memberitahu Kevin terlebih dahulu.Zahrana tahu Kevin hanya sahabatnya tapi bagaimanapun rasa cinta di hatinya semakin membara,seringkali Zahrana memikirkan Kevin.
Setelah sampai di rumahnya segera ia mandi dan mengganti pakaiannya.Hari ini sungguh melelahkan padahal ia hanya menemani Kevin dari pagi.
__ADS_1