Identitas

Identitas
Menolak tawaran...


__ADS_3

Happy Reading


####


Syani pergi dari rumah sakit setelah ia berpamitan pada tiga sahabatnya yang masih berdomisili di Bandung. namun tidak beberapa lama lagi mereka akan kembali berkumpul setelah mereka menyelesaikan sekolahnya. dan saat ini Syani duduk manis di samping Rayan yang bersikeras untuk mengantarnya sendiri ke Jakarta. sampai-sampai Sisil merasa kecewa, ia sengaja menunda kepulangannya bersama yang lain agar mereka bisa balik ke Jakarta bersama Syani kecuali Sabiq yang merupakan ketua Osis dan harus mendahulukan kewajibannya dari pada kepentingan pribadi.


Sisil terpaksa mengikuti kemauan Rayan yang sedikit posesif karna mereka baru jadian. Sisil mengikuti mobil Rayan dari belakang bersama sahabatnya dan juga Kia, Lusi serta Nadia yang sekarang juga menjadi sahabatnya.


Drtttt... drtttt... drtttt...


Tiba-tiba Ponsel Syani berbunyi, sebuah notifikasi khusus berita yang Syani pasang masuk keponselnya. Syani mengeluarkan ponselnya dari dalam dashboard. ia sengaja menyimpan ponselnya disana agar tidak kesulitan mengambilnya di dalam ransel jika berbunyi. kemudian Syani membacanya dengan pelan,


''Berita terbakarnya depot dan kilang minyak tersiar secara simpang siur di berbagai media dan stasiun berita yang membuat Kepolisian setempat pusing dan akhirnya mereka terpaksa melakukan konferensi pers secara live.''


Raut wajah Syani langsung berubah kemudian tersenyum miris setelah ia membaca berita yang tersirat di ponselnya.


"Hohhhh...." Syani melengos dan menyimpan ponselnya kembali dengan kasar.


Rayan yang sedang fokus mengemudi tanpa sengaja melihat perubahan ekspresi wajah Syani yang belum pernah dilihatnya semenjak ia mulai dekat dengan Syani. Rayan merinding, ia merasakan hawa dari aura negatif yang mengerikan keluar dari diri Syani. waktu mereka bertarung melawan Earnest, Syani bahkan tidak mengeluarkan aura seperti ini sedikitpun. aura membunuh yang seharusnya tidak ada dalam diri seorang gadis yang bahkan belum menapaki usia enam belas tahun. Rayan menggenggam tangan Syani, ia mencoba meredakan amarah Syani yang saat ini sedang membuncah.


"Ada apa?" tanya Rayan dengan hati-hati sambil tetap fokus dengan kemudinya.


Syani menghela nafas berat "Nothing!" jawabnya dengan nada dingin. Rayan kaget, lalu kembali normal setelah ia meyakini dan mengingatkan dirinya kalau Syani bukanlah gadis polos seperti wajahnya melainkan seorang perempuan tangguh yang amat ia kagumi dan ia sayangi.


Syani diam beberapa saat dengan pandangan lurus kedepan dengan ekspresi yang tidak berubah sedikitpun. entah apa yang ada di pikirannya hingga membiatnya larut dalam dunianya sendiri.


HUFFFFF..... Syani kembali menghela nafasnya dengan kasar, ia frustasi dengan isi pikirannya sendiri hingga membuat Rayan tidak bisa mentolerir dengan sikap diamnya Syani.


Rayan menepikan mobilnya. lalu memutar tubuhnya menghadap Syani dan megang kedua pipinya hingga mata mereka saling bertemu.


"Jangan pernah memendam suatu masalah, itu hanya akan membuat lo semakin terbebani, lebih baik lo berbagi masalah dengan orang yang bisa lo percaya!" tutur Rayan dengan bijak dengan senyum yang menghias di bibirnya.


Syani tersenyum simpul lalu melepaskan kedua tangan Rayan yang ada di pipinya.


