
Niat Baik
Pembicaraan tentang niat baik 2 bulan yang lalu,
"Baby sitter?"
Perempuan berkerudung dengan kacamata kotak berparas bijak itu mencoba mencerna perkataan suaminya.
"iya, mau ya?"
"Ga perlu lah bi... insyaAllah umi bisa urus bang Fattah sama dek Faiza.."
"kasihan kamu nggak lulus-lulus kuliahnya, yah mau ya.."
seperti biasa dia selalu memaksa istrinya dengan cara yang halus, ditambah senyuman hangat yang dilengkapi kedua alis yang dinaikan sedikit.
Azqila Khoirunnisa kemudian mengangguk sambil memasang wajah ragu. Wanita berusia 26 tahun itu memang sedang melanjutkan kuliah S2 di Fakultas Sastra Inggris Universitas Indonesia. Ia telah menikah dengan Salman Al Faruq, seorang Dosen sebuah universitas islam itu sejak lulus dari Aliyah karena perjodohan keluarga. Keluarganya adalah salah satu anggota dewan. Sedang keluarga Salman adalah orang terpandang di kampung sana. Ayah Salman adalah tokoh yang sering menggaungkan islam dan kegiatan sosial, sehingga kampung menjadi hidup dan kompak. Suaminya adalah orang yang pintar, seumur hidupnya tidak pernah keluar biaya untuk sekolah, karena mendapat beasiswa. Salman juga seorang yang sangat sabar dan bijak dalam menghadapi segala kekurangannya. Ia mau membiayai perkuliahannya sejak ia mulai kuliah S1 di Fakultas Psikologi sampai sekarang..
Mereka dikaruniai dua anak. Yang Pertama Fatah berusia 3 tahun. Dan yang kedua Faiza berusia 4 bulan, yang sedang posesif posesifnya.
****
Dini hari ini ia sedang mengetik tugas kuliah, diberhentikan oleh tangisan Faiza yang kelaparan. Ia segera menyusui bayi perempuan mungil itu dengan mata yang persis seperti ayahnya.
__ADS_1
Tangan kiri memegang Faiza, sedang tangan kanan lanjut mengetik di laptop.
Tiba-tiba Bang Fatah yang sedang tidur menangis, meminta dibuatkan susu. Ia segera bangkit, namun langkahnya terhenti ketika Salman juga bangun dan menahannya sambil mengisyaratkan bahwa Salman lah yang akan membuatkan susu untuk abang Fatah.
****
Di jam yang sama seorang laki-laki yang bertinggi badan 178 cm dengan alis mata yang bersambung, sedang membaca kitab Al Wafi di bilik asrama sebuah sekolah tinggi agama islam. Sebuah terjemahan dari kitab berbahasa arab yang di jelaskan seorang dosen tadi siang. Ia adalah Ahsan Abdul Aziz, adik kandung dari Salman. Ia sedang merantau ke kota yang sama dengan tempat tinggal kakak tertuanya itu untuk menuntut ilmu di Fakultas Tarbiyah atau Manajemen Pendidikan Islam.
Laki-laki dengan wajah good looking yang biasa dipanggil Ahsan itu tampak yang paling lancar berbahasa arab dibanding teman-temannya yang lain. Itu dikarenakan dahulu saat di Pesantren SMA wajib menggunakan bahasa Arab untuk komunikasi sehari-hari.
Ia menjadi mahasiswa teladan di kampusnya, sebab itulah ia dipilih sebagai Ketua BEM.Jam sudah menunjukan pukul 3, ia langsung mengambil wudhu dan bergegas sholat tahajud. Selepas itu ia memakai jaketnya lalu Ia melangkah keluar asrama, kemudian meraih sepedanya polygon extrada keluaran tahun 2012 menuju sebuah pasar. Disanalah ia mengambil kue untuk dijual di kantin kampus. Sesampainya di kantin, ia taruh box kue di sebuah meja, lalu seperti biasa ia pasang harga di atas meja dengan papan tulis kecilnya bertuliskan 'Kedai Kue Kejujuran' Rp. 2.000. Lalu ia perjelas tulisan dibawahnya. Allah Maha Melihat, Silahkan taruh uang di kaleng. Ambil kembalian secukupnya jika butuh kembalian. Dengan cepat ia kembali ke asrama. Memiliki orang tua yang hanya buruh tani, membuat ia tidak tega meminta uang saku. Seperti kakaknya, Alhamdulillah selama ia hidup belum pernah mengeluarkan uang sepeserpun untuk biaya sekolahnya. Semuanya beasiswa. Jadi ikhtiar ini dilakukannya karena uang saku yang diberikan Bapak belum cukup memenuhi kebutuhannya, ditambah lagi jika ada tugas yang mengharuskannya mengeprint di warnet dekat sini.
