I Reincarnation With Wizard System

I Reincarnation With Wizard System
Part 36 Reuni keluarga


__ADS_3

Setelah sarapan aku menemui Lores.


"Bagaimana keadaan ibu dan adikku?"(Lores)


"Aku ingin bicarakan tentang itu. Keadaan ibu dan adikmu cukup parah meski keadaanya sekarang sudah stabil tapi tidak dengan jiwanya"


"Jiwanya?"(Lores) "Ya, ada kepribadian lain yang ada didalam tubuhnya dan aku tidak bisa sembarangan melakukan apapun"


"Apa berarti hanya bisa pasrah?"(Lores) "Bukan itu maksudku. Aku bisa mengambil tindakan hanya saja kemungkinan keluargamu mati bisa sangat tinggi. Hal yang bisa dilakukan belajar tentang sihir dan membunuh kepribadian itu sendiri"


"Tapi ibuku bukan mage"(Lores) "Aku tahu. Karena itu aku membicarakan denganmu dan ibumu. Siang nanti kamu bisa menemui mereka berdua berikan pendapatmu pada mereka nanti" "Aku mengerti. Aku akan membujuk ibuku"(Lores)


Aku pergi dari gunung dan kembali ke rumah.


"Light magic shared vision" Layar muncul menampilkan Erish yang terlihat gelisah.


Apa aku mulai saja rencana kedua ya? Aku dengan sabar menunggu. Setelah menunggu cukup lama.


Ada seseorang yang masuk keruangan Erish.


"Permisi pa. Saya ingin memberikan laporan tentang kerugian akademi"(Wanita)


"Baiklah berikan padaku!!!"(Erish) Wanita itu memberikan setumpuk kertas.


"Saya mendengar ada berita-"(Wanita) "Tunggu dulu"(Erish) Erish menggunakan mana membentuk bola yang menutupi mereka berdua.


Sepertinya sejenis perisai kedap suara. Tapi itu tidak berguna karena golem ini jadi bayangan anda.


"Katakan! Berita apa?"(Erish) "Laboratorium di gunung Forthside hancur. Menurut perkiraan ulah kelompok yang sama dengan yang merusak akademi ini"(Wanita)


"Wajar saja selama beberapa tahun tidak ada yang melakukan perlawanan pada menara sihir tapi hanya butuh 2 hari 2 tempat penting diserang bahkan salah satunya hancur lebur.


Apa tidak ada kabar dan wajah siapa yang melakukan hal itu?"(Erish)


"Sayang sekali tidak ada pa. Seluruh kristal perekam hancur bahkan yang kecil juga hancur karena ledakan mana. Menara sihir mesin mencoba memperbaiki paling tidak mendapat rekaman darinya tapi mereka saja tidak yakin berhasil, ada kabar akan digelar pertemuan penting antar akademi 1 minggu lagi pa"(Wanita)

__ADS_1


"Aku mengerti. Kamu boleh pergi"(Erish) "Saya permisi"(Wanita) Wanita itu mulai pergi.


Aku menjalankan Shadow golem kebayangannya sambil membiarkan mana bocor sedikit.


Wajah Erish berubah "Kamu!!!"(Erish) Angin besar menghantam wanita itu hingga menabrak dinding.


Suara tulang patah terdengar "Pengkhianat!!! Mati!!!"(Erish) Tubuh wanita itu meledak berantakan. Shadow golem langsung kembali kebayangan Erish.


Wajah Erish masih tegang mungkin dia sadar kalau ini semua belum berakhir.


Aku merasa menyesal melihat wanita tidak bersalah mati begitu saja.


"Jadi itu rencanamu? Membunuh mereka dengan tangan Erish?"(Sistem) "Tentu saja tidak. Aku akan menanamkan keraguan dan ketidak percayaan. Bukan cuma Erish tapi seluruh akademi nanti dan menyebar keseluruh menara dan secara otomatis pemblokiran informasi akan berjalan"


"Cuma kamu yang bisa memikirkan hal itu"(Sistem) "Tentu saja. Itu karena mereka sudah dicuci otak" "Apa hubungannya?"(Sistem)


"Bisa dibilang mereka tidak bisa berpikir jernih. Manusia lain kalau tahu temannya berkhianat mereka akan menghindarinya dan mengawasinya tapi tidak dengan mereka. Mereka akan berusaha menghilangkan ancaman pada menara sihir secepat mungkin. Meski tahu itu perangkap sekalipun mereka akan tetap bertindak"


"Jadi begitu"(Sistem) "Nanti hal ini akan mengakibatkan kejadian lain. Setelah ada yang pertama pasti ada yang kedua dan seterusnya. Saat itu para petinggi penting seperti mereka tidak akan dapat informasi.


"Jadi yang jadi titik balik ini adalah sifat mereka yang sudah dicuci otak?"(Sistem) "Tepat sekali meski aku tidak menyangka akan langsung dibunuh begitu saja tanpa pertimbangan"


Setelah istirahat aku keluar meminta Michela untuk membawa Lores kesini. Aku akan mempertemukan Lorianne dan Lores tentu saja adiknya juga.


