
Setelah selesai makan, aku berpikir untuk membangun seluruh gunung untuk jadi markas.
Terlalu mencolok jika memiliki rumah lain.
Meski sampai sekarang masih pada diam soal pilihan yang kuberikan.
Aku harus mempersiapkan tempat untuk pasukanku nanti.
"Kalian masih memikirkannya?"(Balor)
"Masalahnya mempertaruhkan nyawa. Sihir dan kekuatan tidak lagi penting jika berhubungan dengan nyawa"(Birsha)
"Aku sebenarnya juga khawatir jika melawan menara sihir tidak ada yang bisa melawannya selama 20 tahun ini"(Ansir)
"Bagaimana dengan keluarga? Aku tahu kalian banyak yang sebatang kara atau dibuang. Tapi aku masih memiliki keluarga"(Lores)
"Jadi itu yang kalian khawatirkan. Jika kalian ingin bergabung, aku akan menerima keluarga kalian juga"
"Benarkah itu?"(Addon) "Ya, tidak perduli serumit apa selama keluarga kalian mau. Aku akan membawanya kesini. Bahkan jika kalian punya sahabat atau kekasih di akademi aku juga akan membawanya"
Mendengar kata akademi membuat mereka sedikit suram. Berarti tidak ada orang yang penting bagi mereka kan?
"Baik aku bergabung. Asalkan kamu bisa menyelamatkan ibuku"(Addon) "Aku tidak punya tempat lain jadi aku juga bergabung"(Dugal)
Akhirnya selain Lores semuanya mau bergabung denganku. Hanya saja Lores ingin pulang dulu kerumahnya.
Sebenarnya hal ini bisa membahayakan. Tapi aku tidak bisa menolak keinginannya. Tapi masalah berikutnya datang.
Rumahya ada di kerajaan Rochlake yang merupakan tempat kekuasaan akademi.
"Bukanya lebih baik membunuhnya saja?"(Sistem)
"Aku tidak akan melakukan hal gila seperti itu"
"Apa masalahnya? Kamu sudah membunuh belum lama ini"(Sistem)
"Tidak, aku belum membunuh siapapun"
"Apa kamu lupa pertarungan tadi? Memang kamu pikir tidak ada yang mati?"(Sistem)
Aku terdiam. Benar juga sihir dan serangan yang kugunakan cukup mengerikan untuk manusia biasa.
"Baiklah Lores kita akan pergi kerumahmu besok. Lebih baik kalian istirahat"
Gua ini memiliki banyak cabang karena aku sempat membuatnya.
Dibagian dalam ada monster, aku sudah menyegel tempat itu dengan segel berlapis harusnya saat ini masih aman.
__ADS_1
Ada yang harus kulakukan. Aku kembali kerumah dan langsung masuk ke kamar.
"Light magic shared vision"
Layar muncul dan itu membuatku shock.
Ninurta yang hancur berantakan, hutan disana sudah gundul, air membentuk danau kecil disana.
Yang parahnya ada mayat yang hancur. Ada satu yang tertimpa batu, ada lagi yang tertusuk, bahkan ada yang badannya berantakan.
Itu... Perbuatanku? Pria paruh baya dengan jubah perak membelakangi Ninurta memerintahkan para murid untuk membersihkan kekacauan.
Aku bisa merasakan mana yang sangat banyak darinya. Hal inilah yang menjadi alasanku mundur.
"Bagaimana keadaan yang terluka?"(Pria paruh baya) "Buruk pa. 5 guru tewas dan yang lainnya terluka berat"(Murid Pria)
"Sebenarnya siapa yang berani melakukan hal ini? Selama ini tidak ada yang bisa menyerang akademi secara langsung seperti ini"(Pria paruh baya)
Pria itu berjalan kearah akademi. Golem bayangan milikku menyatu dengan bayangannya.
Keadaan didalam akademi lebih parah. Banyak murid yang terluka dan golem yang berkeliaran membantu murid yang terluka.
Pria paruh baya menemui seseorang yang ditutupi jubah hitam hingga tidak terlihat baik wajah maupun kelaminnya.
"Bagaimana keadaan disini? Bagaimana ini bisa terjadi?"(Pria paruh baya)
"Berapa banyak korbannya?"(Pria paruh baya)
"Di kelas mesin 10 orang mati terbakar dan 5 orang luka berat sedangkan kelas terendah mereka semua mati tanpa ada sisa"(???)
