Identitas

Identitas
Balas dendam...


__ADS_3

Happy Reading...πŸ˜‡πŸ˜‡


####


Sesampainya di hotel Sisil tidak langsung istirahat. ia pergi setelah supir pribadinya memberikan kunci mobil kepada Sisil dan meninggalkan anak dari tuannya bersama tiga sahabatnya itu.


"Kita mau kemana Sil??" tanya Rika, anak yang paling realistis di antara mereka berempat.


"Kalau mau ikut, ngak usah banyak tanya. gue juga ngak maksa. lo boleh turun disini dan ambil kunci kamarnya dalam sling bag gue!" tegas Sisil. Rika yang memahami perasaan Sisil yang pernah down tidak membuatnya tersinggung dengan perkataan Sisil yang kasar.


"Sorry... bukan itu maksud gue. gue cuma ngak mau kalau obsesi lo buat balas dendam jadi bumerang dan menempatkan kita dalam bahaya yang besar." tutur Rika.


"Iya. apa lagi lo baru pulih." timpal Tya.


Obsesinya untuk balas dendam pada Syani membuat Sisil tidak peduli dengan perhatian dan kekhawatiran para sahabatnya. Sisil dengan cepat turun dari mobilnya dan masuk kedalam taksi yang baru saja mengantarkan seorang penumpang ke hotel yang sama tempat Sisil akan menginap. ia pergi entah kemana tanpa membawa apapun, hanya beberapa lembar uang ratusan ribu yang dibawa oleh Sisil.


Sedangkan Syani yang sudah sampai di rumahnya langsung menyimpan senjata dan membersihkan rumah yang sudah ia tinggalkan beberapa bulan ini.


"Abang.... Syani pergi dulu ya,, Syani pulang cuma sebentar...Syani pamit dulu ya!" tutur Syani seolah-olah ada orang yang akan menjawab perkataannya. ia kemudian keluar dan menaiki ojol yang sudah menunggunya beberapa menit yang lalu.


****


Syani kembali ke penginapan saat malam datang di saat teman-temannya ketiduran karna lelah dan udara Bandung yang mulai dingin. namun diperjalanan menuju penginapan tadi, ia sempat mendengar suara jeritan seorang wanita di dalam mobil yang menuju ke arah yang jarang dilewati kalau tidak terpaksa karna disana terkenal sangat angker.


"Lo dari luar??" tanya Lusi kaget saat melihat Syani yang datang dari luar. Lusi memang sudah mulai dekat dengan Syani kecuali Kia yang masih sedikit canggung.


"Ya. kenapa?" tanya Syani dingin membuat pikirannya tentang suara wanita tadi langsung hilang.


"Ngak... yang tadi cuma kaget!" jawab Lusi canggung karna mendadak sikap Syani kembali dingin.


Syani masuk kekamar mandi lalu mencuci muka dan mengganti bajunya kemudian ia langsung naik ke atas tempat tidur. mereka tidur saling berdekatan.


Sedangkan di hotel. Sisil yang pergi dengan taksi belum kunjung kembali ke hotelnya. Tya dan Rika mulai khawatir.


"Sisil...lo dimana sih??" gumam Rika mulai takut. ia tidak tau harus melakukan apa karna ponsel Sisil ada pada mereka.


Tya dan Milla hanya diam, sama seperti Rika tidak tau harus melakukan apa.


"Kita harus telpon orang tuanya!" seru Tya sambil mengambil ponsel Sisil dan menekan nomor ponsel Papanya Sisil.


"Jangan... gila lo!!!" sanggah Rika kemudian merampas ponsel Sisil dan mematikan ponselnya, "untung belum terhubung.." gumam Rika lirih.


"Trus kita sekarang harus gimana, kalau terjadi sesuatu sama Sisil gimana!!" cicit Tya dengan kalut.


Rika kembali diam. "seharusnya tadi gue ngak banyak ngomong." gumam Rika mulai merasa bersalah.


Sedangkan Milla yang biasanya tidak berhenti ngemil hanya bisa gigit jari. ia juga tau apa yang ada dalam pikiran kedua sahabatnya itu. mereka sangat menyayangi Sisil, walaupun Sisil itu terkadang mulutnya kasar dan tidak peduli kalau itu akan menyakiti perasaan temannya.


