Identitas

Identitas
Bab 4


__ADS_3

Bab 4


Sesampainya di toko buku, Syani dan Adibah melihat-lihat jika ada buku yang menarik.


Tiba-tiba Syani berhenti di depan rak buku tentang kriminalogi.Syani merasa tertarik dan dia mengambilnya.


"Lo mau beli yang itu ?" Tanya Adibah


"Iya kayaknya."


"Buat apa ?"


"Ngak semua hal harus ada alasan kan." Jawab Syani ambigu.


"Iya sih...."


"Yuk aahh..ke kasir !" Ujar Syani lalu menarik tangan Adibah menuju kasir untuk membayar buku yang akan mereka beli.


Syani menjadi pusat perhatian pengunjung di toko buku. Mereka terheran-heran karna ada bule yang Bahasa Indonesianya sangat fasih dan lancar.


Mereka lalu pergi dari toko buku dan berhenti di depan sebuah caffe jepang


"Makan dulu yuk.gue lapar !" Ajak Adibah


"Okay...gue juga udah lapar."


Pelayan caffe datang lalu memberikan buku menu pada Syani dan Adibah.


"Lo mau pesan apa ?" Tanya Syani


"Belum tau gue....."


"Nobi ramen sama minumannya jus jeruk aja mbak !" Ucap Syani menyebutkan pesanannya.


"Eehhhhmmmm.......ya udah. Sushi trua minumannya di samain aja." Kata Adibah mulai menyebutkan pesanannya.


Pelayan caffe itupun mencatat dan pergi ke meja pesanan sambil memberikan kertas yang berisi pesanan mereka.


Tak lama kemudian pesanan merekapun datang.Syani mulai menikmati makanannya, tiba-tiba mata Syani melihat sesuatu yang mencurigakan.


Dia melihat van yang di parkir tak jauh dari sebuah toko yang tak terpakai. Anehnya orang-orang keluar masuk toko tersebut.

__ADS_1


"Lo liat apa ?" Tanya Adibah yang membuat Syani terperanjat dan hampir menjatuhkan sendoknya ke lantai.


"Itu !"tunjuk Syani ke arah van tersebut.


"Oo...tukang renovasi....." Jawab Adibah cuek sambil melanjutkan makannya.


Namun hati Syani mengatakan lain. Dia merasa curiga dengan keberadaan van tersebut.


"Kalau memang tukang renovasi dia tidak akan menggunakan van." Batin Syani.


Syani menggeleng-geleng kan kepalanya.dia berupaya menghilangkan prasangka buruknya, dia tidak mau ber su'udzon.


"Pulang yuk.... !" Ajak Syani,dia tidak menghabiskan makanannya. Perutnya mendadak kenyang.


"Ramen lo belum habis..?"


"Mendadak kenyang...." jawab Syani bohong. Dia masih belum bisa menghilangkan kecurigaannya.


Mereka pergi meninggalkan caffe.Adibah mengantarkan Syani pulang dengan motornya.


***


dalam kamar dan membersihkan tubuhnya. karna Syani akan melakukan kewajibannya sebagai umat muslim.


Setelah Syani selesai melakukan kewajibannya,Syani membuka tas serta mengambil dan membaca buku yang di belinya tadi.


Tak terasa hari sudah larut.Syani menyudahi bacaannya. Dia menyimpan buku tersebut.


Tok...tok...tok...pintu kamar Syani di ketuk dari luar. Bennipun masuk karna pintu kamar tidak di kunci.


"Syani...kenapa belum tidur? Sudah makan malam ?" Tanya Benni sambil mendekati Syani dan duduk di tepi tempat tidur.


"Belum ngantuk bang.trus Syani udah makan tadi sore bareng teman Syani bang."jawab Syani


"Berarti belum makan malam dong?"


"Perut Syani masih kenyang bang...."jawab Syani.


"Ya udah.kalau gitu kamu harus tidur sekarang! Okay?" Ucap Benni sambil mematikan lampu, trus dia keluar dan menutup pintu.


Syani membaringkan tubuhnya.dia berharap bisa tidur dan melupakan hal yang dia lihat tadi.Tidak lama setelah itu mata Syani mulai terasa berat,akhirnya diapun tertidur.

__ADS_1


****


1 semester telah berlalu.Syani mendapat juara umum dan berbagai penghargaan di sekolahnya. Dia pun menjadi sangat populer di sekolahnya.


Syani dan Adibahpun semakin akrab. Mereka sering curhat dan tidur bersama, kadang di rumah Benni dan terkadang di rumah Adibah. Orang tua Adibahpun sangat menyayangi Syani.


Mereka juga tau kisah hidup Syani,tapi mereka tidak tau siapa yang menjadi orang tua Syani selama ini.


"Syani....abang di promosikan menjadi Direktur spesialis penyakit dalam.. Tapi abang di pindahkan ke Rumah Sakit pusat yang di Jakarta...kamu tidak papa kalau abang tinggal kamu sendirian disini ?" Tanya Benni dengan suara yang serak menahan tangis.


Benni belum pernah meninggalkan Syani sendirian setelah dia mengangkat Syani menjadi adiknya. Dia sangat menyayangi Syani seperti dia menyayangi adiknya semasa hidup.


"Nanti kalau udah kenaikan kelas baru kamu abang bawa ke jakarta !"ujar Benni lalu menggenggam tangan Syani yang sedang duduk di sebelah Benni.


"Iya bang....." jawab Syani sedih. Dia hanya menunduk lesu.Syani sudah terbiasa hidup bersama Benni...


Syani menemukan sosok seorang ayah kakak bahkan ibu di dalam diri Benni.Dia sangat menyayangi Benni melebihi rasa sayangnya dulu pada ayahnya yang telah membesarkannya selama 14 tahun.


"Abang kapan berangkat ke Jakartanya ?"


"Besok..."


"Trus abang naik apa ke Jakarta ?"


"Abang naik pesawat."


"Syani anter ya..!" Pinta Syani yang mulai menitikkan air matanya.


"Eehhhmm...."


Merekapun saling berpelukan.Syani menangis sesegukan di pelukan Benni.Benni pun memeluk erat tubuh Syani yang sudah gemetar.


Benni mengusap pipi Syani yang basah oleh air mata dengan lembut...


"Kamu harus tetap belajar ya! Jangan sampai nilai kamu anjlok, nanti abang usahain telpon kamu tiap hari trus pas kenaikan kelas kamu abang jemput untuk pindah ke Jakarta! Okay?"


"Iya bang...."


"Ya udah.sekarang kamu harus tidur,kan besok mau anterin abang ke Bandara."


Syani menuruti perintah Benni. Dia pun berbaring di atas tempat tidur, Benni pun meninggalkan kamar Syani. Dan tidak lupa mematikan lampu serta menutup pintu kamar Syani.

__ADS_1


__ADS_2