Identitas

Identitas
Terungkap 2...


__ADS_3

ASSALAMMUALAIKUM...READER.... Tolong beri dukungannya, like and komennya juga. kalau bisa di favoritin sama bintang kecilnya ya maaf kalau diriku meminta banyak...πŸ˜…πŸ˜…


Happy Reading...


###


"Rambut pirang itu...." seru Lusi benar-benar kaget. "Kia...lo lihat kan rambut cewek yang nolongin kita malam itu?" tanya Lusi tanpa melihat ke arah Kia sedikipun.


"Hemmm..." jawab Kia dengan deheman. "Gue ngak nyangka kalau cewek yang nolongin kita dari pembegal malam itu adalah Syani!!" Ucap Kia tak percaya.


Mereka cukup lama terdiam sambil memandang ke arah rumah Syani, seakan-akan mereka menatap Syani.


"Kalau ngak ada dia malam itu, ntah apa yang akan terjadi pada kita. mungin sudah jadi pasien dari salah satu korban begal di Rumah Sakit atau malah hanya tinggal nama..." tutur Lusi yang tiba-tiba memecah keheningan sambil bergidik ngeri membayangkan nasibnya.


Kia yang mendengar hanya diam. dia tidak bisa menjawab perkataan Lusi yang menurutnya perkataan Lusi itu memang benar adanya.


Karna gengsi dan egonya yang tinggi Kia dan Lusi yang merasa berhutang nyama pada Syani hanya sanggup menatap rumahnya tanpa menemui orangnya secara langsung.


"Syani....Thanks udah nolongin gue malam itu!!!" batin mereka berdua dalam hati. Kia menghidupkan mobilnya berlalu pergi dari depan rumah Syani dengan perasaan yang tak menentu.


Kondisi Syani yang saat ini sedang berbaring di sofa ruang tamu karna pusing dan rasa perih yang di rasakan pada telapak tangannya yang terluka, membuatnya terpaksa meminum obat pereda nyeri, salah satu benda yang paling ia hindari.


Syani ketiduran di atas ranjang setelah dia menyelesaikan kewajibanya sebagai umat muslim dan merapikan kamar tamu yang akan ditempati oleh Nadia.


****


Orange ke merahan menghiasi langit kota Jakarta. Dengan suara Azan yang berkumandan dan saling bersahutan di setiap mesjid membuat Syani terperanjat kaget dari mimpi indahnya. Degan gerakan cepat Syani langsung melangkah ke arah kamar mandi.


Hanya butuh 35 menit untuk Syani membersihkan tubuhnya dari keringat dan di lanjutkan dengan Sholat Magribnya. selesai melakukan ibadah Syani bersiap-siap berangkat ke kosan Nadia. Syani memakai celana skinny jeans berwarna hitam di padu dengan kaos biru berlengan pendek dan itu mempertontonkan lengannya yang berotot bagi perempuan hasil dari latihan selama 11 tahun yang ia tekuni sambil bermain kucing-kucingan semasa Ibunya masih hidup.


Syani melangkah dan masuk ke kamar sebelah yang notabene milik Benni. lalu Syani berjalan ke arah lemari dan membuka rak yang ada di dalamnya. ia menoleh ke arah foto Benni.


"Abang....Syani pake mobil abang ya. semua yang abang tinggalkan akan Syani manfaatkan dan Syani jaga dengan baik seperti yang abang lakukan selama ini, dan Syani juga minta izin kalau Syani akan membawa teman Syani untuk tinggal di rumah ini...." ucap Syani meminta izin dengan menatap foto Benni bersama keluarganya yang terpajang di dinding kamar Benni.


Syani mengambil kunci mobil Benni yang tersimpan rapi bersama koleksi jamnya. lalu keluar dari kamar Benni dengan mengenggam kunci di tangannya sambil melangkah keluar rumah dan masuk ke garasi tempat mobil Benni terparkir dan tidak terpakai selama ini.


Dengan cekatan Syani memanaskan mesin mobil kesayangannya Benni, Range Rover Sport Truck warna abu-abu dari garasi dengan mulus. Syani keluar dari rumahnya melesat dengan kecepatan tinggi sambil sesekali melihat google maps yang di shareloc oleh Nadia dari tadi siang. Syani yang sudah lama belajar mengendarai mobil tapi tidak di izinkan untuk mengemudikannya sendirian karna di bawah umur dan belum memiliki SIM.


