
Kejadian ini dimulai sebelum part sebelumnya dimulai
Menghabiskan waktu berdua dengan Michela awalnya menyenangkan dan bebas. Tapi semakin lama semakin melelahkan karena bosan.
Bahkan sampai dimana aku berharap ada yang muncul dari pintu padahal jelas tidak mungkin.
Pintu itu cuma pajangan saja, seluruh sudut rumah ini sudah disegel. Hah membosankan, aku selalu menghancurkan dan berperang dengan menara sihir dan aku tidak terbiasa memiliki kebebasan seperti ini.
"Tuan aku bawakan teh dan camilan"(Michela) Masih tidak bergerak dari meja makan aku menatap Michela
"Sampai kapan kamu memanggilku tuan?"
"Entahlah, sudah terbiasa"(Michela) Beberapa jam setelah bersama Michela aku melepas ikatan budak diantara kita.
Karena kondisi tubuhku yang mengerikan, mana Michela ikut terhisap kedalam tubuhku.
Karena itu aku memutus hubungan budak dan majikan.
Sebenarnya aku juga mempertimbangkan perasaan Michela selama ini juga. Dan agak canggung dan aneh membiarkan hubungan ini seperti budak dan majikan.
"Apa tuan suka melihat Michel disini?"(Michela) "Michel, panggil aku Brian"
"Tapi"(Michela) "Tidak ada tapi-tapian. Aku sekarang bukan majikanmu"
"Begitu ya, kalau nama panggilan boleh tidak?"(Michela) "Panggilanku? Sejauh ini sih cuma ada guru dan Brian" "Boleh tidak?"(Michela)
"Asal bukan tuan tidak masalah" "Baiklah, Sayang"(Michela) Jantungku terasa berhenti mendengar panggilan Michela
"Michel, sebenarnya darimana kamu mempelajari semua hal mengerikan itu?"
"Aku belajar dari suku nelayan yang bergabung dengan divisi Shooter Ruller"(Michela)
Astaga, para nelayan itu terkenal dengan tingkahnya yang keterlaluan. Bahkan saat divisi itu terbentuk sebelumnya mereka sering bertemu dan menggoda laki-laki disana.
Sampai sering disalahartikan sebagai tempat bordil. Benar-benar deh, ada sih alasan kenapa suku nelayan seperti itu.
Selain semua suku mereka kebanyakan perempuan, itu juga karena mereka kesulitan memiliki anak laki-laki.
Aku sendiri tidak tahu alasan jelasnya. Yang bahkan lebih membuatku sedikit bingung adalah perilaku mereka tidak seperti wanita yang mencari suami.
Malah seperti perempuan kesepian yang sudah lama tidak menikmati hidup dengan pria.
__ADS_1
"Dengar Michel, kamu jangan mendengarkan kata-kata mereka ya. Kamu sudah terlalu lama tercemar"
"Benarkah? Kata mereka pria yang biasanya cuek dan perhatian itu cenderung memiliki perasaan suka tapi tidak berani mengungkapkannya. Karena itu yang harus bergerak lebih dulu itu wanitanya"(Michela)
Aku jadi tidak bisa berkata-kata lagi. Sebenarnya aku sendiri masih bingung sih bagaimana perasaanku pada Michela.
Terkadang saat melihatnya tersenyum aku merasa jantungku berdebar, ada perasaan ingin melindungi dan juga memiliki tapi disisi lain aku tidak ingin karena aku dia terkurung dan tidak mengenal dunia luar.
"Aku pergi dulu sebentar. Dan jangan ikuti semua ajaran dari suku nelayan itu, nanti kamu akan di cap sebagai perempuan yang tidak baik"
"Kan cuma berdua saja harusnya tidak apa-apa kan tidak ada yang liat. Sayang"(Michela)
Perasaan apa yang ada dijantungku ini.
"Aku pergi dulu" aku masuk ke ruang kerja yang masih kosong.
Astaga apa yang terjadi pada Michela? Apa yang terjadi padaku? Apa ini perasaan cinta? Atau perasaan bersalah?
Aku berjalan ke meja dan meletakkan kembali kepalaku. Sudah lama tidak ada waktu kosong seperti ini.
2 tahunan sejak aku jadi Brian kerjaanku membuat formasi, alat, latihan, perang, membuat pasukan, mengurus pasukan, mengurus negoisasi.
Bisa dibilang baru sekarang aku punya waktu kosong. Ya selama 10 tahun apa yang harus kuperbuat?