Alhamdulillah hasil berjualan kue cukup menguntungkan... setidaknya ia bisa mendapat untung 75 rb perharinya. Meski hari sabtu ini hari libur, tapi mahasiswa ada olahraga gabungan hari ini, biasanya kuenya akan ludes dalam sekejap. Nanti jam 9 setelah olahraga ia akan lanjut bersepeda keliling Jakarta, dan mampir sebentar ke tempat kakaknya, menengok dedek Faiza dan abang Fattah yang lucu dan menggemaskan. Ia memang sangat menyukai anak bayi.
****
Sesampainya di rumah kakaknya, pukul 5 sore, Ahsan langsung disambut dengan kisah kakak Iparnya yang sedang kelelahan, sebab Qadarullah walhamdulillah, ia diamanahi bayi lagi di dalam kandungannya yang baru berusia 6 minggu.
Mereka bercerita pada Ahsan bahwa sedang mencari baby sitter. Dan ternyata Perjalanan menemukan Baby sitter sungguh tidak mudah. Teh Azqila, berkali-kali memberhentikan baby sitter di tengah jalan sampai ia hampir menyerah, namun Salman mencoba menasehatinya agar bersabar. Sementara Ahsan memaklumi kesibukan kakak iparnya akhir-akhir ini, dan anak seusia Bang Fattah yang tidak mau disambi pekerjaan lain itu sudah cukup menghasilkan empati yang banyak pada dirinya. Ia mengutarakan niatnya kepada kakaknya jika ada luang dari asrama akan lebih sering main bersama Fattah disini.
****
Keesokan paginya, Ahad seusai melingkar pekanan untuk sharing dan mengkaji Al Quran..
__ADS_1
Dari kejauhan terlihat Azqila sedang menarik paksa tangan anak pertamanya hingga seperti terpelintir tangan bocah itu, karena bocah itu terus saja menolak pergi dari becekan yang ada kotoran Ayamnya.
"Cepetan!!!" seru Azqila.
"Kaa.. jangan tarik Fattah seperti itu." ucap seorang akhwat yang telah lama ia bina tiba-tiba. Azqila tampak melepas tangan Fattah dengan kasar dan menatap akhwat itu tajam. Azqila, kini ia sadar ada yang mengetahui aibnya selain suaminya sendiri.. Dia adalah Laiqa Alifia. Dibelakangnya suaminya melihat semua itu dengan cemas.
"Kenapa ? kamu mau urusin dia? urusin tuh sana ee nya, dia juga nginjak kotoran ayam. Kakak mau benerin tesis yang ditumpahin susu UHT sama dia tadi, karena hari ini terakhir bimbingan."
Laiqa melihat Fattah yang bercucuran air mata, sesegukan sambil melihat tangannya yang belepotan kotoran ayam. Hari ini Kak Azqila baru saja mengisi pengajian kelompoknya di sebuah masjid.
Laiqa kebingungan, dari ujung matanya ia melihat Ustadz Salman hanya memperhatikan, dan seakan tak mau mengambil tindakan.
"Mulai dari kehamilan ketiga ini, kamu ambil alih sana kelompok pengajian, kamu saja yang bina. Nanti suamiku yang urus administrasinya, sepertinya kamu lebih pintar dari saya kan?"
"Tapi kak..."
Azqila tanpa peduli berlari sambil menggendong Faiza yang kini berusia 5 bulan, meninggalkan Fattah yang terus menangis seorang diri di depan Laiqa.
Bagaimana ini..
Dipandanginya anak laki laki kecil yang mengenakan koko berwarna denim itu dengan iba. Air mata yang terus bercucuran sampai membuat ia terbatuk batuk. Sementara Fattah terus memandangnya seolah matanya berbicara, "Ammah Laiqa tolongin..tolongin Fattah"
bagaimana ini, ia benar-benar kebingungan..
__ADS_1
Ayo komen dibawah biar aku makin semangat. Karena aku adalah ibu dari 3 bayi yang ga punya waktu banyak aaaakkk, kalo banyak yang komen aku bakal lanjutin novel ini disini .. bantu vote juga , insya Allah aku akan bubuhkan nilai2 islam dari kitab kitab yang keren disini nanti... ayo voteee ..atau komen next juga gapapa salam penuh perjuangan dari akuuu❤️