
ASSALAMMUALAIKUM...READER.... Tolong beri dukungannya, like and komennya juga. kalau bisa di favoritin juga. maaf kalau diriku meminta banyak....ππ
###
Setelah melakukan CT Scan Syani di bawa ke ruang pemulihan, dan disana Syani sudah di tunggu oleh dua keluarga.
"Sekarang pasien sudah boleh dilihat, tapi tidak boleh ada yang berisik dan juga tolong jangan masuk sekaligus." ujar Dokter sambil mendorong brankar Syani ke dalam ruang pemulihan dan memperbaiki letak infusnya. kemudian dia meninggalkan ruangan dan di antar oleh Abi.
"Bisa saya bicara dengan Bapak sebentar?" tanya Dokter dengan wajah yang sangat serius. "kita bicara disana saja." tunjaknya ke arah lorong yang agak sepi.
"Baik."jawab Abi. dengan langkah yang gugup Abi mengikuti langkah Dokter tersebut dengan perasaan yang was-was, akan hasil yang dia dengar nanti.
"Pasien terluka dibagian perutnya dengan pisau kerambit, dari luar lukannya memang kelihatan kecil tapi itu tidak benar. untung saja pisau itu tidak sampai memutuskan usus pasien. punggungnya juga lebam, syukurlah tidak ada yang fatal saat kami melakukan CT Scan. itu saja yang ingin saya sampaikan ke bapak, saya permisi dulu." ujarnya kemudian pergi meninggalkan Abi.
Saat melihat wajah Syani yang pucat dengan jarum infus yang menempel dipunggung tangannya membuat Faiz sangat merutuki kebodohannya.
"seandainya gue gak panik saat geng motor itu mengeluarkan pisaunya, pasti lo gak akan terbaring seperti ini sekarang." batinya kemudian pergi dengan perasaan bersalah.
****
Keesokan Paginya Syani baru sadar dari pengaruh obat biusnya. Dia kaget saat mendapati dirinya berada di Rumah Sakit dan keberadaan orang tua Adibah yang tidur disamping brankarnya dengan posisi duduk dan menjadikan tangannya sebagai bantalan.
Syani yang melihat perhatian orang tua Adibah merasa sedih dengan nasibnya. Dia kehilangan Ibunya, diusir dari rumah karna bukan anak kandung dan lost contact dengan Benni yang sudah mengangkatnya sebagai adik. tidak ada yang benar-benar tulus menyayanginya, Mungkin hanya keluarga Adibah yang benar-benar menyayanginya.
Miris memang, hidup sebatang kara tanpa keluarga yang bisa dijadikan sandaran untuk mengadu.
Ummi langsung memeluk Syani saat dia bangun dari tidurnya dan melihat Syani yang sudah sadar.
"Kamu sudah siuman?"tanya Ummi memegang kedua pipi Syani sambil mengusap dan menciumi kedua pipinya. Syani hanya menganguk tersenyum. Ummi sangat bahagia saat meliihat senyuman yang menghiasi wajah Syani.
Selama 1 minggu Syani di rawat di RSUP Bandung, selama itu juga Ummi dan Abi menemani Syani saat malam. Teman-teman kelas Syani datang silih berganti kecuali Faiz yang datang secara sembunyi-sembunyi. karna perasaan bersalahnya, Faiz selalu datang di saat Syani sedang istirahat.
Setelah Syani keluar dari Rumah Sakit dia dibawa pulang ke Rumahnya Adibah untuk sementara waktu hingga dia sembuh total.
1 minggu lamanya syani tinggal di Rumah Adibah dengan perasaan yang bercampur aduk antara perasaan yang malu dengan keluarga Adibah dan dengan Benni yang lost contact.
****
Hari ini Syani akan kembali ke Sekolahnya setelah 2 minggu dia tidak masuk.
"Ummi...Abi...Terimakasih sudah merawat Syani selama ini. Isyaallah hari ini Syani akan balik ke rumah abang sepulang dari sekolah." ucap Syani sambil memeluk kedua orang tua Adibah. "Syani gak mau ngomong banyak-banyak, karna Syani akan sering main kesini." ujarnya lagi sambil tersenyum bahagia.
"Tepat janji ya!!" ujar Ummi dengan mata berkaca-kaca. Syani hanya mengaguk.
"Udahh...jangan lebay dehhh, kayak gak akan ketemu aja." timpal Adibah sambil merangkul Syani. "Yuk berangkat!" ajak Adibah.
"Ummi...Abii...Assalammualaikum." ucap Syani dan Adibah membaca salam sambil mencim tangan Ummi dan Abi bergantian.
__ADS_1
Syani dan Adibah menaiki motor mereka masing-masing memutar kuncinya dan BRUUMMM....BRRUUUMMM..... mereka melajukan motornya dengan normal.
****
Sesampai disekolah mereka memarkirkan motornya disamping motor yang biasa dipakai Faiz dan langsung menuju kelas mereka.
Didalam kelas anak-anak heboh saat melihat Syani yang sudah 2 minggu tidak masuk sekolah.
