
HAPPY READING
####
Syani berlalu pergi dengan mengabaikan suara mereka yang memanggilnya meminta penjelasan atas apa yang di sebutkannya tadi.
"Tunggu... apa maksud perkataan lo tadi?" tanya Rayan dengan ekspresi wajah penasaran sambil tetap berusaha menahan langkahnya Syani.
"Yang jelas,, itu bukanlah hal yang baik untuk di bahas. gue ngak mau kehilangan kalian terutama lo!" tutur Syani dengan tegas. ia tidak mau kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupnya untuk kedua kalinya setelah ia kehilangan Benni pria kedua setelah ayahnya.
"Gue semakin ngak ngerti perkataan lo." tanyanya lagi dengan ekspresi wajah semakin tidak mengerti.
"Barang yang di ambil itu Dokumen yang sangat berbahaya, benda yang seharusnya tidak ada disini. isi dokumen itu daftar kejahatan atau penyelewengan yang di lakukan oleh pemerintah Rusia." terang Syani menjelaskan dengan ekspresi wajah yang serius. "Kita tidak boleh terlibat lebih jauh, karna itu sangat berbahaya. bisa-bisa kita kehilangan nyawa!" jelasnya lagi.
Rayan benar-benar kaget setelah mendengar penjelasan dari Syani, kemudian ia menarik tangan Syani agar mereka bisa keluar dari sana dengan cepat.
"Lo ngak apa-apa kan?" tanya semua sahabat Syani begitu ia sampai di ruang tunggu. Syani hanya membalas dengan senyum seadanya.
Syani kembali melanjutkan perjalanannya ke Jakarta dengan mengabaikan panggilan yang terus berusaha menghentikan langkahnya.
****
Mereka sampai di Jakarta saat menjelang sore datang dengan tubuh yang sudah kelelahan. Syani turun dari mobil Sport milik Rayan sambil mengeluarkan ranselnya yang ada di kaki Syani karna mobil Rayan tidak memiliki bagasi maupun bangku penumpang.
"Kenapa lo pake mobil kayak begini sih, bikin susah gue aja." celetuk Syani mulai kesal sambil berusaha mengeluarkan ranselnya.
"Kalau pake mobil ini kita kan bisa berduaan." goda Rayan sambil memainkan alisnya. rasa lelahnya langsung hilang begitu melihat senyum Syani yang malu-malu menghias di bibirnya. senyuman yang tidak ia lihat saat dalam perjalanan menuju Jakarta.
"Kalau berduaan sama lo, pasti yang ketiganya setan." ujar Syani dengan gamblang sambil meninggalkan Rayan di pekarangan rumahnya dengan tersipu malu.
"Calon imam kok ditinggal sih Say..." seru Rayan terus menggoda Syani.
Blusss.. pipi Syani semakin merah, ia semakin tidak tahan dengan godaan Rayan lalu mengeluarkan dan memutar kunci rumahnya dengan cepat. "Lebay lo!!" ucap Syani dengan muka merah sambil berlari ke arah dapur untuk mengambil minuman yang akan ia suguhkan pada sahabat dan juga kekasihnya.
__ADS_1
Rayan tertawa ngakak melihat tingkah Syani yang tersipu malu apalagi Rayan sempat melihat pipi Syani yang blushing. ia tidak menyangka akan melihat berbagai ekspresi wajah Syani dalam sehari. Rayan merasa sangat bahagia saat menjadikan Syani sebagai orang yang spesial di hatinya. tidak ada yang bisa membuatnya lebih bahagia selain melihat senyuman dari seseorang yang spesial.
Rayan melangkahkan kakinya ke dalam rumah sambil memperhatikan kondisi sekitar. lalu duduk di sofa berwarna coklat dengan santai. ia kagum dengan tataan ruang yang begitu rapi, namun terasa hampa seperti tidak ada kehidupan apa lagi kebahagiaan di rumah itu. Rayan merasa miris saat membayangkan keseharian Syani di rumah itu.
Tinn... tinn... tinn...
Rayan terhenyak dari lamunannya saat ia mendengar suara klason mobil yang memasuki gerbang rumah Syani. ia menoleh dan ternyata Sisil dan yang lainnya masuk dengan wajah kelelahan.
"Waw.... cepat juga lo nyampenya." ucap Sisil sambil menghempaskan tubuhnya di sofa. "Syani mana?" tanya Sisil sambil menelisik ruangan itu dengan teliti. Rayan menjawab dengan mengangkat kedua bahunya. entah kenapa ia tidak bisa bersikap beramah tamah dengan perempuan selain Syani.
Sedangkan Kia dan Lusi sudah di antarkan terlebih dahulu sebelum Sisil mengantar Nadia yang tinggal bersama Syani dan searah dengannya, berbeda dengan Tya, Rika dan Milla yang memang selalu mengekori kemanapun Sisil pergi kadang-kadang mereka malah sampai tidur di rumahnya Sisil.
