
Setelah selesai mengurus semuanya saatnya perang besar dimulai. Ada 7 pasukan yang akan menyerang menara sihir langsung.
1 pasukan sebagai logistik, 1 pasukan medis 1 pasukan transportasi, dan 1 pasukan komunikasi Tujuan dari serangan ini 7 kota dimana menara sihir berada.
Menara sihir elemen yang ada di kekaisaran Marlef, Menara sihir bencana yang ada di Helflish, Menara sihir mesin yang ada di Rochlake, Menara sihir Archanist yang ada di kekaisaran Lucas, Menara sihir gerhana yang ada di kekaisaran Earland, dan Menara sihir medis yang ada di Ribunch
7 pasukan pertama di pimpin Carmil, Birsha, Rienne, Balor, Addon, Alstor, dan Ansir
Logistic dipimpin Lores, Medis dipimpin Dugal, Transportasi dipimpin Clay dan Komunikasi dipimpin Daeva.
Ada 4 jenis pasukan disana Magic warrior, Magic shooter, Mage, dan yang bukan manusia itu adalah chimera dan golem.
Semua sudah siap dan kita akan mulai perangnya. Dari gurun diatas Deepdesert pasukan pertama mulai bergerak tujuan Rochlake
Dari padang rumput pasukanku yang lain muncul tujuannya Ribunch, dari perbatasan kekaisaran Marlef 3 pasukanku bergerak mereka langsung pergi ke 3 kekaisaran
Dan pasukan terakhir muncul di kerajaan Dawnsihe tujuan Helflish. Bersamaan dengan mereka seluruh raja dan kaisar panik luar biasa.
Jumlah pasukanku cukup meratakan 1 kerajaan tanpa kesulitan. Baiklah aku juga harus bergerak. Space throne world reflection
Aku muncul di ruang tahta masing-masing istana dengan satu pesan yang sama
"Jika tidak ingin di musnahkan beri jalan!!"
Berkat itu pasukanku melewati setiap kerajaan dengan mudah. Tentu saja para Prajurit bersiaga penuh.
Monarch mulai muncul disetiap menara sihir dan mulai menembakkan meriam jarak jauh
"Clay gunakan Barrier cannon" "Baik guru"(Clay)
Semua pasukan berhenti bergerak bersamaan dengan laser datang dan pecah membentuk dinding Barrier.
Ledakan sihir terjadi tanpa henti, Daeva muncul dan memberi kabar pergerakan menara sihir.
Ratusan mage menara sihir mulai bergerak dari kota menuju kearah pasukan
"Clay kirim orang untuk meminta izin teleportasi dan teleportkan semua orang disana menuju Space monarch yang kosong"
"Baik guru"(Clay) Clay mulai bergerak. Tidak menunggu lama ratusan orang mulai memenuhi setiap Monarch yang ada.
"Guru para mage sudah ada didalam kota yang menghalangi jalan"(Daeva) "Cepat juga mereka. Beritahukan untuk mulai perangnya, tangkap para target hidup-hidup sebisa mungkin"
__ADS_1
"Aku mengerti guru"(Daeva) Sudah 1 jam akhirnya Clay kembali. Setelah Barrier hilang pasukanku mulai berjalan maju.
Para mage menara sihir mulai muncul untuk mencegah para pasukanku "Daeva perhatikan sekitar sejauh 10km. Yang kita lawan menara sihir tidak mungkin semudah ini dikalahkan. Clay perhatikan pergerakan ruang dan siapkan meriam pembeku ruang. Jika monarch terlihat langsung hancurkan dengan Black hole cannon"
"Guru. Maaf sepertinya kamu sedikit keterlaluan dan menilai tinggi mereka dah"(Clay) "Apa maksudmu? Yang kita lawan menara sihir bukanya itu wajar?"
"Ya bukan. Bagaimana ya bicaranya?"(Clay)
"Haha, jadi guru sebenarnya mereka benar-benar sangat lemah sekarang. Mereka tidak punya pasukan baik buatan maupun mage selain yang didalam menara sihir ditambah wabah yang guru lakukan waktu itu merusak semua yang mereka miliki apalagi beberapa penyerangan dulu bisa dibilang mereka sudah lama kalah cepat atau lambat akan tersingkir"(Daeva)
Aku sudah memperkirakan hal itu sih. Tapi kan yang kulawan ini adalah penguasa dunia yang memiliki semua sumber daya selama 20 tahun masa iya selemah ini?
"Lemah? Kamu terlalu menghina dirimu dan menara sihir. Mana ada orang yang pertama kali ingin memulai perang dengan merusak informasi orang lain? Itu seperti membutakan, menulikan dan memasang segala pengawasan padanya"(Sistem)
"bukanya itu wajar ya" "Tentu saja tidak aku yakin 100 dari 100 orang yang memulai perang pasti dimulai dengan mengumpulkan kekuatan dan dukungan siapa yang akan memulai dengan membatasi lawan?"(Sistem)
"Jadi intinya kita sudah menang?" Apalagi melihat perang ini yang berat sebelah. Meski mereka memiliki banyak wizard bahkan itu tidak bisa dibandingkan sama Magic warrior dan Magic shooter tingkat 2 milikku.