"Ok!!" jawab Syani pendek lalu mengambil kembali ponselnya. "anterin gue kesini!" pinta Syani sambil menunjukkan sebuah alamat yang ternyata adalah kantor Polsek dimana tempat pamanya Kia bertugas. Rayan memutar arahnya mobil ke tempat yang di tuju oleh Syani.


Sisil yang mengikuti Rayan dari belakang menjadi heran melihat Rayan putar arah yang berlawanan dari arah tujuan mereka.


"Non Sisil... ini gimana ceritanya,, kita jalan terus atau mengikuti mereka?" tanya salah satu sopir pribadinya Sisil yang menepi karna ragu.


Sisil terdiam, ia juga ragu harus mengikuti Rayan atau jalan terus ke Jakarta.


"ikutin aja pak!" ujar Tya menimpali. "kalau itu masalah pribadi mereka pasti bilang ke kita, tapi ini tidak kan!" ujarnya lagi.


Sisil manggut-manggut seolah-olah mengiyakan perkataan Tya. "oke,, ikuti mereka dan jangan sampai ketinggalan!" ujar Sisil memerintah. sang sopirpun mengikuti perintah dari putri majikannya.


Tiba-tiba Kia bersuara "Lho... ini kan_?"


"Kenapa,, lo tau Rayan dan Syani mau kemana?" tanya Sisil memotong perkataan Kia dengan cepat dan yang lain pun melihat ke arah Kia.


"gue pernah lewat jalan sini. ini jalan ke arah kantor tempat om gue bertugas." jawab Kia dengan wajah heran.


"HAH.....???? Ngapain mereka kesana!!" seru Sisil, Lusi dan Tya heran sedangkan Rika dan Milla sudah ada di alam mimpi mereka karna kurang tidur kecuali Nadia yang masih sangat canggung dengan semua hal yang sudah terjadi padanya. kedekatannya dengan Syani saja masih membuatnya canggung apa lagi sekarang, menjadi sahabatnya Sisil yang merupakan pentolan di sekolah mereka.


*


Tidak seberapa jauh dari lokasi Syani sekarang, beberapa orang pria paruh baya berpakaian seragam bersama Kapolda dan Kompol Endriko tengah sibuk menduga-duga di dalam ruangan yang dihiasi berbagai macam buku dan piagam penghargaan di lemari pajangan.


"Kau yakin dia akan datang?" tanya salah satunya pada Kompol Endriko pamannya Kia.


"Maaf pak,, saya tidak terlalu yakin dia akan datang." jawabnya dengan gamblang. "yang saya tau dia keluar dari rumah sakit hari ini." ujarnya kemudian.


Mereka terdiam setelah mendengar penuturan Kompol Endriko. namun tidak lama setelah itu,,

__ADS_1


Tok... tok... tok...


Pintu ruangan Kompol Endriko di ketuk dari luar.


"Masuk...!!" ujar Kompol Endriko dari dalam


AKP Ridho bawahan dari Kompol Endriko masuk setelah ia di perintah.


"Maaf saya menyela pembicaraan Bapak..." ujar Ridho dengan sopan. "tapi di ruang tunggu ada seorang pria yang mengklaim dirinya sebagai pemilik Safe Deposit Box dari BANK yang di bobol beberapa hari yang lalu."


Semua yang ada di ruangan berdiri karna kaget. mereka tidak menduga akan bertemu dengan orang yang selama beberapa hari ini mereka cari.


"Bawa dia kesini cepat!!" sahut salah satu pria paruh baya itu menimpali.


****


Begitu sampai di tempat tujuan Syani langsung turun dari mobil dengan di temani oleh Rayan dan sahabatnya yang lain yang menyusulnya dengan cepat. Syani masuk ke dalam bersamaan dengan keluarnya AKP Ridho untuk menjemput pria pemilik safe deposit box.


"Kebetulan sekali kamu sudah datang." ujar AKP Ridho begitu melihat Syani masuk. "mereka sudah menunggu kedatanganmu." ujarnya kemudian.


