
Happy Reading....
####
"Kalau kalian ingin mengadu kekuatan bukan disini. tapi diarena, saat pulang Sekolah!!" ujar guru BK yang sudah marah.
"Ok..."jawab Sisil menyetujui. sambil berlalu pergi meninggalkan Syani yang masih berdiri di lapangan.
Nadia mendekati Syani dan membantu merapikan seragamnya yang sedikit kotor dan berantakan hingga membawa Syani ke kelas.
"Lo ngak papa??" tanya Nadia khawatir
"Ngak papa.." jawab Syani datar sambil melepaskan pegangan Nadia.
Syani berjalan kekelasnya dengan tatapan-tatapan tidak percaya dari murid-murid yang menonton pertunjukan gratis yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. diantara mereka ada yang semakin kagum pada Syani dan sebagian lagi kebalikannya. paras Syani yang cantik terkadang menjadi bumerang untuknya. namun ia tetap bersyukur memiliki wajah yang elok dipandang.
****
Syani sampai dikelasnya yang sama berisik dan hebohnya saat ia dilapangan. teman-teman sekelas Syani menatapnya dengan wajah yang penuh selidik. Syani duduk di bangkunya sambil memasang handset untuk menutupi kata-kata yang tidak ingin ia dengar di telinganya.
Siapa dia sebenarnya, apa tujuannya menyamar, dari keluarga mana dia, seberapa kaya orang tuanya, apa hubungannya dengan kepala sekolah, kata-kata dan pikiran-pikiran itu meng judge Syani saat dikelas.
Kia menatap punggung Syani yang ada didepannya dengan tatapan serba salah, ia tidak tau harus berbuat apa. Kia akan sangat senang membully Syani jika saja Syani bukan penolongnya.
"ia...Kia...lo kenapa??" tanya Lusi heran melihat Kia melamun.
Kia kaget dan tersadar dari pikirannya yang dipenuh dengan nama Syani. "Ya, apa??" jawab Kia bingung.
Lusi semakin heran melihat Kia yang sebelumnya tidak pernah melamun.
"Gue...ta..di..na..nya..lo..ke..na..pa!" eja lusi yang melihat keanehan pada Kia setelah mereka mengetahui kebenaran tentang orang yang telah menyelamatkan nyawa mereka.
"Ooo... gue ngak kenapa-kenapa." jawab Kia yang pulih dari nama Syani. Lusi hanya diam mendengar jawaban Kia.
Nadia yang mengikuti Syani dari belakang hanya sanggup menemaninya dalam diam tanpa solusi dan komunikasi, hanya diam.
Jam pertama dimulai dengan ketegangan setelah buk Anita masuk kekelas dengan kertas jawaban dari ulangan dadakan yang diadakan kemaren.
"Diantara kalian semua hanya satu yang jawabannya benar-benar sempurna... Saya kecewa dengan kalian,, apa kalian hanya bermain dan tidak pernah belajar jika sudah berada dirumah!!" omelan selamat pagi yang buk Anita ucapkan begitu masuk ke dalam kelas. "ISYANI NAVFEA.... yang mana orangnya?" seru buk Anita dengan keras
"Saya buk... "jawab Syani mengangkat tangannya sambil menatap tajam buk Anita yang bercekak pinggang didepan kelas.
"Ooo... jadi kamu, yang bikin keributan di lapangan tadi!" celetuk buk Anita Sinis sambil mengambil lembaran kertas yang ada dimejanya.
"Bukan saya yang bikin keributan, tapi saya ditarik paksa ke tempat keributan." jawab Syani
Nadia dan murid lainnya tau siapa buk Anita dan apa hubungannya dengan Sisil. Sisil yang merupakan Putri tunggal dari seorang pengusaha ternama di Indonesia, ia akan mendapatkan apa pun yang ia inginkan dan akan berbuat apa pun yang ia mau. tidak peduli dengan perbuatan yang dia lakukan akan menyakiti seseorang atau tidak. Tidak ada yang berani dan mau berurusan dengan Sisil yang juga merupakan pentolan sekolah mereka. terutama Nadia yang masuk dengan beasiswa.
