Identitas

Identitas
Merenggut...


__ADS_3

HAPPY READING


####


Dengan nafas yang sudah tersengal-sengal Rayan terus saja berlari menyusuri sepanjang koridor rumah sakit tanpa mempedulikan ia menabrak siapa atau apa yang ditabraknya. yang ada dipikirannya sekarang hanya satu. orangtuanya, Mama dan Papanya.


Rayan melihat seorang wanita paruh baya yang duduk didepan ruang operasi dengan penampilan yang awut-awutan dengan wajah yang syok yang sangat jelas terlihat di wajahnya walaupun hanya dilihat sekilas. siapa lagi dia kalau bukan Ria, ibunya sendiri.


"Mama,,!" panggil Rayan dengan pelan. Riapun menoleh.


Bukan hanya Ria saja yang syok, Rayan pun juga ikutan syok melihat kondisi ibunya saat ini.


"Rayan,,, Papa kamu.... Papa kamu... dia_"


Rayan yang masih syok melihat kondisi ibunya dengan cepat mendekatinya dan memeluknya dengan erat.


"Kenapa Mama bisa ada disini? lalu kenapa Mama sampai seperti ini?" tanya Rayan lalu melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi ibunya meminta penjelasan.


Ria hanya diam mematung. ia tidak sanggup menjawab pertanyaan putranya sedikitpun. kejadian yang baru saja ia alami benar-benar membuatnya syok. seumur hidupnya ia belum pernah melihat korban pelecehan secara langsung apalagi menjadi korban pelecehan itu sendiri. sampai matipun ia tidak akan sanggup melupakan kejadian naas yang menimpanya. mata Ria kembali berkaca-kaca dan tangisnyapun kembali pecah. apalagi saat mengingat sang suami yang juga ikut menjadi korban penusukan dan sekarang masih ada di ruang operasi.


Rayan yang belum tau apa-apa berusaha menenangkan ibunya yang masih saja menangis sesenggukan.


Setelah beberapa jam dokter pun keluar dari ruang operasi bertepatan dengan Ria yang juga mulai tenang dari tangisnya.


"Bagaimana Papa saya dok?" tanya Rayan langsung begitu dokternya keluar.


"Keadaan pasien sudah stabil dan serpihan kaca yang ada di perutnya juga sudah diangkat. sekarang kami akan memindahkan pasien ke ruang pemulihan." ujar dokter. Rayan dan ibunya pun mengucap syukur.


Setelah Rizal di pindahkan dan Ria juga sudah tenang, Rayan kembali menanyakan kronologis kejadiannya.


Dengan berat hati akhirnya Ria terpaksa menceritakannya dengan sedikit isak tangis.


( Flashback on )


Ria yang merindukan Rayan, putra semata wayangnya mengajak sang suami ke Jakarta.


"Pa,, mama kangen sama Rayan." ucap Ria dengan nada sendu. Ria yakin kalau suaminya tidak akan mau kalau ia mengajaknya menemui sang putra karna sang suami ingin putranya itu konsentrasi dalam belajar. tapi karna dirinya mengetahui kelemahannya yang tidak menyukai kalau istrinya bersedih makanya Ria memasang wajah sendu.


"Oke,, tapi cuma sebentar ya!" jawab Rizal pasrah. ahhh,, dia benar-benar istri yang selalu memanfaatkan kelemahannya!!


Rizal mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor sekretarisnya, namun Ria dengan cekatan merebut ponsel itu dan membatalkan panggilannya.


"Maaf ya Pa, Mama maunya kita naik kendaraan pribadi dan hanya KITA berdua." timpal Ria sambil menekan kata 'kita' lalu menggoda suaminya.


Sebenarnya tujuan Ria bukan hanya merindukan putranya tapi ia juga masih penasaran dengan kekasih putranya itu, gadis yang berhasil merubah watak putranya yang keras dan arogan. bahkan ia sampai menggunakan kekuasaan orang tua untuk mencari kekasihnya yang sempat menghilang beberapa bulan yang lalu.


Ria dan Rizal pun berangkat ke Jakarta dengan kendaraan pribadi seperti keinginannya Ria.


Setelah berkendara beberapa jam, merekapun sampai di Jakarta.


Karna tidak ingin terjebak dalam kemacetan yang parah, Rizal berusaha mencari jalan tikus. tapi naas, bukan jalan tikus yang mereka temukan mereka malah dihadang oleh preman yang sedang mabuk berat saat Rizal berusaha mengeluarkan ban mobilnya yang terperosok kedalam lubang. padahal matahari masih bersinar dengan sangat terang tapi mereka sudah berbuat maksiat.


Entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja Ria sudah berada di luar bersama dengan para preman itu dan mereka mencoba melecehkannya.

