Identitas

Identitas
Di hadang...


__ADS_3

Happy Reading


####


Sekarang saatnya ia menyempurnakan rencananya. rencana yang ia pikirkan dengan matang namun memiliki celah yang tidak ia ketahui sedikit pun. ya, rencana yang akan membawanya pada konspirasi seseorang.


****


DOR.... DOR.... DOR....


Bunyi suara letusan dari senjata api G2 premium kaliber 9 mm yang mampu menempuh jarak 25 meter untuk menembak sasarannya tidak satu pun lolos dari shooting target. Segala jenis latihan menembak dengan berbagai macam senjata api dan senapan serta bela diri dan latihan bersama tidak sehari pun mereka lewatkan. latihan yang berat hingga menguras tenaga tak sekalipun mengurungkan niatnya untuk misi yang telah di sepakati dan nyawa yang jadi taruhan pun tidak sedikit pun membuat nyali mereka menciut. bagi mereka darah di balas dengan darah dan nyawa di balas dengan nyawa pantang mundur setelah maju.


" Huffttt...." Syani menghembuskan nafasnya dengan keras. walau rasa lelah mulai menyerang seiring dengan keringatnya yang keluar melalui pori-pori kulitnya yang putih dan mulus tidak membuat semangat Syani down. melakukan semua kegiatan yang ia lakukan berhasil membuat tenaganya sedikit terkuras tapi tidak dengan semangatnya. karna dendam atas kematian Benni membuat darah Syani memanas.


" Kamu capek??" tanya salah satu rekan Syani yang sesama agen di BIN dan agen itu juga merupakan partner Syani saat akan melakukan misinya nanti. Syani tidak tau siapa nama dari partnernya, yang ia tau semua agen memanggilnya dengan sebutan eagle karna tatapannya yang tajam bagai elang.


" Lumayan... " jawab Syani singkat tanpa melirik sedikit pun.


Dan agen yang biasa di panggil eagle itu mengangguk-anggukan kepalanya seakan-akan ia mengatakan wajar kau merasakan capek, karna kau terlalu memforsir tenagamu. sedangkan agen yang lain hanya diam sesekali melirik Syani dengan lirikan penuh arti entah apa yang ada di dalam pikirannya.


" Kalian jangan kalah dengan perempuan!!!" Seru eagle memberi semangat pada rekan setimnya.


" Of course!!!" teriak mereka sambil menyorakkan jargon andalannya dengan semangat.


Kepala BIN yang selalu hadir saat latihan maupun menyusun berbagai rencana menatap para agennya dengan bangga terutama agen specialnya, gadis yang dengan susah payah ia rekrut sampai di tolak mentah-mentah siapa lagi dia kalau bukan Syani.


" Apa Bapak begitu menyukainya?" tanya bawahan dari kepala BIN yang menjabat sebagai Deputi Bidang Komunikasi dan Informasi di Badan Intelijen. ia begitu penasaran saat kepala BIN yang sangat antusias begitu cerita tentang agen specialnya itu.


" Ya,,, dia sangat istimewa dan dia juga menyimpan potensi yang sangat besar di dalam dirinya yang dia tidak ketahui atau mungkin ia tekan supaya tidak ketahuan." jawab Kepala BIN tanpa menoleh sedikitpun pada bawahannya. tatapannya terus tertuju pada agen yang senantiasa berlatih demi kelancaran misi mereka begitu pun dengan Deputi yang bergerak di bidang Komunikasi dan Informasi.


Mereka hanya bisa berpasrah diri dan berharap pada semua agen yang mungkin saja bisa kehilangan nyawanya demi kedamaian dan ketentraman tanah air yang seharusnya menjadi tanggung jawab aparat negara kini ikut di pikul oleh para penerus bangsa. para penerus bangsa yang seharusnya belajar untuk masa depan mereka agar lebih baik.


Setelah merasa cukup dengan latihannya para agen pun beristrahat dan ada juga sebagian dari mereka yang memilih pulang.


" Aku balik dulu semuanya.." pamit Syani pada para seniornya yang tersiasa di ruang latihan sambil mengambil hoodie yang di lemparnya tadi dengan asal.