Nadia memegang tangan Syani, agar Syani berhenti berdebat dengan buk Anita yang memiliki hubungan dengan Sisil.
"Pintar juga ya kamu, saya kira kamu pitar di hitungan saja taunya pintar jawab juga kamu!" sarkas buk Anita sambil memberikan hasil ulangan Syani
"Wahhh....Dua kali kena' dia...!!"
"Mampus... dia baru dua hari sekolah, tapi sudah berurusan sama yang paling berkuasa disini...."
Bisik-bisik tidak mengenakkan kembali didengar Syani. "Kalian harus diberi pelajaran sesekali, agar kalian tau masih ada langit diatas langit.." batin Syani tersenyum smirk
"Saya punya otak untuk berpikir dan saya juga punya mulut untuk menjawab!" jawab Syani dengan gamblang.
Wajah buk Anita merah padam, malu dan marah menjadi satu mendengar ucapan dari murid barunya yang begitu gamblang menjawab perkataannya.
"Saya dengar kamu nanti tanding ya sama murid dari kelas lain?? semoga kamu mendapat pelajaran dari sana!!" sarkas buk Anita sambil tersenyum sinis.
Akhirnya pelajaran dimulai setelah perdebatan panas antara Syani dan Buk Anita Lestari berakhir.
"Kia... apa kita harus beri tau Sisil kalau Syani itu bisa beladiri??" tanya Lusi sedikit berbisik.
"Yang bukan urusan kita jangan ikut campur..."celetuk Kia membuat Lusi kaget.
"Kia berubah...."batin Lusi sambil terus menatapnya dengan tajam.
"Jangan tatap gue seperti itu.." ujar Kia yang menyadari tatapan Lusi padanya. " Gue mau berubah...tidak selamanya orang yang kelihatan lemah itu benar-benar lemah." tutur Kia.
Waktu dari pelajaran pertama berakhir. buk Anita pun keluar. Syani dan yang lainnya merapikan dan menyimpan peralatan sekolah mereka kedalam tas. kemudian mereka berlalu dari kelas menuju ke arah tujuan mereka masing-masing. kecuali Syani yang lagi bad mood.
"Lo ngak ke kantin?" tanya Nadia saat akan berdiri keluar.
"Ngak..." jawab Syani kemudian merebahkan kepalanya di meja.
Nadia keluar dari kelas menuju kantin sendirian seperti biasa. disana Nadia tidak mendapati satupun meja yang kosong, Nadia akhirnya memilih membeli empat buah roti isi, satu susu dan jus kemasan kotak karna Syani tidak menyukai susu. Nadia kembali ke kelas dan membagi rotinya dengan Syani.
Syani akhirnya memakan roti yang di beli oleh Nadia karna dipaksa.
Waktu sangat cepat berlalu, jam pelajaran kedua pun dimulai dengan tenang tanpa perdebatan hingga akhir pelajaran kedua berakhir. saat memasuki jam dari pelajaran terakhir tiba-tiba bel pulang berbunyi tanpa alasan. mereka kaget tidak percaya, namun Anak-anak dikelas tetap merapikan perlengkapan sekolah mereka agar tidak ada yang tertinggal. tiba-tiba... terdengar suara dari speaker yang langsung terhubung pada audio sound system dan amplifier di ruang operator tata usaha.
Tes..tes..tes.. pengumuman..pengumuman.... gue Tya,, Tya Agustin. hari ini sahabat gue SISILIA ADRIAN HUTAMA penguasa sekolah ini akan berduel melawan anak baru ISYANI NAVFEA... di gedung olahraga jam.... 15 menit lagi. ISYANI NAVFEA lo jangan kabur... gue ngawasin lo dari sini, ingat itu!!
