
Kecenderungan
"Assalamualaykum... Ukhti.. buka pintunya,"
Pintu sederhana khas kontrakan 1 pintu itu terbuka, tampak lampu kelap kelip dengan sinar putih bersinar di antara ruangan yang gelap, dan sebuah meja belajar lipat berwarna putih lengkap dengan lampu belajar , yang berantakan dengan kitab berjudul Pengantar Ilmu Qur'an.
"Waalaykumsalam ... " jawab seorang perempuan dengan piyama polkadot hitam dan jilbab bergo tali hitam, kacamata besar yang sederhana menampilkan pandangan heran ke Laiqa.
"kok belum tidur?" tanya Laiqa, seorang yang tadi menggedor pintunya kencang.
"ya emang ini jam berapa ? baru jam 10 kok, lha anti tumben main kesini malem-malem.."
"syuttt...." Laiqa mendorong sahabatnya masuk ke dalam. "Deket ini kok. Ada hal penting yang harus ana ceritain ke anti" hatinya sedikit deg-degan.
Halimah mengernyitkan alisnya yang tebal dengan heran, tidak seperti biasanya Laiqa seheboh ini. Apakah dia baru saja dilamar seseorang?
"Aduh apasih...?"
"Anti tahu kan.. hari ini hari pertama ana jadi baby sitter Bang Fattah."
Halimah mengangguk.
"Dan anti tau ana ketemu siapa disana ?"
"Siapa?, Ustadz Salman? Kenapa ,? Anti ga macem-macem kan?"
"iya ketemu, tapi ana juga ketemu adiknya".
"Oh adiknya..terus?" tanya Halimah meneruskan kegiatan meringkas bukunya, seolah tak tertarik.
"Anti tau, siapa adiknya? Dia, ikhwan yang kemarin kita tolong setelah pulang dari Majelis Ilmu"
"Hah?! Masih hidup dia?"
"Astagfirullah... sembarangan anti ini.."
"Ya secara kan kemarin itu tangannya dah berdarah-darah, kakinya gabisa digerakin, terus kepalanya berdarah, mulutnya juga.."
"Alhamdulillah dia masih hidup.."
"Atau jangan jangan..." Halimah menunjuk wajah Laiqa cepat, mungkinkah sahabatnya ini sudah curiga tentang perasaannya, yang sedikit tertarik dengan ikhwan itu.
"Jangan-jangan cuma kamu saja sendiri yang bisa lihat dia, alias arwah pemasaran, eh maksud ana penasaran...hiii" Halimah bergidik menggelengkan kepalanya.
Tampaknya Laiqa sedikit tidak suka dengan tanggapannya. Ia lihat akhwat bercardigan krem yang panjang sampai selutut itu, menjauh dan bersandar di bantal besar yang menempel di tembok ruang tamunya.
__ADS_1
"Jadi beneran dia arwah?!" seruduk Halimah kini menempel di badan Laiqa, sambil mengoncangkan lengan akhwat yang sedang sibuk membaca pesan di whatsapp grup angkatan kampusnya.
Halimah menunggu jawaban sahabatnya yang malah mengernyitkan dahinya melihat sebuah video di whatsapp grupnya.
"Siapa tuh...?" tanya Halimah.
Tampak video pemenang lomba debat Sejarah Pemikiran Islam, yang di jurikan oleh Syeikh Khabir(Syeikhnya Para Syeikh) yang sering mengajar mereka di screen kelas.
Ikhwan yang sangat tidak asing.
"Ini dia orangnya ...yang tadi ana ceritakan."
Halimah menggigit bibir, baru saja ia lihat dengan jelas wajah ikhwan yang kemarin jatuh dari sepeda dikarenakan kemarin ia takut melihat darah dan menutup matanya, ia tahu pasti pikiran mereka sama, melihat seorang ikhwan dengan gestur yang amat meyakinkan, mendaraskan dalil-dalil Al Quran dengan semangat, menyajikan pemikiran matangnya, untuk melawan argumen kubu lawan.
Tek tok dalil itu berlangsung lama, hingga mata mereka berdua tak berkedip melihat sosok ikhwan yang berwajah tampan, dengan kulit sawo matang, juga dengan bibir kemerahan dan sorot mata yang cemerlang , pastinya mereka juga sedang berusaha mencerna setiap kalimat arab yang terucap dari bibir ikhwan itu.
"Mungkin udah ribuan Tarikh dia baca ya .."
Potong Halimah disusul anggukan Laiqa.
"Sepertinya sudah pantas untuk memimpin Keluarga Dakwah" ucap Laiqa tanpa sadar.