****


Nadia yang menunggu kedatangan Syani dari sore seperti perjanjian mereka mulai khawatir. tiap lima menit Nadia melihat angka yang ada di pergelangan tanganya sambil melirik sesekali ke arah jalan. semakin sering Nadia menoleh keluar semakin besar rasa khawatir yang ia rasakan.Nadia sangat ingat sekali bagaimana pucatnya wajah Syani saat pulang Sekolah siang tadi.


"Ya Tuhan....mudah-mudahan tidak terjadi apapun dengan Syani!!" doa Nadia dalam hati sambil melihat ke arah jalanan, siapa tau Syani melewati kosannya.


Tin...tin...tin....


Suara klason mengejutkan Nadia dari perasaan khawatirnya lalu menoleh ke arah bunyi.


"Udah siap??"tanya Syani langsung begitu turun dari mobilnya


Nadia kaget sekaligus merasa lega dengan kedatangan Syani. kemudian menarik tangannya Syani untuk masuk ke dalam terlebih dahulu serta memastikan kondisi Syani dalam keadaan baik-baik saja. Nadia memberikan minuman kaleng yang sudah dibelinya dari siang saat menuju pulang ke kosannya


Syani yang memang haus langsung membuka dan meneguk minuman kaleng yang diberikan oleh Nadia. Mata Syani melirik ketiap sudut kamar kos Nadia yang berukuran 3Γ—3,5 meter sambil mengibas-ngibaskan tangannya karna merasa pengap dan kepanasan.


Syani yang tidak betah berlama-lama di dalam kosan Nadia yang sumpek, lalu mengajak Nadia untuk mulai mengangkati barang-barangnya yang ada didalam kotak dus.


"Biar gue aja yang angkat sendiri nanti tangan lo_"


"Gak papa... gue bisa ganti perbanya kalau nanti kotor." potong Syani yang melihat kecemasan dimata Nadia.


Syani menyusun kotak-kotak dusnya di bak terbuka sedangkan Nadia mengangkati barang-barangnya dari dalam ke luar. setelah selesai Syani mulai menyalakan mobilnya menuju kerumahnya.


****


Didalam kamar sebuah Mansion yang mewah ditengah kepadatan kota Jakarta, Sisil dan tiga sahabatnya sudah memantapkan rencana mereka untuk masuk kekantor Kepala Sekolah dengan kunci duplikat yang sudah ada ditangannya. Sisil keluar dari kamarnya dengan celana jeans berwarna hitam dan hoodie berwarna coklat di ikuti para sahabatnya dari belakang.


"Mau kemana nak??" tanya seorang wanita hampir paruh baya namun masih cantik terlihat dari wajahnya yang terawat.


"Ke Cafe ma!!" ucap Sisil bohong. Wanita yang dipanggil Mama oleh Sisil itu tidak percaya dengan perkataan anaknya lalu menatap ke arah Rika mencari jawaban di mata anak perempuan yang di percayai oleh Mamanya itu.

__ADS_1


"Iya tan...kami mau ke Cafe, udah lama ngak nongkrong di Cafe...nanti pas lagi sibuk-sibuknya belajar kan ngak bisa lagi nongkrong di sana."ujar Rika yang menyadari tatapan mamanya Sisil jadi ikutan berbohong.


Sisil kembali melanjutkan langkahnya yang terhenti saat ditangga tanpa menunggu jawaban dari mamanya.


"Jangan malam-malam pulangnya ya Sil... tidak baik anak perawan pulangnya malam-malam.!!" seru mamanya saat Sisil sampai di tangga terakhir.


Sisil tidak menjawab, dia hanya mengangkat tangannya dan membuat tanda ok di jarinya sebagai jawaban.


"Masa bodo..." gumam Sisil kemudian keluar dari Masion. Sisil pergi dengan mobil sewaan yang di bawa Tya.


"Obat nya lo bawa kanTy??" tanya Sisil pada Tya yang sedang mengemudi.


"Laci dashboard..." jawab Tya tanpa menoleh sedikitpun ke arah Sisil.


Rika dan Milla yang duduk di belakang mengganti bajunya dengan baju lain yang berwarna gelap.


****


Sesampainya di area Sekolah Tya memarkirkan mobilnya di belakang gedung Sekolah yang sepi.


"Bawa obatnya.." ujar Sisil.


Tya membuka laci dashboard lalu mengeluarkan botol plastik berukuran kecil yang di dalamnya berisi 3 pil pencahar. kemudian mereka keluar dari mobil sewaan melangkah kearah samping yang gerbangnya tidak terlalu tinggi jika dipanjat. Tya yang memiliki hobby panjat tebing sangat mudah baginya memanjat gerbang yang setinggi 3 meter.