Tidak menunggu lama Lores datang dan melihat ibunya yang duduk disofa.


"Ibu" "Lores!!"(Lorianne) "Kakak"(Lerry)


Mereka bertiga berpelukan. Aku hanya diam melihat mereka, hanya wajah Michela agak berbeda.


"Kenapa?" "Aku iri pada mereka"(Michela)


"Kemarilah, biar aku yang memelukmu" "Baik"(Michela) Michela langsung melompat darisana dan memelukku.


"Seperti ayah dan anak"(Sistem) Diam kau

__ADS_1


"Pelukan tuan hangat"(Michela) aku hanya diam sambil mengelus rambutnya.


Setelah beberapa menit suasana kembali normal.


Dan mereka mulai saling bercerita. Tentang kematian ayah Lores, Tentang ditangkapnya seluruh warga disana, dan tentang Lores yang kabur dari akademi.


"Jika Lores tidak pergi, aku yakin kalian akan bertemu" "Kenapa seperti itu?"(Lores) "Ingat 3 perempuan yang dikurung dengan adikmu? Mereka seniormu dari akademi yang sama"


Aku melihat Lores sedikit syok. Mungkin dia tidak percaya perkataanku sama sekali hingga tahu keluarganya diculik.


"Lupakan soal itu. Aku mengumpulkan kalian disini untuk menanyakan pilihan kalian, agar tidak ada yang merasa tidak puas dan tidak adil. Jika memilih untuk melawan sendiri, aku akan mengajarkan sihir dan cara bertarung. Meski begitu kemungkinan kalian menang cuma 50% tapi jika memilih aku turun tangan 100% kemungkinan berhasil tapi kemungkinan kalian mati juga meningkat sampai 85% Lebih baik pikirkan dulu apa solusi yang tepat"


"Bagaimana Ibu?"(Lores) "Sebenarnya aku tidak begitu perduli dengan nyawaku sebelum bertemu kembali denganmu Lores. Sekarang aku akan coba melawannya sendiri"(Lorianne)


"Tapi aku takut ibu"(Lerry) "Tidak apa jika kamu takut sayang"(Lorianne) "Lerry kamu harus berani agar bisa melindungi ibu. Aku tidak bisa terus menemani ibu Lerry"(Lores)


"Bagaimana kalau aku kalah?"(Lerry) "Terpaksa aku akan membunuhmu" Mereka terkejut "Membunuh kami?"(Lorianne) "Kenapa kamu katakan sekarang?"(Lores)


Aku menghela nafas "Pertarungan nanti adalah pertarungan satu lawan satu yang kalah jiwanya akan hilang. Saat itu jiwa mu yang lain yang akan mengambil alih dan bisa saja itu akan membunuhmu Lores, atau bahkan ibumu"


"Apa tidak bisa memotong ular ini saja?"(Lerry) "Kalau bisa sudah kulakukan sejak awal. Aku tahu kamu takut tapi jika aku yang turun tangan keadaanmu jauh lebih menyakitkan. Tubuhmu akan busuk dari dalam dan aku terpaksa untuk terus menerus merobek tubuhmu dan mengambil organmu. Jika suatu saat organ penting yang membusuk aku tidak bisa melakukan apapun kecuali menggali kuburan untukmu. Apa kamu pikir itu saja? Tidak. Kamu akan menderita setiap saat rasa sakitnya membuatmu memilih mati. Jika kamu yang bertarung dan mati kamu tidak akan kesakitan tapi jika yang kedua. Bahkan dokter terhebat sekalipun tidak bisa melakukan apapun"


"Jangan menakutinya!!"(Lores) Lores langsung memeluk adiknya. Dan adiknya menangis dengan keras.


"Aku tahu kamu takut. Aku juga sama, beberapa hari didalam sana berusaha menyelamatkan kalian satu demi satu. Bahkan beberapa aku sendiri yang membunuh mereka. Aku sadar saat itu, jika ingin melindungi kamu harus siap menghadapi 2 hal dan menanggung 2 hal.


Menghadapi rasa sakit dan kematian


dan menanggung tanggung jawab dan penderitaan. Itu adalah kewajiban seseorang pria sejati. Pria sejati yang kuat ingat pengorbanan ayahmu yang berhasil membuatmu bertahan sekarang. Apa kata dia saat kamu menyerah karena takut dan menyia-yiakan pengorbanannya?"


Lerry menatapku dengan wajah penuh air mata dan ingus. Aku tahu kata-kataku terlalu kejam bagi anak seumuran mereka.


Tapi itulah dunia ini. Tidak ada belas kasihan bagi yang lemah. Jika sekarang dia tidak berani, nanti bisa jadi dia akan mengorbankan ibu dan kakaknya untuk tetap hidup. Dan aku tidak mau itu terjadi.


**TO BE COUNTINUE...***

__ADS_1


__ADS_2