"Kita harus lapor ke pihak penanggung jawab kalau Sisil tidak kembali!" ujar Rika dan di angguki oleh sahabatnya.

__ADS_1


Mereka terpaksa tidur sambil berpikiran positif berharap tidak terjadi hal yang buruk dengan sahabatnya itu.


****


Syani bangun pagi lebih awal dari teman-temannya dan kembali melakukan hal yang rutin ia lakukan setia hari dimanapun ia berada, mandi dan sholat subuh.


Setelah melakukan rutinitas hariannya Syani membangunkan teman-temannya yang masih tidur enak. karna mereka akan melakukan Program hari pertamanya di Gedung merdeka


Setelah semuanya bangun, mandi dan bersiap-siap. mereka berkumpul di lobi setelah menikmati sarapan pagi yang di sediakan oleh pihak penginapan.


Sedangkan Tya, Rika dan Milla sudah panik karna Sisil tidak kembali ke hotel. Rika mengambil kunci mobilnya Sisil lalu keluar dari kamar hotel disusul Tya dan Milla dari belakang.


Rika memasang gps dengan tujuan alamat ke penginapan teman-temannya yang lain lalu pergi menuju kesana dengan perasaan yang kalut hingga ia tidak konsentrasi saat mengemudi dan hampir menabrak pengendara yang lain.


****


Sesampainya di penginapan Rika turun dari mobil dengan santai seperti tidak ada masalah apapun. untunglah disana ia hanya melihat Kia sendirian.


"Pagi Ka... tumben bertiga, satu lagi kemana?" tanya Kia heran saat melihat Tya, Rika dan Milla yang datang tanpa Sisil.


"Di hotel lagi tidur." sahut Tya cepat. ia takut kalau Milla yang akan menjawab pertanyaan Kia. kalau sempat Milla yang menjawab, maka Sisil yang menghilang akan di ketahui oleh teman satu sekolahnya.


"Buk Anita mana?" tanya Rika sesantai mungkin. ia berusaha menetralkan wajahnya yang tadi panik.


"Ada di ruang meeting." jawab Kia dengan tatapan curiga. Rika,Tya dan Milla meninggalkan Kia yang menatap mereka penuh selidik.


Seorang Laki-laki yang baru saja datang langsung menatap punggung mereka dengan aneh. ia adalah laki-laki yang selalu memperhatikan Sisil dari kejauhan. laki-laki yang sangat mencintai Sisil dan juga dicintai oleh Sisil.


Saat Syani ingin kelobi, tanpa sengaja ia melihat laki-laki di tempat penginapan perempuan, dia sedang mengikuti sahabatnya Sisil dari belakang tanpa sepengetahuan mereka. Syani yang akan menegurnya langsung mengikuti langkah laki-laki itu.


Tok...tok...tok...Crittt....


Tya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan pihak penanggung jawab sekaligus tantenya Sisil. ia langsung membuka pintu dan masuk ke dalam ruang meeting yang lumayan kecil itu tanpa ada yang menyuruhnya masuk.


"Permisi buk... Maaf saya lancang masuk kesini." ujar Tya langsung begitu ia masuk keruang meeting. semua orang yang ada di ruang meeting langsung menatapnya marah, karna Tya telah mengganggu konsentrasi mereka.


"Ada keperluan apa??" tanya buk Anita sebagai ketua penanggung jawab karna kepala sekolah tidak ikut dalam kegiatan mereka.


"Sisil menghilang..." seru Milla cepat.


Semua yang ada di ruangan itu kaget dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan salah satu murid mereka.


"Apa maksud kamu?" tanya buk Anita mulai cemas sambil menatap mereka bertiga bergantian.


"Benar buk, Sisil menghilang." tegas Rika membenarkan.


BRAKKK.....


Pintu di buka dengan kasar oleh laki-laki yang mencintai Sisil. semua yang ada di ruangan itu terperanjat karna kaget begitu juga dengan Syani yang berada di belakang laki-laki itu.

