
[ Sebuah Penolakan yang Kedua ]
Syamil memandang Laiqa yang memakan apapun dengan anggun. Ia terus memberikan lauk pauk kesukaannya ke piring Laiqa.
Setidaknya agar gadis itu memiliki banyak energi..
"Alhamdulillah umi dapat pinjaman apartemen untuk kalian berdua nanti di Madinah.. sebenarnya kalau kalian ingin membayar, harga sewanya akan diturunkan dan itu semua akan diserahkan untuk anak yatim".
"Alhamdulillah umi, Laiqa udah ga sabar ketemu sama Abi !"
"Umi juga ikut senang anak umi ada yang jagain disana, cantik lagi seperti kamu.."
Laiqa tersipu. "InsyaAllah umi ga salah orang karena untuk makanan, sandang , dan kebersihan aku sudah berpengalaman lebih dari 2 tahun menjadi baby sitter teman"
"Jadi sekarang baby nya Syamil ya..? " Canda kakak ipar dan membuat wajah Syamil memerah tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Setelah makan malam suasana menjadi cair, sedikit rasa sayang tumbuh di hati Laiqa karena rasa nyaman.
Ia kemudian meletakan piring di wastafel dan mencucinya. Istri2 kakak ipar disekitarnya berdiri sambil menyuapi bayi masing2.
"Syamil itu banyak banget yang suka lho dulu" susul Ka Aini istri Kaka pertama dengan nada berbisik. Anak balita perempuan gembul berumur 1 tahunnya sampai ikutan baceo.
Laiqa hanya tertawa tanpa suara.
"Ih deg degan ga..?" Tanya ka Sarah istri kakak kedua yang mukanya sedikit ke arab2an. Balitanya berumur sekitar 5 bulan sedang minum Asip di gendongannya..
"Gatau Ka..masih canggung aja. Bingung." Ucap Laiqa.
"Santai aja, ikutin aja aturan mainnya." Bisik ka Laila sambil tertawa. Ini adalah kakak kandungnya yang keempat. Sedang menata sendok kering di lemari.
"Husssss udah-udah bubar. Itu cucu cucu umi udah pada ngantuk tuh.." sela umi tiba-tiba. Laiqa hanya menggigit bibir sambil terus mencuci.
__ADS_1
Disebelahnya ada kakak ketiga, bernama Athirah.
"Astagfirullah, maaf ya kalo mereka begitu. Maklum.. saking senengnya akhirnya Syamil nikah.."
Laiqa tersenyum menatap paras lembut nan ayu itu. Kerudung emerald lebar membuat wajah ka Athirah sangatlah teduh. Ingin rasanya ia bercerita bahwa sebenarnya ia belum sama sekali mencintai suaminya.
Tapi tidak mungkin.
**
Kelelahan membuka hadiah itu yang sudah diprediksi Laiqa. Jam menunjukan pukul 01.30 malam. Ia berbaring perlahan. Ikhwan itu sudah tertidur. Ia membetulkan letak alur rambut hitam yang amat wangi mentol itu. Kini tanpa kacamata ia perhatikan wajah suaminya. Dan berhenti, lalu menutup wajahnya dengan guling.
Kenapa masih saja ia membayangkan senyuman Ahsan.
Astagfirullah...
**
Belum sempat ia bertanya suaminya telah lebih dulu mencium bibirnya cepat. Sebuah sensasi mengagetkan yang amatlah hangat. Seperti bayi yang kehausan, ia terus membiarkan suaminya mencari apa saja untuk melepas dahaga.
"Afwan.. kakak terbawa suasana.." ucap Syamil tiba-tiba menjauh dari Laiqa.
Temaram lampu, hujan deras di luar dan suasana yang dingin membuat Syamil lupa akan sesuatu.
"Kamu juga wudhu ya..kita sholat dulu.."
Deg. Laiqa menghela nafas panjang perlahan saat pintu kamar mandi tertutup.
Perasaan apa ini, ia merasa amat disayang oleh seseorang Ikhwan yang asing, tapi kenapa tetap saja senyuman Ahsan lah yang selalu terbayang.
"Astagfirullah .."
__ADS_1
**
Mereka sudah solat
Tapi Laiqa menghindar saat Syamil ingin mencium bibirnya setelah membaca doa pengantin dan salim.
Syamil terkejut, ketika Laiqa mengatakan Afwan padanya...sebagai permintaan maaf, tapi.. dari mata gadis itu dia menemukan hal lain.
Syamil langsung menjauh dengan wajah syok, bangkit dan menelpon seseorang sambil memandang cermin besar di lemari dekat pintu. Laiqa segera melepas mukenanya dan duduk di pinggir kasur sambil memainkan jarinya merasa bersalah sesekali menunduk dan menatap suaminya secara bergantian.
Kemudian tak lama saat yang paling menegangkan tiba. Laiqa merasa entah kenapa, meski tanpa berbicara, Syamil bisa tahu alasan kenapa ia berlaku seperti ini.
"Laiqa Alifia,..." Ucap Syamil lantang.
Laiqa sangat tegang dan hanya menunduk, ia merasa mungkin hari ini juga Syamil akan menalaknya.
"Siapa dia?" Tanya Syamil kemudian, dan tentu itu membuat Laiqa tak bisa berkutik. Kenapa ia bisa tahu alasan inilah yang membuat ia masih menutup hati. Orang ketiga.
"Maksud kakak?.."
"Kamu pikir aku orang bodoh?.. aku bisa memperkirakan apapun kemungkinannya.."
Bisik Syamil tampak frustasi, gairahnya sudah benar benar membuncah, ia benar2 dimabuk cinta oleh akhwat nan cantik dan mulus di hadapannya. Leher yang sangat indah, rambut hitam tergerai dan segala hal yang tak pernah ia lihat selama ini, segala hal yang membuat ia merasa ditolak oleh istri sendiri. Harga diri yang meraung-raung kemudian wajah polos yang bisa bisanya bertanya maksudnya apa?
Syamil segera menarik salah satu tangan Laiqa dengan kasar ke pelukannya. Ia mendekap akhwat itu erat sambil berbisik.
"Kakak tidak peduli siapa dia. Kakak tidak mau dengar alasan apapun dari kamu. Sekarang.. kamu adalah istriku. Dan, aku akan membuatmu berhenti menolak apapun alasannya.."
Saat itu juga Laiqa tidak bisa menahan sentuhan halus dari suaminya di lehernya, menjamahnya sampai ia kehabisan tenaga untuk menolak gerakan lembut penuh nafsu tingkat tinggi itu.
**
__ADS_1