Ikhwan Idaman

Ikhwan Idaman
Part 55


__ADS_3

"MasyaAllah Assalamualaikum.." ucap Ustadz Salman kepada Syamil yang juga tersenyum ramah dan kaku.


Laiqa hanya menunduk, ia sangat takut.


"Wa'alaykumsalam..apakah ini jadwal kepulangan akhi Ahsan?"


Ustadz Salman mengangguk penuh syukur.


"Alhamdulillah jazakallah Khair atas doa doa antum.." ucap Ahsan dengan tenang.


Dan anehnya suara yang dulu membuat perasaan Laiqa selalu tak karuan itu kini tampak terdengar biasa saja di hatinya.


Tak ada getaran apapun.


"Alhamdulillah ana ikut senang mendengarnya.. kebetulan ana akan ke dokter kandungan, tak disangka bertemu antum semua disini ..semoga kesehatan antum semakin membaik.."


"Aamiin.. Afwan.. jazakallah..semoga urusan antum juga dimudahkan Allah.."ucap Ahsan dengan senyuman yang tak sengaja terlihat oleh Laiqa. Dan seperti itulah dia.. masih Ahsan yang sama. Yang parasnya bisa membuat Laiqa terkagum, sekaligus merasa lebih bersalah lagi.


"Aamiin.." ucap Syamil terdengar getir. Dan sedikit merenggangkan gandengannya.


"Afwan kita duluan ustadz.. Assalamualaikum.." ucap Ustadz Salman santun sambil menempelkan kedua tangannya.


"Wa'alaykumsalam..Afwan.."


Syamil terdiam sejenak, sementara Laiqa terus menatap wajahnya.


Ia kemudian menengok kepada Laiqa, lalu melihat jamnya.


"Waktu janji dengan dokter Hana sudah tiba. Bisa berjalan lebih cepat?"


Laiqa mengangguk, "insyaAllah.."


Dia terus melihat wajah Syamil. Cinta itu telah terganti oleh dirinya. Melihat sikap yang dingin seperti ini terus menerus membuat ia benar-benar sedih.


Dan menunggu selalu dengan penuh harap sikap hangat itu kembali.


****


"Barakallah ya Pak.. insyaAllah bentar lagi jadi bapak nih!" Ujar Dokter Hana sumringah.


Dari matanya yang tidak tertutup cadar itu tergambar dengan jelas. Dokter Hana adalah satu-satunya dokter bercadar di Jakarta. Dan kemampuannya sudah tak diragukan lagi dalam spesialis obgyn.

__ADS_1


Laiqa sangat bahagia ia sampai mengeluarkan air mata sambil terus tersenyum. Dan ia berharap kebahagiaan itu menular kepada suaminya.


Tapi Syamil hanya tersenyum sekadarnya seperti hanya formalitas dan mengangguk seperti orang yang kurang nyaman dengan keadaan ini.


"Pak? Kok gitu aja ekspresinya?" Tanya Dokter Hana.


Laiqa menatapnya sambil terus tersenyum.


"Emm..enggak dok..saya senang kok hanya saja sedang berpikir"


"Berpikir apa pak?"


"Apa kehamilannya tidak masalah jika naik pesawat jarak jauh?"


"Nanti insyaAllah saya berikan obat penguat rahim pak..dan saya rekomendasikan penyangga perut untuk jaga jaga kalau nanti ada guncangan"


Syamil menghela nafas lalu mengangguk-angguk. Ia tampak menggaruk dagunya yang tidak gatal.


"Kalau dilihat dari indikasinya, mual ketika melihat sayur sepertinya anaknya akan laki laki ya pak...pasti ganteng insyaAllah seperti bapaknya"


Syamil membulatkan matanya dan tersenyum datar.


Ia kemudian menelan ludah dan meminta dokter Hana segera memberikan resep agar mereka bisa selesai konsultasi.


"Aamiin Jazakillah Khair dok untuk doanya..semoga dokter juga selalu sehat "


"Kalau nanti saya umroh boleh ya main main ke tempat kalian. Pasangan muda yang amat inspiratif.."


Syamil tersipu sambil mengangguk kecil. Sementara Laiqa pamit sembari memeluk dokter Hana dengan erat.


"Mainlah dok..saya akan menunggu dokter .." ucap Laiqa dengan senyuman dan kaca kaca di matanya.


****


Sepanjang perjalanan pulang Laiqa terus memandangi foto USG rahimnya yang masih tidak terlihat apapun selain titik kecil yang katanya embrio janin.


Ia tersenyum tapi air matanya terus mengalir.


Syamil menghela nafas.


"Laki-laki.." ucapnya kemudian.

__ADS_1


Laiqa langsung menatapnya dengan seksama.


"Aku khawatir dia, akan mirip dengan Ahsan"


Mendengar itu Laiqa benar-benar tak percaya. Ia merasa ini sudah keterlaluan.


"Astagfirullah.."


Laiqa memegangi dadanya mengatur nafas yang tidak menentu.


"Apa kamu tidak melihat yang.. seberapa banyak darah yang ada saat malam itu terjadi?"


"Apa kamu tidak melihat bagaimana aku melepaskan semuanya hanya untukmu?"


"Apa maksudmu mengatakan itu yang?!" Tanya Laiqa histeris. Syamil kemudian menghentikan mobilnya di sisi jalan. Kemudian menunduk. Ia lalu menempelkan dahinya di kemudi.


"Istighfar yang.."


Air mata itu terus menetes di pipi Laiqa. Dan kini menetes juga dari mata Syamil.


Syamil mengusap wajahnya.


Lalu menatap Laiqa.


"Aku hanya berpikir betapa bodohnya aku saat itu.." ucap Syamil lirih.


Laiqa terus menatap Syamil dalam. Dan disana ia menemukan rasa sakit suaminya yang membuat Syamil menjadi seperti ini.


"Seharusnya kalau belum selesai dengan masa lalu jangan menerima lamaranku!!!" Teriaknya lalu terengah.


Laiqa sangat ketakutan. Badannya sampai bergetar dan dingin seketika. Ia menahan nafas melihat pemandangan untuk pertama kalinya suaminya berteriak di hadapannya.


Kini Syamil terus menunduk sambil mengucapkan astagfirullah berkali.


Ia melajukan mobilnya kembali 2 menit setelahnya. Menuju sebuah masjid besar nan megah. Gerakan parkir yang kasar itu tak mengubah posisi Laiqa. Ia terus beristighfar di dalam hati dan menangis tanpa suara di dalam wajah pucatnya.


Syamil kemudian meletakan dua lembar uang seratus ribu di dashboard.


"Ikut aku atau naik grabcar pulang ke rumah" ucapnya dingin lalu membuka pintu dan menutupnya dengan cepat. Ia melangkahkan kakinya menuju bagian dalam masjid itu.


Laiqa menutup pintu mobil yang otomatis terkunci. Ia memegangi lututnya. Dan merasa sangat lemas.

__ADS_1


"Ya Allah..aku benar benar telah menyakitinya.."


__ADS_2