Identitas

Identitas
Sebuah Rasa...


__ADS_3

HAPPY READING


####


DOR... DOR... DOR... DOR... DOR... DOR...


"Akkhhhh.... " erang Syani sambil melihat kemudian menekan perut sebelah kirinya yang tertembak oleh peluru terakhir yang di tembakan Jack sebelum ia benar-benar pingsan.


"SYANI....." semuanya berteriak panik melihat Syani tertembak.


"LASSEN SIE DIESEN ORT SCHNELL!!" (TINGGALKAN TEMPAT INI CEPAT!! ) seru Earnest agar anak buahnya bergerak meninggalkan lokasi dengan cepat. sambil memapah tubuh Jack yang sudah tidak sadarkan diri.


"Sorry,,, you can't leave here!! ( maaf,,, kau tidak bisa pergi dari sini!! ) sarkas Rayan sambil berusaha meraih tangan dari salah satu pria yang menyerang Syani


BRUKKK.... KRAKK... KRAKKKK...


"ARGGHHH....


Rayan langsung memiting tangan pria itu begitu Rayan berhasil meraihnya, kemudian membanting dan mematahkan tangan dan juga menginjak tempurung lutut hingga mematahkanya.


Earnest menyeringai menatap Syani yang sedang terluka. "Diesmal hast du versagt!!!" (kau gagal kali ini!!!) ujar Earnest kembali tersenyum smirk dan menatap Syani yang terluka menahan sakit. Kemudian pergi bersama hacker dan anak buahnya dengan tawa kemenangan walaupun sahabatnya Jack dan beberapa anak buahnya terluka.


"Eines Tages werden Sie auf jeden Fall ein Vielfaches mehr als dies eine Antwort erhalten.!!" ( suatu hari nanti kau pasti akan menerima balasannya berkali-lipat dari ini!! ) rutuk Syani dengan lantang sambil terus menekan lukanya.


Rayan yang mendengar tawa kemenangan dan melihat senyum smirknya Earnest saat melihat Syani terluka, membuatnya naik pitam dan bermaksud mengejarnya dengan motor.


"Jangan kejar mereka,, gue ngak apa-apa!!" cegah Syani dengan cepat agar Rayan mengurungkan keinginannya untuk mengejar Earnest.


Kompol Endriko datang beserta anggotanya yang lain hanya hitungan detik setelah kepergian Earnest dan anak buahnya. ia langsung mengejar Syani begitu melihat tangan Syani yang berlumuran darah dan memeriksa kondisi luka Syani, sedangkan sebagian anggotanya yang lain memeriksa dan mengamankan kondisi di sekitar lokasi dan sebagiannya lagi tetap mengejar Earnest dan anak buahnya.


"Maaf saya terlambat!!" tuturnya dengan nada penuh penyesalan.


"Maaf pak,, kami menemukan tiga orang security tidak sadarkan diri." sela salah satu bawahannya


"Iya!! anda terlambat,, sangat terlambat!!" sahut Syani dengan sarkas sambil terus menekan luka dan menahan rasa sakit.


Kompol Endriko hanya terdiam mendengar perkataan Syani. ia mengakui kalau sikapnya tidak konsisten. dimulutnya ia mengatakan percaya namun dihatinya ia masih meragukan informasi yang diberikan oleh Syani dan membuat bencana yang paling tidak diinginkannya terjadi.


"Cuma ini yang anda dapat dari keterlambatan anda!!" sarkas Faiz dan juga Ello serentak sambil menunjuk sekelilingnya Syani dan juga anak buah Earnest yang sudah tidak bisa bergerak membuat Kompol Endriko semakin terpuruk dengan perasaan malu dan rasa bersalah.


Muka Syani semakin pucat, pandangnya pun berubah gelap kemudian tubuh Syani mulai luruh ke aspal


"Kita kerumah sakit dulu!" ujar Kompol Endriko begitu ia melihat kondisi Syani


"Kamu hubungi ambulance kirim semua korban ke rumah sakit terdekat dan tetap pantau daerah di sekitar tkp serta jangan lupa cek semua rekaman cctv." tutur Kompol Endriko memberi perintah pada bawahannya.


Syani yang mulai hilang kesadaran dilarikan kerumah sakit dengan cepat menggunakan mobil patroli dan di susul oleh sahabat Syani dari belakang.


Sedangkan sahabat Syani yang ada dipenginapan kaget saat Sisil mengatakan kalau Syani terluka dan sekarang berada di rumah sakit, terutama Adibah dan juga Nadia yang tinggal bersama dengan Syani.


Adibah yang sudah menganggap Syani seperti saudara langsung menghubungi orang tuanya yang juga sangat menyayangi Syani.


****


Sesampainya Syani dirumah sakit ia langsung di bawa keruang operasi saat Dokter melihat luka tembak yang dialami Syani.


