
HAPPY READING
####
Setelah beberapa hari berlalu, rutinitas Syani kembali seperi biasa. terkadang kesibukannya malah dua kali lipat karna harus mengejar ketinggalannya, di tambah lagi dengan ujian semester pertama yang akan segera menyusul. Syani harus menyusun rencana untuk masa depannya, karna dirinya yang tidak memiliki penyokong apapun dalam hidupnya baik secara moril maupun materil. hanya sahabat dan kekasih yang ia miliki. terkadang dirinya merasa iri saat melihat kebersamaan dan kedekatan antara sahabatnya dengan orang tua mereka yang sudah tidak ia miliki.
Sesekali Syani menagis dalam diamnya saat kesepian menyusup ke relung hatinya yang terdalam, menangisi yang telah tiada dan di buang oleh orang yang disayangi. memiliki saudara satu rahim namun berjauhan, punya ayah namun tak dianggap. hanya Rayan dan sahabat yang ia miliki tidak lebih dan tidak kurang. bahkan Syanipun tidak tau siapa ayah biologisnya, pria yang memiliki DNA yang sama dengannya.
****
Pagi ini semua murid SMA di Indonesia melakukan ujian semester kelima di tahun ketiga mereka sekolah di SMA. dimana ujian pertama mereka adalah matematika. mata pelajaran yang benar-benar mengasah otak untuk berpikir dengan logika. sebagian dari mereka hanya corat-coret untuk menghabisi waktu sedangkan sebagiannya lagi benar-benar melakukannya dengan perhitungan, menghitung semua angka yang tertera di kertas ujian mereka.
Lima hari sudah berlalu, dan ujian semester kelima pun berakhir. sekarang hanya menunggu waktu bagi mereka untuk melihat hasil dari pelajarannya selama satu semester. apakah hasilnya baik atau buruk itu tergantung dari pelajaran dan pemahaman mereka sendiri. terima atau tidak, keputusan akhir sudah di buat.
Hari ini Syani dan keempat sahabatnya, Kia Lusi Nadia dan juga Sabiq main tebak-tebakan di dalam kelas. menebak siapa yang akan menduduki peringkat nomor satu di kelas mereka.
"Menurut kalian siapa kali ini yang akan menjadi nomor satu di kelas kita??" oceh Lusi saat menunggu hasil pengumuman paralel yang belum keluar.
"Yang pasti itu bukan lo dan juga bukan gue." celetuk Kia dengan gamblang.
"Itu sih udah pasti, ngak usah lo perjelas kali Ki!" ucap Lusi pesimis. Lusi sadar kalau kemampuannya belum seperti Sabiq yang selalu mendapatkan juara umum atau Nadia yang berada di tiga besar di kelas mereka.
"Kalian harus optimis jangan pesimis." timpal Sabiq. padahal di dalam hatinya Sabiq juga merasa pesimis. ia tidak lagi yakin dengan dirinya yang dulu selalu berada di depan sekarang tertinggal satu langkah di belakang semenjak kedatangan Syani.
"Belum keluar hasilnya ya!" seru Sisil yang tiba-tiba saja sudah masuk ke kelas 12 IPA 1.
"Belum Sil,, kamu gimana?" tanya Sabiq sambil mendekati Sisil dan merangkulnya dengan mesra tanpa mempedulikan sahabatnya yang ada disana.
"Dasar bucin!!" ejek Kia dan Lusi.
Sisil dan Sabiq terkekeh mendengar ejekan Lusi dan Kia, begitupun dengan Nadia. ia tidak menyangka mereka berani mengejek Sisil. kalau dulu, jangankan untuk mengejek Sisil, menarik perhatian Sisil sedikit saja mereka sudah pasti di bully olehnya.
Syani melirik ke luar seolah mencari sesuatu. "yang lainnya kemana?" tanya Syani yang tidak melihat keberadaan Tya, Rika dan Milla yang sudah seperti dayangnya Sisil yang selalu mengikuti kemanapun dia pergi.
