Ikhwan Idaman

Ikhwan Idaman
Part 5


__ADS_3

Sesuatu yang Tertinggal di Kamu


Siang yang terik, tidak ada awan di langit. Laiqa dengan langkah cepatnya memasuki rumah Ka Azqila yang bercat putih itu, dengan halaman yang amat luas. Letaknya yang dipojokan membuatnya terasa lebih sejuk karena rindang pepohonan belimbing serta rambutan.


"Assalamu'alaykum..."ucapnya dengan nada yang amat ceria.


"Wa'alaykumsalam..." tiba-tiba Ka Azqila memeluknya, "Alhamdulillah kamu datang ... ."


"Kakak terlihat pucat ka..."


"Aku belum makan, siang ini aku harus menyelesaikan sesuatu di kampus.."


"Kebetulan aku bawa kue, ini umi ku yang buat... ayo dicobain ka.."


Dua kardus kue tradisional yang khas dan beberapa bolu pisang dan coklat kesukaan abang Fattah.


"Alhamdulillah kalo makan kue nggak mual.."


"Alhamdulillah..." Laiqa tersenyum senang.


"Aku pergi dulu ya ... Faiza masih tidur... Bang Fattah lagi main mobil, dia habis numpahin semangka , maaf ya kalau lantainya agak lengket. Untuk ASI perah, aku simpan di tempat biasa... oh ya kalau kamu perlu ngerjain tugas, kamu bisa pakai buku-buku ruangan perpustakaan, tapi pastiin bang Fattah jangan pegang buku abinya ya ... "


"Maaf ka... kalo Ustadz Salman pulang bagaimana...?"


"Ga mungkin.. habis ngajar ia langsung pergi ke tempat lain ,urusan mengisi kajian belajar bahasa arab LDK kampus negeri di Jakarta, mungkin jam 21.00 pulangnya..."


"Baik ka... " ucap Laiqa lega. Ia tak akan bertemu ikhwan manapun hari ini. Hidupnya akan sedikit nyaman.


Ia mulai membereskan rumah yang berantakan ketika Ka Azqila sudah jauh. Mumpung Faiza masih tidur ia cepat-cepat mencuci piring yang berantakan di wastafel. Gunungan sampah di jaring lubang wastafel membuat banjir sedikit. Kemudian ia menyapu, mengepel, menyiram tanaman. Sementara itu Bang Fattah ikut membantu memasukan mainan sesuai intruksinya. Laiqa membereskan ruang yang menjadi kamar tempat Ahsan menginap kemarin kala sakit pasca jatuh dari sepeda. Diseksamainya ruangan kecil yang minim perabotan itu.


Dan ditemukannya sebuah buku catatan bercover hitam, di kolong tempat tidur saat ia sedang menyapu. Laiqa mengambil buku catatan itu lalu memperhatikannya sejenak


"Ammah !!!"seru Fattah tiba-tiba dari arah ruang keluarga, seperti biasa ia ingin terus diperhatikan.


"Iya Fattah..Ammah(tante) lagi nyapu di kamar..."


"Itu apa Ammah?" tanya Fattah yang kini ada di depannya.


"Ini...."


Laiqa memperhatikan isi buku catatan itu dengan takjub. Begitu banyak catatan ringkas tentang materi Rasmul Bayan mulai dari Rasmul Bayyan Tarbiyah, Penjelasan manhaji tentang makna syahadatain, makrifatulloh (mengenal Tuhan kita Allah), mahabbatullah 3


, ma'rifaturrasul, ma'rifatul Islam, ma'rifatul Insan, dan hakikat ibadah.

__ADS_1


Hingga materi Rasmul Bayyan Fiqih Dakwah, urgensi dan tujuan dakwah, ada di dalam situ dengan huruf arab gundul yang akrab baginya sehari-hari saat kuliah


Pemilik buku


Saya Ahsan Abdul Aziz


jika anda menemukan buku ini silahkan hubungi saya lewat email ahsanabdulaziz26@gmail.com


Terimakasih,


Sebuah pesan singkat di pojok kanan atas, pada cover belakang bagian dalam.


Buku ini pasti.. sangat berarti untuknya..


gumam Laiqa di dalam hati, ia segera menaruh dengan rapih buku itu di meja dekat jendela.


"Ammah abang mau makan"


"Oh? Mau makan ya? sebentar ya Ammah ambilin kue kesukaan abang."


Sementara Laiqa mengambil makanan, diam diam Abang Fattah menaiki kursi lalu mengambil buku catatan hitam milik Ahsan dan melemparnya senang hingga masuk ke dalam tas Laiqa yang tak jauh dari sana...


***


Ahsan memiliki dua sahabat, yang pertama bernama Adnan sedikit gemuk, putih, agak lebih pendek darinya namun berwajah bijak, yang kedua Fakhri, kurus , tampan dan agak lebih pendek darinya. Sebenarnya ia memiliki banyak teman tapi yang paling sering bersamanya adalah dua orang ini. Kehidupan di Ma'had seperti biasa dihabiskan dengan diskusi, olahraga, makan, lomba-lomba, tugas, hukuman dan kajian kajian dari syeikh tamu.


Pada kesempatan kali ini mereka sedang debat kemana seharusnya dakwah ini dibawa, apakah ke Kairo? atau ke kota ini, kota metropolitan dengan sejuta kisah busuk yang jauh dari nilai islam. Atau ke desa -desa tempat mereka dilahirkan, yang sepi dan selalu memaafkan para pribumi yang hanya singgah lalu pergi merantau lagi.