Selama tiga jam lampu indikator ruang opersi belum juga mati. Sisil dan yang lainnya menunggu didepan ruang tersebut setelah mereka mendapatkan perawatan, dengan perasaan cemas dan juga khawatir terhadap kondisi Syani.


Sedangkan Adibah dan yang lainnya baru saja sampai dengan Ummi dan Abinya yang datang menjeput Adibah di penginapan tempat Syani dan semua teman satu sekolahnya menginap.


"Bagaimana keadaan anak saya?" tanya orang tua Adibah dengan panik pada Kompol Endriko.


"Maaf,, saya belum tau." jawabnya dengan penuh penyesalan.


"Kami bahkan belum bertemu sejak dia pulang kesini.." gumam Umminya Adibah dengan tatapan kosong memandang ke arah ruang operasi.


Tiba-tiba pintu ruang operasi dibuka dan seorang perawat berlari keluar dengan wajah panik. kemudian kembali setelah beberapa menit sambil membawa beberapa kantong darah di tangannya.


Semua yang menunggu Syani mulai panik setelah mereka melihat tingkah perawat yang membuat mereka berpikir sampai ke hal yang terburuk.


"Ya Allah,,, selamatkanlah perempuan yang hamba cintai." batin Ranyan dan juga Faiz.


Setelah empat jam menunggu. Dokterpun keluar dengan wajah kelelahan.


"Bagaimana anak saya??" tanya Abinya Adibah yang langsung berdiri dan mengejar Dokter yang masih memakai baju operasi begitu ia keluar.


"Syukurlah pelurunya tidak mengenai organ vital,,, jadi dia tidak apa-apa sekarang!!" terang Dokter.


"ALHAMDULILLAH....." ujar mereka mengucap syukur.


Beberapa menit kemudian Syani keluar dari ruang oprasi dan di pindahkan keruang pemulihan.

__ADS_1


Semua sahabat Syani melihat Syani satu-persatu begitu juga dengan keluarga Adibah. dan pas giliran Rayan yang sudah menahan keiginannya sedari tadi untuk melihat Syani namun ditahannya, ia memilih giliran terakhir agar ia bisa berlama-lama melihat Syani.


"Hai Syani,,, gue Rayan, gue orang yang bilang bakal nyari lo setelah dua tahun." oceh Rayan. "gue sangat berharap lo ingat dengan kata-kata yang gue ucapin karna gue cinta sama lo!!" ocehnya lagi sambil menggenggam dan mengecup punggung tangan Syani yang masih tertidur karna pengaruh obat bius.


"Gue senang bisa ketemu sama lo lagi." gumam Rayan sambil mengusap kepala Syani dengan lembut.


"Lo tau ngak,, gue cemburu waktu lo nyium si brengsek itu!!" racau Rayan tanpa henti kemudian ia menyentuh bibir Syani.


Saat membuka pintu Adibah kaget, tanpa sengaja ia melihat Rayan menempelkan bibirnya yang sensual pada bibir tipis Syani. Rayan mencium dan melumat bibir Syani sampai puas hingga membuat bibir Syani yang tipis menjadi sedikit tebal. Adibah yang tidak mau ketahuan kalau ia sudah melihat hal yang sensitif kembali menutup pintu itu dengan pelan supaya Rayan tidak tau kalau ia kepergok mencium Syani.


"Maaf ya, gue cium lo tanpa izin. gue ngak mau dan ngak suka ada bekas kulit siapa pun di bibir lo!" tutur Rayan sambil mengelap bibir Syani yang basah. "Mulai hari ini lo pacar gue dan akan menjadi imam lo nantinya, gue ngak mau lo disentuh oleh laki-laki lain!!" ocehnya tanpa henti.


"Apa maksudnya Kak Rayan mencium Syani seperti itu??" gumam Adibah yang masih kaget dengan apa yang ia lihat barusan.


****


Syani sadar dari biusnya setelah matahari berada di atas kepala.


"Akkhhhh..." erang Syani sambil memegang perutnya yang habis di operasi.


"Kamu sudah sadar nak!!" seru Ummi "Tunggu sebentar, Ummi panggil Dokter dulu."


"Ngak usah Ummi, Syani udah ngak apa-apa." sela Syani.


"Mau Ummi ambilin sesuatu?" tanya Ummi sambil melangkah dan duduk di samping Syani


Bukannya menjawab Syani malah memeluk Umminya Adibah dengan erat sambil menahan sakit yang masih dirasakannya.


" Ummi bareng siapa kesini?" tanya Syani sambil menatap Ummi dengan penuh rindu.


"Abi yang anterin,,"


Drttt... drttttt... drttt... tiba-tiba saja ponsel Ummi berbunyi. lalu Ummipun keluar ruangan untuk mengangkat telponnya


"Dari Abi?? tumbel telpon Ummi.." gumam Ummi


📲"Assalammualaikum... ya, Abi ada apa??"