"Ngak tau gue, mereka pada ngacir kemana." jawab Sisil terus bergelayutan di lengan Sabiq laki-laki yang pernah membuatnya berubah tapi sekarang dirinya sudah kembali seperti dulu.
__ADS_1
Saat di osis, Sabiq merupakan sosok ketua yang di hormati karna karisma dan ketegasannya. tapi jika sudah keluar dari lingkungan osis, Sabiq akan berubah menjadi sosok yang gokil dan supel apalagi saat bersama Sisil dia benar-benar seperti cowok kebanyakan.
"Perasaan aku tadi nanya sesuatu deh ke kamu?" celetuk Sabiq yang pertanyaanya belum di jawab oleh Sisil sambil mencolek dagu Sisil yang membuatnya gemes.
"Anak-anak pasti salah pilih lo jadi ketos..." sindir Syani yang risih melihat kemesraan Sabiq dan Sisil yang tidak melihat tempat.
Semuanya tertawa mendengar sindiran Syani. apa lagi Sisil yang mendengarnya seolah-olah Syani iri dengan kedekatannya dengan Sabiq karna Rayan tidak ada di samping Syani.
Koridor sekolah mendadak riuh dengan suara derap langkah yang berlarian ke bawah.
"Hasilnya sudah keluar,, ayo kita lihat!!" seru salah satu dari murid yang berjalan di koridor.
Syani, Sabiq, Sisil, Nadia, Kia dan Lusi keluar dari kelas mereka menuju lapangan tempat pengumuman paralel di pasang.
Saat menuju lapangan mereka berpapasan dengan Tya, Rika dan Milla dengan ekspresi wajah kesal dan muka yang sudah basah dengan keringat mencari Sisil. akhirnya merekapun ikut bergabung menuju pengumuman paralel dengan ekspresi kesal yang tidak hilang dari wajahnya.
Didepan pengumuman parale sudah ramai dengan murid-murid yang melihat hasil mereka atau sekedar penasaran siapa yang menjadi nomor satu disekolah mereka. apakah masih Sabiq ketua osis mereka atau ada orang baru.
Dari kejauhan Syani, Sisil, Sabiq, Nadia, Kia dan Lusi sudah melihat kerumunan anak-anak yang melihat hasil pengumuman. mereka berusaha mengintip hasil pengumumannya namun tidak ada celah untuk mereka menyelinap masuk dalam kerumunan itu.
"Gue ngak nyangka Syani sehebat itu, bisa ngalahin ketos yang udah juara dari dulu." oceh mereka tanpa tau kalau orang yang mereka bicarakan berada di belakangnya.
"Iya,, gue aja iri melihatnya. udah cantik, jago berkelahi, pintar lagi.... perfect girl" sambung yang lain dengan ekspresi kagum.
Sabiq tidak kaget sama sekali saat dirinya mendengar ocehan murid yang lain, karna ia sudah menduga hal itu akan terjadi. Syani memang jauh lebih unggul darinya. kalau tidak , tidak mungkin dia akan duduk di kelas dua belas sedangkan umur Syani belum genap enam belas tahun.
Sabiq mengulurkan tangannya. "Selamat ya... gue salut sama lo." ucap Sabiq memberi selamat dengan senyum yang tulus.
"Thank's...." jawab Syani dengan haru lalu merentangkan kedua tangannya. Merekapun berpelukan saling memberi selamat dan semangat satu sama lain tanpa ada rasa iri dan perasaan bersalah.
"Hei,,, ceweknya ada disini jangan peluk-peluk pacar gue... cukup gue aja yang meluk!!!" seru Sisil dengan gamblang, ia tidak mau ada acara tangisan di hari yang bahagia.
Mereka pun tertawa bersama sambil berlalu meninggalkan sekolahnya untuk bersenang-senang setelah mereka memeras otak tanpa mempedulikan barang-barang mereka yang ketinggalan di kelas, karna tidak akan ada yang berani berbuat usil pada mereka bahkan hanya sekedar menyembunyikan taspun mereka tidak akan berani mengambil resiko.