"Kalo ana, lebih baik ana mendidik Dai muda, jadi sepertinya dakwah ana tetap di kota ini. Ana belum kuat baku hantam dengan warga kampung ana sendiri" ucap Adnan menimpali keinginan Ahsan, yang ingin berdakwah di kampung halamannya sana. Perbedaan pendapat itu wajar, terlebih di kampung sana keluarga besar Adnan belum memiliki posisi apapun di tengah warga.


Berbeda dengan Ahsan yang kedua orang tuanya adalah tokoh pemuka agama.


Adnan berasal dari tanah Medan, kental dengan budaya daerah yang jauh dari nilai islam. Sedangkan Fakhri memilih pasrah pada Allah, semuanya ia serahkan kepada kehendak Allah, kemana ia pantas menuju.


"Ya .. kalo ana, misalkan Allah tempatkan ana di pelosok insya Allah ana siap, pun begitu juga kalau di kota.. insya Allah siap juga.. bagaimana takdir Allah aja.." ucap Fakhri


Ahsan berkaca kaca melihat keteguhan hati sahabatnya yang satu ini, Fakhri selalu berhasil membuat ia terharu dengan kekuatan imannya yang luar biasa.


Mungkin karena di hati Ahsan ada sesuatu hal yang tertinggal, yakni ambisi yang belum ia buang jauh. Bahwa ia ingin mendirikan lembaga yang terkenal, bertaraf internasional, dan menghasilkan dai yang profesional, yang nyatanya, tentu tak bisa dibangun di sebuah kampung yang hanya berisikan bapak bapak tua dengan ibu ibu yang renta?


Disisi lain, estafeta dakwah di kampung halamannya harus ada, sebelum bapaknya tiada.


"Gimana.. antum jadi kan buat Pesantren di desa sana..?" tanya Fakhri pada Ahsan.

__ADS_1


"Insya Allah, doakan saja sama antum... biasanya doa hafidz quran 30 juz di ijabah.."


"hhehe masyaAllah aamiin... ana doakan, semoga aja.. Oh ya berarti khidmat nanti antum harus betul betul mengulik pelajaran bagaimana sebuah lembaga bisa berdiri kokoh meski badai menerpa"


"lebih tepatnya ke manajemen dan tim yang baik" timpal Ahsan.


"dan ridho serta keajaiban dari Allah.." susul Fakhri.


"Ohya, antum berdua barengan ya khidmatnya di Sabang sana.." tambah Adnan.Khidmat adalah tahap pengabdian yang wajib dilakukan setiap mahasantri saat hendak lulus.


"Iya qadarullah bisa bareng Akhi Fakhri, di Pesantren khusus anak anak yang kehilangan orang tuanya ketika Tsunami dulu" jelas Ahsan.


"Wah ana kira antum berdua mau ditempatkan di dekat dekat sini, biar bisa langsung nikah sehabis lulus.." Adnan menunjuk nunjuk Ahsan dan Fakhri sambil tersenyum iseng.


"Antum duluan aja yang nikah... nanti kita belakangan, antum kan udah dijodohin.. gausah lah mikir mikir lagi mau cari kemana.. ga kaya kita belum ada yang mau.. hehe" seloroh Fakhri pada Adnan.


"Wah iya masya Allah belum lulus udah di tag sama keluarga calon.. ini masya Allah banget patut belajar dari antum.." ledek Ahsan menambah suasana menjadi riuh.


"Walah.. ya gausah begitu lah, Alhamdulillah kebetulan saja keluarga ana sama keluarga dia itu temenan dari kecil, dan ana dipercayakan untuk jaga putrinya, karena ana udah dianggap sebagai anak sendiri.. dan Qadarullah di permudah sampai sekarang setelah istikharah panjang.."


jelas Adnan.


"Ya iya , kalau kayak kita itu kan belum ketemu dimana calonnya, jadi daripada sibuk mikirin itu mending sibuk sama yang lain, betul apa betul akh Ahsan ? " tanya Fakhri pada Ahsan. Ahsan mengangguk tersenyum sambil mencari cari sesuatu di tasnya.


"Nyari apa akhi?" tanya Fakhri.


"Antum pinjam buku catatan ana ga?" tanya Ahsan panik pada Fakhri yang menggeleng.


"Inalillahi.. dimana ya buku catatan ana.."


"eh tunggu buku yang mana akhi? yang dulu ana pernah pinjam bukan? Rasmul Bayyan Tarbiyah ?"


"iya itu, yang ana bawel banget ke antum takut buku itu hilang, antum liat ga?"


"innalillahi, ana ga liat akhi .. mungkin antum lupa ditaruh dimana.. coba ingat-ingat..."


Ikhwan berpostur tegap itu langsung terduduk lemas dengan posisi membungkuk dan menunduk mengingat ingat dimana terakhir ia meletakan buku itu.


"yang jelas buku ini selalu ada di dalam tas.."tambah Ahsan, berkaca kaca.


"Itu adalah materi yang disampaikan guru ana pas di MA... banyak materi tambahan yang nggak pernah ana temukan di buku. Antum tau kan apa isinya?" tanya Ahsan pada Adnan.


Adnan dan Fakhri melihat itu langsung mengambil tindakan..

__ADS_1


"Mari kita telusuri, kemana saja antum kemarin.."


****


__ADS_2