Identitas

Identitas
Because It's me...!!!


__ADS_3

HAPPY READING


####


Syani tersenyum smirk,, "You know, I'm not a ***** like you said. but a monsters that you should avoid!!" ucap Syani dingin.


Teman-teman Hendro saling berpandangan, lalu mereka tertawa ngakak dengan nada cemooh begitu mendengar kata 'monster' dari Maba baru yang berpenampilan jalang (menurut Hendro)


"Monster??? Monster di atas ranjang maksud lo?? Sorry gue ngak tertarik. tapi kalau lo mau, teman-teman gue kayaknya mau tuh nemanin lo!!" imbuh Hendro dengan kasar tanpa peduli dan memandang siapa yang ada di hadapannya.


Syani, Rayan dan yang lainnya semakin geram mendengar perkataan senior mereka yang tidak memiliki etika dan sopan santun sedikitpun, seorang pedoman yang tidak patut di panggil senior.


Rayan sudah tidak tahan mendengar perkataan Hendro yang tidak senonoh, dirinya ingin sekali mendaratkan pukulannya di wajah seniornya brengsek itu, namun ditahan oleh Syani yang tidak ingin membuat keributan dihari pertama ospek apa lagi mereka belum tau kejelasan status dari senior mereka itu.


Syani melangkah mendekati Hendro dan semakin mendekatinya kemudian Syani mendekatkan wajahnya ketelinga Hendro.


"Kakak salah menilai tentang saya dan terlalu gampang untuk meng judge seseorang. saya harap mulai sekarang kakak bisa menjaga diri kakak saat diluar rumah. dan jangan lupa berdo'a lah agar kita tidak pernah bertemu di luar kampus apa lagi dengan wanita ASING. menghindarlah sebisa mungkin agar kakak tidak celaka. kalau kakak tidak percaya, kakak boleh membuktikannya saat kita bertemu nanti!!" ucap Syani berbisik dengan nada penuh penekanan apalagi saat mengatakan kata 'ASING' yang merujuk pada dirinya sendiri.


Hendro bergidik, ia tidak peduli dengan bantahan dan juga ancaman yang tidak berarti dari Syani. tapi entah kenapa Hendro bisa merasakan aura aneh di sekitar Syani. aura yang tidak bisa ia jabarkan.


Setelah puas menyampaikan unek-uneknya, Syani melangkah mundur sambil menatap mata Hendro yang menyiratkan sedikit ketakutan dan keraguan disana. ujung bibir Syani sedikit terangkat, ia merasa senang setelah melihat reaksi dari Hendro.


"Ayo pergi dari sini!" ajak Syani sambil menarik tangan Rayan dan Faiz yang ada di kanan dan kirinya. Faiz yang sangat menginginkan Syani tentu saja dengan senang hati menggenggam tangan Syani balik tanpa mensia-siakannya. dan itu di lihat oleh Rayan kemudian menatap Faiz dengan kesal.


Sedangkan Hendro hanya bisa diam menatap punggung Syani yang melangkah semakin menjauh, lain dengan teman-temannya yang berfantasi liar saat melihat lekuk tubuh Syani yang menggiurkan sambil menelan salivanya dengan susah payah.


Setelah mereka cukup jauh dari Hendro, Rayan berhenti dan melirik kearah tangan Syani. "Ini yang terakhir kali gue lihat lo pegang tangan Syani didepan gue, paham lo!!" seru Rayan sambil menarik tangan Syani yang ada di genggaman Faiz dan membawanya jauh dari cowok menyebalkan itu. Faiz tersenyum melihat adegan tersebut. ia seperti mendapat sebuah ide, entah ide gila apa yang ada dikepalanya.


****


Hari-hari selama Ospek berhasil dilalui Syani dengan tenang walaupun sesekali masih ada senior yang jeolous pada Syani dan memanggilnya ayam kampus setelah ia melewati hari pertamanya dengan kejadian yang sangat memalukan. dan sekarang Syani tengah di sibukan dengan tugasnya di bulan pertama kuliah. tapi ada sedikit masalah yang dihadapi olehnya. ia tidak memiliki buku sebagai referensi dalam tugas yang harus diselesaikannya malam ini. sedangkan para sahabat Syani tidak bisa membantunya karna mereka memilih jurusan yang berbeda.


