
Salah Paham
"jazakallah..untuk semuanya" ucap Syamil.
Ahsan mengangguk pasti.
"Afwan jiddan..jika ana punya banyak salah" ucap Syamil.
"Ya..waiyaki. Ana juga minta maaf untuk semuanya .."
Syamil mengangguk pasti.
"Apakah antum sangat mencintainya?" Tanya Ahsan.
"Seharusnya ana tidak boleh secinta itu" ucap Syamil.
"Tetaplah seperti itu. Madinah kota teraman di dunia, dan itu tertulis di Al Qur'an. Tapi tetap saja ia akan membutuhkan penjagaan suaminya dengan perasaan cinta yang besar. Ingat kalian hanya akan berdua disana" ucap Ahsan.
Syamil menatap Ahsan lurus lurus dengan kening yang berkerut.
"Itu akan menjadi kekuatan yang besar untuk menghadapi hal-hal yang tidak terduga." Ucap Ahsan.
Syamil mengangguk. Ia pun pamit kepada Ahsan dengan cara memeluk dan menepuk nepuk bahunya layaknya seorang sahabat.
"InsyaAllah ana akan terus mendoakan kesembuhan antum.." bisik Syamil. Ia kemudian pergi meninggalkan Ahsan dan sejuta perasaan lega di dalam hatinya.
__ADS_1
Inilah kenapa Ahsan semakin yakin bisa merelakan akhwat itu. Karena Laiqa jatuh pada orang yang tepat.
***
Syamil membuka pintu, diluar ia terkejut saat ia dapati Laiqa bersama ustadz Salman yang sedang berdiri di depan pintu.
"MasyaAllah.. Jazakallah Syeikh sudah menjenguk adik ana" ucap ustadz Salman.
Syamil tersenyum kecil, matanya sesekali menatap Laiqa yang menatapnya terus menerus.
"Alhamdulillah adik antum sudah sadar.."
"Ya ana sudah tau dari pihak rumah sakit... Afwan ana tadi bertemu Laiqa disini, kami berdiskusi tentang istri ana"
Laiqa tersenyum.
"Tayyib.. semoga antum dan istri juga lancar dalam menempuh pendidikan disana.. doakan ana segera menyusul umroh atau haji ke Mekkah dan main main ke tempat antum disana"
Syamil mengangguk tersenyum "aamiin..semoga Allah segera memanggil antum sekeluarga.."
Setelah itu,
Ustadz Salman segera pamit dan masuk ke dalam kamar Ahsan.
Kini tinggallah mereka berdua. Syamil dan Laiqa.
__ADS_1
"Sudah selesai?" Tanya Syamil.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, yang, sudah selesai?" Laiqa tampak menekankan nada suaranya sedikit.
Syamil menghela nafas kasar. "Kenapa kamu bisa ada disini?"
Laiqa mengangguk bersiap dengan jawabannya.
"Fattah dan Faiza sudah tidur. Ka Azqila menyuruhku untuk beristirahat, dan mengkhawatirkanku karena mungkin saja kamu mencariku.."jelas Laiqa.
"Aku keluar, mencoba menelpon mu.. tapi tak ada nada sambung..dan anehnya, ternyata kamu tidak mencariku. Tapi mencari orang lain..." Ujar Laiqa terus menatap Syamil.
"Aku melihatmu di meja administrasi dan berjalan cepat ke kamar ini.. aku penasaran, maka aku ikuti kamu yang.."
"Tadinya aku akan mengikutimu masuk, tapi ketika aku membuka pintu, sepertinya aku melihat sebuah pembicaraan yang tidak boleh ada aku disana.." jelas Laiqa lagi.
Laiqa menggigit bibir melihat suaminya tampak tidak begitu senang dengan penjelasannya.
"Apa kamu mendengar semuanya..?" Tanya Syamil.
"Apa kamu akan terus tidak mempercayaiku..?" Tanya Laiqa tak mau kalah, ia sangat dikelilingi emosi.
"Baiklah, kita sholat Ashar dulu." Ujar Syamil ketika melihat jamnya. Mengalihkan semua perdebatan ini di tengah koridor rumah sakit yang pasti akan memancing siapapun itu untuk menjadikan mereka pusat perhatian.
"Yang..!" Ujar Laiqa ketika suaminya berjalan cepat menuju mushola. Dan mereka sampai disana, berhenti untuk saling menatap dengan emosi yang sama sama tinggi.
__ADS_1
"Setelah ini kita harus bicara" ucap Syamil lalu pergi ke arah kanan tempat wudhu laki laki tanpa babibu. Dan Laiqa melihat itu dengan kesal, ia pun bergegas pergi ke arah kiri, ke tempat wudhu perempuan.
***