Tidak beberapa lama Syani keluar dari dapur dengan nampan yang berisi makanan ringan dan minuman kaleng di atasnya.
"Gue tinggal ke kamar sebentar ya." ucap Syani setelah meletakkan nampan yang berisi itu di atas meja. Sisil hanya menjawabnya dengan menganggukan kepala sambil tersenyum tipis.
Tidak lama setelah itu Nadia masuk sambil menarik koper bawaannya dan koper bawaan Syani yang dimuat di bagasi mobil Sisil.
"Biar gue yang bawa koper milik Syani!!" ujar Rayan sambil menyambar koper polo berwarna biru. "kamar Syani dimana?" tanya Rayan.
Rayan melangkahkan kakinya ke atas menuju kamar Syani.
Tok... tok... tok...
Rayan mengetuk pintu kamar Syani, namun tidak ada jawaban dari dalam. diam-diam Rayan membuka pintu kamar Syani dengan pelan dan menjulurkan kepalanya mengintip kamar Syani yang dominan berwarna biru. Rayan terperangah, lalu tersenyum kagum melihat Syani yang sedang khusyuk beribadah. ia tidak menyangka perempuan tangguh yang jago berkelahi itu taat beribadah. Rayan merasa sangat bersyukur dan bangga mendapatkan perempuan tangguh, mandiri dan taat beribadah seperti Syani. ia tidak akan pernah mendapatkan perempuan seperti Syani lagi jika perempuan itu lepas dari tangannya. Rayan masuk ke kamar Syani lalu meletakkan kopernya di saping ranjang, kemudian Rayan keluar sambil menghayalkan jika kelak ia hidup berumah tangga dan bahagia bersama Syani beserta anak-anak mereka sampai tua hingga ajal menjemput.
Rayan kembali bergabung bersama sahabat Syani di ruang tamu.
"Syaninya mana?" tanya Sisil yang melihat Rayan turun seorang diri.
"Sholat." jawab Rayan singkat.
Nadia keluar setelah ia meletakkan koper dan membersihkan tubuhnya. lalu ia masuk ke dapur. Nadia membuka kulkas melihat bahan-bahan yang bisa ia olah untuk membuat sesuatu yang bisa di makan bersama.
__ADS_1
Tya dan Milla ketiduran sambil menyandarkan kepalanya di sofa. mereka kelelahan karna tidak bisa tidur di dalam mobil Sisil yang penuh sesak.
Setelah Syani selesai melakukan kewajibannya, ia keluar dengan wajah berseri-seri. lalu menuju dapur dengan niat yang sama dengan Nadia.
"Bahannya ngak cukup untuk di bikin banyak." ujar Nadia begitu ia melihat Syani masuk ke dapur.
"Ok,,, ngak apa-apa. untuk sekarang kita cukup pesan makanan. lagian mereka pasti keburu lapar kalau kita belanja dulu." sahut Syani sambil mengeluarkan ponselnya dan memesan makanan di restoran seafood.
Tidak selang berapa lama, makanan pesanan Syani datang. kemudian ia menatanya di atas meja makan dengan rapi.
Sisil dan Rayan yang sudah merasa lapar dengan aroma seafood yang menggoda selera mereka dengan cepat melangkahkan kakinya ke ruang makan tak terkecuali dengan Tya dan Milla yang tidur dan di bangunkan oleh Rika yang sedari tadi asik membaca buku milik Syani yang terpajang di rak buku yang ada di ruang tamu.
****
Setela mereka selesai menikmati seafood yang di pesan oleh Syani, Sisil dan ketiga sahabatnya berpamitan pada Syani dan Nadia begitupun dengan Rayan yang harus berangkat selepas magrib agar ia bisa sampai saat tengah malam supaya Rayan bisa cukup untuk beristirahat dan melanjutkan sekolah keesokan harinya.
"Gue pulang dulu ya." pamit Sisil dan ketiga sahabatnya yang sudah seperti dayang yang selalu mengikuti kemanapun tuannya pergi.
"Iya..." jawab Syani. ia tidak perlu mengatakan petuah 'hati-hati di jalan' karna jaraknya cuma 2 km dari rumah Syani.
"Kakak pulang dulu ya,,, kamu hati-hati di rumah dan selalu jaga kesehatan.." ucap Rayan mencoba bersikap Romantis dengan mengganti panggilannya.
Syani tersenyum melihat tingkah Rayan. "Be careful..." ucap Syani.
Sebelum Rayan memasuki mobilnya ia menyempatkan memeluk Syani dengan erat lalu mencium bibir Syani dengan hangat namun kilat.
Syani kaget lalu,, "RAYAN....." teriak Syani dengan keras sambil mendorong tubuh Rayan menjauh.
Rayan tertawa, kemudian Rayan mengedipkan mata kanannya menggoda Syani sebelum ia masuk ke mobilnya dan meninggalkan Syani untuk mereka bertemu kembali.
..........
Please.... like dan komennya ya!!!
__ADS_1
biar semangat.... 🙏🙏🙏