I Reincarnation With Wizard System

I Reincarnation With Wizard System
Part 64 Suku gurun


__ADS_3

Deep ocean sudah mulai berfungsi hanya saja kami kekurangan tenaga kerja untuk menjalankannya supaya normal.


Untuk sementara aku cuma mengandalkan homunculus untuk itu. Aku memikirkan untuk membuat pasukan garda depan seperti prajurit.


Di dunia ini para pejuang memiliki teknik tersendiri untuk bertarung menggunakan mana.


Hanya saja teknik itu masih sangat kasar dan hampir tidak berguna sama sekali dan cuma mengandalkan alam saja.


Tapi aku berbeda dengan bantuan teknik magic body yang disederhanakan yang bisa disesuaikan dengan elemen yang paling cocok dengan mereka.


Rencana pertama adalah suku gurun. Di gurun yang besar ini ada puluhan suku yang memiliki keadaan yang berbeda ada yang kuat karena keadaan gurun yang kejam juga ada yang lemah karena hal itu.


Tapi ada satu keunikan mereka masing-masing. Yaitu kecocokan dengan elemen angin dan tanah yang tinggi.


Aku sudah mencobanya dan hasilnya luar biasa aku menyebutnya Martial magic.


Dengan menghubungkan mana mengikuti jalur darah ke organ tertentu dan membuat organ itu kuat akan menghasilkan kekuatan yang luar biasa.


Masalahnya tinggal manusianya untuk uji coba. Aku menemui Daeva yang sedang berada di gedung monitoring.


"Apa kamu sudah menemukannya?" "Ada si sebelah barat 10 km dari sini. Suku yang cukup lemah yang hanya memiliki 20 keluarga bahkan ada 10 orang tua disana"(Daeva)


"Bagaimana dengan oasis buatannya?" "Kami baru bisa membuat sampai tergenang saja Butuh sedikit waktu sampai pepohonan bisa tumbuh"(Daeva)


"Berapa tinggi kemungkinan terlihat dan ditemukan orang lain?" "Cukup tinggi karena daerah ini tidak terlalu panas, semua kristal sihir yang digunakan disini membuat 20 km didaerah sini lebih sejuk daripada daerah gurun lainnya"(Daeva)


Karena tidak terlalu panas maka fatamorgana kemungkinan tidak akan terlalu terlihat ya? Memang susah sih. Menggunakan kristal sihir untuk menaikan suhu daerah sini juga termasuk pemborosan.


Kalau begitu tinggal gunakan alat saja


"Gunakan alat sihir untuk mempercepat pertumpuhan seluruh pohon daerah oasis disana akan menjadi lahan pertanian dan pertenakan kita. Selagi menggambil alat sihir juga bawakan alat pengacau arah dan peresepsi juga"


"Baik guru. Berapa luasnya yang akan diliputi alat itu?"(Daeva) "20km seluas seluruh tempat yang terpengaruh. Dan kita akan menyebut tempat ini Paradise in the hell"


"Baiklah aku mengerti. Kira-kira dengan bantuan semua alat itu perlu waktu seminggu guru"(Daeva) "Baiklah. Cari beberapa suku lemah lainnya yang kemungkinan bisa musnah dengan mudah. Hindari desa kecil atau kota yang dibangun suku yang kuat"

__ADS_1


"Aku mengerti guru"(Daeva) Dari puluhan suku cuma ada 30 desa kecil dan 10 kota kecil.


Kota-kota itu merupakan tempat dimana oasis berada. Kebanyakan suku kecil tidak bisa masuk kesana sehingga mencoba membuat oasis sendiri yang tentu saja sangat sulit dan mustahil.


Aku sudah sampai di oasis yang terbentuk karena perbuatanku. Oasis ini memiliki diameter 10 meter terlihat seperti danau kecil.


Pohon-pohon yang ditanam sudah mulai tumbuh disini. Hanya saja juga perlu tanah untuk menanam lebih banyak.


Untung saja ada beberapa tanaman hasil rekayasi sihir yang bisa dengan mudah ditanam di tempat seperti ini.


Balor muncul dikejauhan membawa alat sihir


"Guru sudah tiba"(Balor) "Begitulah. Setelah semua alat pengacau arah dan presepsi dipasang baru gunakan alat itu untuk menumbuhkan semua pohon ini"


"Baik guru"(Balor) "Buat tanah 20 km disini jadi subur sampai bisa jadi hutan. Aku akan pergi mencari suku yang bisa kubawa"


"Apa guru perlu bantuan? Clay ada di tempat dan bisa membantu guru"(Balor) "Nanti aku akan bicarakan langsung dengan Daeva yang jelas fokus saja sama kerjaanmu"


Aku pergi kesebuah desa bobrok yang dibicarakan Daeva sebelumnya. Setelah aku mendarat ditengah-tengah desa para warga yang lemah menatap kearahku.