__ADS_1


Rizal yang kaget saat mendengar suara jeritan istrinya kemudian mengejarnya dengan cepat. tapi sayang, sebelum ia sempat untuk melindungi istrinya pecahan botol lebih dulu menancap di perutnya yang akhirnya membuat Rizal tersungkur bersimbah darah. tapi untunglah tuhan masih kasihan melihat istrinya. seorang wanita tiba-tiba saja datang dan menyelamatkannya dari rasa malu kemudian menutupi punggungnya yang terekspos dengan jeket wanita itu.


( Flashback off )


Rayan langsung memeluk ibunya. ia benar-benar tidak menyangka kalau musibah itu bisa terjadi pada orang tuanya.


"Sstttt,,, udah. sekarang Mama sudah aman, ada Rayan disini." tutur Rayan menenangkan sambil mengelus punggung ibunya. Rayan terus dan terus berusaha menenangkan ibunya. sedangkan dia, siapa yang akan menenangkan dan meredakan amarahnya saat ini. amarah yang sudah terlanjur keluar dari ekspresi wajahnya yang kini tak lagi bersahabat.


"Dilecehkan?? ck, mereka berani lecehin nyokap gue?? kita lihat, apa yang akan mereka dapatkan jika bertemu nanti." batin Rayan.


"Kalau tidak ada wanita itu, mungkin Mama_"


"Udah ya Ma!! kita fokus dulu ke Papa." potong Rayan. ia tak ingin ibunya kembali mengingat kejadian itu, cukup dirinya saja yang akan mengingat dan menyimpan semuanya.


****


Sedangkan ditempat lain dan di waktu yang sama. Syani yang sedang asik menikmati makan malam bersama ayah dan kakaknya tidak mengetahui kejadian yang menimpa orang tua dari Rayan kekasihnya.


Syani menatap pria yang ada disebelahnya lalu menaroh sendok yang masih ada ditangannya. "When daddy will back to Norway?" tanya Syani


"Five more days. do you want to live with daddy?" tanya Lucas. ia sangat menginkan putrinya itu tinggal bersamanya, begitu juga dengan Kyle yang kini begitu sangat menyayangi Syani adiknya.


Lucas dan Kyle menatap Syani dengan penuh harap agar dirinya mau pindah dan tinggal serta hidup bersama mereka di Norwegia.


Syani tersenyum, "Sorry dad,, my life is here. and I can't leave my country to live with you." tolak Syani dengan tegas.


Lucas dan Kyle menatap Syani dengan perasaan sangat kecewa. tapi apa boleh buat, itu sudah menjadi keputusannya dan mereka juga tidak bisa memaksakan kehendak mereka pada Syani yang merupakan perempuan satu-satunya dalam keturunan Lucas Sebastian Halt.


"Okay,, keep your promise!!"


Syanipu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. dan merekapun kembali melanjutkan makan malamnya dengan santai sambil bercanda layaknya ayah dan anak yang sudah lama hidup bersama.


****


Lima haripun berlalu, Syani yang tengah sibuk mencatat materi yang disampaikan oleh dosennya tiba-tiba saja hilang konsentrasi. Rayan yang selalu mendatanginya saat di kampus atau di rumah mendadak lost contact ditambah siang nanti Lucas akan kembali ke negaranya membuat konsentrasinya semakin buyar.


Apa yang terjadi dengannya? kenapa kak Rayan tidak kelihatan beberapa hari ini? Syani hanya bisa bertanya-tanya dalam hatinya. ia tidak mau menghubungi Rayan karna mungkin saja ia tengah sibuk dengan tugasnya.


Dan disaat yang sama Rayan yang masih menemani orang tuanya di rumah sakit tengah asik bicara dengan seseorang di ponselnya sambil menganggukan kepala dan sesekali ia tersenyum dan membalas perkataan orang yang menghubunginya.


Ria dan Rizal yang sudah mulai pulih hanya memandangi putra mereka dengan tatapan penasan.


"Siapa?" tanya Rizal dan Ria kompak begitu Rayan memutuskan panggilannya.


"Someone..." jawab Rayan. ia belum bisa mengatakan kalau yang menghunginya barusan adalah ayah dari kekasihnya.


"Ma,, nanti siang Rayan pergi sebentar ya!" ujarnya kemudian sambil memeluk Rizal ayahnya yang akan keluar dari rumah sakit dua hari lagi.


Rizal dan Ria semakin penasaran dengan kehidupan putranya. mereka cuma bisa menunggu putranya itu bercerita karna mereka tau seperti apa sifat dan karakter putranya itu dan mereka juga terus berusaha melupakan kejadian naas yang menimpa Ria.


****


BANDARA SOEKARNO HATTA,,

__ADS_1


"Don't forget your promise!" tegas Lucas mengingangatkan sambil memeluk Syani dengan erat sebelum pesawatnya takeoff meninggalkan Indonesia dan transit di Singapura, karna Lucas lebih memilih naik pesawat komersial dari pada jet pribadi miliknya sendiri saat kedatangannya ke Indonesia. Syanipun mengangguk sebagai jawabannya.