Syani yang diperlakukan tidak baik hanya diam, bukan mengalah. tapi sekarang tidak lagi. lo jual, gue beli. Syani menyeringai mendengar pengumuman yang di sampaikan oleh orang yang menyeretnya tadi
Anak-anak kelas 12 IPA 1 kaget saat mendengar pengumuman yang di sampaikan oleh Tya, lalu menoleh ke arah Syani dengan tatapan mengintimidasi. Syani tidak ambil pusing dengan tatapan mereka.
"Kasian.....baru kamaren jadi murid baru."
"Itulah akibat kalau berurusan dengan Sisil..."
__ADS_1
"Nadia...antar gue ke gedung olahraga." ujar Syani yang sudah selesai merapikan buku-bukunya.
"Ngak..."imbuh Nadia cepat. walaupun belum terlalu dekat, ia tidak mau Syani terluka. "gue ngak mau lo terluka!"imbuhnya lagi
"Trust me..." ujar Syani sambil tersenyum
" I trust you but I don't want you to get hurt..." ujar Nadia
"Will not..." jawab Syani dengan pasti tanpa keraguan sedikitpun.
"Yakin?????" tanya Nadia memastikan
"Hemmmm..." dengan tersenyum smirk Syani melangkah keluar dan menuju gedung olahraga bersama Nadia yang masih ragu-ragu dengan Syani.
Mereka berjalan diiringi dengan tatapan mata yang lirih dan ironis, seakan-akan mereka tidak akan melihat Syani lagi untuk selamanya. Syani yang menyadari itu hanya tersenyum simpul. sebelumnya ia tidak percaya kalau disekolah favorit masih ada sistem diskriminasi.
Mereka sampai di pintu masuk gedung olahraga yang sudah penuh oleh murid-murid yang di wajibkan menonton sambil berdesak-desakan.
"Dia sudah datang...." teriak seseorang dari arah pintu.
Mereka semua menoleh ke arah pintu masuk. murid yang ada didepan Syani yang menutupi jalannya mundur agar Syani bisa masuk.
Syani masuk dengan santai tanpa keraguan sedikitpun diderap langkahnya. lalu maju ke tengan arena, dimana Sisil sudah menunggunya dengan seragam karate dan sabuk hitam di pinggangnya, disana juga ada Kepala Sekolah yang tidak bisa berbuat apa-apa, guru bk, guru olahraga dan tim medis yang akan merawat Syani langsung saat cidera (menurut Sisil).
"Apa maksud lo seperti ini?" tanya Syani begitu sampai di depan Sisil.
"GUE NGAK SUKA ORANG KAYAK LO SEKOLAH DISINI. LO YANG TIDAK MENEMPUH KELAS 11 TAPI SETARA DENGAN GUE... NO..NO..NO... GUE NGAK TERIMA... APA LAGI UMUR LO BARU MENGINJAK 15 TAHUN." tutur Sisil yang menggema di gedung olahraga.
"APAA????" Murid-murid yang lain kaget mendengar penuturan Sisil, lalu bertatapan dengan satu sama lain yang berdiri disebelah mereka.
"Apa maksudnya..."
"Iya,,apa maksud Sisil kenapa anak umur 15 bisa kelas 12.."
"Apa dia menyogok Kepala Sekolah???"
"Itu tidak mungkin..."
"Iya,,Kepaka Sekolah tidak seperti itu."
"Ya,,, umur gue baru 15 tahun... dan gue ikut kelas Akselerasi di sekolah sebelumnya." jawab Syani dengan menatap Sisil dengan tajam. "gue ngak suka cari keributan..." ujar Syani.
"Gue yang buat peraturan disini, bukan lo!" ujar Sisil sombong sambil berdecak pinggang.
"Apa yang gue dapat dari semua ini??" tanya Syani mulai terpancing.
"Kalau lo sanggup bertahan selam pertandingan tanpa pingsan sekalipun, lo bisa tenang sekolah disini.."
"Kalau gue menang??"
"DEAL..." ujar Syani menerima kesepakan mereka.
Syani mengganti bajunya dengan seragam karate di ruang ganti dan kembali ke arena begitu selesai.