Tya sampai didalam gerbang mengendap-endap masuk ke dalam pos penjaga.lalu membuka dan mengambil 3 butir obat pencahar dan memasukannya ke dalam kopi panas milik penjaga Sekolah di atas meja yang sedang asik menonton acara Bola dan melupakan tugasnya di Sekolah itu.


Penjaga Sekolah yang semakin melupakan tugas utamanya tidak menyadari perbuatan Tya dan meminum kopi yang sudah dimasukkan obat pencahar.


Seteguk...dua teguk...tiga teguk...satu menit, dua menit hingga sepuluh menit Penjaga sekolah mulai merasakan reaksi obat pencahar.


"Aduuduuhhhh.... kenapa perut saya mulas..." ucap penjaga Sekolah sambil memegang perutnya dengan kening yang mengkerut.


Cruuttt...cruuttt...Penjaga sekolah terus memegangi perutnya yang berbunyi aneh kemudian berlari masuk kedalam toilet.


Tya mengambil kunci cadangan pintu gerbang samping yang ada di dalam rak. lalu membukanya dari dalam dengan pelan dan hati-hati, ia juga tidak lupa mematikan kamera CCTV yang menyala.


Sisil, Rika dan Milla masuk satu-persatu secara perlahan tanpa suara persis seperti maling.


"Ayo...cari berkasnya cepat!!!" perintah Sisil sambil melangkah ke meja Kepala Sekolah dan membuka lacinya.


Sedangkan Tya, Rika dan Milla sibuk memeriksa setiap berkas yang di temukannya. tiba-tiba mata Tya terbelalak kaget saat melihat foto lalu nama yang tertera di berkas membuatnya bertambah kaget


"Sil..."lirih Tya "Sisil..." ulangnya lagi. kemudian "Sisil!!" karna kesal Tya mulai meninggikan volume suaranya, sampai yang lain pun ikut menoleh ke arah Tya.


"Apa sih...lo mau kita ketahuan!!" bentak Sisil marah.


"Ho'oh bener..." Rika dan Milla ikut-ikutan membenarkannya.


"Sini deh..." sambil melambai-lambaikan tangannya.


Sisil, Rika dan Milla mendekati Tya dan melihat sebuah berkas yang di sodorkan oleh Tya.mereka sangat kaget saat melihat berkas itu.


"Apa-apaan ini..." seru Sisil sambil melempar berkas itu dengan kasar ke lantai lalu pergi keluar saking kesalnya.


Rika mengejar Sisil yang pergi duluan, sedangkan Tya dan Milla kembali merapikannya seperti sedia kala. setelah selesai merekapun menyusul Sisil dan Rika yang keluar duluan.


Di dalam mobil sewaan,, Sisil yang merasa kesal menendang-nendang kursi di depannya.


"Brengsek.....brengsekkk...."maki Sisil


Buak...buak....Sisil kembali memukul kursi yang di depan. Rika cuma membiarkan Sisil melepaskan kekesalannya.


"Sialannn..."


Tya dan Milla datang setelah Tya mengunci dan meletakkan kunci cadangan dari gerbang samping dan juga Tya tidak lupa dengan kamera CCTV nya.


Mereka pergi dengan kemarahan. Tya berhenti di depan Cafe yang sering mereka datangi setiap ada masalah.


****

__ADS_1


Kembali ke Syani yang telah sampai di rumahnya, dan membantu Nadia membereskan barang-barang bawaannya di kamar tamu.


Nadia merasa sangat canggung pada Syani. satu kali pertemuan, tiga kali pertolongan yang ia dapatkan dari Syani.


"Syani...gimana cara gue harus balas budi ke lo??" tanya Nadia dengan canggung.


"Bahagiakan orang tua lo...cuma itu caranya!!" ujar Syani datar. "Lo santai aja disini... gue ke kamar dulu ya, mau istirahat." lanjutnya, kemudian masuk ke kamar dan membaringkan tubuhnya karna mengantuk.


****


Syani bangun agak kesiangan, sedangkan Nadia sibuk menata nasi gorengnya.


"Lo ngapain??" tanya Syani heran


"Bikin nasi goreng." jawab Nadia canggung. "Maaf kalau gue lancang..."ujar Nadia sambil menundukkan kepalanya tidak berani menatap Syani yang kelihatan marah.