****
__ADS_1
Setelah semester kelima berakhir. Syani dan yang lainnya semakin sibuk dengan belajar untuk mempersiapkan diri masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi sampai-sampai ia mengabaikan panggilan Rayan yang selalu berusaha menghubunginya.
Enam bulanpun berakhir dengan cepat tanpa masalah sedikitpun tidak ada keributan atau perkelahian apapun. sekarang Syani dan yang lainnya siap melepaskan title SMA nya dan akan berganti nama dengan mahasiswa setelah mereka melakukan acara kelulusan.
Syani lulus dengan nilai sempurna disusul dengan Sabiq dan yang lainnya dengan nilai yang cukup jauh di bawah Syani. semuanya merasa bahagia bersama dengan keluarga merayakan acara kelulusannya. kecuali Syani yang menghindar dari keramaian dan lebih memilih menyendiri di perpus.
"Bunda,,, apa bunda tenang disana??" ucap Syani lirih dengan suara serak sambil menatap langit melalui jendela yang ada di perpus.
Syani menangis sesenggukan seorang diri mengingat kebersamaan orang tua dan anak saat sesi photo bersama keluarga. hanya Syani yang memilih tidak melakukannya. ia sudah tidak sanggup tersenyum seiring jatuhnya buliran bening yang jatuh dari matanya saat menerima penghargaan dengan nilai terbaik se Indonesia dan berhasil menaikan nilai sekolahnya.
"Bunda,,, Abang... semoga kalian tenang disana. dan jangan pernah khawatirin Syani disini.. mulai sekarang Syani akan lebih kuat seperti keinginan kalian..." ujar Syani dengan suara yang semakin serak.
Syani mengambil ponselnya lalu menekan tombol cepat dengan ragu-ragu,,
📲"Hallo...." jawab seseorang dibalik sana.
📱"Ayah,,, ini Syani... hari ini Syani_"
📲"Bukannya dulu sudah kubilang... kau itu bukan putriku,, jangan pernah memanggilku ayah dan jangan pernah menghubungi nomor ini lagi kau mengerti!!!" bentaknya sambil memutuskan panggilan telepon.
Syani terhenyak dengan kata-kata tajam ayahnya yang langsung menusuk ke hatinya yang terdalam, ia menangis sejadinya tanpa suara sedikitpun. Syani memukul dadanya yang terasa sesak, ia sudah tidak sanggup menahan sesak di dadanya. Syani terus dan terus memukul dadanya agar sesak di dadanya hilang.
argh... arghh.... Syani terus berusaha berteriak melepaskan rasa sakit di dadanya.
Argghhh..... ARGHHHHHHHHH.... HU..HU..HU.... ARGHHHHH....AAAAA.....
Akhirnya suara Syani lepas bersamaan dengan tangisnya yang pilu semakin keras dan menyayat hati siapapun yang mendengarnya.
"BUNDAAAAAAAAA.......... ARGHHHHHH......" Syani berteriak memanggilnya Ibu yang sangat disayangi dan menyayanginya dengan keras. untunglah suaranya tersamarkan dengan dentuman musik yang sangat keras di lapangan sekolah. namun tidak dengan Rayan yang berada didepan pintu perpus yang selalu mengikuti Syani sejak kedatangannya kesekolah itu.
Rayan masuk ke perpus dan memeluk Syani dari belakang. "Jangan menangis lagi,,, kakak mohon, kamu jangan menagis lagi!!" isak Rayan tanpa melepaskan pelukannya. maksud hati memberi kejutan pada kekasihnya, malah dia sendiri yang mendapat kejutan yang memilukan. cerita yang tidak pernah ia ketahui dan tidak pernah ia cari tau.
Syani membalikkan tubuhnya dan terus menangis di bahu kekasihnya yang bidang.
"Kakak tidak akan pernah meninggalkanmu seperti yang lain.... jadi kakak mohon, hentikan tangisanmu itu." ucap Rayan yang ikut larut dalam tangisan Syani.
__ADS_1
.......