📱"........"


📲"APA???"


📱"........."


"Kenapa Ummi?" tanya Syani begitu panggilan mereka terputus.


"Ada sedikit masalah di keluarganya Abi dan Ummi sama Abi harus kesana." tutur Ummi "kamu ngak apa-apa kan kalau Ummi tinggal?" tanya Ummi sambil menatap wajah Syani dengan penuh kasih.


"Ngak apa-apa tan, saya bisa jaga Syani disini!" sela Rayan yang sudah berdiri didepan pintu.


"Kamu siapa?" tanya Ummi


"Saya Rayan, teman satu sekolah Syani waktu kelas satu." jawab Rayan dengan sopan. "tante bisa kok percaya sama saya." bujuk Rayan. ia ingin sekali berduaan dengan Syani. menatap wajahnya, menyuapinya makan, memeluknya kalau bisa ia ingin sekali melakukan hal yang ia lakukan saat dini hari pada Syani, mencium bibirnya sampai puas. "astagfirullah..." batin Rayan mengucap.


"Baiklah,, karna terpaksa Ummi percayakan Syani sama kamu." ujar Ummi sambil mencari kejujuran di mata Rayan.


" Baik tan_"


"Panggil Ummi." potong Ummi.


"Iya, Ummi." jawab Rayan.


"Tapi,, kalau terjadi sesuatu dengan Syani, kamu orang pertama yang Ummi cari ingat itu!" ancam Ummi yang masih meragukan kebaika Rayan yang mau menjaga Syani.


"Baik Ummi." jawab Rayan dengan tegas.


"Ummi pergi dulu ya nak, mungkin pas kamu balik ke Jakarta, Ummi belum balik kesini. kamu hati-hati di jalan dan selalu jaga diri lalu sholat jangan pernah lupa ya nak!" pesan Ummi sambil mencium kening dan juga kedua pipi Syani.


Setelah Ummi pergi Rayan langsung melayani Syani tanpa dimintanya. ia memperlakukan Syani seperti ratu.


"Lo boleh pulang. gue ngak suka ngerepotin orang!" tutur Syani yang tidak suka dimanja.


Untuk hari pertama Rayan mengikuti permintaan Syani, ia tahu seperti apa sifatnya Syani dan ia tidak mau terlalu memaksakan keinginannya yang ingin selalu berada di samping Syani. Rayan meninggalkan Syani setelah ia menyediakan kebutuhan Syani.


****


Selama dua hari berturut-turut Rayan selalu datang kerumah sakit bahkan ia sampai menginap untuk menemani Syani. semua teman satu sekolah Syani bahkan sudah kembali ke Jakarta kecuali sahabatnya yang menunggu Syani keluar dari rumah sakit.


"Gue suapin ya??" pinta Rayan yang sangat ingin memanjakan Syani. walaupun cuma menyuapkan cemilan pagi


"Lo apa-apaan sih..sana,,, gue bisa makan sendiri." bentak Syani sambil berusaha mengambil makananya yang ditangan Rayan.

__ADS_1


"Biar gue yang suapin ya." pinta Rayan memohon


"Gue bukan cewek manja yang suka dilayani. ngerti lo!!" tutur Syani dengan sinis. "lagian lo bukan siapa-siapanya gue,, saudara bukan pacar apa lagi!!" sinisnya lagi. kemudian Syani berusaha mengambil ponselnya yang terletak diatas nakas lalu menekan tombol power.


Rayan cuma diam. ia tidak membalas sedikitpun perkataan Syani karna Rayan sangat tulus mencintai Syani.


Syani berusaha menelpon nomor ponsel semua sahabatnya.


"Aneh,,, kok ngak ada yang aktif ya!!" gumam Syani heran.


Syani yang merasa kesal akhirnya memilih tidur tanpa menyelesaikan makannya yang sudah diganggu oleh Rayan dan juga meninggalkan Rayan yang sekarang sibuk membereskan alat makan Syani. Padahal sebenarnya sahabat Syani datang setiap hari, tapi mereka sengaja tidak masuk atas permintaan Adibah yang ingin menyatukan Rayan dengan Syani.


Syani benar-benar tertidur dengan pulas sampai akhirnya ia terbangun karna tindakan Rayan yang tiba-tiba memijat kakinya agar tidak mati rasa.


DEG... DEG... DEG... tiba-tiba saja jantung Syani berdebar tak karuan.


"Kenapa dengan jantung gue? padahal tadi masih biasa aja." batin Syani heran.


Rayan menghentikan pijatannya lalu berjalan ke arah nakas. kemudian ia memasang pelembab udara yang di belinya saat keluar untuk mencari kebutuhan Syani.


