Ikhwan Idaman

Ikhwan Idaman
Part 53


__ADS_3

[ Pergilah ]


Pagi pagi sekali setelah tilawah dan sholat shubuh. Laiqa sudah membantu umi mertua memasak. Setelah masakan mulai matang ia lanjut ingin memotong buah. Baru saja akan memotong mangga, umi sudah menyapa anaknya yang baru saja memasuki dapur selepas sholat berjamaah di masjid dekat rumah.


Tak lain adalah suaminya, yang bahkan tak ia jumpai di kamarnya saat ia baru saja terbangun.


Laiqa menatap lekat-lekat sosok yang sedang mengambil air di dispenser tersebut, dan mencoba tersenyum kaku saat mata mereka bertemu.


"Pagi-pagi sekali mau berangkat?.." tanya umi pada Syamil yang mengangguk cepat.


"Ada pertemuan terbatas dengan penerbit dua jam sebelum acara bedah buku plus tanda tanganin beberapa ratus lagi... Alhamdulillah cetakan kedua ini udah mau habis dan mau bicarakan cover baru untuk cetakan ketiga. Mungkin lebih spesial desainnya karena saya gabisa tanda tangan karena udah di Madinah..hehe" Ucap Syamil tersenyum. Senyum yang yang entah mengapa sangat Laiqa rindukan. Dan entah kalau nanti jauh dari umi apakah ia akan menjumpai senyuman indah itu lagi..semenjak kejadian semalam.


"Yasudah kalian berdua sarapan duluan, umi nanti nyusul ya. Kasihan kakakmu belum tidur semalaman, anaknya yang bayi lagi sakit. Umi mau gantian jaga bentar ya..sekalian ngasih sarapan"


Syamil mengangguk, lalu memandang Laiqa yang terus menunduk.


"Oh ya istrimu itu agak pucat wajahnya, coba nanti sempatkan periksa ke dokter yaa siapa tahu dia lagi isi" ujar umi sambil menepuk pundak Syamil lalu bergegas pergi membawa senampan lengkap lauk pauk dan buah.


"Ada treatment khusus untuk ibu hamil kalau naik pesawat jarak jauh"


Sayup-sayup suara umi terdengar sebelum akhirnya beliau benar-benar menghilang masuk ke kamar kakak perempuan Syamil.


Laiqa tampak bergetar menyerahkan sesendok nasi di piring Syamil. Ia bahkan tak bisa membayangkan jika harus hamil dalam kondisi hati yang sangat tidak nyaman seperti ini. Adakah yang lebih menyiksa selain sikap dingin seseorang yang dahulu sangat menginginkan dirinya?.


Syamil mulai memakan makanannya setelah membaca doa dengan seksama. Ia bahkan mengunyah sambil melihat tab nya tanpa mempedulikan keberadaan Laiqa. Sesekali ia mengetik dan tampak berpikir.


Laiqa hanya memakan buah mangga dan susu, ia tampak tidak nafsu makan.

__ADS_1


Sampai sebuah suara mengejutkan keduanya.


"Huek.." Laiqa menutup mulutnya dan mereka saling berpandangan.


"Kamu, istirahat saja disini hari ini" Ucap Syamil.


Laiqa menggeleng. "Bolehkah aku ikut denganmu?"


"sepertinya tidak perlu"


"Kenapa?..aku nggak apa-apa insyaAllah.."


Syamil menatapnya jengkel.


"kalau mau ke dokter, aku akan langsung pulang dan menjemputmu nanti sore."


"tapi aku ingin ikut.." Laiqa membulatkan kedua matanya tanda ia amat antusias.


" jagalah sikapmu, kamu akan huek huek di depan hadirin?"


Laiqa menghela nafas dan menggeleng.


"belum tentu ini karena hamil"


"Bagaimana kalau kamu benar benar hamil, berhentilah berpura-pura baik baik saja..?" Tanya Syamil. Laiqa merasa


Syamil tampak menampakan nada sedikit ketus. Atau mungkin itu hanya perasaan Laiqa saja.

__ADS_1


"Aku hanya ingin melihat betapa hebatnya suamiku dan karyanya..apa itu salah?.."


Syamil menyingkirkan piringnya dan meminum susu dengan cepat.


Ia menghela nafas. "pergilah ke kamar."


Laiqa seperti sangat sedih.


"benarkah kamu akan terus seperti ini?" mata itu menatap Syamil lekat lekat.


"kamu ingin apa? ingin aku menyeka air matamu? seperti ini? berhentilah melakukan hal yang tidak berguna. Dan berhentilah terlihat lemah, apalagi di depan umi"


"bagaimana kamu bisa ada di hatiku kalau..terus seperti ini?" ucap Laiqa dan Syamil segera menatapnya tajam.


"Ganti bajumu" ucap Syamil dengan singkat. "Ingat, aku tidak ingin melihat baju warna warni"


Laiqa tersenyum, meski ia sedikit kesal dan berpikir apakah baju warna warna pastel itu adalah dosa besar. Dari sorotan mata Syamil tampaknya seorang yang memakai baju seperti itu adalah seseorang yang suka menggoda laki-laki.


Lalu apakabar dengan suaminya?. Memakai setelan kemeja koko abu abu gelap dengan motif kotak-kotak yang kelihatan anak muda banget. Ditambah rambut yang baru saja dicukur rapih, kacamata yang membuat wajah tampak ramping dan cerdas. Hah... Apalagi nanti ditambah masker ala ala pandemi..akhwat mana yang ga akan histeris di dalam hatinya.


Laiqa keluar kamar dengan setelan abaya hitam dan jilbab hitam. Rasanya ingin sekali dipeluk gitu ya sama suami, di tengah kondisi badan yang lagi nggak nyaman ini. Entah karena hamil atau karena masuk angin, toh semalam mereka terkena angin yang cukup kencang. Apalagi hari ini ia sangat tampan.. tapi melihat sifat cueknya, ah sudahlah..


Namun..


Laiqa memutuskan untuk bertindak masa bodoh, dipeluknya suaminya yang sedang mengunyah buah mangga dengan perlahan, sampai buah itu terjatuh dari garpunya. Dia raba bagian dada Ikhwan itu, yang sedang berdegup perlahan. Semakin meraba lagi ke arah wajah, sampai pada akhirnya Syamil beranjak dari duduknya dan menatapnya lekat-lekat.


"Apa kamu merindukanku atau..?" tanya Syamil cepat dengan kesan amarah yang sangat kentara bagi seseorang yang memiliki sifat ramah sepertinya.

__ADS_1


Syamil berbisik di telinga Laiqa "sedang membayangkan bahwa aku adalah dia..?"


Laiqa terkejut, ia sangat sedih melihat keadaan ini. Syamil yang langsung pergi meninggalkannya menuju mobil dengan wajah yang sangat muak.


__ADS_2