
Happy Reading...
####
Syani dan Sabiq sudah tidak sanggub berkomentar apa-apa. sifat Sisil yang suka membully sudah memakan korban nyawa. sekarang Syani benar-benar yakin kalau suara yang ia dengar tadi malam adalah suaranya Sisil.
Syani melangkah masuk ke dalam sebuah bangunan yang sudah tidak terpakai. Rika dan Sabiq mengikuti Syani dari samping dengan bulu kuduk yang sudah berdiri.
Mereka memeriksa setiap ruangan yang ada di rumah sakit itu hingga sampai di ruangan yang terakhir yang belum mereka periksa yaitu kamar mayat.
"Astagfirullahhh...." seru Syani kaget sambil menutup mukanya.
Rika pun mengintip dari balik punggung Syani. ia pun kaget dengan apa yang dilihatnya. Rika dengan perasaan yang takut dan juga kalut masuk ke dalam kamar mayat mendahulai Syani yang sepertinya sedikit syok karna ia kaget dengan apa yang ia lihat. boneka yang sebesar manusia yang di dandani dan juga di beri pakaian putih dan di dudukan dikursi yang saling berhadapan dengan kursi kosong yang ada di depan boneka.
Syani yang masih sedikit syok berusaha menetralkan rasa kaget yang membuat ia syok dan ia berhasil melakukannya. Syani masuk menyusul Rika dan Sabiq yang sudah lebih dulu masuk ke dalam. tidak ada apapun didalam kamar mayat itu kecuali boneka yang tadi.
Tiba-tiba Rika melihat kilauan dari lantai dan memungut sebuah anting yang hanya ada sebelah.
"Ini anting milik Sisil..." seru Rika. ia tidak menyangka kalau sahabatnya jadi korban balas dendam.
"Maksud lo Sisil beneran berada disini?" tanya Sabiq memastikan. Rika mengangguk ketakutan. ia tidak sanggup membayangkan seperti apa sekarang kondisi sahabatnya.
"Dia tidak ada disini, tapi pernah ada disini." sanggah Syani
"Maksud lo apa, gue ngak ngerti?" tanya Rika frustasi.
"Maksudnya Sisil memang pernah kesini, tapi sudah pergi. entah dia dipindahkan atau berhasil kabur kita tidak tau." jawab Sabiq yang mengerti maksud dari perkataan Syani.
"Bangkunya masih hangat." seru Syani saat menyentuh bangku yang mungkin memang di duduki oleh Sisil. "Ayo kita keluar dari sini... gue yakin mereka belum jauh atau mungkin masih berada di sekitar sini. kalau kita berlama-lama disini, bisa-bisa kita beneran kehilangan Sisil. Sabiq dan Rika mengikuti usulan Syani. mereka keluar dari kamar mayat itu dengan berlari kencang sambil berharap keajaiban Tuhan itu memang ada dan memberi sedikit keajaibannya pada Sisil.
beberapa langkah lagi mereka akan keluar dari rumah sakit.
Brumm...brummm...
Tiba-tiba terdengar suara deru mobil yang baru saja meninggalkan pelataran rumah sakit. padahal mereka tidak melihat jenis kendaraan apapun saat memasuki gedung rumah sakit itu. untunglah Sabiq yang berada paling depan melihat jenis mobil dan nomor kendaraan yang mungkin saja membawa Sisil di dalamnya.
Syani, Sabiq dan Rika berlari dengan sangat cepat melangkah meninggalkan gedung rumah sakit yang kini sudah berada di belakang mereka.
Sabiq memutar kunci mobilnya lalu mengemudi dengan kecepatan tinggi. Syani dan Rika yang duduk di kursi penumpang hanya bisa berdoa agar mereka tidak kehilangan Sisil, sambil memasang seatbelt untuk melindungi diri mereka sendiri.
"Rika hubungi buk Anita dan katakan padanya kalau kita sudah menemukan mobil yang membawa Sisil agar orang tuanya bisa melacak kepemilikan mobil tersebut!!!" seru Sabiq yang tidak kehilangan akal.
Rika menuruti perkataan Sabiq, ia menghubungi buk Anita dan menyampaikan setiap perkataan Sabiq.
*
Sedangkan buk Anita semakin panik setelah mendapatkan kabar dari Rika salah satu anak didiknya sekaligus sahabat dari keponakannya itu. ia tidak tau bagaimana keadaan keponakannya itu sekarang. ia tidak tau harus menghubungi siapa dan meminta bantuan pada siapa. jika ia menghubungi orang tuanya Sisil, maka masalah ini akan semakin panjang dan juga rumit. karna masalah ini tidak hanya menyangkut satu orang tapi banyak orang. tapi untunglah anak-anak yang lain tidak mengatahui kalau masalah besar sedang menimpa salah satu teman sekolahnya dan mereka masih bisa melakukan kegiatan mereka dengan tenang.
