
Seperti hari kemarin Syamil terus saja menjauhinya, bahkan saat mereka hanya berdua di kamar. Untuk itu Laiqa memutuskan memakai jilbab kaos lagi meskipun mereka kini sudah bersih bersih dan bersiap tidur.
Laiqa baru saja keluar kamar mandi, dilihatnya suaminya itu baru saja melipat sajadah usai sholat isya.
"Mau aku buatkan makanan? " tanya Laiqa.
Syamil menggeleng lalu menunduk dan merebahkan seluruh tubuhnya dipinggir kasur. Mata suaminya itu langsung terpejam. Tak ada tanda tanda ia ingin melakukan apapun lagi selain tidur. Laiqa tertegun melihat itu.
Apa maksudnya ini..?
Dia tidak mau makan, tapi dia tidur di ranjang. Apakah aku harus tidur di sofa?
Tapi, tidak ada keterangan tertulis tentang kita tidak boleh tidur di satu ranjang. Ia hanya menyuruhku terus memakai jilbab di depannya.
Ucap Laiqa di dalam hati.
Laiqa segera mengambil mukenanya bersiap sholat isya.
Ia tak tau sampai kapan keadaan ini akan terjadi. Di Madinah sana bagaimana mungkin ia bisa hidup dengan orang yang selalu bersikap dingin kepadanya.
Kemudian sebuah panggilan masuk ke hape Laiqa setelah ia sholat.
"Hallo..Assalamualaykum Abi.." ucap Laiqa dengan penuh senyuman.
"Baik Abi..Alhamdulillah..mungkin sekitar seminggu lagi.." susul Laiqa yang tak sadar bahwa Syamil belum tidur dan memperhatikannya.
"Iya Abi, Aku hamil.." Laiqa meneteskan air matanya, "Alhamdulillah baik, sehat, semuanya sempurna.."
"Iya.. Aku juga kangen banget sama Abi.." ujarnya kali ini terdengar terisak.
__ADS_1
"Nggak Abi..aku cuma terharu aja, ga nangis kok.. aku senang sebentar lagi kita bisa ketemu.. Laiqa udah jadi anak baik, jadi Laiqa bisa sekolah ke Madinah seperti cita cita Abi..dan menjadi ibu yang hebat untuk anak Laiqa kelak.."
Syamil mencoba memejamkan matanya. Seperti merasa bahwa mungkin saja dirinya sudah keterlaluan bersikap kepada istrinya, dan semua itu tak pernah diceritakan istrinya kepada orangtuanya.
Laiqa memilih menutupi semuanya.
Bukankah ia adalah pintu yang tepat untuk sebuah rumah yang akan ia bangun.
Gerbang yang hanya menyajikan keindahan, dan menutupi semua kekurangannya.
Laiqa telah melipat mukenanya lalu beranjak duduk di pinggir kasur. Ia mengucap salam penutup lalu meletakan hapenya dengan kasar sambil memegangi perutnya dan meringis kesakitan tiba-tiba.
"Astagfirullah.. Ya Allah sakit" ucap Laiqa sontak membuat Syamil terbangun dan mendekatinya.
Laiqa bahkan tidak bisa menatapnya, ia hanya memejamkan mata.
"Mau air hangat?" tanya Syamil
Laiqa hanya meringis sambil mengangguk melihatnya.
Laiqa meminum air perlahan. Tapi masih terus sakit. Umi menyuruh Syamil mengusapi punggungnya dengan power yang kuat.
Syamil tampak kebingungan sampai umi mencontohkan sendiri. Kemudian Syamil mulai mengusap punggung Laiqa dengan kaku.
"istrimu sudah makan?"
"Afwan umi..malam ini kami belum sempat makan.." ucap Syamil.
"mudah mudahan ini hanya telat makan dan bukan kontraksi. Umi bantu ambilkan sayur brocoli dan ayam goreng di ruang makan. Kamu harus banyak makan nak"
Laiqa mengangguk. "Jazakillah umi.."
__ADS_1
"teruskan usap punggungnya, itu bisa membantu meredakan nyeri pada ibu hamil. Dulu Abi juga sering melakukan itu pada umi.." ucap Umi kemudian berlalu keluar kamar.
Kini tinggal mereka berdua, Laiqa merasa kesakitannya mulai berkurang saat ia mulai makan. Tapi rasanya makanan itu tidak bertahan lama di perutnya. Ia merasa ingin memuntahkannya.
Ia bergegas ke kamar mandi lalu memuntahkan semua itu ke closet.
Kini rasa sakit yang tadi berganti rasa dingin yang hebat. Ia kembali duduk di ranjang dengan badan yang mengigil.
Syamil segera mengambil sikap mengusap seluruh lengan tangan Laiqa dengan wajah khawatir.
Laiqa melihat itu tak percaya, ia pikir Syamil akan terus bersikap dingin sekalipun ia kesakitan. Dia terus menatap Ikhwan yang sedang berlutut di depannya sambil terus mengusap lengannya.
"apa harus ke dokter?" tanya Syamil saat Laiqa terus saja mengigil.
Laiqa menggeleng.
Teruslah seperti ini. Ucapnya di dalam hati sampai rasa dingin itu perlahan sirna.
Laiqa telah merasa lebih baik, ia sangat terharu saat Syamil terus saja mengusap lengannya menciptakan hawa panas alami.
"kamu sudah tidak marah padaku yang..?" tanya Laiqa hati-hati. Ia kemudian merasakan usapan Syamil yang melemah dan berhenti.
Syamil menatapnya.
"sudah tidak dingin?"
Laiqa menggeleng sambil tersenyum.
Ia terhenyak Syamil langsung beranjak dan menyelimutinya dengan selimut.
"Tidurlah.."
__ADS_1
"Terimakasih.. tapi semua itu akan berhenti jika kamu mengusapnya" ucap Laiqa.
Syamil menatap Laiqa lagi sambil menelan ludah. Ia merasa tak sanggup untuk mengusap istrinya lagi. Wajah yang cantik. alami itu, segala sesuatu tentangnya membuat ia tidak bisa fokus.