Dan sebagai seorang ayah, tentu saja Lucas sangat berat meninggalkan putri satu-satunya untuk tinggal di Indonesia. apa lagi tanpa pengawasan seseorang yang bisa ia percayai untuk menjaga putrinya. sedangkan Lucas baru bertemu dengannya setelah belasan tahun ia lewati dan Kyle juga tidak bisa berada disampingnya karna ia harus menggantikan keberadaan Lucas di Singapura, akhirnya dengan terpaksa Lucas memutuskan menambah dua orang bodyguard bayangan untuk menjaga dan melindungi Syani dari bahaya apapun yang mengancamnya. padahal itu tidak diperlukan sama sekali dan semuanya juga hanya sia-sia karna Syani lebih berbahaya dari bodyguard bayangan yang di utusnya.


Rayan dan Syani pun melangkahkan kakinya keluar dari bandara setelah Lucas boarding time dan pesawatnya takeoff meninggalkan Jakarta.


****


Syani yang tidak tau apapun tentang Rayan hanya menatapnya dengan heran.


"Kok kerumah sakit kak? siapa yang sakit? apa kakak sakit?" tanya Syani keheranan .


Rayan hanya diam dan terus berjalan ke arah dimana ayahnya dirawat. ia bahkan tidak menggubris sedikitpun pertanyaan Syani. dirinya sedikit kecewa pada sang kekasih yang tidak berinisiatif sedikitpun untuk menghubunginya terlebih dahulu. padahal ia ingin sekali menumpahkan keluh kesahnya pada sang kekasih yang notabene berpikiran dewasa dan bijak dalam menghadapi sebuah masalah.


Syani kaget dan terdiam saat mereka sudah berada didalam ruang VIP tersebut. ia bukan kaget karna tatapan dari wanita yang tidak jauh darinya. tapi Syani kaget dengan jeket yang tersandar di sandaran kursi yang ada disamping brangkar, jeket yang pernah ia berikan pada seorang wanita beberapa hari yang lalu. jeket miliknya ada disini!!


Hal yang samapun terjadi pada Rayan. ia kaget begitu melihat ekspresi dari Syani yang ia sendiri tidak mengerti kenapa Syani kaget begitu mereka masuk. kemudian Rayan melirik arah pandangan Syani.


"Jeket? ada apa dengan jeket itu?" tanya Rayan dalam hatinya. "jangan-jangan?"


Rayan kembali mengingat kejadian yang menimpa ibunya kemudian membawa Syani keluar dari ruangan itu.


"Lho.. Rayan, kamu mau kemana?" tanya ibunya yang keheranan melihat anaknya yang baru masuk tapi keluar lagi.


"Sebentar kok Ma. nanti Rayan masuk lagi." jawabnya sambil menutup pintu.


"Ada apa kak?"


"Apa jeket yang di dalam itu milik kamu? trus, apa kamu wanita yang menolong Mama kakak dari...... pelecehan beberapa hari yang lalu?" tanya Rayan to the point dengan tangan yang sudah mengepal. ia tak akan pernah bisa melupakan hari itu. hari dimana ibunya dilecehkan sedangkan ayahnya terluka saat ingin menolong.


"........" Syani hanya diam. ia tidak tau harus menjawab apa, apakah ia harus jujur atau malah sebaliknya.


"Jawab kakak Syani." titahnya dengan pelan. karna Rayan tidak ingin pembicaraannya di dengar oleh orang tuanya.


"....Iya" jawab Syani yang akhirnya memilih jujur. toh,, Rayan juga sudah melihat reaksinya saat melihat jeket itu.


"Apa kamu melakukan sesuatu pada mereka? Apa yang kamu lakukan pada mereka? lalu apa yang terjadi pada mereka?" tanya Rayan dengan nada dingin. Rayan bukannya marah tapi lebih tepatnya Ia tidak ingin orang yang dicintainya bertindak kriminal yang akan merugikan dirinya sendiri dikemudian hari.


"Iya,, Merenggut..Mereka merenggut kehormatan perempuan, mereka merenggut kepercayaan diri perempuan bahkan mereka dengan santai dan mudahnya menghancurkan harga diri perempuan." Tutur Syani dengan datar. "Jadi jangan salahkan aku kalau aku melakukan hal yang sama pada mereka!" sambungnya lagi.


"Maksud kamu apa dek?" Tanyanya lagi. Rayan mulai bergidik ngeri. ia yakin kalau Syani sudah melakukan sesuatu pada mereka. sesuatu yang mungkin tidak akan bisa di bayangkan oleh siapa pun. tapi Rayan berusaha menepis pikiran buruk itu. Syani tidak mungkin melewati batasannya. Ia yakin, seorang Syani bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. tapi Rayan lupa, kalau Syani hanyalah manusia biasa yang juga memiliki ego dan sifat buruk lainnya.


Ujung bibir Syani terangkat. dia tersenyum,, "Aku merenggut masa depan mereka!!"


.......


Maaf telat.... hmmmm,,,,


ttp like dan komennya ya!!.


I LOVE YOU ALL


❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2