Semua sahabat Syani terdiam. mereka tidak percaya kalau kedatangan Syani sudah di tunggu.


"Apa maksudnya kalau Syani sudah di tunggu!" ucap Sisil penasaran.


"Kita tunggu disini aja, nanti Syani pasti cerita!" imbuh Rika yang menahan rasa kantuknya.


Syani, Rayan dan pria itu mengikuti langkah AKP Ridho menuju ruang Kompol Endriko.


"Kamu tunggu disini." ucapnya pada Rayan begitu mereka sampai di depan pintu ruangan Kompol Endriko.


"Maaf, saya tidak bisa membiarkan Syani masuk ke dalam sendirian tanpa saya temani." ujar Rayan dengan nada dingin sambil memegang tangan Syani.


"Ini sudah peraturan, yang tidak berkepentingan dilarang masuk!" jawabnya dengan nada yang sama.


"Saya akan masuk kalau dia juga di izinkan masuk." imbuh Syani yang tidak suka berurusan dengan pihak berwajib.


Syani bukannya benci pada polisi namun dia kecewa saat laporannya di abaikan. sejak itulah Syani tidak suka berurusan dengan pihak berwajib dan lebih memilih melakukannya sendiri.


"Biarkan dia masuk!!" seru seseorang dari dalam yang mendengar perdebatan mereka.


AKP Ridho akhirnya masuk bersama Syani, Rayan dan Pria pemilik safe deposit box mengikuti perkataan atasannya yang menyuruh Rayan masuk menemani Syani.


"Selamat datang, dan maaf kami tidak sempat membesuk saat kamu di rawat." ucap salah satu pria yang sangat ingin bertemu dengan Syani.


Syani, Rayan dan pria itu duduk saling berhadapan seperti orang di interogasi.


Rayan menatap satu persatu wajah orang yang ingin bertemu dengan kekasihnya. lalu menggenggam tangan Syani dengan posesif karna perasaanya langsung buruk saat menatap mata salah satu dari mereka.


"Apa anda yang mengklaim sebagai pemilik safe deposit box?" tanyanya sambil menatap tajam pria tersebut.


"Bbenar... saya aadalah pemiliknya." jawabnya dengan gugup.


"Lalu kemana anda saat tim kami datang mencari anda?" tanya yang lainnya mulai mengintimidasi.


"Sa... saya takut, karna aada orang yang..yang selalu mengikuti saya sejak kepulangan saya da... dari singapura." jawabnya terbata-bata.


"Diikuti..." gumam temannya yang lain.


Kapolda dan Kompol Endriko hanya diam memperhatikan interaksi mereka, karna itu bukan lagi yuridiksinya.


"Lalu apa isi safe deposit box anda?" tanya mereka berbarengan


"Hanya... hanya dokumen. tapi saya tidak tau apa isinya." jawabnya dengan cepat

__ADS_1


Mereka kaget dengan kening yang mengkerut saat mendengar jawaban dari pria itu.


"Hanya karna sebuah dokumen mereka sampai membobol BANK..." batinnya.


"Apa anda tau seperti apa tampilannya?" tanyanya kemudian.


"Saya sempat mengambil gambar tampilan dokumen tersebut sebelum senyimpanya di BANK." jawabnya sambil mengeluarkan ponsel dan membuka galerinya, selanjutnya pria itu meletakkan ponselnya yang menampilkan photo dokumen yang di ambilnya.


"черный список и секреты высоких государственных чиновников... ( hernyy spisok i sekrety vysokikh gosudarstvennykh chinovnikov.) ucap Syani membaca tulisan yang tertera di ponsel itu dengan santai.


Kapolda, Kompol Endriko dan tiga polisi lainnya serta Rayan dan pria itu menatap Syani dengan kaget.


"Itu bahasa Rusia..." imbuh Syani dengan cepat karna ia tidak mau di tanyai macam-macam.