Syani bersiap-siap setelah ia menyelesaikan kewajibannya sebagai umat muslim. entah itu memang kebiasaan atau keinginannya pribadi, Syani menjadi dirinya sendiri dengan wajah Eropa yang didapakannya entah dari siapa atau memang Syani yang tidak ingin berinteraksi dengan teman kuliahnya jika tidak sengaja bertemu saat dirinya di luar kampus. Syani sudah seperti memiliki dua kepribadiaan dengan satu tubuh, padahal tidak. Syani hanya sedikit menutup diri atau lebih tepatnya membatasi pergaulannya, bukan karena dirinya sombong tapi ia tidak mau orang-orang mengetahui sisi lain dari dirinya.


Dengan langkah pasti Syani keluar dari kamarnya dan berlari-lari kecil saat menuruni anak tangga sambil memegang helm dan kunci motor di tangannya.


"Guys,,, gue ke toko buku sebentar ya!!" pamit Syani pada kedua sahabatnya.


"Hmmmm.... take care!!" jawab kedua sahabatnya dengan kompak tanpa mengalihkan padangan mereka dari tugasnya masing-masing.


Syani memacu motornya dengan kecepatan tinggi setelah ia keluar dari area perumahan mewah yang ditempatinya, berharap semoga masih ada toko buku yang setia menunggu kedatangannya.


****


Setelah puas berkendara selama beberapa jam, akhirnya syani menepikan motor nya di depan toko buku kecil yang sudah bobrok diantara gedung pencakar langit yang ada disekelilingnya. syani melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. syani pun segera melangkahkan kakinya memasuki toko buku, lalu mencari buku-buku referensi teori dasar linguistik yang sangat di butuhkannya untuk tugas kuliah.


cukup lama juga Syani mondar-mandir dari rak satu ke rak yang lain, mencari buku yang seharusnya mudah didapatkan jika saja dirinya mencari di siang hari bukan malam hari seperti sekarang. syukurlah akhirnya Syani mendapatkan apa yang dicarinya yang ternyata terselip diantara tumpukan buku-buku usang yang sudah berdebu seperti sudah lama tidak disentuh dan membayarnya dengan cepat.


Syani mengemudikan motornya dengan santai, karna merasa lega setelah beban tugasnya sedikit berkurang.


Entah itu suatu kebetulan atau memang takdirnya, Syani selalu berhadapan dengan kriminal jalanan yang selalu ia temui saat dirinya berada diluar saat malam hari. apalagi saat ini Syani baru saja melewati sebuah klub malam yang sangat terkenal dengan orang-orang brengsek dan pria hidung belang didalamnya. seperti sekarang contohnya, dirinya melihat beberapa orang pria berpakai formal tak jauh dari pintu masuk klub bersama seorang wanita yang berpenampilan seksi.


"LEPASKAN... TOLONG LEPASKAN AKU. BRENGSEK KAU,, JANGAN PERNAH MENYENTUHKUUUU...!!!" teriak seorang wanita tidak jauh dari klub malam, wanita itu memang berpakaian seksi namun dari cara ia melindungi diri sepertinya dia wanita baik-baik yang terjebak ditempat yang bagaikan neraka.

__ADS_1


PLAKKK.... PLAKKK....


"Aghhhh..." wanita itu berteriak kesakitan sambil menyentuh kedua pipinya yang merah habis di tampar.


"Berani sekali jalang sepertimu menyebutku 'Brengsek'..." imbuhnya dengan ekspresi wajah antara nafsu dan juga amarah yang bercampur menjadi satu.


"Aku minta maaf,,, tolong lepaskan aku.... aku mohon!!" ucapnya memelas


"Kalau begitu kau harus memuaskan kami malam ini." timpal salah satu dari mereka.


