
Kecelakaan
"Laiqa"
"Astagfirullah... ustadzah.." seorang gadis dengan gamis peach kaget, menengok ke arah seorang ustadzah dengan pakaian serba hitam lengkap dengan cadarnya,perasaan bersalah muncul, saat mereka berpas-pasan di koridor kampus khusus akhwat itu.
"Saya menunggu persyaratan beasiswa kamu yang ke Madinah.." Ustadzah Aisyah berkata dengan bahasa Arab.
"iya ustadzah, afwan saya lupa" ucapnya dengan bahasa Arab.
Gadis berkerudung panjang itu menunduk dalam setelah menatap ustadzah Aisyah. Bagi ustadzah Aisyah, Ia adalah seorang mahasiswi berprestasi yang kelewatan kesempatan dapat beasiswa di Madinah karena entah apa.
"jadi sekarang bagaimana? udah lewat kan batas akhir pendaftarannya?"
Laiqa menggigit bibir. "Sebenarnya, saya tidak punya uang ustadzah kalau harus membawa uang saku kesana... umi dan abi..."
"stop, sudah sudah... kenapa kamu nggak bilang ke saya kalau itu alasannya..?"
Gadis bermata jeli itu menelan ludah sambil berkata ",afwan ustadzah, kesalahan saya...."
"sekarang...kamu mau daftar yang gelombang dua?"
"mungkin nggak ustadzah..."
"kenapa?"
"Saya sedang cari part time agar bisa terkumpul uang saku untuk bekal disana."
Ustadzah Aisyah mengangguk dan memberikan nasihat yang cukup panjang pada mahasiswinya itu.
***
Laiqa Alifia, adalah wujud Ahsan dalam versi perempuan. Ia suka membaca sama seperti Ahsan, setengah hari setelah perkuliahan usai, ia habiskan waktunya di perpustakaan bersama Halimah sahabatnya. Dia juga pintar dan tak pernah mengeluarkan uang untuk sekolah sampai di posisi ini pun semuanya berkat Allah menakdirkan beasiswa full untuknya, ditambah uang saku yang cukup untuk makan sebulan. Ia termenung di sisian masjid yang sepi, ubin marmer dingin membuat hatinya yang gelisah lebih baik. Kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi itu terbuka namun pikirannya ke suatu hal.
"haruskah aku mengambil pekerjaan itu?" ujarnya pada diri sendiri. Gadis bermata sedikit sipit itu memicingkan matanya. Tapi ia sangat butuh tambahan uang untuk persyaratan beasiswanya ke Madinah. Sebagai mahasiswi tingkat akhir, dengan tawaran beasiswa yang sangat bagus, adalah kesempatan yang tak boleh ia sia-siakan.
Bagaimana ya... mengajar anak-anak sudah, tapi tahu sendiri gajinya tak akan cukup kalau mengandalkan dari sana... Sedekah juga sudah,tapi karena berharap imbalan akhirnya sedekah itu hanya berbalik padanya dalam jumlah yang sama. Betapa penting tauhid dan keikhlasan dalam ilmu ini. Tapi... kalau ia menerima tawaran jadi baby sitter anaknya kak Azqila, hanya karena ia adalah binaannya kak Azqila dan yang paling dekat dengan bang Fattah anak pertamanya, bisa bisa ia jadi bahan omongan akhwat sekampus. Karena masuk dalam rumah tangga orang meski hanya sebagai baby sitter. Tapi hanya pekerjaan itu yang waktunya fleksibel dan gajinya besar , lagipula itu adalah kemampuannya, mengurus anak kecil. Dan ia sangat menyukainya.
****
Hape Laiqa berdering pada pukul 02.00 pagi.
"Hallo Assalamualaykum Laiqa .."
"Waalaykumsalam, maaf ka Laiqanya lagi bantu uminya antar kue ke pasar. Ini aku Halimah.."
" Ga bawa hape ya dek..?"
" Ga ka katanya cuma sebentar, ini kebetulan aku lagi di rumahnya, soalnya ibunya lagi sakit dan hari ini banyak pesanan, kosanku yang sekarang sebelah kontrakan dia jadi aku bantu disini."
__ADS_1
"Baik... Syafahullah untuk uminya Laiqa ya dek, insya Allah nanti aku telpon balik."
Brakk ! Azqila membanting hapenya, ia merasa Laiqa akan menolak tawarannya. Dilihatnya anak pertamanya yang sudah bangun dan memberantaki mainan yang ternyata telah basah oleh ompolnya.
"Abang!!!! kok abang ngompol ?!" teriaknya histeris. Berharap suaminya akan bangun pada jam 03.30 ini.
"Kan umi udah bilang kalo pipis di sana, di kamar mandiiiiii!!!!!" Azqila menggoncang-goncang tubuh abang dengan keras sampai bocah itu tertunduk ketakutan, melirik ke kanan dan kekiri dengan rasa tertekan.
Ia sangat kesal semua mainan Fattah basah oleh ompol, dan ia tak punya waktu untuk membersihkannya. Ditambah Bayi Faiza menangis, dan Salman yang masih saja tidur.
"Ini lagi!! diam!! " serunya pada Faiza, dan bayi itu tak berubah diam.
"Masuk kamar mandi cepet !!"
"ii i ..i.. iya.. umi.."
"cepetan !!!" karena lama, Azqila mendorong anaknya dengan pelan, bersama pelototan yang mengerikan.
"Kamu ee' ?! Heh! , umi bilang kalo ee' dimana ?!!!Bukan di lantai kamar mandi, tapi di kloset, sini naik! kalo disitu kan berceceran bau, kamu denger umi ga sihh!!!!"
