
Kehenigan melanda sebuah hunian,dengan karangan bunga yang masih berjejer dan bendera kuning yang masih terpasang di gerbang hunian tersebut.
Seorang wanita baru saja di kebumikan dengan meninggalkan dua orang putri dan suaminya.
Dua putrinya itu bernama ISYANI NAVFEA dan DENNISA ARTA WIJAYA, dan mereka
biasa di panggil Syani dan Nisa.
Mereka hanya berbeda 1 tahun. Syani yang berumur 14 tahun dan Nissa 13 tahun.
Dua nama dan karakter serta wajah yang jauh berbeda,syani dengan wajah bulenya dan nisa dengan wajah asia tapi lahir dari rahim yang sama.
Walaupun mereka lahir dari rahim yang sama, kualitas dan kuantitas otak mereka berbeda. Karena syani adalah anak yang jenius.
Baru 2 hari yang lalu syani merayakan ulang tahun serta kelulusannya dan berhasil masuk di SMA favorit yang memiliki kelas akselerasi dia saat usianya baru 14 tahun di kota Bandung.
"Ayah...sekarang hanya tinggal kita bertiga..."kata syani sambil duduk di sofa dengan wajah yang sendu karena masih berduka.
"Sekarang memang bertiga, tapi sebentar lagi hanya tinggal aku RIKO ARTA WIJAYA dan putriku DENNISA ARTA WIJAYA."ucap ayahnya yang masih berdiri dan menatap wajah syani dengan tatapan yang tidak di mengerti olehnya.
"Maksud ayah apa?"tanya syani heran
"Aku sudah cukup bersabar selama ini.sekarang aku harap kau pergi dari kehidupanku."ucap ayahnya datar tanpa ekspresi.
__ADS_1
Syani kaget.dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar,karna selama ini ayahnya sangat menyayanginya walaupun tidak seperti saat ayahnya bersama Dennisa.
"Kau tau,kenapa tidak ada namaku di belakang namamu?"tanya ayah syani. kemudian di jawab dengan gelengan kepala oleh syani. " itu karna kau BUKAN PUTRIKU." ujar ayah syani sambil meninggikan suaranya saat mengatakan 'bukan putriku'.
......
Syani kaget mendengar penuturan ayahnya. Dia tidak pecaya dengan ucapan ayahnya. Kemudian Syani berdiri ingin pergi ke kamar.baru satu langkah syani berjalan tangan syani langsung di tarik oleh ayahnya.
"Mau kemana kau?.."bentak ayahnya
"Aku mau ke kamar ayah..."jawab syani dengan wajah yang sedih
"Siapa yang menyuruhmu ke kamar.bukankah tadi aku bilang untuk pergi dari kehidupanku."
"Jangan panggil aku ayah...aku bukan ayahmu.asal kau tau,ibumu sudah mengandung 1bulan saat aku menikah dengannya ucap ayahnya sambil memanggil seorang pelayan yang baru saja keluar dari dapur."bik minah......ambil tas yang sudah saya kemas!"seru ayahnya.
Pelayan itupun pergi dan tak lama sudah itu dia kembali dengan 2 ransel di tangannya. Dia terpaksa meletakkan ransel itu di depan syani dengan sedih.
Syani hanya melongo seakan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya....
"Ayah...."
"Jangan panggil aku ayah..."
__ADS_1
"Tapi ayah..."
Plak...satu tamparan mendarat di pipi kanan syani hingga membekas.
"Ayah..."suara syani mulai serak menahan rasa sakit di wajah dan hatinya
Plak...plak...plak...empat tamparan akhirnya di dapat oleh syani karna kegigihannya memanggil ayah.darah segar pun keluar dari kedua sudut bibir syani.
Karna tidak kunjung pergi akhirnya Riko melempar ransel syani ke luar rumah dan menarik serta mendorong syani ke luar,hingga syani terjatuh dan membuat ke dua lututnya memar terkena sudut teras. Kemudia Riko menutup pintu rumahnya dengan kasar.
"Jangan pernah kau mencoba untuk membantunya."ujar Riko dengan keras sambil menunjukkan jarinya ke arah bik Minah yang berdiri tak jau dari sana.
Bik Minah hanya diam dan menahan tangis di balik dinding dapur karna tidak bisa membantu syani. Bik Minah sebenarnya amat sangat menyayangi syani.tapi apalah daya,dia bagai makan buah simalakama.
.......
Mau tidak mau akhirnya syani mengambil ranselnya dan menyandanganya depan belakang kemudian pergi meninggalkan kediaman Riko Arta Wijaya, orang yang selama ini membesarkannya dengan kasih sayang, yang sekarang entah kemana hilangnya kasih sayang itu.
Syani pergi dengan hati yang hancur. Dia tidak tau harus pergi kemana,karna semua keluarga pihak ibunya sudah tidak ada.
Dan langitpun seakan ikut menagisi nasib syani.air mata syani jatuh bersama air hujan,seakan akan tidak boleh ada yang melihat kalau syani menangis.
Entah berapa lamanya syani berjalan sambil menagisi nasibnya di bawah guyuran hujan yang belum juga reda. Kulit Syani yang putih sudah mengkerut dan pucat karna menahan dingin. Tiba tiba kepala Syani terasa pusing dan penglihatannya mendadak buram tidak lama kemudian Syani pun akhirnya terjatuh dan pingsan di bawah guyuran hujan.
__ADS_1
Brukk.......