Para agen melambaikan tangannya. " Hati-hati...." ujar para agen serentak. Syani mengangguk sambil berjalan melangkah kearah pintu keluar. namun baru beberapa langkah Syani berjalan ia sudah di hentikan oleh kepala BIN yang memang sudah menunggunya dari tadi.


" Syani ikut saya sebentar!" ucap kepala BIN. Syani pun mengikutinya dengan patuh keluar dari ruang tempat mereka latihan menembak. sedangkan para agen yang lain menatap kepergian juniornya bersama sang atasan dengan heran.


Kepala BIN yang tidak ingin pembicaraannya di dengar oleh orang lain membawa Syani ke ruangan yang hanya bisa dimasuki oleh para petinggi Intel.


" Ada apa pak? kenapa bapak membawa saya kesini?" tanya Syani to the point karna ia tidak mau saat waktu sholat masuk ia masih berada di jalan.


" Ada sesuatu yang harus kamu ketahui.." ucap kepala BIN tanpa ragu dengan ekspresi yang sangat serius. kepala BIN pun menceritakan apa yang ada dalam hatinya dan itu berhasil membuat Syani kaget dan tak percaya dengan apa yang ia dengar.


Syani terdiam untuk sesaat..." Apa anda yakin dengan apa yang anda katakan?" tanyanya kemudian dengan tatapan tak percaya.


" Kita bisa memastikannya saat misi ini di mulai." ucapnya dengan mata berapi-api. namun di dalam hatinya ia sedang berpikir dengan keputusan apa yang akan ia ambil.


apa yang ia lakukan saat ini sudah benar atau ia sudah melakukan kesalahan!! ia sekarang hanya bisa berharap apa yang dilakukannya saat ini sudah benar, karna tidak ada seorang pun yang mengetahui takdir yang sudah di tuliskan oleh sang pencipta.


" Jangan pernah katakan masalah ini pada yang lain. cukup kita saja yang tau!!" pinta Kepala BIN setelah ia berpikir beberapa saat. " semakin sedikit yang tau maka akan semakin baik." lanjutnya lagi

__ADS_1


" Lalu apa solusinya jika yang Bapak katakan itu memang benar adanya?" tanya Syani menatap kepala BIN dengan tajam seolah-olah ia berkata 'anda harus memikirkan antisipasinya sebelum anda memberikan solusi'


Mendengar pertanyaan dan tatapan dari Syani membuat kepala BIN menggelengkan kepalanya. tak ada tanggapan tak ada solusi, hanya diam dan diam. melihat Kepala BIN yang terdiam membuat Syani juga ikut terdiam sambil mengusap wajahnya sedikit kasar. ia tak bisa berkata apa-apa, hanya waktu yang akan memastikan kebenarannya nanti, tapi ia beharap apa yang barusan ia dengar itu semuanya salah.


****


Suara Adzan magrib berkumandan dengan syahdu menandakan panggilan untuk menghadap pada sang Illahi. Rayan yang baru saja keluar dari kamar mandinya dengan cepat mengambil perlengkapan sholat untuk melaksanakan kewajibannya, kewajiban yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan dengan tepat waktu yang selalu di paksa oleh sang Mama.


Rayan bersama tiga orang sahabatnya melakukan sholat magrib berjamaah yang di imami oleh Sabiq di dalam satu unit apartemen yang memiliki 4 buah kamar. ya, mereka adalah Sabiq Faiz dan juga Ello. salah satu sahabat yang tak begitu di sukai oleh Rayan atau lebih tepatnya rivalnya dalam masalah percintaan walaupun ia yang pada akhirnya mendapatkan hati Syani tapi itu tidak sedikit pun membuatnya tenang.


" Lo jadi ke rumah Syani?" tanya Sabiq begitu mereka selesai melakukan kewajibannya secara berjamaah.


" Iya.." jawab Rayan tak semangat.


Sabiq menatap iba pada sahabat barunya itu, ia juga pernah merasakan hal yang sama. di abaikan oleh orang yang di cintai itu tidak enak.


" Good luck.." ujarnya memberi semangat.