"Astagfirullah ,istigfar ukhti, anti udah zinah mata dan hati" Susul Halimah. Laiqa terperangah
"Maksud ana bukan seperti itu.. gimana ya ...kan ana ga bilang membangun keluarga dakwah bersama ana, astagfirullah.. "
Laiqa membetulkan posisi duduknya, mulai menjelaskan dengan tegap dan kedua tangan yang ikut bergerak, khas anak ini ketika sedang menjelaskan hal serius.
"Yaudah ukhti berhenti aja jadi baby sitternya Abang"
Laiqa mengernyitkan dahi lagi sambil menghela nafas panjang pada gadis super ceplos ceplos di hadapannya. Ia memang baru saja menceritakan kekhawatirannya jika sering bertemu dengan ikhwan itu, karena takut terjadi fitnah.
"Ya kalo ukhti takut terjadi fitnah dan kecenderungan yang tidak diinginkan, secara kan abang Fattah bisa cari baby sitter lain"
"Ga semudah itu sholehah, Bang Fattah itu tipe anak sensing, feeling, dia hanya cocok sama aku, Ka Azqila sendiri yang bilang."
Jarum jam berdenting cukup keras saking sunyinya diantara mereka.
"Anti...suka sama ...siapa namanya?" tebak Halimah tiba-tiba setelah beberapa menit sunyi diantara mereka.
Laiqa menatap Halimah seolah mengatakan hal yang sudah Halimah duga.
"Gini ya Lim..ana ga pernah punya perasaan seperti ini sama siapapun.. perasaan takut Allah ngeliat hati ana.. kalo hati ana seperti deg degan, cemas dan ingin sesuatu yang belum halal untuk ana... anti tau itu perasaan apa?"
Halimah menatap sahabatnya, kemudian memutar bola matanya, mengetuk ngetuk karpet dengan jarinya. Ia tampak kebingungan harus menimpali seperti apa.
__ADS_1
Untuk akhwat seumuran mereka, yang menjelang tingkat akhir takmili(universitas), memang wajar perasaan ingin dihalalkan itu ada. Daripada perasaan kecenderungan itu malah menjerumuskan mereka ke neraka karena berkubang dengan dosa zinah hati, mata dan perbuatan. Naudzubillah hi mindzalik.
"Yaudah anti harus berhenti deg degan dan berharap yang aneh"
"iya.. anti benar." Laiqa seolah teringat sesuatu "tapi ukhti... nih dengerin A'udzubillahiminasyaitonnirrojim.. bismillahirahmanirrahim..
يَعۡلَمُ خَآٮِٕنَةَ الۡاَعۡيُنِ وَمَا تُخۡفِى الصُّدُوۡرُ
Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang tersembunyi dalam dada. QS Ghafir ayat 19.
Meski ana bilang iya, tapi hati ana, Allah pasti tau yang sebenarnya."
"Yaudah anti ta'aruf (tahap pengenalan sebelum menikah dengan perantara) aja sama dia"
"Seenaknya anti ngomong ."
"Lhoo kan ga ada obat untuk orang yang jatuh cinta selain pernikahan, lagian anti harus inget persyaratan orangtua anti kalau anti mau kuliah di Madinah, anti harus udah punya suami dulu, agar ada mahrom yang menjaga anti disana."
"Bener-bener anti ini...Kalo gitu kenapa anti ga taaruf dari dulu sama ustadz Irham?"
Halimah terdiam, ia mencoba mengalihkan perhatian Laiqa kembali pada topik.
"Ya kalau bunda Khadijah aja bisa ajuin diri duluan, kenapa anti.."
"Emangnya anti tau, dia memiliki kecenderungan sama ana atau nggak? Yang ada ana malu nanti" ujar Laiqa lagi.
"anti suka banget emangnya?"
"udah deh jangan bahas, "
"Kalo gitu anti gausah ketemu sama dia sekalian"
Laiqa memutar bola matanya, berpikir keras.
"Gimana caranya, besok ana jagain Bang Fattah lagi..."
"Dia anak Ma'had sebelah kan.. ga tinggal di rumah ka Azqila kan? "
"Tapi dia sering main sama Bang Fattah".
"Ga setiap hari kan?, mana mungkin lah anak Ma'had punya waktu banyak gitu."
"Terus kalo dia datang pas ana lagi jaga gimana ?".
"Ya anti kan bisa pergi kemana gitu, ke warung, ke minimarket atau kemana lah, pokonya jangan sampai anti berinteraksi sama dia."
__ADS_1
****
Gimana kalo Ahsan mengetahui perasaan Laiqa, apakah kisah Khadijah dan Muhammad akan tercipta, atau malah sebaliknya.. author sendiri ga tau perasaan Ahsan...sedihnya, ijut baper kek Laiqa...