"Kenapa dia berbuat seperti ini,, apa tujuannya?? gue ngak suka...gue benci..." Syani berperang dengan pikirannya yang tidak menyukai semua tindakan Rayan tapi hatinya berkata lain.


Tanpa sepengetahuan Syani dan juga Rayan, ternyata Adibah diam-diam mengintip semua tindakan Rayan dan ekspresi tidak suka dari wajah Syani.


"Gue harus bicara sama dia, apa tujuannya berbuat seperti itu ke Syani!!" batin Adibah sambil menatap curiga ke arah Rayan


Niat baik memang selalu dikabulkan tuhan. Adibah yang ingin sekali bertemu dan bicara dengan Rayan tanpa sengaja mereka bertemu di lobi rumah sakit.


"Tunggu kak,,, saya mau ngomong sama kakak." seru Adibah dengan sopan, bagaimanapun Rayan tetap kakak kelas dan juga anak pemilik yayasan dimana Adibah menuntut ilmu.


"Ya. ada apa??" tanya Rayan sedikit sopan.


"Saya mau ngomong sama kakak, ini tentang Syani." tutur Adibah


"Baiklah!" jawab Rayan sambil melangkah ke arah kantin rumah sakit. "silahkan bicara, lo mau ngomong masah apa?" tanya Rayan kemudian.


Adibahpun menanyakan apa maksud dan tujuan Rayan mendekati Syani dengan gencar.


"Saya melihat semuanya kak, jadi kakak ngak bisa bohongin saya."


"Karna cinta, karna gue sangat mencintai Syani. asal lo tau, gue sudah lama jatuh cinta sama Syani. itu waktu kalian makan di bangku taman sekolah dan gue harap lo tidak melarang gue mendekati Syani."tegas Rayan.


Adibah hanya diam memikirkan semua perkataan Rayan.


"Ok,,, saya akan coba percaya sama kakak dan akan saya bantu. tapi kalau sekali saja kakak membuat Syani menangis, saya akan langsung bertindak." ancam Adibah tanpa takut sedikitpun pada Rayan.


"Insyaallah..." jawab Rayan. "Gue tidak bisa memastikan kalau Syani tidak akan menangis. tapi gue akan mencoba membuat dia bahagia." tutur Rayan.


****


Langit sore ini benar-benar indah ditambah dengan angin yang sejuk membuat Syani dan Adibah betah berlama-lama ditaman rumah sakit.


"Kenapa baru sekarang lo datang?" tanya Syani yang masih sedikit kesal dengan Adibah.


"Kemaren gue sibuk bikin laporan punya lo. yang lai juga pada sibuk bikin laporan, ngak mungkin kan mereka bikin punya lo." terang Adibah.


"Lo ada perasaan ngak ke Rayan?" tanya Adibah tiba-tiba.


DEG...


"Apaan sih lo!" jawab Syani gugup dengan jantung yang sudah berdebar.


"Gue harap lo mau buka hati lo buat dia, cintanya tulus buat lo." tutur Adibah sambil memutar kursi roda Syani menghadap ke arahnya.


"Asal aja lo!" bantah Syani.


"Gue ngak asal ngomong. apa selama ini lo ngak liat perhatian dia ke lo??"


Syani terdiam dengan perkataan Adibah. ia mengakui kalau selama disini Rayan memang perhatian kedia, tapi Syani tidak yakin kalau Rayan benar-benar jatuh cinta padanya.


Setelah puas berada diluar Adibah kembali mengantar Syani keruangannya.


"Bulee... gue pulang dulu ya. gue harus nyelesain laporan lo, sebelum lo balik ke Jakarta." tutur Adibah kemudian pergi meninggalkan rumah sakit.


Rayan datang saat Syani sedang tertidur nyenyak.


Rayan mendekati brankar Syani kemudian duduk disampingnya dengan hati-hati, ia sangat takut membuat Syani terbangun.


Rayan membelai rambut dan wajah Syani dengan lembut. "Lo tau,, gue cinta banget sama lo. ngak ada satu pun cewek yang bisa buat jantung gue berdebar selain lo." aku Rayan saat Syani tertidur lelap. Rayan kembali mengulangi sikapnya yang kurang gentle. ia kembali mencium Syani dalam tidurnya, semakin lama Rayan mencium Syani semakin ia kenikmatan melumat bibir Syani yang tipis. tanpa menyadari siempunya bibir terbangun karna ulahya.


Deg... deg... deg... entah kenapa Syani yang harusnya marah ini malah sebaliknya. Syani cuma mendiamkan perbuatannya Rayan. malah bisa dibilang Syani juga menginkan dan menikmati yang Rayan lakukan.

__ADS_1


"Kenapa gue jadi seperti ini!!!"


..........


__ADS_2