" Ya Allah,, semoga Syani tetap gak mau ketemu sama dia.." ujar Faiz menengadahkan kepalanya ke atas seakan berdo'a.


" Aminnnn..." sambung Ello mengaminkan seraya menatap sinis ke Rayan. dari dulu hingga sekarang bahkan tinggal satu apartemen Ello tetap tidak bisa menyukai Rayan. baginya yang lebih pantas untuk Syani sahabatnya hanya Faiz seorang bukan yang lain apalagi Rayan yang notabene kasar dan arogant.


Rayan yang merasa kesal dan geram lalu mengambil buku yang ada di atas meja dan melemparnya ke arah Faiz. namun Faiz yang melihat gerakan tangan Rayan menghindarinya dengan cepat. alhasilnya hanya angin yang mengenai Faiz.


" Brengsek lo!!" maki Rayan semakin geram kemudian mengambil kunci mobilnya dan keluar dari apartemen di iringi dengan tawa kemenangan dari Faiz dan juga Ello.


****


Syani yang habis menunaikan kewajibannya menatap Rayan dengan tatapan dingin nan menusuk.


" Kakak kangen." jawabnya dengan sendu. bukan ini yang di harapkan Rayan. ia sangat merindukan kekasihnya itu tapi bukan seperti ini harusnya sambutan yang ia terima.


" Bisakah kita bicara di luar sebentar?" ajak Rayan memelas. ia berharap kekasihnya itu mau sedikit berbaik hati menerima ajakannya. " permintaan kakak tidak muluk-muluk, cuman ngomong bentar kok please..." pintanya lagi dengan mengatupkan kedua tangannya. entah sejak kapan Rayan seperti kehilangam harga diri yang jelas ia tidak bisa kehilangan wanita yang di cintainya. wanita yang ada di depannya itu benar-bemar sangat berharga untuknya setelah sang Mama dan tak ada yang lain yang bisa mengukir namanya di hati Rayan, laki-laki yang terkenal dengan sikapnya yang sangat kasar dan arogant.


" Huffftttt....." Syani menghembuskan nafasnya dengan kasar. " baiklah." ucapnya kemudian.


Mendengar jawaban Syani membuat Rayan sedikit lega. apa lagi tiga orang yang sedari tadi mengintip mereka secara diam-diam, siapa lagi kalau bukan Adibah Bihan dan juga Nadia yang memang mereka tinggal bersama Syani di rumahnya. mereka bertiga memang tampak cuek atau tak perduli dengan masalah Syani, tapi itu tidaklah benar. sebenarnya mereka benar-benar sangat perduli dengan masalah yang merundungi Syani hanya saja mereka terlalu takut untuk ikut campur dengan masalah sahabatnya itu.


Syani naik dan masuk kekamarnya meninggalkan Rayan sendiri di ruang tamu kemudian mengganti bajunya yang sedikit seksi dengan kaos oblong berwarna biru muda dan celana jeans lalu kembali kebawah dimana Rayan masih menunggunya. Syani dan Rayan keluar dan menaiki mobilnya. selama dalam perjalanan tidak satu kata pun yang keluar dari mulut mereka hanya keheningan hingga mereka sampai di tujuan.


" Kenapa kakak bawa aku ke sini?" tanya Syani yang baru sadar kalau mobil yang di kemudikan oleh Rayan sudah berhenti dan ia berada di pantai yang lokasinya lumayan jauh dari rumahnya.


" Karna cuma ini yang bisa kakak lakukan." jawabnya santai. " Kakak kangen sama kamu tapi kamu selalu menghindari kakak. apa salah kakak?" tanyanya Rayan sambil menatap mata Syani dengan intens.


Syani yang menyadari arti dari tatapan Rayan kemudian mengalihkan pandangannya lalu keluar dan menjauh dari mobil, tak lama kemudian Rayan menyusulnya dengan cepat.


Rayan berdiri di depan Syani lalu memegang kedua pundaknya dan kembali menatapnya dengan intens. " Kenapa kamu terus menghindar?" tanyanya lagi.


" Nothing." jawabnya bohong sambil menghindari tatapan Rayan.