Tiba-tiba Kia mendekati buk Anita dan mengatakan kalau ia tidak sengaja mendengar semua pembicaraan mereka di ruang meeting. buk Anita kaget, karna semakin banyak orang yang mengetahui kebenarannya maka semakin besar pula kemungkinan orang tua Sisil mengetahuinya. buk Anita berusaha menghilangkan kekagetannya agar yang lain tidak curiga.
"Buk. kalau ibuk mau, saya bisa bantu ibuk. kebetulan om saya berdinas di Polsek Ban_"
"Saya bukannya tidak mau, saya hanya tidak bisa. kamu sendirikan tau bagaimana sifatnya Sisil sejak dia berubah karna kamu pernah sangat dekat dengannya hingga kamu tidak tahan dan meninggalkannya. kalau Polisi sampai terlibat, saya takut dia akan di penjara dan itu akan berpengarus pada perusahaan orang tuanya Sisil. jika nilai saham perusahaan orang tuanya jatuh, tidak hanya keluarga Sisil yang akan menderita tapi karyawan yang bekerja dibawah naungan perusahaan papanya Sisil juga akan ikut menderita." potong buk Anita sambil memberikan penjelasan pada Kia.
Kia hanya diam tidak menjawab, karna apa yang dikatakan buk Anita itu memang benar adanya.
"Kamu mengertikan maksud saya?" tanya buk Anita.
"Iya buk, saya mengerti. tapi saya tetap akan mencoba meminta tolong padanya sebagai keponakan pada pamannya bukan sebagai warga sipil dan aparat negara." jawab Kia tidak mau kalah. "Ibuk jangan cemas,,saya akan meminta pada paman saya untuk tidak melibatkan bawahannya." ucap Kia.
Kini giliran buk Anita yang diam mendengar perkataan Kia. ia tidak tau, harus berterimakasih atau menyesalinya.
__ADS_1
Kia mengeluarkan ponselnya dari sling bag, lalu mencari nomor ponsel pamannya dan mencoba menghubunginya.
π±"Hallo om.... ini Kia." serua Kia langsung tanpa membaca salam sedikitpun.
π²"Waalaikum salam... iya om tau itu kamu, kan cuma kamu ponakan om yang aneh dan ngak sopan. tumben kamu yang telpon om duluan, ada apa?" ejek orang yang mengaku sebagai omnya Kia.
π±"Maaf om lupa baca salam..." ujar Kia sambil cengengesan.
π²"Ngak apa-apa... sering-sering aja ya, lupa baca salamnya!" sarkas omnya Kia.
π±"Ngak lagi deh om." bantah Kia.
π²"Ada apa kamu telpon om?"
π±"Gini om... Kia mau minta tolong sama om, tapi Kia minta tolong sebagai keponakannya om. dan juga...... ini berhubungan dengan kejahatan seseorang, bisakan om?" ujar Kia sedikit ambigu.
π²"Baiklah, apa masalah yang bikin kamu seperti ini?" tanya omnya Kia mulai serius.
Kia pun menceritakan masalah Sisil yang pergi dari siang kemarin hingga hari ini belum kembali dan Kia juga menceritakan ada kemungkinan Sisil di culik.
π²"Jadi kamu mau om mencari temannya kamu tanpa menyangkut pautkannya dengan pekerjaannya om sebagai polisi?" tanyanya memastikan
π±"Iya om."
π²"Ok... om harap ini yang terakhir kalinya kamu meminta hal yang tidak wajar seperti ini." ujarnya dengan tegas.
Saat ini di kantor Polsek Bandung, orang yang mengaku sebagai Omnya Kia menyuruh bawahan kepercayaannya melacak nomor kendaraan yang disampaikan oleh Kia.
Tidak selang berapa lama bawahannya itu pun mendapatkan hasil yang dia minta.
"Bagaimana, sudah dapat?" tanya omnya Kia.
"Sudah pak. kendaraan itu terdaftar sebagai kendaraan hilang sejak 1 bulan yang lalu." jawabnya.
*
Sedangkan Sabiq yang masih berusaha mengejar BMW hitam yang kemungkinan besar membawa Sisil di dalamnya. Sabiq merasa kesulitan untuk menghetikan laju mobil yang yang membawa Sisil dan itu membuatnya sangat frustasi.
