Ikhwan Idaman

Ikhwan Idaman
Part 54


__ADS_3

[ Tanpa Rasa ]


"Loh.. kok nangis?" Tanya umi tiba-tiba, saat melihat Laiqa hanya terdiam mematung memegangi kursi makan.


Laiqa menunduk. Berusaha memberhentikan air matanya.


"Gapapa umi.."


"Syamil mana?.."


"Di mobil mi.."


"Kamu sakit?"


Laiqa memandang umi dengan senyuman dan juga tatapan nanar.


Ya..hatiku yang sakit mi.. jadi ini rasanya kehilangan sebuah cinta yang dahulu aku sia -siakan.. desau Laiqa di dalam hati.


"Aku nggak apa-apa umi, doain aja ya aku kuat"


"Ya..bismillah.. dampingi dulu suami kamu, nanti setelah selesai baru kalian ke dokter.. kalau benar di dalam sini ada bayi, kita harus cepat cepat kasih vitamin. Itu haknya.."


Laiqa mengangguk, ia mencium tangan umi dan pamit menyusul ke mobil.


***


Suara kunci mobil yang terbuka, bisingnya jalanan pagi hari, suasana diskusi yang amatlah lama di sebuah kafe, dan deretan buku buku dibawah cahaya lampu kekuningan inilah yang pada akhirnya dapat mengobati luka Laiqa pagi tadi.

__ADS_1


Siang ini mereka sudah di toko buku terkenal seantero anak kampus sekitar sini. Suasana ramai, wangi buku buku, dan deretan buku suaminya yang berada di jajaran buku best seller lah yang dapat mengobati hatinya. Setidaknya diantara banyaknya akhwat yang mengaguminya..dia masih pemenangnya..


Hati yang sangat terluka itu masih bisa merasakan rasa cemburu, kesal, marah, padanya. Itu berarti cinta itu masih ada. Tapi entah, bagaimana mengambil hatinya kembali...


"Astagfirullah.." Laiqa terus berdzikir saat memindahkan buku demi buku saat sesi tanda tangan.


Ya Allah ya Rahman..hanya engkaulah yang dapat membolak balik hati seseorang. Condongkanlah kembali hati suamiku kepada diriku, limpahkanlah cinta yang tulus, karuniakanlah kasih sayang yang tiada henti, dan kesabaran yang amat luas dalam menghadapi ku, keikhlasan yang amat besar untuk memaafkanku.


Kini sesi foto bersama. Pengarah gaya mendekatkan mereka berdua yang sedikit berjauhan hingga bahu keduanya menempel dan tangan kokoh itu merangkul Laiqa. Laiqa berharap, sesi foto ini bisa berlangsung lebih lama lagi..


Tapi kemudian setelah itu ia melihat suaminya tersenyum pada akhwat lain, mungkinkah..ini yang dinamakan rasa cemburu.


Meskipun itu hanya formalitas agar tampak ramah. Tapi hatinya amat kesal. Dirangkulnya Syamil saat mereka akan keluar toko buku, dan di koridor yang sepi Syamil melepaskan itu.


"Tidak baik terlihat seperti orang marahan di depan banyak orang" ucap Laiqa cepat lalu merangkul lengan Syamil lagi, sengaja mendekapnya hingga mengenai seluruh syaraf bagian dada Laiqa.


"Maafkan aku..yang"


"Aku tidak marah, hanya saja kamu seperti tidak peduli dengan perasaanku" ucap Syamil sambil berbisik di telinga Laiqa lalu melepaskan tangan Laiqa dan berjalan lebih dahulu di depannya.


"Kenapa kamu berpikir seperti itu?"Laiqa berjalan cepat menyusul Syamil yang hanya diam.


Mereka kini menuju parkiran.


"Aku selalu memikirkanmu.." ucap Laiqa lagi tapi kali ini langkah cepatnya terhenti dengan erangan yang tiba-tiba. Ia memegangi perutnya, ditatapnya Syamil yang terus berjalan memasuki mobil.


Laiqa berjalan perlahan. Pikiran macam apa itu, Syamil tidak mungkin khawatir dan luluh saat ia terlihat sakit seperti ini. Mungkin hati yang terlalu sakit membuatnya begitu.

__ADS_1


Laiqa perlahan memasuki mobil.


"Aku bilang di rumah saja" ucap Syamil dingin.


Laiqa meringis.


"Dan membiarkanmu di lautan akhwat akhwat tanpa aku?"


"Apa kamu pikir aku sepertimu dalam memandang sesuatu? Apa kamu pikir aku orang yang mudah jatuh hati!?" Tanya Syamil tampak sangat emosi dan menyindirnya dengan sangat keras.


"Rasanya sakit sekali berjalan cepat mengimbangi langkahmu" Laiqa mengigit bibirnya. Berharap emosi itu akan menguap bersama udara.


Tapi tak ada jawaban, hanya ada suara deru mobil yang melaju langsung dengan kecepatan tinggi.


****


Laiqa tidak bisa berhenti memegangi pegangan di dalam mobil hingga mobil itu melipir di parkiran rumah sakit dengan decit ban yang terdengar jelas saking kencangnya.


Ia kemudian menghela nafas perlahan saat mesin mobil telah berhenti.


"Qodarullah hanya rumah sakit ini yang dokternya perempuan." Ucap Syamil . Dari tatapan matanya seperti itu, membuat Laiqa amat paham bahwa rumah sakit ini adalah rumah sakit tempat Ahsan dirawat.


Dan kekecewaan itu masih jelas tergambar di mata indah suaminya.


Mereka berjalan bersama. Kali ini Syamil menggandeng tangannya, namun ini lebih seperti menggandeng tanpa perasaan.


Dan benar saja, mereka bertemu dengan Ustadz Salman dan Ahsan di kursi roda, pada sebuah koridor yang sepi.

__ADS_1


__ADS_2