"ii...i ..ya "
"udah belum ee' nya!! cepetan!!"
Huweeeekkkkss
Azqila muntah muntah parah sambil menatap kesal pada bang Fattah, diiringi backsound tangisan Faiza.
****
Tiba-tiba,
"Innalillahi ..!" Brakk
Setelah puluhan kilometer dipacu pada hari ini, sepeda polygon extrada berwarna putih itu terpental keras.
Ya Robb aku mungkin akan mati hari ini. Bisiknya di dalam hati dan pandangannya seketika menjadi gelap, matanya tertutup dengan luka memar di tangan dan kaki. Samar - samar ia mendengar banyak orang berteriak.
"ini kartu mahasiswanya, Namanya Ahsan Abdul Aziz, dimana ini kampusnya Ma'had apa ini tulisan arab, dimana ada yang tau?"
"saya !" seru suara wanita yang entah siapa. Kemudian semuanya benar-benar sunyi, seolah ada yang menjatuhkannya ke sebuah lubang tak berdasar, membuat suara-suara itu semakin jauh dan tak terdengar lagi.
****
Siang itu Ahsan baru saja bangun setelah istirahat total di rumah kakaknya. Ia baru saja pulang tadi subuh dari rumah sakit setelah rawat inap satu hari kemarin. Ia duduk di bangku tamu disusul Ang Salman. Ia selalu memanggil kakaknya dengan sebutan Ang, panggilan untuk kakak khas orang sunda.
"hari ini hasil rontgennya keluar"
"biar Ang saja yang ambil.." ucap Salman pada adiknya yang berbeda usia 12 tahun dengannya.
__ADS_1
"wios Ang, simkuring (gapapa kak, saya) bisa ambil sendiri".
"atuh kumaha ceritana San?, meuni ngebut kacida atuh gowes teh.." tanya teh Azqila sambil menimang-nimang Faiza dengan logat sunda yang khas.
"teu kukumaha teh, cuman kemarin aya gajlukan dan di depan teh aya yang nyebrang tea tiba-tiba kitu, kebetulan simkuring nuju ngebut 40 km/jam"
"euleuhh... sok gagabah atuh Ahsan teh... Alhamdulillah weh teu nanaon!"
"iya alhamdulillah, ujug-ujug teh tos di RSUD Pasarebo gitu simkuring, duka (gatau) kumaha, duka saha (gatau siapa) nu bawa... tatiba datang weh Ang Salman ngajemput pas sadar."
"ari uhun (lah iya) , A' Salman mah sok rariweuh pas denger kabar itu teh.."
"ang dikabarin sama dosen kampus Ahsan, Ustadz Irham, katanya ada mahasiswi yang menemukan Ahsan kecelakaan."
Tiba-tiba Bang Fattah lari menghampiri mereka tanpa celana,
"Pakai celana dulu yuk Abang.." ucap seorang wanita dengan wajah yang tak asing bagi Ahsan. Perempuan itu kan...
Perempuan itu seakan terkejut ketika melihat Ahsan duduk di bangku tepat di depannya..
Fattah segera berlari memeluk perempuan itu sambil berteriak girang khas anak kecil.
Mereka berdua langsung masuk lagi ke ruangan bagian dalam, ruang keluarga.
"Saha itu teh? Sodara teteh.?"tanya Ahsan penasaran.
"Ehm... abi aja atuh yang jelasin.." Azqila menyenggol lengan suaminya..
"Bukan, jadi itu teh asisten teteh.. sementara ia yang akan urusin Fattah dan Faiza selama teteh muntah-muntah"
"Kenapa gitu ga dititip lagi saja sama mamah Ang,?" protes Ahsan, ditangkap Azqila cepat.
"Ya tadina mah hoyong kitu (tadinya mah mau gitu), tapi bang Fattahnya nggak mau jauh dari umina, ternyata dia teh udah gede.. ngerti sekarang mah nggak kayak dulu pas masih bayi waktu teteh titipin dia ke mamah pas lagi mau skripsi s1".
"oh kitu, ya atuh sekarang mah hariwang (khawatir) teh, banyak kan kejadian anak yang disiksa sama baby sitternya, kirain teh gajadi pakai jasa itu berkaca dari cerita teteh kemarin, yang Bang Fattah diteriakin lah, di marahin lah, ngomong kotor ah sagala wae lah .." susul Ahsan.
"insya Allah ini mah nggak San.. ini teh pengecualian, soalnya sebenernya dia teh mahasiswi syariah, di kampus Ang Salman yang dulu. Binaan teteh juga.. Bang Fattah suka banget dijagain sama dia.."
Ahsan mengernyitkan kening lalu mengangguk lega--sedikit, saat mendengarnya.
Ada yang sedang berpikir keras, ia Ahsan, mencoba mengingat siapa perempuan itu, sepertinya ia pernah bertemu, tapi entah dimana.
****
Hari ini berakhir juga... Laiqa bergegas pulang pukul 21.00 saat bang Fattah telah tidur. Ia berpamitan pada Azqila dengan pelukan yang erat sebagai perpisahan. Kekuatan itu, harus terus ia salurkan agar semangat dalam diri Azqila menyala lagi.
Ia juga tak sabar sampai di rumah, karena ingin bercerita dengan Halimah soal siapa yang baru saja ia temui di rumah Kak Azqila hari ini.
****
__ADS_1
bersambung...
duh, kok Ahsan udah negative thingking duluan sih liat Laiqa, apa muka Laiqa yang lembut itu terlihat jahat dan mencurigakan. kok Author jadi kesel.. 😆