Sisil mengambil kuda-kuda begitupun dengan Syani. tanpa menunggu waktu Sisil melayangkan tendangannya yang keras ke arah kepala Syani, untunglah dengan cepat Syani menangkisnya sebelum tendangan Sisil yang keras itu sampai di kepalanya.
"Auughhhhh..."Syani sedikit meringis, menahan rasa sakit ditangannya yang ia gunakan untuk melindungi kepala.
Dahi Sisil menyeringit..."Tendangan gue di tangkis!!" batinya kaget. Semua murid dan para guru sama kagetnya dengan Sisil.
"Astaga....dia menangkis tendangan Sisil!!"
"Siapa sebenarnya dia??"
Sisil melayangkan tendangan samping dan itu berhasil mengenai perutnya.
BUAKKK....
"Arkkhhh.... brengsek.." maki Syani . Sekarang giliran Syani yang menyerang Sisil duluan dengan gerakan tipuannya.
Sisil yang melihat Syani akan menyerangnya ke arah kepalanya dengan cepat membuat gerakan menangkis.
BUAKKK.....ARRGGHHH....
Syani melayangkan tendangannya dengan keras ke rusuk Sisil, hingga membuatnya terjungkal dan meringkuk kesakitan. ia tidak menyangka akan mendapatkan gerakan tipuan dari anak yang baru masuk dua hari di sekolahnya itu.
"Aakhhh...Sisill..." teriak ketiga sahabat Sisil. mereka khawatir melihat Sisil meringkuk sambil memegangi rusuknya.
"Dia hebat... benar-benar hebat." batin guru olahraga dalam hati, yang juga merupakan seorang Shihan di INKAI. ia sekarang tahu kalau Syani tidaklah seperti yang terlihat. Syani menyimpan potensi yang sangat besar dalam dirinya.
Syani menyeringai melihat Sisil memegangi rusuknya dengan kesakitan.
"Hanya kebetulan aja udah sombong..." celetuk salah satu murid yang duduk di kursi penonton.
"Lo salah, itu bukan kebetulan.kalian saja yang tidak tau dia siapa." sahut Kia. dia tak berani membalas sahutan Kia karna dia tau siapa Kia dan seperti apa keluarganya.
Sisil benar-benar sudah marah, setiap serangan yang ia layangkan berhasil di patahkan dan di tangkis dengan mudah oleh Syani dan itu berhasil membuatnya murka. "Gue harus melakukan tiga serangan sekaligus." batin Sisil yang sudah kalap. Dengan cepat Sisil melakukan rencananya dan itu berhasil, Syani terluka hingga mengeluarkan darah dari hidungnya.
"ITU BARU SISIL..." seru murid yang menonton memberi semangat.
Nadia kaget dan khawatir melihat Syani terluka, dia tak bisa berbuat apa-apa kecuali doa. " Ya...Allah,, tolong lindungilah Syani." doanya dalam hati.
"Aaahhhh... sial,, gue terlalu banyak main sekarang." gumam Syani. " gue harus membuatnya jatuh dengan sekali serangan."
Sisil yang juga berpikiran sama dengan Syani mulai membuat ancang-ancang, teknik apa yang akan ia pakai untuk menjatuhkan Syani dengan sekali serangan.
__ADS_1
Syani yang merasa bermain-main mulai serius. ia mengambil nafas dan membuangnya pelan-pelan. Sisil yang merasa melihat celah langsung menyerang tanpa meperhitungkan segala kemungkinan.
Tiba-tiba Sisil roboh setelah mendapatkan seranga bertubi-tubi dari Syani, Sisil memegang dadanya, ia merasa sesak secara tiba-tiba. tim medis yang menyadari perubahan Sisil dengan cepat mengejarnya, dia membuka ikatan sabuk dan seragam Sisil, tim medis juga menyingkap baju Sisil untuk memeriksa apakah terjadi gejala Pneomothorix atau tidak, dan syukurlah hal yang paling dia takuti tidak terjadi.