" Syani please,, jangan bohongin kakak!!" ujar Rayan dengan nada tinggi.


" Aku ngak bermaksud menghindar, aku cuma ingin fokus sama pendidikan aku." jawabnya kembali dengan ke bohongan dengan tatapan yang tajam.

__ADS_1


Rayan yang mulai jengah dengan kebohongan Syani kemudian memeluknya dengan erat.


" Kakak mencintai kamu dan akan terus mencintai kamu. jadi kakak mohon,, jangan lagi menghindari kakak." ujar Rayan mulai frustasi.


Karna perasaannya mulai tidak enak, kemudian Syani menjawab permintaan Rayan dengan cepat.


" Baiklah,, aku tidak akan menghindar lagi." ujar Syani. " tapi aku ingin kita pergi dari sini sekarang." pintanya kemudian.


Rayan yang bahagia dengan perkataan Syani kemudian melongarkan pelukannya lalu mencium bibir Syani dengan lembut.


" I love you..." bisik Rayan dan membuat Syani sedikit bahagia namun tidak sedikitpun membuat perasaannya yang tidak enak merasa lega.


Syani tersenyum.. " ayo kita pergi sekarang!" ajaknya lagi.


Rayan yang hatinya sudah merasa lega dan bahagia menggenggam tangan Syani sambil melangkah menuju ke arah mobilnya. Rayan membukakan pintu untuk Syani lalu menutupnya dengan pelan kemudian melangkah kesamping dan duduk di belakang kemudi. Rayan mengemudikan mobilnya dengan pelan dengan sesekali mencuri pandang ke arah Syani.


Rayan yang hatinya sedang berbunga-bungan tidak menyadari kalau mobilnya di ikuti oleh dua mobil sedan berwarna hitam.


Ckittt....


Tiba-tiba saja Rayan melakukan pengereman mendadak. ia kaget begitu menyadari dua mobil sedan menghadang jalannya.


" Apa-apaan ini.." jengkel Rayan.


Syani yang feelingnya memang kuat, hanya tersenyum melihat mobilnya di hadang. " Inilah kenapa aku menghindarimu." gumam Syani tanpa sadar. namun sayang gumaman Syani tersebut sangat jelas di telinga Rayan.


Rayan kaget. " Apa maksud kamu dek?" tanya Rayan. belum sempat Syani menjawab tiga orang pria berbadan kekar keluar dari mobil.


" Get out now !!" bentak salah satu dari mereka. Syani dan juga Rayan hanya diam dan tetap bertahan di dalam mobil.


" Come out or I'll shoot!!" ujar salah satu dari mereka yang sudah tidak sabar. membuat Syani dan Rayan saling tatap.


DOR....


Satu tembakan di lepas. Syani yang keluar rumah tanpa senjata terpaksa keluar dari mobil bersama dengan Rayan dari pada mereka mati konyol.


" Traiga a la mujer antes de que los demás se den cuenta, rápido!!" ( Bawa wanita itu sebelum yang lain menyadarinya, cepat!!") titah seseorang dari dalam mobil tanpa keluar dan hanya menyembulkan kepalanya. "no lo olvides, mata al hombre con ella." ( jangan lupa, bunuh pria yang bersamanya.) ujarnya lagi.


Syani yang tidak mengerti dengan bahasa mereka hanya diam. selama ini Syani tau kalau ia diikuti oleh beberapa orang. karma itulah ia menghindari kekasih dan para sahabatnya saat di luar.


" Dispararle ahora!!" ( Tembak dia sekarang!! ) titah oleh orang yang sama untuk menembak Rayan.


Pria yang keberadaannya paling dekat dengan Rayan mengarahkan mulut senjata Smith & Wessom 500 Magnum berjenis revolver ke arah Rayan. Syani yang melihat sang kekasih dalam bahaya bergerak dengan cepat.


DOR....


####


Maaf kalau ceritanya kurang greget... 🙏🙏


atau ceritanya terlalu fokus ke Syani.


I LOVE YOU ALL ❤❤❤

__ADS_1


jangan lupa like dan komennya ya....


__ADS_2