Rayan dan pria itu menatap takjub pada Syani. apa lagi Rayan, ia tidak menyangka kekasihnya bisa menguasai bahasa lain selain bahasa yang di dengarnya saat mereka bertarung dengan Earnest.


Kapolda, Kompol Endriko dan tiga lainnya semakin menatap Syani dengan tajam. dan Syani pun mengerti arti tatapan mereka.


"Keluarkan dulu dia sebelum anda meminta jawaban dari saya." imbuh Syani dengan cepat.


Merekapun mengikuti permintaan Syani. Kapolda meminta pria itu menunggu di luar sebelum mereka memanggilnya kembali.


"Apa maksud kamu menyuruh pria itu pergi?" tanya Kapolda.


"Sebelum saya menjawab pertanyaan Bapak-bapak sekalian, izinkan saya bertanya terlebih dahulu." tutur Syani dengan gamblang. "apa maksud dari klarifikasi yang anda lakukan?" tanyanya dengan tegas dengan mata yang memancarkan amarah yang sangat besar.


Rayan kaget dengan sikap Syani yang menurutnya terlalu berani bersikap seperti itu pada aparat negara.


"Untuk memancing kamu kesini." jawab mereka santai.


Rayan kaget lalu, "untuk apa kalian memancingnya kesini?" tanya Rayan menimpali dengan wajah yang mulai memerah menahan amarah begitupun dengan Syani.


"Kami dari petinggi BIN ingin merekrut dia sebagai agen." jawabnya dengan gamblang.


HAHAHA... AHAHAHAA..... Syani tertawa penuh ironi mendengar pernyataan dari mereka.


"Maaf,,, saya tidak tertarik dan tidak akan pernah menjadi agen atau apapun bersama anda." tolak Syani dengan tegas. "tapi saya akan menolong sebisa saya jika anda sekalian meminta bantuan pada saya." tuturnya kemudian.


Sisil dan yang lainnya mulai gelisah di luar, menunggu Syani dan juga Rayan yang belum juga kunjung keluar. merakapun mulai berasumsi yang tidak-tidak.


"Kenapa mereka belum keluar,,, apa jangan-jangan_"


"Lo jangan mikir yang ngak-ngak deh Mill!!" sanggah Sisil memotong perkataan Milla dengan cepat dengan nada yang meninggi. Milla kaget lalu menunduk karna takut dengan tatapan Sisil.


"Kita harus berpikiran positif dan jangan menduga yang tidak-tidak." tutur Rika menengahi dengan ekspresi yang mulai tegang.


"Gue yakin mereka pasti menanyakan kejadian yang kemaren!!" timpal Kia. Kia mulai takut apa yang akan terjadi padanya nanti dan orang tuanya pasti marah dan malu jika Kia berurusan dengan pihak berwajib.


Nadia, Lusi dan Tya terdiam dan juga takut. mereka mulai berpikir, apa yang akan mereka jawab saat giliran mereka datang untuk di tanyai. begitupun dengan Sisil yang tidak pernah takut dengan siapapun mulai berpikiran parno.


Sedangkan di dalam, Syani yang sudah menahan amarahnya memegang tangan Rayan lalu ia bangun dari duduknya.


"Ayo kita pergi!" ucap Syani sambil menarik tangan Rayan.


"Tunggu..." serunya dengan cepat kemudian membuka dan mengeluarkan selembar kartu nama dari dompetnya lalu memberikannya pada Syani. "Saya harap kamu bisa memikirkannya lagi."ujarnya lagi.


Syani pergi setelah ia menerima kartu nama tersebut. namun langkahnya terhenti saat di depan pintu.


"Daftar hitam dan rahasia pejabat tinggi pemerintah. itulah arti dari tulisan tersebut." ujar Syani lalu benar-benar pergi dari sana dengan cepat meninggalkan mereka dengan ekspresi yang tidak bisa di bayangkan lagi.


........


Like dan komennya ya....

__ADS_1


__ADS_2