Semua guru dan teman satu sekolah tidak percaya kalau Sisil yang memegang sabuk hitam dalam karate dan juga merupakan pentolan sekolah mereka bisa roboh dengan gerakan yang seperti menari.
Buk Anita yang melihat keponakan kesayangan sekaligus satu-satunya roboh membuatnya panik. ia berdiri dan langsung mengejar Sisil begitupun dengan guru-guru dan para sahabat Sisil berhamburan mengejar Sisil.
"Bagaimana kondisi ponakan saya?" tanya buk Anita semakin panik begitu melihat Sisil yang mulai menutup matanya secara perlahan.
"Kemungkinan besar patah tulang di rusuk lengan kanan dan kaki kiri, tapi untuk lebih memastikannya sebaiknya dia harus melakukan MRI di Rumah Sakit." ujar tim medis menerangkan kondisi Sisil sambil memasang penyangga pada kaki dan lengan Sisil yang patah. "Dan juga, Sisil pingsan karna tidak tahan dengan rasa sakit akibat patah tulang."
Tidak beberapa lama kemudian Ambulance datang bersama barang pesanan tim medis. Sisil di angkat ke atas brankar dengan hati-hati dan di dorong masuk ke dalam Ambulance.
Ambulance pergi di iringi dengan tatapan tidak percaya, kalau pentolah Sekolah mereka yang di kenal garang dikalahkan dengan mudah oleh anak baru.
Tya, Rika dan Milla mengiringi Ambulance yang membawa Sisil dari belakang. Mereka tidak ingin terjadi apa-apa dengan sahabat yang paling mereka sayangi.
****
Sesampainya di rumah sakit Sisil langsung di bawa ke ruang pindai bersama Tim medis, Dokter dan Dokter Spesialis Radiologi untuk melakukan MRI pada tubuhnya.
Setelah 2 jam Dokter, Dokter Spesialis Radiologi dan Tim medis keluar .
"Bagaimana ponakan saya Dokter?" tanya buk Anita was-was.
"Syukurlah dia tidak apa-apa. saya sudah diberi tau dari mana asal cideranya."ujar Dokter Spesialis Radiologi saat melihat buk Anita akan memberi keterangan.
"Pasien mengalami retak di tulang rusuknya, dan patah tulang di lengan kanan serta kaki kiri. ponakan anda masih beruntung nyonya.!"
"Maksudnya??" tanya buk Anita heran
"Pasien memang diserang di bagian titik vitalnya. tapi lawan dari pasien menahan kekuatan dari serangannya, agar pasien tidak mengalami cidera yang sangat fatal.itu yang saya maksud dengan beruntung." ucap Dokter menerangkan dan itu berhasil membuat buk Anita terdiam. karna sebelum berduel buk Anita meremehkan murid barunya yang bernama Syani.
*
Setelah Ambulance pergi Syani di kerubungi oleh anak-anak yang merasa bahagia, karna selama ini tidak ada yang berani melawan Sisil. mereka sering di tindas oleh Sisil dan sahabatnya.
Syani yang tidak betah di kerubungi oleh orang-orang yang yang bahagia di atas kesakitan orang lain membuatnya jemu dan tak ingin berlama-lama berkumpul bersama wajah-wajah orang yang munafik.
Syani berdiri sambil melangkah ke arah ruang ganti dan diikuti oleh Nadia dari belakang. baru beberapa langkah Syani berhenti dan
BRUUKKK....
"SYANII...."Nadiak berteriak histeris terpaku melihat Syani terbaring pingsan di lantai gedung olahraga.
Anak-anak yang tadi berbahagia menoleh ke arah Nadia dan kaget begitu melihat Syani terbaring dilantai, mereka langsung mengejarnya begitu juga dengan para guru yang masih berada disana.
"Bawa dia ke UKS cepat!!" ujar salah seorang guru.
Ketua Osis yang menolong Syani pada hari pertama langsung mengangkat Syani dan membawanya ke UKS. Untunglah petugas kesehatan masih berada ditempatnya, jadi Syani langsung di periksa.