"Ngak papa.."jawabnya datar, Syani dan Nadia sarapan dengan canggung dan terburu-buru karna sudah terlambat.


Syani mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi sambil meliuk-liuk seperti ular untuk menghindari pengendara lain yang marah -marah karna cara mengemudi Syani yang ugal-ugalan.


09.89 menit waktu yang di tempuh Syani untuk sampai di depan gerbang sekolahnya. Nadia turun dari motor Syani dengan tubuh yang gemetar dan wajah yang seputih mayat.


"Untung belum telat.." ujar Syani santai sambil memarkirkan motornya di samping motor sport hitam.


"Iya...untung selamat!!" jawab Nadia tidak sadar kalau ia salah ucap. membuat Syani mengangkat bibir kanannya sedikit saat mendengar jawaban dari Nadia.


Sisil yang sudah tidak sabar menunggu kedatangan Syani membuatnya uring-uringan di lapangan dan di saksikan oleh murid-murid di Sekolah Syani. mereka penasaran siapa yang membuat pentolan Sekolah mereka menjadi uring-uringan tanpa sebab.


"Lo udah di tunggu di lapangan!"Tya memegang tangan Syani begitu ia lewat di pinggir lapangan.


"Gak kenal...dan juga, bukan urusan gue!" ujar Syani ketus.


Ucapan Syani yang ketus tidak membuat Tya melepaskan tangannya tapi malah menarik tangan Syani hingga ketengah lapangan.


Melihat Syani ditarik oleh sahabat dari orang yang paling berkuasa di Sekolah, membuat Nadia terdiam tidak bisa berbuat apa-apa. kemudian Nadia berlari dengan cepat ke arah gedung, tujuannya adalah ruang kepala Sekolah. Nadia yakin tidak ada yang akan membantu Syani disekolah, karna disekolah tidak ada yang mau dan berurusan dengan Sisil dan para sahabatnya.


Sisil yang tidak sabar menunggu kedatangan Syani, membuatnya menghampiri Syani yang tinggal beberapa langkah lagi.


PLAK.....PLAK.....


Sisil langsung menampar Syani dua kali begitu ia berhadap-hadapan dengan Syani. semuanya kaget melihatnya lalu kembali normal karna mereka sudah terbiasa melihat tindakan Sisil yang seper itu.


"Lo gila ya!!"bentak Syani dan menepis tangan Tya yang masih memeganginya. Syani menyentuh pipinya yang terasa perih.


"Gue atau lo yang gila!!" balas Sisil juga dengan bentakan.


Sisil menarik wig dan hairnet Syani dengan keras hingga terlepas. murid-murid yang penasaran tadi beseru kaget melihat rambut Syani terutama anak-anak kelas 12 IPA 1


"Jadi bukan blasteran tapi buleee"seru anak-anak yang ada di lapangan. " Gilaaa.... bule nyamar rupanya...." sahut yang lain. mereka mulai berbisik-bisik. sebagian dari mereka senang melihat penampilan Syani yang asli dan sebagiaannya lagi ada yang mengatakan Syani ibarat Penipu.


Syani menghindar dengan cepat saat Sisil ingin mendaratkan bogemannya di wajah Syani.


"Tidak ada yang mau mendapat pukulan setelah dia di tampar." sarkas Syani. Syani yang sudah tidak peduli dengan penampilanya pergi meninggalkan Sisil.


BUAAKKK.... Brukkk...


"Auughhh..."Syani meringis menahan perih di lututnya karna ditendang dari belakang oleh Sisil hingga terjatuh. "Brengsekk.... gue datang kesekolah buat belajar bukan adu jotos. gue_"


"Lo takut? tenang aja....kalau lo luka gue obatin, kalau orang tua lo di panggil, gue beresin...apa lagi!" ujar Sisil sinis dengan aura ingin membunuh. "Atau lo takut ketauan ngak punya orang tua!!" gumam Sisil namun masih bisa didengar oleh Syani.


"APA-APAAN INI!!!" seru Pak Kepsek dan guru BK dari tepi lapangan bersama Nadia di belakangnya.


"Kalau kalian ingin mengadu kekuatan bukan disini, tapi diarena sepulang Sekolah!!" ujar guru BK yang sudah marah.


"Ok..."jawab Sisil menyetujui. sambil berlalu pergi meninggalkan Syani yang masih berdiri di lapangan.


.......


maaf telat update nya...

__ADS_1


dan terimakasih sudah menunggu dan membacanya.πŸ™‡πŸ™‡


__ADS_2