"Syani....apa kabar lo, lo udah bener-bener sehat, gue kangen sama lo, lo jangan sakit lagi ya, gue gak suka."oceh Edward Edowardo atau Edo. yang mendadak sok akrab
"Jangan sok Akrab deh. keamanan, tapi kok cara ngomongnya aneh." celetuk Adibah.
Syani yang sudah rindu dengan suasana sekolah hanya tersenyum bahagia.
"Udah lama gak liat yang beginian." batin Syani.
"Gue kangen sama lo... pa lagi Faiz tuh. ya gak Iz..?" ucap Edo sambil menggoda Faiz dan mengangkat-angkat alisnya.
Uhukkk....uhuuukkk...Faiz keselek dengan minumannya karna mendengar celotehan Edo.
"EDOOO.... sini lo,, gue cekek." Faiz yang merasa kesal langsung melempari Edo dengan buku yang ada ditangannya.
Syani yang merasa Faiz menghindarinya tanpa dia ketahui apa salahnya, membuat Syani kesal dengan sikap Faiz.
"Faiz..." panggil Syani. "Lo gak inget kata-kata gue malam itu?" Bentak Syani. karna Faiz tidak merespon dan asik dengan bukunya yang lain membuat Syani kesal lalu mendekati Faiz.
Dengan terpaksa dia meninggalkan bangkunya dan duduk dibangku yang lain.
"Faiz...lo kenapa ngehindarin gue?" tanya Syani sambil melihat yang masih tetap diam.
"lo gak ingat kata-kata gue malam itu?" tanyanya lagi.
Saat Faiz akan menjawabnya bel masuk berbunyi dan disusul dengan kedatangan Pak Tama. Karna melihat pak Tama sudah berdiri dikelas Syani kembali kebangkunya.
"Syani..?" panggil Pak Tama yang kaget saat melihat Syani yang sudak kembali kesekolah.
"Ya Pak.."
"Kamu sudah sembuh??"
"Sudah Pak,, emangnya bapak mau saya gak sembuh-sembuh.."
"Bukan itu maksud Bapak..maksud Bapak, apa kamu sudah benar-benar sembuh total?" tanya Pak Tama memastikan kalau Syani benar-benar sudah sembuh serta bisa menerima pelajaran dan mengejar ketinggalannya.
"Alhamdulillah sudah Pak..." jawab Syani sambil tersenyum simpul.
"Syukurlah kalau sudah sembuh total. nah,,, sekarang kita bisa memulai pelajaran kita yang pertama." Pak Tama dengan semangat memberi pelajan pada muridnya.
__ADS_1
Syani yang ketinggalan Pelajaran selama 2 minggu harus ekstra dan fokus dalam pelajaran atau dia akan ketinggalan dari teman-temannya.
Sedangkan Faiz yang sudah merasa lega bisa melihat Syani memulai sekolahnya hanya sangup mencuri pandang. Rasa bersalah karna membuat Syani terluka membuatnya tidak sanggup untuk menatap dan bicara dengan Syani.
3 jam kemudian jam istirahat berbunyi. anak-anak yang tidak sarapan saat berangkat kesekolah dengan cepat berhamburan keluar kelas menuju kantin karna cacingnya yang sudah berbunyi.
Saat Faiz berdiri dari bangkunya, Syani dengan cepat memanggilnya untuk tinggal
"Faiz..lo belum jawab pertanyaan gue yang tadi." sambil melangkah ke bangku Faiz, Syani kembali menoleh ke arang bangkunya dan melihat ke Adibah yang masih menunggu untuk pergi kekantin.
"Dibah...lo duluan ke kantin ya, nanti gue nyusul lo kekantin." ucap Syani lalu kembali ke arah Faiz dan duduk di sebelahnya.
"Iya...susul gue nanti ya. ingat lo masih harus minum obat."
"Heemmm..."
Adibahpun keluar dari kelasnya dan berjalan bersama temannya yang lain yang sama-sama kearah kantin.
"Faiz...kenapa lo diemin gue, emang gue punya salah?"tanya Syani sambil menghadap dan metap tajam mata Faiz.
Faiz yang ditatap tajam oleh Syani membuatnya sedikit takut, karna Faiz sudah melihat seperti apa Syani saat diluar sekolah.
"Lo gak salah, tapi gue yang salah." jawabnya sambil menunduk tidak berani menatap mata Syani.
"Maksud lo?" tanya Syani
"Kalau waktu itu gue gak Panik, lo gak bakal terluka." jawabnya.
"Gue gak bakal terluka??" tanya Syani sambil tersenyum geli. kemudian mengenggam tangan Faiz.
"Hemmm.."
"Lo pikir gue tuhan. denger ya. dalam bertarung, tidak ada yang namanya tidak terluka. lo ngertikan!"
"......"Faiz hanya diam. dia tidak kenjawab perkataan Syani karna apa yang dikataknnya memang benar, dalam bertarung tidak ada yang namanya terluka.
"Udah jangan diem...ntar kesambet. gue mau kekantin perut gue udah lapar.."ujar Syani sambil berdiri dan melahkah keluar.
"Syani..." panggil Faiz sambil mendekati Syani. tiba-tiba
CUP......
###
Maaf typo.. walupun membosankan..
tetap baca ya..ππ
__ADS_1