"Asam lambungnya sedang naik, makanya dia pingsan." ujar petugas kesehatan. membuat Nadia dan ketua osis merasa lega. "saat dia siuman nanti, berikan dia sesuatu yang bisa dimakan."imbuh petugas kesehatan lalu pergi meninggalkan mereka bertiga.
Ketua Osis pergi keluar meninggalkan Syani bersama Nadia di ruang kesehatan. tidak lama setelah itu ia kembali dengan kantong kresek yang berisi makanan.
"Tolong nanti berikan padanya setelah siuman, lo juga ikutan makan. maaf gue harus pergi dulu karna ada keperluan.."
"Iya gak papa...thanks."ujar Nadia berterimakasih
Setelah 10 menit Syani sadar dan keheranan dengan keadaan di sekelilingnya. ia belum pernah kesana.
"Kita si UKS." imbuh Nadia yang melihat Syani keheranan. Nadia memberikan makanan yang dibawa ketua Osis pada Syani.
Setelah merasa baikan dan perutnya juga sedikit terisi, Syani dan Nadia berpamitan pulang dengan guru dan beberapa temannya yang menemui Syani di UKS.
Tin...tin... Syani membunyikan klason motornya, karna gerbang di tutup oleh penjaga sekolah.
"Mau pulang ya neng?" tanya penjaga sekolah dan di jawab dengan anggukan oleh Syani. "Hati-Hati di jalan dan jangan ngebut." pesannya.
"Iya... terimakasih ya pak." jawab Syani tersenyum tipis kemudian pergi meninggalkan sekolahnya.
"Berilmu tinggi tapi tidak sombong." ucap penjaga sekolah yang kagum dengan sikap Syani.
Begitu sampai di rumah Syani langsung kekamar dan membersihkan tubuhnya dari keringat kemudian menjalankan kewajibanya yang sudah sangat terlambat. begitupun dengan Nadia.
Setelah Syani menyelesaikan kewajibannya, ia tidur diatas ranjang sambil menghidupkan musik kesukaannya. sedangkan Nadia memasak makan siang yang sudah mereka lewatkan.
*
Dirumah Sakit orang tua Sisil yang baru datang khawatir melihat kondisi anaknya.
"Laporkan dan tuntut anak itu.." teriak mama Sisil murka
"Maaf sayang kita tidak bisa melakukannya. karna putri kitalah yang menantangnya." imbuh papa Sisil berusaha menenangkan istrinya. ia sudah mendengar semuanya dari buk Anita dan Kepala Sekolah.
"Mari kita pulang dulu, untuk mengambil kebutuhan Sisil."ujar papa Sisil "dan kau Anita, pulang dan istirahatlah. Sisil sedang tidur jadi tidak perlu ditunggui."
Papa dan Mama Sisil serta buk Anita pergi meninggalkan ruangan Sisil tanpa penjaga, begitupun dengan sahabat Sisil yang pergi begitu orang tua Sisil datang.
Kritttt... begitu keluarga Sisil pergi seseorang membuka dan masuk ke dalam ruang rawat Sisil dan mendekatinya yang sedang beristirahat.
"Gue memang benci sama lo, tapi gue juga ngak suka melihat lo seperti ini. gue kesini cuma ingin kasih sesuatu, sesuatu yang paling lo benci yaitu nasehat. di atas langit masih ada langit dan di atas orang hebat masih ada orang yang lebih hebat. umurnya memang dibawah kita, tapi perjalanan hidup tidak sama seperti kita. gue yakin lo masih bisa dengar omongan gue walaupun lo dalam pengaruh obat dan gue harap lo berubah. gue sayang sama lo. gue pergi dulu ya.semoga lo cepat sembuh. I love you and I miss you so much...
Tanpa sadar air mata Sisil jatuh tidak lama setelah suara itu pergi. dia sangat tau dengan suara itu, suara yang sudah sangat sangat lama dirindukannya.
__ADS_1
.....