
Pekerjaan Mulia part 2
"jadi, ana itu dulu kabur dari rumah mas"
"kabur? " timpal Ahsan terkejut.
"gini mas coba mas bayangin, orang tua ana itu tengkulak mas di kampung. Ana ini bukan dari keluarga miskin. Keluarga ana disana itu amat sangat berkecukupan mas. Mas bayangin aja mobil ada 3, 2 buat angkut sayuran, 1 buat pribadi, denger2 katanya babe nambah lagi mobil buat emak, motor ada 3.. masing2 anak dapet 1, belum lagi karyawannya, dapet motor operasional juga mas. Tapi entah kenapa ana itu gabetah mas tinggal disana."
"hmmm.."
"seperti, nurani ana itu menolak mas.. ga ada ketenangan ... setiap hari itu bawaannya kesel aja, liat bapak liat mama.. semuanya itu seperti penolakan dalam diri ana mas.. kenapa sih ana terlahir di keluarga seperti ini.."
Chaerul menelan ludah kemudian melanjutkan perkataannya.
"itu semua bermula saat ana itu ngaji sama guru ana namanya ustadz Syamsul pas SD kelas 4 mas. Ana itu dikasih tau bagaimana menjadi muslim yang baik, dsb... dan itu semua ga ana temukan dari bapak ibu ana mas. Ana kesal, dalam diri itu seperti mencari cari panutan untuk diri ana, tapi ga ada mas di keluarga itu... bapak sama mama ga pernah sholat, sering dzolim sama petani, suka ngelakuin praktek riba.. ya Allah mas... kalo inget ini saya suka pengen nangis."
"terus antum bisa kabur ke Jakarta gini gimana ceritanya.."
"Ya ana ikut mobil bak sayur mas. Waktu itu lagi ngangkut pisang raja. Wah sekalian deh itu saya ikut, terus saya ga balik lagi. Pertama saya kerja di tempat orang mas, bayar kos tapi lama lama gakuat juga. Akhirnya ana sampe di masjid ini mas. Waktu itu ana ketiduran, terus dibangunin sama ustadz Amru.. wah deg degan luar biasa mas saya, lihat ustadz yang badannya besar, berjenggot lebat plus jubahnya yang super super besar itu.. tapi ternyata orangnya baik masya Allah.."
Ahsan terkekeh.. "Masya Allah..."
__ADS_1
"Ana disuguhin nasi mas, emang waktu itu lagi laper banget, ana ceritain semua sama ustadz, dan pada akhirnya ana diizinkan untuk tinggal di masjid ini.."
"Berarti antum jadi marbot karena ga ada pilihan lain?.."
"Bukan mas.. dari dalam hati saya, ketika saya melangkah kesini, saya udah merasa pasrah, udah merasa menyerah mas.. kerjaan ga ada uang ga punya, kelaparan juga... saya gatau mau kemana, akhirnya saya masuk rumah Allah, entah kenapa semua jadi berubah mas, perasaan saya yang gelisah jadi tenang, mungkin karena ada AC nya kali ya, karena kan diluar lagi terik teriknya tuh, makanya saya ketiduran. Pas lagi tidur itu saya mimpi lagi adzan di masjid ini, benerin Al Quran, ngaji wah pokoknya tenang banget lah... sesuatu yang mungkin selama ini saya cari cari..."
"Apa yang antum pikirkan waktu itu saat disuruh jadi marbot masjid sama ustadz Amru?"
"Masya Allah mas.. penuh syukur mas... bagi ana marbot mesjid itu suatu pekerjaan mulia mas, mas bayangin yang bisa melakukan itu cuma orang-orang pilihan. Mungkin banyak yang mau membersihkan dan menjaga masjid ini, tapi dari segi waktu mereka gapunya, dan ga sempet mencurahkan seluruh waktunya untuk masjid. Sibuk mungkin atau apa.. dan disini lah saya menemukan ketenangan mas. Melihat orang -orang sholeh seperti mas dan kawan-kawan, sibuk menghafal al Qur'an, syeikh syeikh dari Arab, Yaman, Kairo.. masya Allah bahagia banget saya mas disini. Sampai mesjid ini selalu ada dalam doa saya mas.."
Ahsan menunduk sejenak menyembunyikan rasa harunya, kemudian menepuk pundak Chaerul.
"Doakan ana ya... orang seperti antum itu biasanya doanya mudah di ijabah.."
"insya Allah mas.. ana selalu doakan.. terutama mereka mas, kedua orang tua ana.. semoga Allah beri jalan hidayah kepada mereka.."
"Aamiin.. Terus terus soal gaji, gimana cukup ga atau gimana ?"
Chaerul mengusap air matanya lalu tertawa kecil.
"Kalo untuk gaji ya mas.. misalnya kita berharap dari gaji, pasti yang ada kita kecewa mas. Karena sama sekali ga ada harganya mas dalam ukuran nilai keduniawian ya.. tapi masya Allah rahmat Allah itu selalu saya rasakan. Mulai dari makanan, itu ga pernah kurang, mau kemana mana boleh.. masya Allah.. saya seperti diurus langsung sama Allah mas.."
__ADS_1
"Masya Allah ... di urus sama Allah ya karena kita mengurus rumahNya.. luar biasa, antum tahu kan kalo Nabi itu dulu juga pekerjaannya marbot masjid, dan memang ini lah pekerjaan paling mulia. Terlebih sekarang antum juga mengajar TPA di sini.. untuk anak-anak kecil yang rumahnya di sekitar Mahad.."
"iya mas, mengajar itu memang yang ana mau dari kecil, cita-cita besar ana mas.."
Ahsan mengangguk menyetujui jalan hidup Chaerul. Teringat sebuah hadist Nabi,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
***خيركم من تعلم القرآن وعلمه
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkannya”. (HR. Bukhori***).
"Terus antum suka bosan ga? kan setiap hari disini tuh.."
tanya Ahsan penasaran.
"ketika merasa jenuh ..itu pernah, ya paling membaca Al Qur'an, atau ga silaturahim ke rumah saudara.."
"Masya Allah, oke Rul, lanjutkan dan tetap semangat, see you on top... ana harus menyelesaikan pekerjaan ana dulu,"
"Gapapa mas, ana aja yang terusin, sekalian mau nyoba alat baru 😆" ujar Chaerul langsung menyambar alat pembersih karpet itu tanpa izinnya lagi saking semangatnya. Ditatapnya marbot mesjid yang amat tak disangka bahwa ia adalah orang yang kaya raya. Namun benarlah katanya bahwa, keimanan lebih berharga daripada harta dunia.
__ADS_1
****