Dan tetap tidak bergerak jika ini dikota lain mungkin mereka akan menghampiriku dan meminta bantuan.


Aku tidak yakin bisa menyebut ini gubuk? Keadaannya sangat buruk bahkan dinding bagian luarnya saja tidak ada.


Cuma ada atap dan satu kamar yang tertutup yang lainnya terbuka keluar.


"Anda bisa duduk?" Wanita itu hanya menggangukkan kepala.


Aku memberikan air dari kantung kulit yang kubawa. Begitu merasakan air dibibirnya, wanita itu langsung merebut kantung itu dab meminumnya dengan terburu-buru sampai terbatuk-batuk.


Setelah itu aku membagikan air dan memasak makanan seadanya yang kubawa melalui dimensional pocket.


Salah satu alat sihir yang mengandung sihir ruang didalamnya. Ini semua terjadi karena sistem tidak mau menyimpan sesuatu yang tidak memiliki mana didalamnya sehingga aku terpaksa membuat benda ini.


Aku menyadari beberapa hal sebenarnya orang tua yang dimaksud Daeva itu adalah orang-orang yang kekurangan gizi disini.

__ADS_1


Kebanyakan orang tua sudah mati dan jadi tulang ditempat ini. Setelah mereka semua sudah makan hal pertama yang mereka lakukan adalah mengeluarkan kerangka-kerangka dari dalam gubuk mereka dan menguburnya didalam pasir.


Seorang pria mendatangiku "Terima kasih tuan sudah membantu kami. Jika ada yang bisa kami lakukan pasti akan kami lakukan"(Pria itu)


"Siapa namamu?" "Desan tuan"(Desan) "Berapa banyak pria disini?" "Selain hamba cuma ada 17 dan 10 anak laki-laki"(Desan)


"Perempuannya?" "19 tuan. Anak perempuan lainnya sudah mati karena tidak kuat menanggung keadaan ini"(Desan)


"Baiklah. Kumpulkan mereka semua disini!"


"Baik tuan"(Desan) Aku mengeluarkan meja, 2 kursi dan 1 bola Affinitas elemen.


Bola ini kubuat dengan tambahan seluruh mana elemen yang ada. Hal ini bisa mendeteksi kecocokan antar elemen setiap orang.


Aku bisa melihat kecocokan elemen dengan penyihir atau orang yang bisa menggunakan sihir.


Tapi tidak bisa untuk mereka yang belum pernah berlatih dan menyerap mana. Dari sekian banyak orang hanya satu pria yang memiliki kecocokan dengan elemen tanah.


Yang setidaknya memiliki mana sebanyak apprentice. Yang lain cuma seperti orang biasa saja.


Tidak menunggu lama semua orang sudah dikumpulkan dan duduk diatas pasir yang panas.


Aku tidak tega melihatnya tapi untuk menunjukkan kemampuan aku tidak boleh menunjukkan kelemahan dan perasaan mengasihi dulu.


Jika tidak, akan muncul pemberontak setelah mereka cukup kuat dan itu cuma menambag pekerjaan saja.


"Makanan dan minuman yang kalian telan tadi tidak gratis. Jadi aku disini ingin menjadikan suku ini menjadi milikku. Apa ada yang keberatan?"


Mereka semua tetap diam dan saling memandang. Sepertinya mereka sudah terbiasa dengan keadaan ini.


"Tapi aku bukan orang tanpa hati nurani. Jika kalian ingin tinggal dan mati kalian bisa keluar dari kerumunan itu. Karena yang tetap didalam kerumunan akan aku bawa untukku perkejakan seumur hidup kalian"


Masih tidak ada yang pergi sepertinya mereka menerima hal ini.


"Kalian tidak perlu khawatir setelah kalian mengikutiku kelaparan tidak akan terjadi lagi. Tapi kalian harus membayar itu semua dengan kerja keras. Satu persatu duduk dibangku dan letakkan tangan diatas bola!"

__ADS_1


Setelahnya pemeriksaan kulakukan dan aku menghubungi Daeva setelah itu untuk menjemput suku ini. Aku harus pergi ke suku berikutnya.


**TO BE COUNTINUE...***


__ADS_2