Ikhwan Idaman

Ikhwan Idaman
Part 28


__ADS_3

[ Malam Pertama ]


Maafkan aku suamiku, sampai saat ini aku belum juga mencintaimu. Batin Laiqa tentu saja di dalam hatinya.


Malam yang dingin, sehabis hujan. Dan staycation di pinggir pantai mungkin pilihan tercerdas. Mereka baru saja selesai mencicipi seafood di resto seberang hotel yang menghadap ke lautan Jakarta.


Laki-laki itu menyantap ikan dana beberapa lobster khusus yang Laiqa tau itu akan meningkatkan stamina. Ia tampak mengikuti pergerakannya sejauh ini, sesampainya di kamar hotel mereka segera berwudhu dan sholat sunnah seperti hal yang seharusnya dilakukan pasangan pengantin baru. Bacaan yang amat merdu, ditambah do'a do'a yang manis dan disusul ciuman yang mendarat di keningnya selepas ia mencium tangan laki-laki itu.


Tak banyak yang dibicarakan sejauh ini, hanya seputar cita-cita, keumatan, kesibukan dan lain lain yang belum terlalu intim. Dan tentu sama sekali belum membuat hatinya bertaut.


Yang ada sekarang hanya rasa takut. Di temaram malam, pada kamar yang serba putih, cahaya lampu kuning redup dengan seorang yang sudah berusaha ia lihat wajahnya dengan seksama, tapi tetap saja tak ada sedikitpun rasa.

__ADS_1


Kecemasan itu, ia khawatir laki laki itu akan menyadarinya.


Laiqa menatap sedikit takut-takut pada laki laki itu yang kini duduk di pinggir ranjang. Melepaskan peci dan kacamatanya, kemudian bersandar seperti sangat lelah.


Apakah ia akan langsung menunaikan kewajibannya..?


Bagaimana ini, sungguh takut hati ini.


Sebagai istri yang berusaha baik, ia menghampiri setelah melipat mukenanya. Laiqa duduk di ujung kaki suaminya. Menunduk, dan berpikir haruskah ia yang berbicara duluan?


"Adik.. capek?" tanyanya amat lembut. Laiqa menggeleng pelan melihat wajah sempurna itu takut takut.

__ADS_1


"Nggak usah dipaksain.. adik boleh istirahat dulu, atau mau dipijat?"


"Kak.." ucap Laiqa , "Kakak bebas melakukan apa saja, karena aku adalah istri kakak" ucapnya terbata. Benarkah itu benar2 dari hatinya? Sampai Syamil meleleh bagai cairan di pinggiran lilin yang membara. Ia memeluk Laiqa hangat, dengan nafas yang terdengar tidak teratur.


Laiqa mengerti sikap itu, laki laki itu telah berpuasa sekian lama dan saat ini ia telah berbuka. Betapa lega dan membuncahnya rasa yang tertahan sejak lama tersebut. Sedangkan di sisi lain, Syamil merasa ada yang kurang pada saat ini. Respon Laiqa terhadap setiap rangsangan fisik yang ia lakukan. Seperti hambar, tak ada sedikitpun perlawanan. Terlalu mulus, tak ada tantangan yang menyeret dirinya bertindak lebih jauh.


"Tidak usah memaksakan diri. " ucap Syamil mengusap kepala Laiqa. "Katakan saja yang jujur apa yang kamu rasakan"


Laiqa menatap laki laki itu tidak percaya, terbuat dari apakah hatinya. Ia begitu baik sampai Laiqa mengira mungkin ia adalah malaikat.


"Kamu belum siap kan?" tanya nya lagi.

__ADS_1


Kali ini Laiqa tersedu, air mata jatuh di pipinya. Ia mengangguk perlahan, menatap wajah Syamil yang sedang berusaha membaca hatinya.


Andai saja kakak tau, masih ada seseorang di dalam hatiku. Dan ia selalu ada disana sampai saat ini. Gumam Laiqa hanya dalam hati.


__ADS_2