Brakk....brakkk... "BRENGSEKKKK......" maki Sabiq sambil memukul setir mobil yang di kemudikannya.
"STOP..." seru Syani yang mulai kesal dengan Sabiq. "Minggir lo...biar gue yang bawa. ini tidak akan berhasil kalau kita terus mengejar dari belakang seperti ini hingga bensinnya habis." celetuk Syani sambil membuka seatbeltnya
"Cari mati lo!!" balas Sabiq juga dengan bentakan dengan tetap memandang fokus ke depan.
Syani yang sudah di puncak kemarahannya menarik tuas rem tangan dan itu berhasil memperlambat laju mobil.
"MINGGIR CEPAT!!" bentak Syani.
Dengan terpaksa Sabiq berdiri di atas bangku kemudi dan beralih dengan Syani. Syani yang sekarang sudah duduk di bangku kemudi dengan cepat menurunkan tuas rem tangan dan menginjak pedal gas hingga habis membuat mereka bertiga tersentak ke belakang.
"Pasang seatbelt lo......" seru Syani yang menyadari kalau sabuk pengaman Sabiq belum terpasang.
Syani mengemudikan mobil Alphard milik Sisil dengan kecepatan 160 km/jam untunglah jalanan itu sangat sepi jadi tidak akan membahayakan pengendara lain. tinggal beberapa detik lagi kini ia sudah bisa menyusul BMW hitam yang membawa Sisil.
Tinn... tinn...tin...tinn...tinnn.....tiiiinnnnnnnn....
Syani terus membunyikan klason agar mobil BMW itu berhenti, namun mereka tidak menggubrisnya. Syani dengan terpaksa memepet BMW hitam itu sampai keluar dari jalan raya. ia berusaha membuat BMW hitam memasuki gang yang akan dia lewati di sebelah kirinya nanti. Syani berusaha dan terus berusaha dan akhirnya ia berhasil membuat BMW itu masuk ke dalam gang buntu yang menjadi tujuannya. Mereka berhenti dan dua orang pria dewasa keluar dari BMW hitam sedangkan Syani, Sabiq dan juga Rika masih menunggu di dalam mobil sambil memperhatikan gerakan mereka. kemudian salah satu dari mereka mendekati mobil Sisil dari kedua sisi.
Tok..tok...tokk... " bocah brengsek... keluar kalian!!!" makinya.
Tanpa menunggu di maki dua kali Syani dan Sabiq pun keluar tanpa Rika karna mereka yakin masih ada teman mereka di dalam mobil sedangkan Rika tidak bisa melindungi dirinya jika ikut keluar.
__ADS_1
"Jadi kalian teman si iblis betina itu?" sinisnya. kemudian ia tersenyum smirk. "saat iblis yang satu hilang tentunya iblis yang lain akan datang menolong!"
"Kami memang temannya, tapi kami bukan iblis begitupun dengan orang yang anda maksud tadi!" sanggah Sabiq dengan tenang.
BUAKKK..... BRAKKK....
"Arrrgghhh...." Sabiq mengerang kesakitan karna perutnya ditinju dengan keras hingga punggungnya menghantam kaca spion mobil dengan keras dan membuat punggungnya kesakitan.
Syani yang mendengar erangan kesakitan dari Sabiq membuatnya lengah dan juga mendapatkan bogem mentah di perut dan pipinya hingga mengeluarkan darah dari mulutnya, itu membuatnya menjadi geram.
"Akkhhhhh.... SIALANNN.... BRENGSEKK LO......" maki Syani dengan geram. "lo tau,, gue paling tidak suka diserang saat gue lengah!!" ucap Syani dengan seringaiannya yang khas saat ia benar-benar marah sambil memegangi pipinya yang dihadiahi bogem mentah.
BUAKKK....BUAKKKK....BUAKKK....KRAKKK...
"AARRGGGHHH....."
Syani menyerangnya dirusuk dan dikedua bahu dengan keras tanpa memikirkan akibatnya pada pria itu sampai mematahkan bahu kanannya hingga membuatnya menjerit kesakitan.
Sedangkan Sisil yang ada di bangku belakang bersama pria yang juga teman dari orang yang ingin balas dendam padanya hanya bisa memandangi laki-laki yang ia cintai di hajar dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya. tangan dan kaki yang diikat serta mulut yang dilakban, membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa. hanya memandanginya tidak lebih. hilang sudah kekejaman Sisil hanya dengan melihat Sabiq meringis menahan rasa sakit.
