Identitas

Identitas
Bandung lautan api 2...


__ADS_3

HAPPY READING....


####


"BANDUNG LAUTAN API!!!" Seru Sabiq


"Tidak mungkin.... itu tidak boleh terjadi!!" ujar Syani panik


"Kita tidak bisa melakukannya walaupun kita bersama, mereka bukan lawan yang mudah. kita harus minta bantuan seseorang.." tutur Adibah dengan ekspresi yang sudah tidak bisa di artikan.


Mereka hanya bisa diam setelah mendengar perkataan Adibah yang tidak salah sedikit pun.


"Bagaimana kalau kita datangin saja kantor polisi dan ceritakan semuanya, buat mereka percaya pada kita. apa lagi di video ini juga disebut ada buronan FBI gue yakin mereka pasti percaya dan mendengarkan kita." seru Lusi tiba-tiba.


"Tidak bisa,, sistem keamanan sudah di kuasai oleh mereka dan itu akan sangat berbahaya. lo ingat, hacker mereka itu buronan FBI. apa menurut lo dia ngak bakalan tau!!" timpal Syani mematahkan asumsinya Lusi. "lagian mereka tidak akan percaya dengan omongan bocah seperti kita!!" imbuhnya kemudian.


"Cuma satu harapan kita. Yaitu meminta bantuan pada omnya Kia." Sahut Sisil kemudian sambil mengambil bantal dan meletakkannya dia atas paha.


Malampun semakin larut, mereka memutuskan untuk pulang dan keputusan sudah diambil dan ditetapkan kalau mereka akan mengatakannya pada pamannya Kia.


****


Pagi ini Mereka bangun dengan mata yang memerah karna kurang tidur begitupun dengan Syani. Dia ketiduran, tapi untunglah ia masih sempat untuk melakukan kewajibannya sebelum pagi menyinsing.


Kia yang sedang menghubungi pamannya dan menceritakan perihal video itu. kemudian mereka berjanji akan bertemu siang ini di cafe tanpa seragamnya ataupun embel-embel kepolisian karna ia tidak mau kelihatan mencolok dan menjadi perhatian.


Sedangkan Syani yang tidak menyukai polisi mau atau tidak, dia tetap harus menceritakan semua yang ia ketahui asalkan hanya bicara lewat ponsel ia akan menyanggupinya. dari pada ia menyesal karna tidak mau berurusan dengan polisi hanya karna masalah kecil.


****


Dengan terpaksa dan setelah perdepatan yang cukup keras dengan Kia, Syanipun sekarang ada di cafe tempat yang biasa datangi dulu bersama Adibah, Faiz dan Ello. ia menunggu sambil menikmati jus jeruk yang menjadi favoritnya, karna Syani tidak menyukai minuman yang mengandung kafein dan juga susu.


"Lo janjian sma om lo jam berapa sih?? ngak datang-datang juga ampe sekarang!!" syani yang kesal lalu mengaduk-aduk jusnya menggunakan sedotan dengan kasar hingga tumpah.


"Tunggu,, gue coba hubungin lagi!" seru Kia yang mulai merasa bersalah sambil menghubungi pamannya namun mereka hanya bicara sebentar karna ponsel pamannya Kia sudah di matikan.


"Om lo jadi datang ngak sih?" tanya Syani setelah menunggu selama satu jam.


"Ngak tau juga gue. tadi sih katanya jadi, cuma agak telat dikit." jawab Kia mulai cemas.


Setelah lelah dan menunggu selama tiga jam,Tiba-tiba dari arah pintu masuk dua orang laki-laki yang berjalan tegap seperti prajurit walaupun berpakaian santai mereka mendekati meja Syani dan juga Kia. dan salah satu dari mereka adalah pamannya Kia. dua pria gagah namun berbeda generasi.


"Maaf ya Kia,, om telat." ucap paman Kia begitu sampai di depannya dan meminta maaf.


"Ngak apa-apa om!" jawab Kia sedikit kecewa.


"Tadi tiba-tiba saja Kapolda melakukan inspeksi mendadak, makanya om lama. ini om juga datang bersama beliau. untung saja kinerja kami bagus." tutur Kompol Endriko sambil memperkenalkan atasannya.


Sedangkan Syani dan Kia yang tidak menyangka kalau mereka akan bertemu dengan Kapolda setempat jadi mematung seketika.


"Tidak usah takut saya kesini cuma penasaran seperti apa kisah yang akan saya dengar."

