Ikhwan Idaman

Ikhwan Idaman
Part 33


__ADS_3

[ Untitled ]


"Laiqa mana ...? Kok belum turun biasanya sudah bantu potong-potong wortel ? " Tanya umi saat Syamil sedang menuangkan susu ke setiap gelas di meja.


"Sebentar aku cek dulu umi.."


Umi menatap anak laki-laki yang kini menuju kamarnya sambil menggeleng-geleng .tersenyum. Wajah yang lebih serius dahulu ternyata lebih banyak tersenyum sekarang.


Pintu kamar dibuka.


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Syamil panik saat melihat istrinya sedang meringkuk di balik selimut. Wajahnya pucat dan gemetar.


"Sakit? Ya Allah badan kamu panas banget"


"Ya aku udah minum obat tadi, tapi jadi makin dingin gini.."


"Allahumma rabban nasi, adzhibil ba’sa. Isyfi. Antas syafi. La syifiya illa anta syifa’an la yughadiru saqaman" Syamil mengusap kepala Laiqa sambil membaca doa.


*arti doa diatas  “Tuhanku, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit. Berikanlah kesembuhan karena Kau adalah penyembuh. Tiada yang dapat menyembuhkan penyakit kecuali Kau dengan kesembuhan yang tidak menyisakan rasa nyeri,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 113).


"Mungkin kamu terlalu capek.. kan aku bilang gausah nambah..?" Ujar Syamil membuat wajah Laiqa memerah malu.


"Sejak akad memang aku susah tidur. Baru malam tadi tidur nyenyak "


Syamil mengangguk mengerti.


"Maaf nggak bisa sarapan bareng. Ini kepalaku muter-muter takutnya nanti pingsan bikin khawatir orang serumah.."

__ADS_1


"Yaudah aku bawain aja ya makanannya ke kamar.."


***


"Loh Laiqa mana?" Tanya umi heran melihat putranya berjalan sendirian.


"Qodarullah lagi sakit umi, badannya meriang"


"Innalillah.. yaudah itu kamu bawain saja supnya ke kamar yang banyak kuahnya, kaldu ayam bisa bikin demam turun. Terus susunya ambil di lemari, diangetin dulu di microwave."


"Kok bisa sakit Dek ? Kemarin baik2 aja.." tanya ka Athirah.


"Iya ka kemarin sehat"


"Biasalah pengantin baru..sakitnya pasti demam" ujar Kak Hafiz kakaknya yang merupakan suami dari Nafisah teman Laiqa.


Syamil tersenyum kaku "Mohon doanya ya ka.. ya udah aku ke kamar dulu bawain ini sebentar." Ia kemudian segera berjalan menuju kamar membawa nampan makanan.


" Hei, kamu juga dulu sakit kan ay" tanya Ka Hafiz pada Nafisah yang mencubitnya keras.


"Iya soalnya ga kenal waktu sih.." timpal Nafisah.


"Apanya yang ga kenal waktu? " Tanya umi.


"Oh, itu umi... jalan-jalan!. Jalan-jalan terus jadi kecapean." Jawab Nafisah.


Pecah semuanya tertawa kecil, keluarga besar itu pasti tau maksudnya karena mereka semua sudah menikah.

__ADS_1


***


"Hei.. ini makanannya.." ujar Syamil ketika memasuki kamar.


"Jazakallah Khair.. Afwan ngerepotin.."


"Makan yang banyak ya..atau mau disuapin?"


Laiqa menggeleng cepat. "Gausah..kamu pasti ditungguin umi di meja makan.."


Syamil mengangguk. Sambil mengusap kepala Laiqa ia berkata, "nanti kalo perlu apa-apa telpon aja ya.. ini aku bawa handphone"


Laiqa menatap punggung suaminya yang semakin menjauh. Ia lalu mulai berusaha menyuapi sup ke mulutnya dengan tenaga yang sangat minim.


Tiba-tiba handphonenya berdering. Disana tertulis panggilan masuk dari untitled. Siapakah yang menelpon sepagi ini..?


Laiqa mengangkatnya


"Halo.."


"Assalamualaykum halo ukhti.. Afwan mengganggu ini aku Ka Azqila.."


Deg..


Laiqa menelan wortel yang baru saja ia masukan kemulut. Ia terbatuk-batuk kemudian, karena aroma lada yang amat kuat.


Juga karena...

__ADS_1


Ingatan tentang seseorang yang menguat lagi saat mendengar nama Ka Azqila.


***


__ADS_2