"Waw.... iblis kayak lo bisa nangis juga, gue kira cuma bisa ngebully orang!" sarkas laki-laki yang bersama Sisil. ia tidak tau kalau kedua temannya sudah terkapar.
Sisil terus menangis. matanya menyiratkan penyesalan atas perbuatannya selama ini. perbuatan yang selalu menyakiti orang yang berada di bawahnya.
"SEKALI IBLIS TETAP IBLIS!!" tegasnya yang tidak suka mendengar bantahan Sabiq mengenai Sisil.
Sabiq mulai kesal, selama ini ia tidak pernah melakukan kekerasan. bukannya ia lemah tapi Sabiq tidak suka dengan kekerasan. Sabiq memejamkan matanya sambil menarik nafas pelan.
BUAKK...BUAKK...BUAKK.... ARGGGHHHH....
Sabiq yang tidak menyukai kekerasan terpaksa menyerang duluan dengan tiba-tiba. ia tidak bisa berlama-lama berurusan dengan orang yang ia anggap tidak penting. karna Sabiq sudah tidak sabar ingin melihat kondisi dari perempuan yang ia cintai sejak kecil.
"Maaf gue melakukan ini, karna gue ngak bisa berlama-lama berurusan dengan lo, dan juga tolong maafkan segala perbuatannya yang mungkin menyakiti orang yang sangat berharga buat lo. sekali lagi gue minta maaf...!" ujar Sabiq meminta permohonan maaf atas perbuatan Sisil yang mungkin menyakiti anggota keluarganya.
Sedangkan pria itu hanya bisa menagisi kematian adiknya yang telah menjadi korban dari Sisil.
Sabiq dan Syani meninggalkan mereka yang sudah terkapar dan mendekati BMW hitam itu dengan cepat lalu membuka pintunya.
"Kalau kalian coba mendekat,, perempuan ini mati!!" ancamnya dengan mendekap Sisil dari belakang sambil mengarahkan pisau ke arah leher Sisil saat ia kaget melihat Syani dan Sabiq yang tiba-tiba saja sudah ada di sampingnya.
Syani dan Sabiq kaget dan mundur begitu melihat pisau yang menempel di leher Sisil, dan ternyata dia tidak main-main dengan ancamannya saat cairan merah mulai menghiasi mata pisau yang menempel di leher Sisil. Sabiq tidak tahan melihat bibir Sisil yang mulai memucat dan air matanya mengalir deras. ia mengepalkan kedua tangannya hingga pucat seperti tak berdarah.
Sisil langsung membenturkan kepala bagian belakangnya dengan keras ke muka pria itu dan itu berhasil mengenai hidungnya yang mancung hingga berbunyi dan pisau itu terlepas dari tangannya.
"Argghhhh.... brengsek hidung gue!!" makinya sambil memegangi hidungnya yang berdarah.
Sabiq langsung mengejar dan menarik Sisil kepelukannya begitu pisau itu terlepas.
"Lo ngak apa-apa???" tanya Sabiq sambil membuka ikatan tangannya dan memastikan keadaan perempuan yang di cintainnya.
"Iya...gue baik-baik aja!" jawabnya lirih. "Abiq,, maafin gue kalau selama ini gue_"
"Ssttttttt... nanti ngomonganya. gue mau meluk lo dulu. gue udah lama kangen sama lo, lo dengarkan omongan gue saat di rumah sakit ?" tanya Sabiq. Sisil hanya mengangguk pelan. Sabiq memegang kedua pipinya Sisil lalu menatap Sisil secara intens kemudian ia menciumi muka Sisil ditempat-tempat yang ia inginkan sampai puas dan sampai di tempat yang paling tajam. ia mengecup bibir Sisir yang selalu berkata tajam mengecup dan mengecup hingga ia melumatnya dengan lembut, bibir mereka saling melumat menyatakan perasaan cinta dan rindu yang mereka pendam selama ini tanpa peduli teman-teman mereka yang melihat dan nyawa mereka yang masih terancam. tiba-tiba Sisi kaget dan melepaskan lumatannya
BLEZZZ....ARRGGGHHHHHH.....BRUKKK....
Pria yang hidungnya patah jatuh tak sadarkan diri dengan tubuh yang kejang-kejang. karna sengatan dari stun gun yang ditembakkan padanya. ternyata pria itu masih berusaha untuk menyakiti Sisil saat mereka sedang berciuman, untunglah polisi datang tepat waktu.
"Lho.... kamu???"
.......
__ADS_1
Maaf typo dan kelamaan update ππ