"LEPASKAN DIA!!!!" teriak seorang cowok yang baru saja datang dan langsung turun dari motornya.


Syani kaget ketika ia menghentikan motornya dan hendak membantu wanita tersebut. Syani langsung tersenyum smirk, dirinya sangat mengenal suara itu. itu adalah suara milik senior yang mempermalukannya di hari pertama masa ospeknya Syani, HENDRO. Syani yang sudah berhenti akhirnya cuma menonton dari seberang jalan tempat mereka bertengkar, dirinya akan memperhatikan seperti apa Hendro akan menyelamatkan wanita yang pakaiannya lebih parah dari Syani saat ospek dihari pertamanya.


"Kakak... tolongin Winda!!" pintanya wanita yang ternyata bernama Winda kembali memelas, namun kali ini pada Hendro bukan pada pria hidung belang yang sudah menamparnya.


Hendro menatap Winda itu dengan tatapan sendu kemudian mengalihkan dan mendekati pria hidung belang yang tidak begitu jauh darinya. ia menatap dan mengejar pria itu dengan amarah yang sudah membara.


BUAKKK....


"Aughhhh,,,, brengsek... berani sekali bocah sepertimu memukulku!!" bentaknya dengan nada kasar.


"JANGAN PERNAH MENYENTUH ADIKKU DENGAN TANGAN KOTOR KALIAN!!!" teriak Hendro dengan lantang.


"Boleh juga..." gumam Syani yang tetap diam ditempatnya.


"Penggangi bocah brengsek ini dan jaga terus wanita itu jangan sampai dia lepas!!" perintah pria yang sepertinya dia adalah bos dari sebuah perusahaan di Jakarta.


"Kalian tidak akan bisa menyentuhku!!" sahut Hendro dengan sombong


BUAKKK... BUAKKKK...


"ARGHHH..." Hendro mengerang kesakitan, kemudian ia memegang perutnya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya memegang ujur bibirnya yang sedikit robek lalu meludahkan isi yang ada dimulutnya.


"Kakak....." gumam Winda dengan lirih. ia tidak sanggup melihat kakaknya terluka gara-gara dia, hanya karna dirinya bekerja di klub malam sebagai waitress.


"Tolong lepaskan adikku,,, dan kalian boleh memukulku sampai puas.!!" tawar Hendro mengorbankan dirinya. sedangkan Winda hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menangis tersedu.


"Woww... berkorban demi adik ya!! tapi kenapa saat dikampus mulutnya sangat brengsek!!!" gumam Syani dengan kesal saat mengingat kejadian di ospek pertamanya.


PHAKKK.... Brukkk.... Pria itu menendang Hendro hingga jatuh.


"Kau tau,, membunuhmu sangat mudah bagiku. tapi aku maunya, kami bercinta dengan adikmu dan kau kenyaksikannya dengan kedua matamu....." imbuhnya dengan sangat frontal.


"BRENGSEK KAU...." Hendro langsung berteriak karna kaget begitu juga dengan Syani yang tidak akan berdiam diri lagi.


"Excuse me...." ucap Syani berlari mendekat. lalu,, "can you help me???" tanyanya berpura-pura.


Semua pria hidung belang itu langsung terperangah saat melihat Syani dan sebuah ide licik langsung terlintas di kepala mereka.


"Run away ,, they are no good men!!" timpal Hendro berusaha menolong tapi senyuman smirk yang diperlihatkan Syani pada Hendro.


Syani tidak mempedulikan Hendro, ia semakin mendekat ke arah pria yang sedang menyandra kekasihnya Hendro.

__ADS_1


BUAKKKK.... BRUKKKK....


Syani langsung menyerang pria itu dengan sekali serangan lalu menarik tangan Winda saat dia terlepas dari pria yang menyandranya itu.


"Bersembunyilah disuatu tempat.." gumam Syani dengan lirih ke telinga Wanda. dan tanpa menunggu dua kali ia langsung lari dan bersembunyi seperti yang dikatakan Syani.