__ADS_1


"Maksud bapak kisah apa?" tanya Syani heran


"Bukannya kamu memanggil dia kesini untuk membagi kisah dengan kami!" sarkas beliau


Syani dan Kia kaget dengan respon yang mereka terima, mereka tidak percaya kalau mereka mendapat tanggapan yang negatif dari Kapolda. sedangkan pamannya Kia hanya bisa mengernyitkan dahinya saat mendengar kata-kata sarkas yang ia dengar.


Syani dengan berat hati menceritakan semua informasi yang ia ketahui dan juga bencana yang akan terjadi besok di tiga lokasi secara serentak.


"HAHAHAHA.... kamu pikir kami ini bodoh percaya begitu saja dengan omongan bocah seperti kamu." sarkasnya lagi.


"Ini bukan sekedar omongan pak. tapi saya punya buktinya." ujar Syani mulai geram. karna inilah ia tidak suka berurusan dengan polisi, karna mereka tidak mau mempercayai omongan yang mereka anggap anak kecil.


Syanipun mengeluarkan video itu lalu menerjemahkan setiap kata yang ia dengar di video dokumenter.


"Jadi ini yang kamu maksud dengan bukti. ini tidak membuktikan kalau mereka akan melakukan pembakaran seperti apa yang kamu bilang." tuturnya sinis.


"Dan anda. anda membuang waktu saya dengan meminta saya datang kesini." tegurnya sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah Kompol Endriko. "dan tolong jadikan ini yang pertama dan terakhir kalinya bagi anda untuk membuang waktu saya dan juga, anda tidak perlu mengantar saya keluar. dan satu lagi, kalau anda mempercayai perkataan mereka silahkan tanggung konsekuensinya sendiri!" sambil berdiri Kapolda melirik sinis ke arah Syani. "anak bawang aja sok tau!!" gumamnya sarkas. kemudian pergi meninggalkan Kompol Endriko namun langkahnya terhenti dengan suara Syani.


Syani berdiri dengan cepat lalu "Tunggu!! BAPAK KAPOLDA YANG TERHORMAT... anda jangan pernah menyesal di kemudian hari jika informasi yang saya berikan itu benar !!" tutur Syani dengan sinis.


"Sekarang lo tau kan, kenapa gue tidak suka terlibat dengan polisi?? mereka tidak mudah percaya dengan laporan yang disampaikan oleh orang seperti kita, tapi kalau sudah kejadian baru mereka sibuk mencari pelapor." sarkas Syani dengan ekspresi yang sangat kecewa.


Kia hanya bisa diam. ia tidak tau harus bicara apalagi toh Kapolda sendiri tidak percaya dengan informasi yang mereka berikan. hanya paman Kia lah satu-satunya harapan mereka sekarang.


"Cuma om yang bisa Kia mintai tolong. Kia harap om bisa membantu kami." ujar Kia penuh harap.


Paman Kia diam beberapa saat.lalu,,


"Sebelum anda membuat rencana, lebih baik anda melihat videonya dulu, disana juga sudah ada terjemahannya." ujar Syani dengan datar sambil memberikan ponselnya ke paman Kia.


"Panggil saja om, kata 'anda' tidak sopan untuk anak seusia kamu." tegasnya pada Syani. kemudian mengambil ponsel yang di berikan padanya.


Kompol Endriko pun mendengar dan melihat teks itu, untuk beberapa saat ia kaget waktu membaca teks tersebut lalu kembali serius membaca teksnya.


"Kalian yakin ini artinya?" tanya paman Kia sedikit ragu.


"Yakin om." jawab Kia mewakili Syani.


Sedangkan paman Kia hanya diam, apakah ia harus mempercayainya atau tidak. kalau pemikiran Syani salah maka dia akan menerima konsekuensinya namun jika benar maka akan banyak berjatuhan korban jiwa.


"Percaya atau tidak itu terserah anda." ujar Syani yang melihat keraguan di mata pamannya Kia. "tapi kami sudah tidak punya waktu lagi. dan juga tolong pikirkan apa sebenarnya yang ingin di rampok oleh mereka. saya yakin mereka bukan mencari uang tapi sesuatu yang jauh lebih berharga dari itu." tuturnya lalu mengajak Kia pergi dari sana.


****


Saat ini di ruagan polsek Bandung. Kompol Endriko mulai dilema dengan perkataan Syani.


"Ridho, Kalau misalnya lo di berikan sebuah informasi oleh anak yang masih berstatus pelajar, apa lo akan mempercayainya?" tanyanya pada bawahan yang paling ia percayai dan paling muda diantara bawahannya yang lain.


"Itu tergantung pelapor pak!" jawabnya ambigu.