Mana mungkin. Mana kepikiran dulu aku mempelajari cara membuatnya. Jangankan aku yang baru mau masuk SMA meski sudah kuliah sekalipun siapa yang bisa mengajari cara membuatnya.
Kalau bisa sekalipun akan ditangkap, mana kepikiran juga kalau aku butuh hal itu di dunia ini
Sekarang aku rindu pada handphone dan semua alat hiburan di duniaku dulu ada sih beberapa alat musik
Tapi aku bukan seniman, jangankan bermain alat musik namanya saja aku tidak tahu.
Daripada bosan mending iseng saja ya.
Aku tahu beberapa kegunaan alat yang kupikirkan tapi tidak tahu teknologi untuk mengembangkannya.
Tapi aku tahu beberapa sihir yang cocok untuk itu. Aku perlu kertas dan tinta, aku jadi ingat pembuatan benda tanpa mana pertama kali yang kubuat adalah pulpen sederhana.
Ahh, ternyata masih ada. Apa isinya masih ada? Pulpen ini seperti pulpen jaman dahulu.
Dimana badannya tabung yang bisa diisi tinta, bagian untuk menulisnya berbentuk segitiga untuk mengeluarkan tinta.
__ADS_1
Bagian bawahnya ada kumpulan benang panjang jadi tinta tidak cepat habis. Berbeda dengan saat masih di akademi yang menggunakan mana untuk mengendalikan tinta.
Dengan ini bahkan manusia biasa tanpa mana bisa menulis juga. Untuk pertama aku perlu alat komunikasi.
Jadi perlu formula angin wind tunnel, ditambah formula gelombang, ditambah formula ruang agar mulus.
Dan jadinya sebesar TV bukanya kalau sebesar ini lebih baik membuat monitor? Sekalian saja kalau begitu.
Tambahkan Formula cahaya Linked. Akhirnya setelah entah berapa lama jadi juga. Aku mengeluarkan kristal sihir yang langsung habis ditanganku.
Aku menatap kristal kosong itu. Ya inilah masalahku, dengan cepat aku mengambil kristal lain dan langsung memasukkannya kedalam kotak.
Sihir terhubung, tampilan layar kelua dari kotak. Serasa melihat TV dan langsung padam.
Aku mengambil kristal itu yang sekarang sudah kosong. Kutukan sialan!!!! Aku membongkar kotak itu dan buat lagi dari Antistone dan kembali gagal.
Kristalnya meledak didalam. Setelah percobaan ke 5 kali akhirnya berhasil. Hanya saja masih manual dan perlu mana untuk menggunakannya. Terpaksa bongkar lagi.
Akhirnya selesai juga. Bahkan ini Touchscreen aku menghubungi semua muridku yang disambut dengan suara terkejut
"Guru?!"(Daeva) "Guru bagaimana bisa?"(Lores) "Ini benar-benar guru? Tapi bagaimana?"(Alstor) "Guru kenapa lama sekali untuk menghubungiku?"(Ansir) Anak satu ini benar-benar.
"Apa guru tidak masalah menggunakan sihir?"(Clay) Ya, intinya mereka terkejut dan khawatir kecuali Ansir yang menyebalkan.
Aku meminta baju APD milik semua murid dan kuberkati, Rienne dan Balor serta Birsha mengurus projek Manaless.
Divisi Warrior dan shooter ruler sudah disiapkan untuk menyerang. Setelah aku pastikan semuanya aman mereka mulai bergerak setelah aku memberikan Black hole bomb.
Dan senjata dengan sedikit mana tercipta. Hampir mirip dengan senjata di kehidupan ku sebelumnya hanya saja tidak menggunakan mesiu ataupun pematik.
Melainkan menggunakan kristal sihir api, dengan peluru besi campuran antistone. Beberapa Space rip Missile juga berhasil kubuat.
Dengan shadow golem aku memastikan lokasi semua KOF dan Monarch. Untuk yang pertama, langkah membuat keputusasaan
Hancurkan semua akademi dan KOF dulu.
Semua prajuritku menyerang 5 akademi terakhir yang tersisa.
Dan rudal menjatuhkan 7 KOF, setelah rudal kedepalan melesat untuk menjatuhkan Monarch. Sirha muncul di 6 menara sekaligus dan membawa monarch kedalam celah ruang.
Satu monarch berhasil terkena rudal dan sedikit sayapnya hancur. Untuk kali ini bisa dibilang menara sihir kehilangan semua kekuatanya.
__ADS_1
**TO BE COUNTINUE....***