__ADS_1


"Sabiq...apa-apaan kamu. mana etika kamu sebagai ketua osis." seru buk Anita marah.


Tidak ada yang menyangka bukan, kalau Sabiq adalah ketua osis dan laki-laki yang mencintai Sisil adalah Sabiq. Sabiq tipikal laki-laki yang menyenangkan dan juga setia. tapi kalau sudah menyangkut kekejaman Sisil dia akan menjadi Ketua Osis yang tegas dan menakutkan. Syani pun kaget. ia tidak menyangka kalau Sabiq teman sekelasnya adalah ketua osis yang pernah menolongnya saat di kantin dan juga saat pingsan di lapangan olahraga.


"Apa yang terjadi dengan Sisil kenapa dia bisa menghilang?" tanya Sabiq sambil menatap sahabat Sisil satu persatu.


Mereka hanya bisa diam termasuk buk Anita. buk Anita sangat tau hubungan Ketua Osis dengan keponakannya, dan perasaan mereka berdua yang saling mencintai.


"Dimana Sisil?" tanya Sabiq dengan nada yang mengintimidasi. Tya, Rika dan Milla menjadi takut. mereka tau seperti apa Sabiq kalau sudah marah.


Rika berusaha mengatur nafasnya lalu menceritakan semuanya dengan detail.


"Jangan-jangan...." seru Syani setelah mendengar cerita Rika. ia kembali mengingat suara wanita di dalam mobil yang ia dengar saat perjalanan pulang ke penginapan.


"Jangan-jangan apa?" tanya buk Anita tak sabaran.


Syanipun menceritakan semuanya kecuali alasannya pulang kerumah. semuanya diam dan fokus mendengarkannya.


"Lo dan lo ikut gue!" seru Syani pada Sabiq dan Rika. mereka pun mengikuti perkataan Syani.


"Kita mau kemana?" tanya Rika saat menuju keluar penginapan.


"Ikut saja." bentak Syani.


Syani mengambil alih kunci mobil yang ada di tangan Rika lalu mengemudikannya ke arah jalan yang ia lewati samalam dan tujuan akhir dari jalan itu.


****


Syani sampai di jalan yang ia tuju. kemudian syani memastikan sesuatu sebelum ia mengambil tindakan.


"Gue tanya sesuatu sama kalian, tapi tolong jawab dengan jujur." tanya Syani dan dijawab dengan anggukan. "Apa Sisil punya musuh?" tanya Syani lagi.


Sabiq dan Rika hanya bisa diam, mereka tidak menjawab dan itu sudah cukup bagi Syani unuk mengetahui jawaban dari pertanyaannya dan yang bisa Syani simpulkan setelah melihat dari segala kemungkinannya hanya satu, yaitu seseorang sedang balas dendam.


"Seperti apa Sisil membully korbannya terakhirkali?" tanya Syani sambil menatap Rika dan Sabiq secara bergantian.


Bukannya di jawab mereka malah saling berpandangan lalu menatap Syani. seolah-olah Syani sudah tau jawabannya.


"Bukan gue. tapi korban sebelum gue." jawab Syani yang mengerti arti dari tatapan Tya dan Sabiq.


"Di kurung di gudang sekolah yang bekas kuburan lalu Sisil memutar lagu kesunyian malam. dia dikurung sejak pulang dari sekolah sampai besok paginya." jawab Rika sambil menundukkan kepalanya. Sabiq dan Syani kaget mendengar jawaban dari Rika. mereka tidak percaya Sisil sanggup berbuat sekejam itu.


"Trus sekarang gimana keadaannya setelah dibully oleh Sisil?" tanya Syani


"Sebelum dia meninggal karna bunuh diri, dia sempat dirawat di rumah sakit jiwa."


Syani dan Sabiq sudah tidak sanggub berkomentar apa-apa. sifat Sisil yang suka membully sudah memakan korban nyawan. sekarang Syani benar-benar yakin kalau suara yang ia dengar tadi malam adalah suaranya Sisil.


......

__ADS_1


maaf typo...πŸ™‡πŸ™‡


__ADS_2