"Ngak usah panggil pak, cuma ada kita berdua. oya,, Maksud lo apa tadi?"

__ADS_1


"Tidak semua informasi dari seorang pelajar itu tidak bisa dipercaya, tapi kitalah yang sering membuatnya menjadi seperti itu." jawabnya


Paman Kia terdiam sesaat lalu ia memutuskan mempercayai semua perkataan Syani. paman Kia keluar dari kantor bersama Ridho bawahannya lalu pergi menuju penginapan keponakannya.


*


"Apa rencana kalian sekarang?" tanya paman Kia


"Tidak tau. pikiran saya cuma satu, yaitu evakuasi supaya tidak ada jatuhnya korban jiwa." jawab Syani dengan mata terpejam. ia memikirkan apa yang akan dia lalukan jika berada di situasi tersebut.


"Apa an_...maksud saya om sudah mendapatkan apa yang mereka cari?" tanya Syani sedikit canggung dengan memanggil om.


"Tidak ada yang tau apa yang sebenarnya yang mereka cari disini." imbuh Ridho dengan serius.


"Kita hanya bisa memantau lokasi yang jadi target mereka." tiba-tiba Ello angkat bicara. ia dan yang lainnya sudah berada disana sejak mereka pulang dari sekolah. mereka yang sedari tadi hanya diam memperhatikan. "kita pantau mereka secara estafet agar tidak dicurigai." ujarnya kemudian.


"Dan gue akan jadi umpan!!" seru Syani


"Tidak. itu berbahaya." ujar Faiz menimpali


Kompol Endriko dan Ridho bawahannya hanya diam melihat para pelajar itu membuat rencana. mereka tidak menyangka kalau mereka bisa kompak dan saling membantu sesama temannya.


"Tidak ada yang boleh membuat rencana atau menjadi umpan, karna semua tindakan kalian akan membuat kalian sendiri dalam bahaya dan saya disini sebagai walinya Kia tidak mau itu semua terjadi pada kalian." tutur pamannya Kia.


"Tapi_"


"Mendapat informasi saja itu sudah lebih dari cukup. mulai sekarang semuanya adalah urusan kami." imbuh Ridho sambil tersenyum tipis.


"Tapi saya tidak tau lokasi target yang ketiga." celetuk Syani


"Tidak apa-apa biar kami yang cari tau." sanggah pamannya Kia.


Mereka semua terpaksa diam dan juga merasa lega karna beban mereka sudah lepas tapi tidak dangan Syani, ia masih tidak tenang dengan semuanya dan ia akan melakukan semuanya sendiri walaupun tidak akan membantu sama sekali.


Syani yang sibuk dengan pikirannya sendiri memikirkan semua kemungkinan yang terjadi membuatnya tidak bisa memejamkan mata sedikitpun disaat semua sahabatnya sudah tertidur lelap karna beban mereka sudah lepas.


"Dimana tempat paling terang, luas dan cocok untuk dijadikan pengalihan???" tanya Syani dalam hati. "Terang luas dan banyak orang..............Mall" gumam Syani geram. ia tidak bisa membayangkan jika itu benar-benar terjadi.


"Ya allah...jangan sampai apa yang hamba takutkan terjadi.." gumam Syani lirih dan tanpa ia sadari air matanya sudah jatuh membasahi kedua pipinya. Syani mulai menangis sesenggukan. ia sungguh tidak sanggup membayangkannya.


"ARRGGHHHHHH........."


Syani berteriak sekeras-kerasnya hingga membangunkan Sahabatnya yang sudah tertidur. namun sahabat Syani hanya diam mereka, membiarkan Syani menangis melepaskan semua sesak dan beban di hatinya.


Syani yang biasanya tenang sekarang menagis histeris, ia bahkan tidak sehisteris ini saat kehilangan Benni dan Ibunya bahkan saat ia di usirpun Syani tidak seperti ini.


Sisil yang ternyata cuma pura-pura tidur kemudian bangun dan mendekati Syani, ia juga mendengar gumaman Syani tadi.


"Berdoa lah supaya yang lo takuti ngak terjadi dan kita juga pasti bakal bantu lo kok, lo tenang ya!" ujar Sisil menenangkan Syani. Sisir yang kembali menjadi irinya yang dulu tidak tahan melihat Syani menagis ia pun ikut-ikutan mengeluarkan air mata.


......

__ADS_1


jika ada nama, tempat,tokoh,atau profesi yg sama,ini hanyalah fiktif belaka utk menguatkan isi cerita dan tidak bermaksud utk menyinggung siapa pun.


__ADS_2