"Apa serangan diluar hanya untuk menarik perhatian? Buktinya dia bisa melakukan kengerian seperti itu. Pasti jika mau dia bisa menerobos barier dan membantai kalian semua sebelum aku kembali"(Pria paruh baya)
"Mungkin tidak bisa karena dihalangi"(???)
"Tidak. Dia tidak berniat maju dari awal. Berarti ledakan di akademi berasal dari orang dalam. Ada pengkhianat disini"(Pria paruh baya)
"Bukanya itu tidak mungkin?"(???) "Selalu ada pengecualian. Aku akan melaporkannya dulu"(Pria paruh baya)
Pria itu berjalan menuju portal lain. Portal ini memiliki gerbang dan terbuka sendirinya. Golem ini harus terus menempel padanya.
"Dark magic shadow merge" Shadow golem sekarang menyatu dengan bayangan pria itu.
Pria itu masuk kedalam portal dan keluar di ruang kerja.
Ruang kerja berisi banyak hal, rak berisi buku, meja dan kursi kerja, beragam alat sihir didalam rak, dan rak khusus yang berisi segala macam kristal sihir.
Aku ingin mengambilnya, tapi ada yang harus kuselidiki dulu. Pria itu membuka dokumen dan membacanya.
__ADS_1
Tidak terlihat. Light magic micro vision.
Akhirnya terlihat, disana ada data anak-anak yang sekarang berada disini.
"Tiffany dan pangeran Boliverat. Apa ulah kerajaan itu? Tapi hal itu tidak mungkin. Kerajaan tanpa mana tidak mungkin memiliki penyihir tersembunyi sekuat itu. Menara sihir sudah mendata seluruh penyihir yang ada didunia ini. Dan tidak ada penyihir yang bisa melakukan hal ini"(Pria patuh baya)
Dia mengambil kristal dan digemgamnya.
"Apa yang bisa saya bantu dekan?"(Wanita)
"Bagaimana hubungan dengan kerajaan Boliverat?"(Pria paruh baya)
"Menara memutuskan untuk menangguhi hal itu"(Wanita) "Baiklah. Veri minta departemen komunikasi untuk memberikan permintaan sederhana dariku"(Pria paruh baya)
"Baiklah, permintaan anda sedang direkam"(Veri) "Tolong selidiki kerajaan Boliverat lagi. Sepertinya kerajaan itu ada hubungannya dengan kejadian ini. Sudah itu saja"(Pria paruh baya)
"Baiklah permintaan sudah direkam atas nama Dekan Erish"(Veri) "Terima kasih, Veri"(Erish)
Aku mengaktifkan fungsi merekam dan memutuskan hubungan dengan golem itu.
Kejadian kali ini membuatku gemetar.
Bahkan terbayang dimataku saat mereka terbunuh dengan sihirku. Apa ini rasa bersalah? Aku merasa tanganku dipenuhi darah, suara mereka terdengar ditelingaku.
Kutukan kebencian seperti menusuk hatiku dan membunuhnya. Apa aku akan jadi monster? Yang tidak perduli dengan nyawa?
"Apa kamu butuh bantuan? Mentalmu terguncang. Jika terus dibiarkan kamu akan gila"(Sistem)
"Berisik!!! Biarkan saja. Jika memang ini salahku aku akan menanggungnya. Jika ini adalah hukuman aku akan melaluinya. Inilah caraku agar tetap jadi manusia"
"Sepertinya kamu terlalu berlebihan. Kamu perlu membunuh lebih banyak lagi. Jika segini saja kamu sudah gemetar bagaimana melalui yang lebih banyak?"(Sistem)
"Aku tahu. Aku hanya perlu menenangkan diri sebentar" Aku duduk diam tanpa bergerak.
Meski sedang terjaga aku tidak melihat apapun atau mendengar apapun.
Yang muncul dimataku adalah pertarungan tadi siang yang tidak pernah berhenti. Suara teriakan dan kutukan yang tidak terdengar dulu.
Sekarang terdengar dengan jelas. Hal ini terus berputar didalam kepalaku membawa mimpi buruk tanpa akhir.
"Tuan?"(Michela) Aku menatap Michela, tanpa mengatakan apapun Michela datang dan memelukku.
Semua perasaan bersalah mulai berkurang dan aku meyakini satu hal. Jika aku tidak membunuh maka aku yang dibunuh.
Saat itu bagaimana keadaan Michela? Aku tidak begitu perduli pada diriku tapi aku ingin membawa kebahagiaan pada Michela yang tidak pernah merasakannya.
Aku dan Michela tertidur sambil berpelukan.
__ADS_1
**TO BE COINTINUE...***