Apalagi melihat segala sihir yang ditembakkan golem milikku dan Chimera yang sibuk memakan orang itu
"Apa aku sudah berlebihan?" "Kalau kupikir dari awal"(Clay) "Mereka cuma punya satu kesempatan untuk membalikan keadaan. Turun tangan sendiri atau membunuh guru yang merupakan Elder Wizard"(Daeva)
"Begitu ya, selama ada aku mereka tidak akan bergerak gegabah tapi jika aku tetap diam mau tidak mau mereka akan muncul"
"Kekalahan yang menunggu mereka. Karena itu mau tidak mau mereka harus memaksaku muncul"
"Aneh"(Clay) "Ada apa?" "Hujan di seluruh kerajaan Dawnshine. Padahal tadinya cerah, apa ini..."(Clay) "Aku akan kesana"
"Jangan guru bisa saja itu jebakan untuk mu muncul"(Daeva) "Tidak bisa ada sesuatu yang penting disana. Daeva aku serahkan komando singkat padamu" "Tapi guru!"(Daeva) "Semangat. Aku pergi"
Aku muncul diatas padang rumput tempat pasukanku berjalan. Hujan jadi badai dan petir raksasa menyambar kearah Michela.
Aku mengirim Michela kesini karena menara medis merupakan yang terlemah diantara mereka.
Aku tidak menyangka menara sihir cukup licik. Michela menghindari petir itu dan mundur tapi muncul Eliseo disana
"Kena kau!"(Eliseo) Tangannya berubah jadi petir. Dan aku langsung muncul didepannya dan menahan tangan itu
"Berani juga kamu" "Bukanya itu kamu yang terlalu sombong?"(Eliseo) "Tuan?"(Michela)
"Karena kamu datang lebih baik kamu tetap disini"(Eliseo)
__ADS_1
Badai besar terjadi bahkan 10 tornado raksasa juga muncul apalagi disertai gempa hingga seluruh tanah terbelah
"Aku pikir kita perlu bicara berdua?" Aku mengayunkan tanganku. Jangankan badai bahkan semua goyangan tanah ini hilang.
Eliseo terpental terkena seranganku, aku langsung mengirim semua pasukanku kedalam Space monarch termasuk Michela.
Naga air raksasa muncul yang langsung kubelah dengan tanganku. Bola api raksasa muncul diatas kepalaku, ruang membeku menahan tubuhku.
"Sialan ini-" Tubuhku tertembus laser cahaya entah darimana. Dan tubuhku mulai hancur dan hilang
"Untung saja aku punya persiapan ya" Aku menatap semua pemilik menara sihir disana.
"Kamu belum mati?"(Geniviere)
"Kalau aku semudah itu mati bukanya membosankan. Space throne Meteor Rush"
Ruang terbuka diatas kepalaku dan Batu raksasa muncul jauh lebih luas dari kerajaan Dawn shine.
"Karena kalian sudah muncul harusnya tetap disini dong" "Star strom"(Geniviere) Ratusan bola cahaya melesat kearahku. Ukurannya menjadi semakin besar.
"Strom dance"(Eliseo) "Wrath Gale"(Deon) Petir menyambar seluruh batu raksasa itu.
Angin membentuk tornado yang berusaha menghancurkan batu itu.
"Santuary eternal"(Malvia) "Matilah"(Malverick) Laser raksasa keluar mengenai batu raksasa. Ditambah disekitar Malvia ada aura cahaya yang membuat mereka bisa mengeluarkan semuanya tanpa batas.
"Baiklah ini sudah selesai" Batu itu hancur jadi 8 bagian. Hanya saja setiap batu itu melesat dengan cepat kearah mereka.
Satu demi satu batu hancur ditangan mereka. Tapi mereka tidai memperhatikan aku yang sudah dibelakang Malvia.
"Satu dulu" "Kamu-"(Geniviere) Aku langsung membawa Malvia kedalam kegelapan pekat
"Dark torture" Seluruh tubuh Malvia ditembus tombak kegelapan yang juga tidak terlihat
Hanya saja regenerasi miliknya sangat cepat
"Maaf ya kamu harus mati dulu" "Kenapa? Kenapa kamu menyerang kami?"(Malvia)
"Mau tahu? Karena permintaan seseorang, selamat tinggal" Dengan satu ayunan tanganku Malvia hancur dan mati.
Bersamaan dengan itu menara medis runtuh dan lenyap dari situ. Pertarungan pertama aku menangkan.
__ADS_1
**TO BE COUNTINUE...***