Pria itu kaget lalu menyerang Syani balik, Syani yang sudah pro dalam ilmu beladiri sangat mudah baginya membaca dan menghindar dari serangan lawannya serta memanipulasi gerakannya sendiri saat lawannya mulai membaca dan memahami gerakan Syani.


BUAKKKK.... BUAKKK... KRAKKK...BUAKKK.... KRAKKKK..... AGGHHHHHHH.....


Syani yang sudah tidak bisa bermain lama karna tugasnya yang sedang menunggu akhirnya memelintir, memiting kaki dan tangan lawannya dengan cepat hingga membuatnya memekik dengan keras sampai tidak sanggup berdiri.


Bos para Pria hidung belang itu kaget, ia tidak menyangka wanita asing seperti Syani mampu melumpuhkan algojo terhebatnya, dan tanpa menunggu komando, rekan-rekannya yang lain turun membantu.


Saat melihat pria yang di panggil dengan sebutan bos itu lengah Hendro langsung memanfaatkannya dan menyerang bos itu bertubi-tubi. begitupun dengan Syani yang sedang di keroyok, dengan gerak yang gesit dan fleksibel Syani menendang, meninju serta melompat dan memukul kepala pria itu dengan lututnya. Syani terus dan terus menyerang mereka tanpa henti hingga mereka semua terkapar dan menyisakan bos mereka yang terpaku di tempat dengan wajah babak belur kemudian roboh karna syok melihat gerakan Syani.


"Thanks for your help!!" ujar Hendro berterima kasih sambil mengulurkan tanganya.


BUAKKKK..... BUAKKKK.... ARGGHHHH....


BUAAKKKK.... BRUKKKK...


Bukannya menerima uluran tangan Hendro Syani malah langsung menyerang Hendro hingga tersungkur setelah ia membantunya, bersamaan dengan Winda yang keluar dari tempat persembunyiannya.


"Kakak....." teriak Winda sambil mengejar Hendro dan menatap Syani dengan tatapan kaget dan tidak percaya.


"Why you hit after helping me??" tanya Hendro dengan heran.


"Because It's me...." jawab Syani dengan santai.


Hendro terdiam ia semakin tidak mengerti maksud perkataan dari Wanita Asing yang telah menolongnya.


"....'Kakak salah menilai tentang saya dan terlalu gampang untuk meng judge seseorang. saya harap mulai sekarang kakak bisa menjaga diri kakak saat diluar rumah. dan jangan lupa berdo'a lah agar kita tidak pernah bertemu di luar kampus apa lagi dengan wanita ASING. menghindarlah sebisa mungkin agar kakak tidak celaka. kalau kakak tidak percaya, kakak boleh membuktikannya saat kita bertemu nanti'..... do you remember those words?" imbuh Syani mengingatkan.


Hendro membelalakkan matanya. tentu saja dirinya masih ingat dengan perkataan itu, perkataan dari seorang Maba yang mengeluarkan aura yang aneh yang tidak bisa ia jabarkan hingga sekarang.


"Apa kau....." seru Hendro namun tidak menyelesaikan dugaannya.


"That's right,,, it's me Isyani or 'ayam kampus'..." timpal Syani sambil tersenyum manis.


Sekarang Hendro mengerti kenapa dirinya tidak bisa menjabarkan hawa dari aura yang ia rasakan saat itu, bukan perkataan dari Maba itu yang membuatnya bergidik tapi aura membunuh yang dikeluarkannya!!


........


mohon like dan komennya ya!!!


trus jangan lupa bagi poin juga....


πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


Nb: diriku minta maaf karna tidak bisa up tiap hari karna ngetik novelnya nyicil trus sedikit sulit memutar otak karna author bukan penulis hebat.


maaf ya, klo di merasa di PHP in.

__ADS_1


πŸ™πŸ™πŸ™ I LOVE YOU ALL .... πŸ˜™πŸ˜™πŸ˜™


__ADS_2